http://www.tribun-timur.com/view.php?id=48701&jenis=Opini

      Sabtu, 08-09-2007  
      Opini Tribun
     
      Buta Aksara dan Ketidakadilan Ekonomi Global
        
      Oleh: Rudi Hartono, Mahasiswa Semester Akhir Fakultas Hukum Unhas, Ketua 
Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi 

      Dalam rangka memperingati hari buta aksara sedunia tanggal 8 September, 
hari ini, bangsa-bangsa di seluruh dunia di perhadapkan dengan refleksi atas 
situasi global yang diliputi begitu banyak permasalahan.
        
      Yang paling pokok, sebenarnya, dalam persoalan buta aksara ini adalah 
problema kemiskinan dan ketidakadilan ekonomi global. Berdasarkan data dari 
Bank Dunia, dari 1,2 milyar penduduk dunia yang dinyatakan miskin, 80 persen di 
antaranya terdapat di 12 negara berkembang (Asia, sub Sahara Afrika, dan 
Amerika Latin). 
      Demikian pula dengan persentase jumlah penduduk buta aksara, dari angka 
885 juta, sebagian besar dari mereka tersebar di negara-negara Asia (meliputi 
Pakistan, Bangladesh, Indonesia, dan lain-lain) serta beberapa negara di 
Afrika. 

      Di Asia selatan, jumlah penduduk buta huruf mencapai 109 juta, dari 
negara-negara Arab 98 juta orang, negara-negara Afrika sub Sahara merupakan 
kawasan negara yang tingkat buta aksaranya paling tinggi berkisar 40 persen 
hingga 50 persen, di Mali peringkat 175 hanya 19,0 persen yang melek huruf, 
Nigeria 14,4 persen yang melek huruf, dan Burkina Faso (12,8 persen). 

      Data itu tentunya sangat pantas untuk kita bicarakan kembali, guna 
melahirkan solidaritas internasional untuk melawan ketidakadilan ekonomi global 
yang berdampak pada buta huruf (baca, imperialisme). 

      Sumber Ketidakadilan 
      Sejak kolonialisme dikukuhkan, dunia sudah terbagi dalam dua bagian yakni 
bangsa maju (modern) yang kemudian menjadi kolonialis dan bangsa timur yang 
dianggap terbelakang dan menjadi sasaran penjarahan kaum kolonialis. Tatanan 
dunia ini terus berlanjut hingga pematangan sistem kapitalisme yang 
menginginkan perluasan ekspansi modal. 

      Perang dunia pertama dan kedua bukan hanya perebutan dominasi, tetapi 
juga perebutan daerah jajahan dan sumber-sumber bahan baku dan pasar yang baru. 

      Hasilnya, setelah perang dunia kedua usai, bangsa-bangsa Eropa dan 
Amerika serikat mulai membenahi dan merekontruksi negerinya dari kehancuran. 
Sedangkan di sisi lain, negara-negara jajahan masih bergelut dengan perjuangan 
pembebasan nasionalnya untuk memperoleh kemerdekaan. 

      Negara-negara jajahan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin memang 
memperoleh kemerdekaan, tetapi tidak sanggup menghilangkan ketergantungan 
mereka dengan negara penjajah (kolonialis). 
      Dalam kasus Indonesia, Richard Tanter, dalam makalahnya yang 
dipersembahkan pada Universitas Monash, mengidentifikasi dua hal penting yang 
berkaitan dengan hubungan ekonomi: "ketergantungan" pada ekspor minyak (dan 
gas) dan pinjaman IGGI. 

      Tidak susah untuk melacak akar persoalan itu, pertama; setelah mengalami 
kehancuran dalam perang dunia pertama dan kedua, negara-negara Eropa (minus Uni 
Sovyet) dan Amerika utara memperoleh ceceran-ceceran anggaran dari program 
Marshal Plan untuk membiayai dan memulihkan kondisi ekonominya. 
      Sedangkan mayoritas negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika latin yang 
sudah kering kerontang karena kolonialisme selama ratusan tahun tidak 
memperoleh apa-apa. 

      Memang pada tahun 1961 diluncurkan program Alliance For Progress yang 
melibatkan AS dan 21 negara Amerika latin, namun program ini pun gagal dan 
belakangan diketahui kepentingan utamanya untuk menggalang solidaritas melawan 
komunisme. 
      Kedua; meskipun secara politik dinyatakan merdeka, namun karena tidak 
memiliki modal dan kapasitas teknologi, negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika 
latin terus menerus dihambat dan dibuat ketergantungan ekonominya terhadapa 
negara-negara Imperialis. Kekayaan alam dan tenaga kerja negara-negara dunia 
ketiga diperas dan dieksploitasi untuk kemakmuran negara dunia pertama. 

      Putus Sekolah 
      Buta huruf dan putus sekolah (drop out) lebih banyak terkonsentrasi di 
negara -negara dunia ketiga, padahal mestinya, dengan kemerdekaan politik yang 
di miliki mereka sanggup untuk memobilisasi sumber dayanya untuk memajukan 
pendidikan nasional. 

      Dalam Washintong Consensus persoalan sektor pendidikan malah merupakan 
salah satu sektor yang harus diserahkan ke swasta (swastanisasi), dan subsidi 
pendidikan dari negara di cabut. 
      Di Indonesia misalnya, sejak penandatangan letter of intent (LoI) dengan 
IMF, pemerintah Indonesia dengan begitu agresif mencabut subsidi pendidikan, 
dan menyerahkan pendidikan dalam mekanisme pasar bebas. Akibatnya, mayoritas 
rakyat Indonesia yang notabene orang miskin tidak dapat mengakses dunia 
pendidikan. 

      Sungguh tidak adil! Negara dunia ketiga di paksakan melepaskan sektor 
pendidikannya dalam mekanisme pasar bebas (free trade), sedangkan, di 
negara-negara maju seperti AS dan negara Eropa dunia pendidikannya masih terus 
menerus mendapat subsidi dan kompensasi. 

      Manipulasi Ketidakadilan 
      Kesenjangan ekonomi dan kondisi memprihatinkan di negara-negara dunia 
ketiga (termasuk soal pendidikan dan buta huruf) mengundang keprihatinan dan 
solidaritas global. 
      Kecaman dan aksi massa pun meluas dalam setiap pertemuan pejabat tinggi 
dunia, dan fakta-fakta ini banyak dipublikasikan dalam pers barat. 

      Negara-negara maju dan lembaga internasional seperti PBB menyusun 
sejumlah skenario antisipasi berupa; pertama; mendeklarasikan millenium 
development goals (MDG's) adalah sebuah inisiatif pembangunan yang dibentuk 
pada tahun 2000, oleh perwakilan-perwakilan dari 189 negara (termasuk 
Indonesia). 
      MDG's mengusung delapan program pokok yang diharapkan dituntaskan 2015, 
di antaranya penghapusan kemiskinan dan pemberantasan buta huruf. 

      Kedua; komitmen lain, misalnya dengan program debt swap (program koversi 
utang) yang saat ini getol dilakukan oleh Jerman dan diikuti oleh negara-negara 
G7 khusus untuk negara yang dikategorikan sangat miskin seperti Bangladesh, 
Ethiopia, Kenya, dan Rwanda. 

      Tetapi, ini pun dinilai bohong, karena banyak proses konversi utang 
tersebut dilakukan dalam bentuk proyek yang infrastrukturnya didatangkan dari 
negara maju sehingga utang yang dibayarkan tersebut tetap dinikmati kapitalis 
negara maju. 
      PBB sendiri lewat badan-badannya seperti Unicef, Unesco, dan FAO punya 
begitu banyak program untuk mengatasi problem dunia ketiga ini. 

      Program pendidikan, yang salah satu iconnya adalah artis Hollywood, 
Madonna, cukup gencar di kawasan negara-negara Afrika. Namun, program ini tidak 
akan mampu menyelesaikan masalah ketidakadilan global karena persoalannya lebih 
sistemik dan politis. 

      Organisasi-organisasi seperti WTO, IMF, dan Paris Club punya andil dalam 
kemerosotan negara-negara dunia ketiga. AS harus bertanggung jawab dengan 
kemiskinan missal dan perang mematikan yang terus berlanjut di Irak, 
Afganistan, dan kawasan Afrika. 

      Pemberantasan 
      Van Hoof & Van Wieringen (1986) mengatakan dalam suatu konferensi 
pendidikan tinggi Eropa, "Jika pemerintah suatu negara tidak secara serius 
memerhatikan arah dan pengelolaan pendidikan tinggi di negaranya, dapat 
dipastikan pembangunan ekonomi negara tersebut akan terhambat. 

      Pemberantasan buta huruf tidak bisa dipisahkan dengan pemberantasan 
kemiskinan karena fakta menunjukkan masyarakat buta huruf tertinggi justru ada 
di negara-negara miskin di Asia, Afrika, dan Amerika latin. 

      Pemberantas buta huruf juga terkait dengan aspek politik dan kebijakan 
ekonomi suatu negara. Indonesia misalnya, tidak akan sanggup menyelesaikan 
pemberantasan buta aksara ketika lembaga pendidikannya diserahkan dalam 
mekanisme pasar bebas. Negara miskin tidak akan sanggup menyelesaikan persoalan 
buta aksara jika mayoritas penduduknya yang miskin tidak di bukakan akses 
seluas-luasnya dalam mengenyam pendidikan. 

      Program swastanisasi dan pencabutan subsidi pendidikan yang agresif 
dilakukan oleh pemerintahan negara-negara berkembang harus dihentikan. 
Sebaliknya, negara harus dipaksa bertanggung jawab dan memobilisasi anggaran 
dan sumber daya (resources) untuk membenahi sektor pendidikan. (***)
        


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke