--- In [EMAIL PROTECTED], "HKSIS" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

      KOMPAS - Sabtu, 08 September 2007  
     
     
     

      Kasus Munir di Mata Publik Belanda 


      Endang Suryadinata 

      Tiga tahun wafatnya Munir baru diperingati. Munir memang bukan 
Socrates, filsuf Yunani yang mau meminum racun. Namun, pejuang HAM 
asal Batu itu diracun dalam perjalanan dari Jakarta, Singapura, 
menuju Amsterdam pada 7 September 2004. Dia meninggal dua jam sebelum 
mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam. 

      Yang menyelidiki bahwa kematian Munir akibat racun arsenik 
dalam dosis yang sangat mematikan adalah NFI, Institut Forensik 
Belanda. Tidak heran jika publik Belanda punya minat besar pada kasus 
Munir. 

      Misalnya, banyak kalangan di negeri Kincir Angin ini menyambut 
gembira perkembangan terbaru selama tiga tahun terakhir, yakni kasus 
Munir menggelinding lagi di pengadilan kita. Yang paling menarik 
dalam sidang lanjutan peninjauan kembali kasus pembunuhan Munir di 
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 22 Agustus 2007, jaksa penuntut 
memutar hasil sadapan pembicaraan Pollycarpus Budihari Priyanto 
dengan mantan Dirut Garuda Indra Setiawan. Rekaman selama 21 menit 
yang tidak dimasukkan dalam memori peninjauan kembali itu memperkuat 
hubungan Polly dengan Badan Intelijen Negara. Polly mengakui suara 
dalam rekaman itu memang suaranya (Kompas, 23/8). 

      Melibatkan negara 

      Dalam keyakinan sebagian publik, termasuk beberapa aktivis HAM 
di Belanda yang punya empati pada perjuangan Munir atau Suciwati 
istrinya, kasus Munir memang melibatkan negara. Menurut aktivis HAM 
Daniel Reintjes yang beberapa kali ke Indonesia, setidaknya ada oknum 
yang bertindak atas nama kepentingan negara atau rezim. Bagi si 
pemberi racun arsenik yang menyebabkan Munir mati, apa yang telah 
dilakukan Munir dianggap membahayakan posisi pemerintah atau negara 
ketika itu. 

      Si pembunuh Munir boleh jadi bangga ketika menaburkan bubuk 
arsenik dalam minuman Munir seraya berkata, "Kami adalah negara", 
seperti teriakan Mussolini atau meniru ucapan Louis XIV, L�etat Est 
moi (Negara adalah saya). 

      Hemat penulis, si pembunuh jelas tidak punya motif pribadi, 
tetapi mengangkat motifnya ke level negara. Jadi, si pembunuh punya 
jiwa nasionalisme atau patriotisme serta menilai Munir tidak punya 
semangat atau jiwa seperti itu. Dalam keyakinannya, jika Munir tidak 
dibungkam dengan racun, dia akan semakin vokal "menjelek-jelekkan" 
martabat bangsa di negeri Belanda. Sekadar menyegarkan ingatan, 
rencana kepergian almarhum Munir ke Belanda adalah untuk melanjutkan 
studi Hukum Kemanusiaan pada Universitas Utrecht atas beasiswa ICCO, 
Organisasi Lintas Gereja untuk Kerja Sama Pembangunan. 

      Suciwati, istri almarhum Munir, seperti dikutip Radio Nederland 
baru-baru ini juga memberi pernyataan menarik yang mengundang 
berbagai pakar Indonesia di Belanda terpancing berkomentar. Suciwati 
di antaranya menyatakan bahwa motif pembunuhan suaminya dimaksudkan 
untuk menjatuhkan popularitas calon presiden dari militer, yaitu 
Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan terpojoknya militer, semua yang 
terkait dengan militer, termasuk calon presiden, juga akan hancur 
reputasinya. Munir selama hidup tidak menyukai calon presiden dari 
militer. 

      Namun, Prof Nico Schulte- Nordholt, pakar Indonesia dari 
Universitas Twente di Belanda timur, tidak terlalu setuju dengan 
pernyataan terbaru Suci di atas. Menurut Nico, pernyataan Suci 
seperti hendak diarahkan kepada orang-orang militer yang berada di 
belakang Megawati yang ketika itu sedang berkompetisi dengan SBY 
dalam bursa pemilihan presiden langsung yang pertama di Indonesia. 

      Yang lebih rasional, lanjut Nico, memang ada pihak yang dengan 
segala usaha mencoba menggagalkan kepergian Munir ke Belanda. Para 
pembunuh Munir takut begitu tiba di Belanda, tempat orang bebas omong 
apa saja, Munir akan berbicara seenaknya tentang tingkah laku 
kelompok-kelompok militer dan intel tertentu. 

      Dan kita tahu, sepanjang 62 tahun RI, tidak pernah akan ada 
misteri yang bisa diungkap selama pelakunya berasal dari kalangan 
militer. Dari peristiwa 1965 hingga penghilangan aktivis atau tragedi 
Mei 1998, semua tertutup rapat. Berbagai rekomendasi tim pencari 
fakta menjadi sia-sia. Solidaritas korps menjadi penghalang kasus 
Munir, misalnya, akan bisa dituntaskan di pengadilan negeri ini. 
Kalau toh coba diungkap, pasti akan dicari pelaku yang sebenarnya 
bukan pelaku. 

      Bahkan tertarik dengan perkembangan kasus ini, dan dalam rangka 
tiga tahun peringatan wafat Munir, Universitas Utrecht, salah satu 
perguruan tinggi terkemuka di Belanda, menggelar forum diskusi 
seputar tiga tahun kasus Munir. Langkah ini tentu saja menambah 
daftar begitu banyaknya lembaga internasional yang punya perhatian 
besar kepada kasus Munir. 

      Membonsai peran Munir 


      Ironisnya di negeri sendiri kini justru muncul skenario 
membonsai atau mengecilkan perjuangan dan kontribusi Munir lewat 
berbagai media massa. Penulis menyimpan berbagai surat pembaca yang 
intinya mengerdilkan peran Munir, apa hebatnya dia dan menyesalkan 
langkah Suciwati, istri Munir, yang dinilai telah menjual kematian 
suaminya dan membuat kasus ini menjadi perhatian masyarakat dunia. 
Padahal, Suci sebenarnya hanya memberi respons kepada lembaga-lembaga 
internasional yang mengundangnya. 

      Upaya mengecilkan kontribusi Munir tentu harus dilawan. Banyak 
orang Belanda menyesalkan upaya semacam itu. Pasalnya, yang 
diperjuangkan Munir adalah sebuah perjuangan tegaknya keadilan dan 
martabat manusia, yang kini masih belum terwujud di negeri ini. Ada 
banyak kepalsuan dan ketidakadilan yang tetap coba dilestarikan. 

      Apalagi, isu HAM memang lagi in di mata masyarakat 
internasional, termasuk di Belanda. Tidak heran Munir punya tempat 
tersendiri di mata dunia. Kita seharusnya bangga, ada sosok seperti 
Munir yang telah menggoreskan tinta emas dalam sejarah bangsa ini. 
Mengecilkan Munir dan membiarkan kasusnya terus menjadi misteri 
justru akan membuat reputasi negeri kita kian tidak diperhitungkan. 

      Majalah Time dalam salah satu edisi baru-baru ini sudah 
menyebutkan kurang berpengaruhnya negeri kita dibandingkan dengan 
Laos atau Kamboja sekalipun. Ini memprihatinkan. Maka pengungkapan 
kasus Munir ialah test case NKRI mau menjadi bangsa seperti apa pada 
masa depan. 

      Endang Suryadinata Peminat Sejarah Indonesia- Belanda; Alumnus 
Erasmus Universiteit Rotterdam 
     


http://jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=302856
Sabtu, 08 Sept 2007,
Suciwati Desak BIN Cabut Duri Dalam Daging 


JAKARTA - Pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir yang terjadi 
persis tiga tahun silam kemarin (7/9) diperingati di seluruh pelosok 
negeri. Ribuan orang yang terdiri atas aktivis LSM, korban HAM, 
rekan, dan keluarga Munir mengadakan berbagai acara untuk mendesak 
pemerintah agar segera mengungkap pembunuh aktivis asal Batu, Jawa 
Timur, itu.

Di Jakarta, ratusan orang yang datang dengan menggunakan sepeda 
motor, mobil pribadi, dan metromini nglurug Kantor Badan Intelijen 
Negara (BIN) di Kalibata, Jakarta Selatan. Sebagian besar mengenakan 
kaus merah atau hitam yang di bagian depan tertulis kata Mengenang 
Tiga Tahun Dibunuhnya Munir. Di bagian belakang ada tulisan Dibunuh 
Karena Benar. Dalam aksi itu, juga dibawa sejumlah karangan bunga 
duka cita.

Dalam orasinya, Suciwati menegaskan, BIN hendaknya membuktikan 
komitmen untuk membantu pengungkapan kasus pembunuhan Munir dengan 
berani "mencabut duri dalam daging". "Kami berada di sini karena 
ingin BIN terus menegakkan semangat yang dulu dibangun Soekarno dan 
Hatta, yang patungnya ada di depan kantor ini, ketika mendirikan 
Indonesia," tegasnya. Menurut ibu dua anak itu, BIN perlu direformasi 
agar akses informasi lembaga tersebut bisa dibuka lebih lebar kepada 
masyarakat.

Di tempat yang sama, Koordinator Kontras Usman Hamid menyatakan, 
seruan reformasi atas BIN bukan merupakan upaya melawan salah satu 
badan negara tersebut. Reformasi itu, menurut dia, demi memebersihkan 
BIN dari oknum-oknum yang mengatasnamakan BIN untuk membunuh 
Munir. "Kami di sini malah bermaksud membela Syamsir (Siregar, kepala 
BIN). Ibarat membuang duri dalam daging, Syamsir harus berani 
mengajukan nama-nama tersebut untuk diperiksa," ujarnya.

Selain ketatnya penjagaan dari dua kompi polisi antihuru-hara, 
pengamanan demo peringatan kematian Munir kemarin ternyata dilakukan 
dengan memutuskan jaringan komunikasi. Tidak ada satu pun telepon 
selular maupun alat komunikasi tanpa kabel yang bisa digunakan untuk 
berkomunikasi. Banyak wartawan yang bingung tidak bisa melaporkan 
peristiwa aksi secara langsung karena lokasi demo blank. Baru setelah 
peserta aksi bergeser sekitar radius 200 meter dari gerbang BIN, 
jaringan komunikasi lancar seperti biasa. 

Putusnya jaringan komunikasi juga dirasakan Usman. "Kami tidak bisa 
berkoordinasi dengan rekan-rekan lain untuk melanjutkan aksi ke 
istana," ujar koordinator Kontras itu. 

Menjelang aksi berakhir, Suciwati bermaksud memberikan tanda dukungan 
kepada BIN dengan memberikan seikat karangan bunga. Namun, di antara 
jejeran aparat dan anggota BIN yang mengawal di balik pintu besi 
Kantor BIN tidak ada satu pun yang bersedia menerima. 

Spontan, para demonstran mencemooh para anggota BIN tersebut. Setelah 
berorasi sekitar satu jam, rombongan demonstran itu melanjutkan aksi 
di depan Istana Negara. 

Selain di ibu kota, peringatan tiga tahun kematin Munir berlangsung 
di kota kelahirannya, Malang. Seperti yang dilakukan aktivis HAM di 
Jakarta, puluhan anggota HMI Cabang Malang juga mengadakan unjuk rasa 
di depan gedung DPRD Kota Malang. Mereka mendesak penuntasan kasus 
Munir. 

Aksi diam mewarnai peringatan mengenang kematian Munir di depan 
Gedung Negara Grahadi Surabaya kemarin. Aksi ini diikuti sekitar 40 
orang yang sebagian besar mengenakan baju hitam. Dalam aksi ini 
mereka memanjatkan doa agar kasus terbunuhnya Munir segera terungkap. 
Mereka juga mengingatkan masyarakat agar terus mendukung perjuangan 
menegakkan kebebasan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Sementara itu dari Jogjakarta dilaporkan, puluhan aktivis yang 
tergabung dalam Koalisi Masyarakat Untuk Solidaritas Udin dan Munir 
(KASUM) Jogja itu mendatangi DPRD DIY, Jl Malioboro. Mereka menuntut 
kasus pembunuhan Munir dituntaskan.

Puas berorasi di DPRD DIY, para demonstran melanjutkan aksinya di 
kantor gubernur DIY di Kepatihan. Namun sebelum mereka tiba, puluhan 
anggota Satpol Pamong Praja (PP) sudah terlebih dahulu menutup rapat-
rapat pintu gerbang kantor gubernur DIY.

Tiga tahun tewasnya Munir juga diperingati siswa-siswa SD 
Muhammadiyah IV di jalan Welirang kota Batu, Jawa Timur. Para murid 
dan guru tempat sekolah Munir dulu itu mengadakan upacara bendera 
setengah tiang serta menggelar aksi teatrikal.

Salah satu guru SD Muhammadiyah IV yang juga guru Munir, Farida, di 
Batu, mengatakan, pada waktu sekolah, Munir merupakan murid yang 
mempunyai kemampuan tinggi dan mempunyai sifat yang periang serta 
suka membantu teman-temannya. "Saya ingat sekali saat membimbing dia. 
Dia (Munir red), sering membantu teman-temannya, yang jelas dia suka 
bergaul dengan siapa saja," kata guru Bahasa Indonesia itu. 
(bay/yos/jpnn)



07/09/07 16:26

Haul ke-3 Munir Juga untuk Marsinah
Oleh Edy M Ya`kub


Surabaya (ANTARA News) - 7 September 2004, aktivis HAM Munir SH 
ditemukan tewas di atas pesawat Garuda bernomor penerbangan GA 974, 
jurusan Jakarta-Amsterdam. 

Telah tiga kali haul (peringatan kematian) Munir dilakukan, namun 
hingga kini belum ada titik terang siapa pembunuhnya. 

Nasib Munir tidak jauh berbeda dengan Marsinah. Pejuang buruh yang 
terbunuh pada 8 Mei 1993 pun, hingga kini belum terungkap pelakunya.

Munir adalah pembela Marsinah, sehingga belum tersingkapnya kasus 
Munir, memperpanjang ketidakjelasan siapa pembunuh Marsinah.

Marsinah, wanita yang terlahir 10 April 1969 adalah aktivis buruh 
pabrik PT Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jatim. Sebelum 
ditemukan terbunuh, Marsinah diculik pada tiga hari sebelumnya.

Mayat Marsinah ditemukan di hutan di Dusun Jegong, Kecamatan 
Wilangan, Kabupaten Nganjuk, Jatim dengan tanda-tanda bekas 
penyiksaan berat.

Munir mati dengan cara sedikit berbeda. Ia tidak disiksa terlebih 
dahulu, tapi "hanya" diracun. Menurut hasil otopsi ahli forensik 
Belanda pada 13 Oktober 2004, di dalam lambung Munir terdapat racun 
arsenik dalam jumlah besar.

Latar Belakang

Untuk menguak pelaku pembunuhan Marsinah, almarhum Munir SH membentuk 
KASUM (Komite Aksi Solidaritas Untuk Marsinah) dan kini rekan-rekan 
Munir pun membentuk KASUM (Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir) untuk 
tujuan yang sama.

KASUM yang dipimpin Munir mengungkap, Marsinah terbunuh karena 
sengketa upah, antara buruh dan perusahaan.

Sengketa upah itu dilatarbelakangi oleh surat edaran Gubernur KDH TK 
I Jawa Timur Nomor 50 Tahun 1992, tentang imbauan kepada pengusaha 
agar meningkatkan kesejahteraan karyawan dengan memberikan kenaikan 
upah sebesar 20 persen dari gaji pokok.

Namun, para pengusaha Jawa Timur termasuk PT CPS, keberatan atas 
surat edaran itu, karena hal itu akan membebani pengeluaran 
perusahaan. 

Sikap pengusaha yang tak kooperatif dan tidak memedulikan surat 
edaran gubernur, memaksa Marsinah dan aktivis buruh PT CPS melakukan 
unjuk rasa. Mereka menuntut perusahaan menaikkan upah dari Rp1.700 
menjadi Rp2.250 perhari.

Namun, aksi itu memakan korban, Marsinah diculik dan dibunuh.

Munir terbunuh karena perjuangannya menegakkan Hak Azasi Manusia. 
Berdasar penelusuran aktivis KASUM, Choirul Anam, ada empat alasan 
yang diduga menjadi penyebab dan latar belakang kematian Munir SH.

"Alasan pertama yang kami temukan yakni, Munir cukup kritis terhadap 
RUU BIN sebagai upaya mereformasi BIN yang selama ini melibatkan 
birokrat hingga ke tingkat RT/RW untuk aktivitasnya," katanya dalam 
refleksi di kampus Unair Surabaya (6/9).

Alasan kedua, Munir juga kritis terhadap rencana pembentukan BIN di 
daerah-daerah, dan alasan ketiga Munir memprotes keterlibatan 
Hendropriyono yang masih aktif sebagai tim pemenangan Megawati 
Soekarnoputri.

"Satu lagi alasannya adalah kasus Talangsari yang melibatkan pasukan 
`Garuda Hitam` bentukan Hendropriyono (mantan Kepala BIN), karena itu 
kami menyimpulkan ada keterkaitan kematian Munir dengan BIN," katanya.

"Jendela" BIN

Dalam "Refleksi Kematian Munir (2004-2007)" di aula Fakultas Sastra 
Unair Surabaya (6/9) itu, KASUM mengungkap saat ini ada "jendela" 
yang mengarah kepada dugaan kuat atas keterlibatan Badan Intelijen 
Negara (BIN) dalam kasus Munir.

"Sudah ada jendela ke arah positif dalam pengungkapan kasus Munir. 
Arahnya, bukti-bukti dalam sidang PK (Peninjauan Kembali) sudah 
menunjuk dugaan keterlibatan BIN itu," katanya.

"Jendela" dalam kasus Munir antara lain bukti rekaman 41 kali 
percakapan telepon Pollycarpus dengan orang BIN, kemudian bukti 
pengakuan mantan Dirut Garuda Indra Setiawan bahwa perpindahan 
Pollycarpus dari pilot menjadi administrasi keamanan Garuda atas 
permintaan BIN dengan surat resmi.

Namun, kata aktivis Human Right Working Group (HRWG) itu, surat yang 
diakui Indra Setiawan dalam persidangan itu sudah dihapuskan 
dari "file" BIN dan bahkan surat yang dipegang Indra Setiawan pun 
sudah dirampok di perjalanan.

"Ada juga dua saksi yang mengarah ke BIN yakni Sentot Waluyo dan 
Raden Muhammad Patma Anwar alias Ucok yang merupakan agen BIN 
golongan III. Sentot adalah pembuat empat skenario pembunuhan Munir 
yang akhirnya diganti dengan racun arsenik di bandara Changi, 
Singapura. Sedang Ucok adalah aktivis mahasiswa yang memata-matai 
kegiatan Munir," katanya.

Hal itu menunjukkan bahwa Sentot dan Ucok merupakan implementator 
lapangan untuk pembunuhan Munir dengan kendali Deputi I BIN 
(Manunggal Maladi) yang berkoordinasi dengan Deputi VI BIN (Muchdi 
PR) dan Waka BIN (As`ad), termasuk mantan Kepala BIN Hendropriyono 
yang juga diduga terlibat.

Namun kini, kelanjutan pengungkapan kematian Munir bergantung kepada 
izin Kepala BIN Syamsir Siregar untuk pemeriksaan empat jenderal BIN 
yang "menyalahgunakan" BIN. 

Setali tiga uang dengan pengungkapan kasus Marsinah, yang bergantung 
pengakuan atas temuan Labfor tentang dua noda darah di Makodim 
Sidoarjo yang identik dengan darah Marsinah.(*)




Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke