SBY Segera Temui Bank Dunia Kamis, 20 September 2007
JAKARTA (BP) – Niat PBB dan Bank Dunia memburu mantan presiden Soeharto sebagai
pejabat korup yang mencuri uang rakyat disambut Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono. Pekan depan SBY segera bertemu Presiden Bank Dunia James D
Wolfensohn untuk membahas aksi kongkret lembaga dunia tersebut. Selama
sepekan, 22-27 September, SBY akan bertolak ke New York, Amerika Serikat,
menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Di sela-sela itulah
SBY akan bertemu James D Wolfensohn.
Rencana itu kemarin dibahas SBY dengan menggelar rapat terbatas dengan para
menteri. Para menteri tersebut adalah Menko Polhukam Widodo AS, Menko Kesra
Aburizal Bakrie, Menko Perekonomian Boediono, Menteri Luar Negeri Hassan
Wirajuda, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Lingkungan Hidup
Rachmat Witoelar, serta anggota Wantimpres Ali Alatas dan Emil Salim.
Menlu Hassan Wirajuda membenarkan rencana SBY bertemu presiden bank dunia
tersebut. ”Tujuannya untuk meminta kejelasan mengenai rencana dan inisiatif
Presiden Bank Dunia dan PBB untuk membantu negara-negara berkembang yang
mengalami persoalan larinya harta atau modal dari negara berkembang, ke negara
maju akibat korupsi,” kata Hassan usai rapat terbatas di kantor presiden
kemarin.
Indonesia sangat berharap upaya tersebut bisa terealisasi. Upaya itu, kata
Hassan, diharapkan membantu mengembalikan dana yang lari keluar negeri. ’’Ini
memang kampanye pada tingkat global. Bagi kita, kalau upaya ini efektif, akan
membantu upaya-upaya kita dalam asset recovery,” jelasnya.
Hassan mengakui tidak mudah mengembalikan harta yang dikorupsi dan kemudian
disimpan di luar negeri. Selama ini Indonesia mengalami kesulitan terutama di
negara-negara yang belum memiliki perjanjian ekstradisi dengan Indonesia.
Begitu mendengar ada gerakan The Stolen Asset Recovery (StAR) Initiative,
Indonesia harus merespon positif dan dimaknai sebagai dukungan internasional.
Menurut Hassan, pihaknya belum memastikan apakah benar Soeharto masuk urutan
pertama mantan kepala negara yang mencuri uang rakyat. Karena itu dalam
pertemuan nanti akan diperjelas semuanya. Hanya saja, kata Hasa, pengembalian
asset itu tidak hanya untuk kasus Soeharto. Tapi juga menyangkut asset-asset
lain yang dilarikan tokoh yang lain juga.
Bank Dunia, lanjut Hassan, memiliki jaringan dengan berbagai bank di negara
lain, terutama di negara maju. ”Harapannya dengan jaringan itu, bank dunia bisa
memengaruhi bank-bank asing untuk lebih terbuka dalam membuka dana-dana
simpanan dari hasil korupsi,” katanya.
Menlu sempat mencontohkan kasus Tommy Soeharto di BNP Paribas. Saat itu
Indonesia baru diberi tahu setelah muncul kasus, di mana bank yang bersangkutan
digugat pihak lain. Sebelum itu, pihak bank sama sekali tidak terbuka kepada
Indonesia tentang adanya dana Indonesia di bank tersebut.
Hassan juga menegaskan, kalau Indonesia dibantu lembaga internasional bukan
berarti lembaga hukum di Indonesia citranya jatuh. Indonesia yang sangat aktif
melakukan asset tracing atau menjajaki asset-aset Indonesia di luar negeri,
tidak bisa sendirian. ’’Jadi ini positif untuk membantu upaya Indonesia atau
negara berkembang lainnya,” katanya.
Selama ini, kata Hassan, Indonesia sudah memiliki tim aset tracing dan recovery
yang sedang berada di Washington. Sebelum SBY bertemu presiden bank dunia, tim
ini akan terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan bank dunia untuk
memperoleh kejelasan mengenai masalah tersebut.
Tim tersebut dibentuk beberapa bulan lalu. Tim ini dibentuk untuk melacak
kasus-kasus di Singapura dan terutama kasusnya Tommy Soeharto. Tim terdiri dari
Kejaksaan Agung sebagai vocal point, Deplu yang berkaitan dengan masalah di
luar negeri, dan Kepolisian.
Di New York, ada dua agenda lain yang dilakukan SBY, selain membahas Soeharto
bersama bank dunia. Agenda tersebut berkaitan dengan kegiatan multilateral,
yaitu high level meeting on climate change atau pertemuan tingkat tinggi
mengenai perubahan cuaca, yang akan dihadiri oleh 88 kepala negara.
”Kita mempunyai posisi khusus karena kita akan menjadi tuan rumah pertemuan
Bali, Desember mendatang,” kata Hassan.
Karena itu, kata Hassan, di samping ikut dalam diskusi tematik mengenai upaya
penanggulangan perubahan cuaca, Indonesia selaku tuan rumah Bali meeting dan
dengan tiga kepala negara lainnya yaitu, Kenya tuan rumah dari pertemuan yang
sama tahun lalu, Polandia dan Denmark, akan memimpin suatu pertemuan. (jpnn)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kelompok Advokasi Riau - KAR
Jl. Gabus. No. 39
Tangkerang Barat
Pekanbaru - Riau
Telp : +62812 680 3467
Fax : +62761 22545
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/