Galamedia
Tanpa Izin Suami, Menjadi TKW di Arab Saudi (2)
Ada Apa? Mendadak Istriku Sumringah
MAS Jon yang sehari-hari dipanggil Jon, bersama anak semata wayangnya
ditinggal pergi sang istri untuk menjadi TKW. Bagaimana hal ini sampai terjadi
dan mengapa istrinya pergi tanpa izin suami? Pengalaman Jon dikisahkan kembali
oleh H. Arya Rusli dalam tulisan di bawah ini.
JON dan Sri,istrinya, baru bertengkar, namun seperti biasa pula, Jon mampu
meredam pertengkaran hingga tidak berlanjut. Sore itu, setelah siangnya berteng
kar, Jon pulang ke rumah dan mendapatkan istrinya tengah ngagoler di kasur,
sedangkan sang bayi tidur pulas di sisi lain dekat sang istri.
Mengetahui Sri tidak benar-benar tidur, segera saja Jon membangunkannya. Benar
saja, sang istri menyapa dengan ramah dan ceria. Tidak lagi tergambar wajah
nenek sihir seperti saat-saat bertengkar, yang tampak adalah wajah cantik istri
tercinta. Kalau sudah begini, Jon cepat maklum, pasti ada sesuatu yang
membuatnya begitu sumringah.
Benar saja, setelah memberi segelas air minum, istrinya membuka pembicaraan.
"Kang, kalau boleh saya mau pulang dulu ke Cianjur. Kangen sama mama, Kang,"
rayu istriku. Aku terdiam sejenak, lantas balik bertanya. "Bagaimana dengan si
kecil, dibawa juga?"
kataku. "Iya atuh kang, ninik jeung akina oge sono meureun. Piraku saya
ngalenggang sendiri, pasti sareng si kecil," timpalnya lagi, tanpa menunggu
persetujuanku.
Kalau sudah begini terpaksa aku mengalah, apalagi jika si kecil tiba-tiba
terbangun dan menangis disertai isakannya yang menyentuh kalbu. Hatiku luluh,
serta merta kurangkul buah hatiku itu, lantas kugendong hati-hati, selanjutnya
kudekap dalam pelukanku.
Benar kata orang, rasa sayang kepada anak melebihi rasa sayang kepada suami
atau istri. Itu kurasakan benar, apalagi kalau tangis bayi terus
berkepanjangan, timbul rasa khawatir yang menurut sebagian tetangga rasa
khawatirku berlebihan. Tapi aku tak peduli, bayiku tetap kugendong, kudekap
penuh kasih sayang, sampai-sampai aku lupa dengan permohonan istri ku tadi yang
minta izin untuk pulang.
Aku baru teringat manakala istriku mengulang lagi permintaannya itu. "Kumaha
Kang, kenging henteu?" tanyanya, serius.
Sambil menimang-nimang bayiku, dengan setengah bercanda aku menjawab. "Enggak
boleh, apalagi bawa si Asep," kataku, seraya mencium leher Asep, anakku yang
masih berusia lima bulan.
Terus terang, hati kecilku tak mengizinkan istri dan anakku pergi ke Cianjur.
Tapi di sisi lain, aku menyadari kondisiku yang sedang menganggur, siapa tahu
kepergiannya ke Cianjur untuk kepentinganku juga. Aku berharap, istriku pulang
ke Cianjur dengan membawa sedikit uang saat kembali ke Sukabumi. Siapa tahu,
orangtuanya memberi bekal untuk susu cucunya, begitulah khayalanku.
Dilatari khayalan tadi, aku akhirnya menyetujui keinginan istriku, tapi aku
mewanti-wanti agar tidak lebih dari tiga hari. Itu pun masih diembel-embeli
pernyataan istriku saat kuantar ke terminal angdes/bus di Sukabumi. "Paling
lama seminggu Kang," kata istriku, sambil melambaikan tangan dari angdes (ang
kutan desa) yang mereka tumpangi dan mulai melaju membawa istri dan anakku
serta penumpang lainnya.
Singkat cerita, istriku memang memenuhi pesanku dan hanya tiga hari di sana.
Aku senang bukan kepalang karena istriku begitu penurut, menghormati keinginan
suami. Lebih dari itu, tiga hari berpisah dengan Asep, anakku, membuatku rindu
setengah mati. Tak heran, begitu keduanya tiba di pintu rumah, langsung saja
kurebut Asep dari gendongan istriku. Setelah istirahat sejenak, istriku
menceritakan kondisi kedua orangtua dan dua adiknya di kampung. istriku juga
menyinggung soal dua teman dan seorang sepupunya yang sedang menyiapkan segala
urusan administrasi untuk bekerja di Arab Saudi. Cuma itu cerita istriku.
Hari-hari selanjutnya tak pernah terbayangkan akan terjadi peristiwa seperti
ini. Minggu pagi aku terbangun tanpa mendapatkan istri dan anakku di tempat
tidur. Ketika ke ruang tengah, di atas meja tampak sepucuk surat yang ditindih
asbak. Aku kenal betul tulisan istriku, segera saja kuambil surat itu. Isinya
membuatku sangat terkejut, kira-kira seperti ini.
"Kang, saya dan Asep kembali ke Cianjur. Enggak lama, paling-paling satu
minggu. Ada urusan keluarga yang harus diselesaikan, urusan keluarga saya kok
Kang, enggak ada kaitannya sama Akang. Di bawah baju di rak pakaian, ada
sedikit uang untuk keperluan dan makan Akang sehari-hari, mudah-mudahan cukup.
Punten ya Kang. Saya dan Asep baik-baik saja. Maafkan istrimu".
Aku hanya bisa terpaku, memandang dengan tatapan kosong ke arah surat istriku.
Aku benar-benar tak mengerti, baru saja dari Cianjur dan baru empat hari
kembali ke Sukabumi, tiba-tiba kembali lagi ke Cianjur. Ada apa? Bingung aku
dibuatnya, aku benar-benar tak mengerti dengan sikap istriku.
Ketika hal ini aku tanyakan kepada Ipah, adikku itu pun tak mendapat pesan
apa-apa, kecuali tadi malam istriku tampak begitu ceria. Cuma itu. Karena tak
juga memperoleh jawaban yang pasti, seperti biasa, aku kembali bergabung dengan
teman-temanku di sebuah warung kopi. Biasa, sekadar ngobrol sambil heureuy
untuk melupakan semua masalah. (bersambung)**
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/