GALAMEDIA
SELASA, 25 SEPTEMBER 2007
Tanpa Izin Suami, Menjadi TKW di Arab Saudi (1)
Jika Sedang Bertengkar, Mirip Nenek Sihir
CERITA tentang tenaga kerja wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri,
memang tak ada habis-habisnya. Anehnya, mereka yang sukses mendulang riyal atau
dolar di kerajaan petrodollar Arab Saudi, sering luput dari sorot kamera atau
pemburu berita. Sebaliknya kisah dramatis yang berakhir tragis, pasti menjadi
berita penting, bahkan tak jarang jadi headline news. Bagaimana dengan kisah
seorang suami dan anak semata wayangnya yang ditinggal pergi sang istri untuk
bekerja di Jeddah? Ikuti kisah yang diceritakan kembali oleh H. Arya Rusli.
AKU asli berdarah Sunda, tapi orangtuaku memberiku nama Masjono dengan
panggilan sehari-hari Jon. Sebagai pria berumur 24 tahun dan sudah
berpenghasilan mes kipun jauh dari cukup, pada 2003 aku nekat menikahi Sri,
gadis asal Cianjur yang sering bermain ke rumah familinya di kampungku di
Sukabumi.
Aku tinggal di Cisaat, tapi lebih ke dalam lagi, kira-kira lima kilometer dari
pinggir jalan raya Cisaat-Sukabumi. Sebagai pemuda kampung, pekerjaan yang aku
lakukan hanya sekitar petani penggarap, menggembala kambing atau kalau sedang
ada pekerjaan sampingan, aku membantu paman di proyek pembangunan perumahan.
Sehari-hari sebenarnya aku menjadi tukang ojek motor, mengantar penumpang. Tapi
sejak 2005, kalau tidak salah sejak harga premium dinaikkan pemerintah menjadi
Rp 4.500/liter, usahaku mulai seret. Banyak calon penumpang yang enggan naik
ojek sehingga berlalu begitu dari pangkalan ojek tempat aku mangkal. Meskipun
aku dan beberapa rekan pengojek lainnya sudah menawarkan tarif rendah, tetap
saja sulit mencari penumpang.
Karena itu, aku dan beberapa rekan mulai banyak yang alih profesi, meskipun
tidak sepenuhnya meninggalkan profesi tukang ojek. Akibatnya, istriku mulai
uring-uringan, apalagi dari hasil perkawinan kami yang sudah berjalan setahun
lebih, istriku baru saja melahirkan bayi laki-laki yang lucu, mungil, dan
menggemaskan.
Hampir setiap hari kami bertengkar, istriku lebih sering mengurung diri di
dalam kamar, sedangkan aku langsung ke luar menemui teman-temanku yang biasanya
ada di pangkalan. Memang, pangkalan ojek ini tidak lagi ramai seperti dulu.
Pada 2001-2002 hingga 2003, pangkalan ini sibuk setiap hari. Boleh dibilang
hampir setiap satu jam sekali aku mendapat penumpang, bergantian dengan
sembilan tukang ojek lainnya.
Mengingat masa-masa itu, aku sering sedih, terkadang melamun seperti orang
linglung. Kalau sudah begini, aku baru tersadar manakala sejumlah teman-temanku
menyindir dengan guyonannya. "Ulah ngalamun wae. Eta budak di imah hoyong
susu." Lantas ditimpali rekan yang lain. "Susu indungna seep ku bapana
meureun."
Kalau sudah begini, lamunanku buyar. Aku hanya bisa tersipu-sipu, lantas
berbaur dengan guyonan-guyonan segar ala kampung kami. Pikirku dalam hati,
ada-ada saja yang bisa menghiburku. Kalau sudah begini, aku lupa dengan kemelut
rumah tanggaku, lupa dengan wajah cantik istriku yang mendadak bak nenek sihir
jika kami sedang bertengkar.
Aku lupa dengan wajah miris anakku yang memerah jika sedang menangis. Untuk
sejenak aku benar-benar nyaman seolah tak ada masalah dan semua itu hanya bisa
terjadi berkat teman-temanku yang masih setia dengan profesinya sebagai
pengojek. Terkadang sampai sore aku nongkrong dengan mereka, sampai akhirnya
baru pulang ke rumah jika pangkalan sudah sepi.
Segera aku masuk rumahku yang sangat kecil, warisan almarhumah ibuku. Rumah ini
sangat kecil, hanya terdiri atas satu kamar tidur kecil, ruang tengah merangkap
ruang tamu, ruang makan dan keluarga, selebihnya di belakang dapur kecil dan
kamar mandi plus WC. Selain aku, istri, dan anak, adikku yang wanita tinggal
denganku. Pada jam segitu biasanya Ipah, adikku, berada di warung tak jauh dari
rumah, ngerumpi sesama ABG teman sekampung.
Kudekati istri dan anakku yang sedang tidur. Di atas kasur tanpa ranjang, aku
merebahkan tubuh, seraya pikiranku menerawang jauh ke depan. Ketika itu aku tak
tahu persis apakah istriku sedang tidur atau tidak, yang pasti anakku tidur
pulas. Tapi biasanya jika istriku benar-benar tidur, posisinya pasti miring.
Ini tidak, posisinya telentang dengan lengan kanan melintang menutupi wajah.
Segera saja kusentuh tangannya, kubangunkan dan kubisikkan sesuatu di
telinganya. Memang, aku sering berbuat romantis jika baru saja terjadi
pertengkaran di antara kami. Begitu juga petang itu, istriku langsung terbangun
dan tersenyum, seraya bertanya. "Dari mana Kang?"
Ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Kali ini istriku menyapa lebih ramah,
lebih mesra, disertai tatapan penuh misteri. Tampak jelas wajahnya berseri.
Dalam hati aku berpikir, jangan-jangan ada sesuatu yang membuat hati istriku
begitu senang. (bersambung)
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/