http://batampos.co.id/content/view/31381/97/


      Paradoks Pertumbuhan Ekonomi        
      Selasa, 25 September 2007  
      Oleh: Muhammad Zaenuddin*

      Dalam kurun waktu tahun 1967-2005 pertumbuhan eko nomi Indonesia selalu 
positif, kecuali tahun 1998, minus 13,20 persen. Sejak tahun 2000 pertumbuhan 
ekonomi belum mencapai tingkat pada pertengahan sembilan-puluhan, tetapi 
cenderung semakin tinggi. Fenomena paradoks pertumbuhan ekonomi ini menimbulkan 
pertanyaan: "mengapa terjadi pertumbuhan ekonomi, tetapi kemiskinan dan 
pengangguran tetap tinggi?" Memang faktanya, kita melihat terdapat banyak 
paradoks dalam perekonomian kita. Di satu sisi kita melihat pertumbuhan ekonomi 
sudah merangkak naik hingga mendekati 6 persen per tahun namun di sisi lain 
angka pengangguran dan kemiskinan tetap tinggi. Artinya pertumbuhan itu belum 
sepenuhnya mampu mengurangi dua masalah struktural tersebut. Paradoks lain juga 
terjadi dan terkadang sulit dicari jawabnya. Misalnya dikatakan pendapatan per 
kapita masyarakat tertekan namun kenyataan penjualan kendaraan bermotor tetap 
naik. 


      Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah beberapa waktu yang 
lalu menegaskan hal yang serupa bahwa pada saat sekarang ini di Indonesia 
terjadi paradoks dalam pertumbuhan ekonomi, karena meski tumbuh namun belum 
mampu menyerap tenaga kerja untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan. 
Dikatakannya, pertumbuhan yang tidak menyerap tenaga kerja, nanti ujungnya 
membuat jurang kemiskinan yang semakin melebar. Itulah yang sering disebut 
sebagai paradox of growth (paradoks pertumbuhan). Pertumbuhan ekonomi semacam 
ini dikatakan tidak berkualitas karena meski perekonomian tumbuh enam persen 
sampai tujuh persen, namun belum mampu menyerap tenaga kerja untuk mengurangi 
pengangguran dan kemiskinan. 


      Selain itu, adanya pertumbuhan ekonomi seharusnya diharapkan dapat 
mendorong perbaikan pendapatan per kapita dan distribusi pendapatan. Namun 
kenyataannya, dilihat dari dimensi distribusi, PDB per kapita Indonesia pada 
tahun 2006 memang meningkat menjadi 1.663 dolar AS, namun ketimpangan 
distribusi pendapatan juga meningkat. Ketimpangan yang meningkat diukur dengan 
beberapa cara. Pertama, rasio gini yang meningkat dari 0,29 pada 2002 menjadi 
0,35 pada 2006. Angka rasio gini yang semakin meningkat berarti terjadi 
ketimpangan distribusi pendapatan yang makin lebar. Kedua, kue nasional yang 
dinikmati oleh kelompok 40 persen penduduk termiskin mengalami penurunan dari 
20,92 tahun 2002 menjadi 19,2 pada tahun 2006. Ironisnya, penurunan kue 
nasional yang dinikmati kelompok 40% penduduk termiskin justru diikuti oleh 
kenaikan kue nasional yang dinikmati oleh 20 persen kelompok terkaya dari 44,7 
persen menjadi 45,7 persen pada tahun yang sama. Singkatnya, ada indikasi kuat 
adanya trickle up effect, efek muncrat ke atas, dalam proses pembangunan di 
Indonesia. 


      Sepuluh tahun usai krisis ekonomi ternyata kondisi perekonomian Indonesia 
dinilai belum menggembirakan. Bukannya pemerataan kesejahteraan yang terjadi 
(trickle down effect), namun justru efek menetes ke atas (trickle up effect) 
yang saat sekarang ini terjadi. Tentu saja situasi ini dapat memunculkan sebuah 
lingkaran buruk dalam perekonomian. Akibatnya, terjadinya disparitas pendapatan 
yang makin lebar, kualitas pembangunan manusia yang menurun, serta melebarnya 
pasar tenaga kerja informal. Kondisi kontras ini tentu saja berpotensi 
memunculkan gejala jebakan kemiskinan dan menjadi feedback negatif terhadap 
pemulihan pertumbuhan ekonomi. Dampak lanjutan yang makin merisaukan, adalah 
mulai menciutnya pasar domestik sehingga menurunkan minat pengusaha 
meningkatkan kapasitas produksi. Akibatnya, pengangguran pun jadi bertambah. 
Untuk menyikapi kondisi ekonomi ini, penduduk yang pendapatannya tinggi, 
mengakali dampak inflasi dengan menanamkan uangnya ke produk investasi atau 
perbankan lainnya. Namun bagi mereka yang berpendapatan tetap dan relatif 
rendah, inflasi merupakan pajak yang sangat menghukum. Pasalnya, bagian 
terbesar penduduk negeri ini tidak memiliki bantal penahan untuk mengurangi 
dampak inflasi terhadap pendapatan mereka. Jurang antara orang kaya dan miskin 
pun tambah dalam. 


      Meskipun demikian pemerintah tetap optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi 
mendatang bakal lebih tinggi. Optimisme tersebut didasarkan pada menggeliatnya 
sejumlah indikator sektor riil, yakni konsumsi masyarakat, kinerja investasi, 
dan ekspor-impor. Kinerja ekonomi juga dipermantap dengan terus stabilnya 
sektor keuangan. Selain itu, pertumbuhan konsumsi masyarakat ditunjukkan dengan 
mulai pulihnya daya beli. Hal tersebut ditunjukkan di antaranya dengan 
pertumbuhan penerimaan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) Dalam Negeri hingga 20 
persen. Bagi pemerintah hal itu dapat dianggap sebagai suatu indikasi bahwa 
terdapat peningkatan daya beli masyarakat. Karena memang ada uang yang keluar 
yang dibayarkan masyakarat untuk membeli barang dan jasa. Begitu juga dengan 
bergairahnya konsumsi masyarakat, dan juga akselerasi pertumbuhan yang nampak 
pada kinerja investasi yang makin naik. 


      Namun pandangan berbeda pada kalangan pengamat dan DPR. Kalangan DPR 
mengatakan bahwa kualitas pertumbuhan masih cukup rendah. Buktinya, target 
penerimaan pajak tahun ini justru diturunkan. Begitu juga dengan angka 
kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi, juga menunjukkan belum 
membaiknya kualitas pertumbuhan. Begitu juga kalangan pengamat mengatakan hal 
yang serupa. Ekonom LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Wijaya Adi 
mengatakan, seberapapun tingkat pertumbuhan ekonomi, tidak akan berarti jika 
tak dibarengi pengurangan kemiskinan dan pengangguran. 


      Entah memang sebagai sebuah prestasi, kebetulan atau kesengajaan 
pemerintah akan pentingnya penurunan angka kemiskinan. Kabar terakhir 
meyebutkan bahwa Penduduk miskin berkurang jumlahnya, dari 39,3 juta orang pada 
bulan Maret 2006 atau 17,75 persen dari total penduduk, menjadi 37,17 juta 
orang atau 16,58 persen dari 224,328 juta total penduduk Indonesia terakhir. 
(Kompas, Juli 2007). Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional-Susenas ini 
sesungguhnya berita yang menggembirakan namun ternyata mendapatkan kritikan 
yang luar biasa dari pengamat ekonomi dan kalangan DPR. Bagi kalangan pengamat, 
bila angka-angka tersebut benar hal itu merupakan suatu keajaiban, karena 
kemiskinan bisa berkurang di tengah kenaikan nyaris tak terkendali harga 
kebutuhan pokok dari beras, sampai minyak goreng, saat bantuan langsung tunai 
(BLT) telah dihentikan dan program penggantinya belum disiapkan. Bagi kalangan 
DPR, data tersebut dianggap tak lain sebagai upaya politisasi statistik. Karena 
data pengangguran, data kemiskinan jauh bertentangan dengan realitas di 
masyarakat. Selain itu bagi pengamat, survei ini bukan mengukur secara 
kualitatif pendapatan rakyat, melainkan secara kuantitatif dari pengeluaran 
atau tingkat konsumsinya


      Bagimana solusi mengatasi problematika perekonomian kita ini? Tak ada 
langkah lain untuk keluar dari kondisi ini, kecuali perlunya langkah terobosan 
dengan melakukan redistribusi akses yang selama ini tak merata, baik akses ke 
lembaga keuangan, pasar tenaga kerja, maupun pasar produksi. Harus ada rekayasa 
untuk meniadakan keterpinggiran masyarakat. Rekayasa itu dengan menghidupkan 
kembali proyek padat karya dan proyek yang mempercepat perekonomian. 


      Kestabilan makroekonomi seperti terkendalinya inflasi sebenarnya sudah 
sangat membantu terutama dalam memperbaiki daya beli masyarakat. Tetapi itu 
saja belum cukup. Pergerakan sektor riil perlu terus didorong dan itu tak hanya 
bisa dilakukan melalui penurunan suku bunga bank. Kendati bunga bank yang terus 
berkurang juga menjadikan iklim usaha makin kondusif. Pada akhirnya kemampuan 
dan daya beli secara agregat yang akan menentukan. Ketika pasar masih lesu bisa 
diperkirakan dunia usaha pun belum akan bangkit. Sebaliknya apabila pasar sudah 
mulai bergairah, jelas produktivitas dan gerak sektor riil akan semakin 
meningkat.


      Pemerintah harus berupaya bagaimana mengurangi kemiskinan dan 
pengangguran secara menyeluruh dan komplit serta bervisi jangka panjang. 
Bantuan seperti BLT yang dianggap sebagai analgesic dan program BOS memang 
masih penting, namun harus bersifat pengurangan kemiskinan dan pengangguran 
jangka panjang. Begitu juga Pemberdayaan usaha mikro-kecil-menengah (UMKM) yang 
merupakan pemberdayaan bagi yang sudah mempunyai akses terhadap faktor produksi 
harus makin digalakkan. Upaya lainnya yang penting adalah pemberian akses 
terhadap faktor produksi bagi penduduk miskin sebagai the real pro-poor policy. 


      Upaya ini tentu sulit ditempuh apabila masih "mendewakan" pertumbuhan. 
Para pakar yang pro-pertumbuhan pasti langsung berargumentasi bahwa tanpa 
pertumbuhan tidak dapat mengatasi kemiskinan dan pengangguran. Walaupun 
kebijakan pro- poor juga mengharapkan pertumbuhan, tetapi pertumbuhan untuk 
semua, bukan untuk sekelompok kecil bangsa Indonesia, apalagi untuk bangsa 
lain. Sekarang kita dihadapkan kepada pilihan: pertumbuhan tinggi untuk 
sebagian masyarakat, atau pertumbuhan "tidak terlalu" tinggi, tetapi dapat 
mengurangi kemiskinan dan pengangguran. 
      Dalam sebuah negara, penilaian masyarakat terhadap kinerja pemerintah 
biasanya ditentukan oleh seberapa jauh perbaikan di bidang ekonomi dapat 
dirasakan masyarakat. Alasannya sederhana, dibandingkan dengan faktor politik, 
misalnya, faktor ekonomi seperti biaya hidup, pengangguran, dan kemiskinan 
merupakan hal yang langsung menyentuh dan dirasakan masyarakat. Indikator 
ekonomi lebih "nyata" dan terukur. ***


      *)Muhammad Zaenuddin, Akademisi/Pemerhati Masalah Ekonomi
     


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke