http://www.bangkapos.com/opini.php?action=baca&topik=4&id=1038
Minggu, 23 September 2007 20:27 Pendidikan Tinggi Kita oleh: Prakoso Bhairawa Putera S, SEPERTI yang kita lihat hari ini, sejak bulan Agustus kemarin berpuluh ribu generasi bangsa siap menikmati sistem dari pendidikan tinggi berlabel negeri. Lalu timbul pertanyaan bagaimana dengan mereka yang belum mendapat kesempatan untuk lolos. Swasta mungkin menjadi alternatif terbaik, (maaf) bukan dijadikan pelarian, tapi yang patut dicatat sejumlah perguruan tinggi jenis ini memiliki kualitas yang sebenarnya tidak kalah dengan rekannya di negeri. Hari ini yang menjadi pemikiran kita adalah apakah industri pendidikan (noble industri) berkualitas membutuhkan biaya yang tinggi dan mahal. Gagasan otonomi kampus untuk lebih memandirikan suatu lembaga pendidikan tinggi agar dapat lebih tumbuh dan berkembang dalam realisasi world class university, menjadi momentum awal. Kelengahan ketidakjelasan manajemen otonomi kampus yang terlalu lama dapat membuat jebakan kejenuhan rektorat berkepanjangan yang berakibat pada kebuntuan pada komitmen dan spirit yang mula-mula. Bahkan, akan semakin memupus impian universitas dengan keunggulan dalam hal kualitas pendidikan, pengajaran, penelitian, pelayanan, kesejahteraan pendidik, "kebebasan finansial" dan demokratisasi. Ironisnya selama ini ditengarai banyak perguruan tinggi yang mendahulukan kuantitas daripada kualitas pendidikan. Hal ini mungkin patut dimaklumi karena banyak perguruan tinggi yang mengedepankan kemampuan mereka untuk survive dulu dengan mencari pemasukan sebanyak-banyaknya dari SPP mahasiswa. Demikian pula dengan beberapa perguruan tinggi negeri yang berubah statusnya menjadi BHP, di mana mereka dituntut untuk dapat mandiri dalam mengelola keuangannya. Dengan meningkatkan kualitas pendidikan, lulusan perguruan tinggi pun akan lebih mudah dilirik oleh perusahaan-perusahaan serta institusi-institusi ternama yang pada gilirannya nanti akan meningkatkan reputasi perguruan tinggi di Indonesia. Guna meningkatkan kualitas pendidikan tinggi tentu saja diperlukan faktor pendukung seperti gedung, fasilitas belajar-mengajar, perpustakaan, dan manajemen pendidikan merupakan hal penting yang harus selalu dicoba ditingkatkan kualitasnya. Namun hal yang paling utama adalah ketersediaan sumber daya manusia berupa staf akademis yang qualified dan berkomitmen. Kemampuan perguruan tinggi untuk menarik dan mempertahankan staf akademis yang berkualitas adalah kuncinya. Peningkatan kualitas pendidikan dan peningkatan riset menjadi hal yang saling mendukung dalam peningkatan kualitas pendidikan tinggi secara umum. Meningkatkan riset dan kualitas pendidikan ini adalah kunci agar perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia bisalebih kompetitif di mata internasional. Suatu perjuangan berat yang tidak mudah namun tetap harus dimulai bagaimanapun juga beratnya. Kualitas pendidikan tinggi merupakan output proses pendidikan tinggi yang dikelola sebuah perguruan tinggi. Memasuki pendidikan tinggi berarti membeli jasa pendidikan tinggi. Keputusan memilih suatu perguruan tinggi merupakan suatu keputusan investasi. Investasi itu harus menguntungkan konsumen setelah dinyatakan lulus oleh perguruan tinggi tersebut. Karena selain membutuhkan dana yang cukup, kuliah di perguruan tinggi juga menghabiskan waktu yang cukup lama. Oleh sebab itu, konsumen pendidikan tinggi harus memiliki kesiapan dalam pertarung ini. Gonjang-ganjing tentang mutu pendidikan tinggi yang semakin disorot akhir-akhir ini membuat banyak pihak yang terlibat mulai bingung, seperti apa sebenarnya konsep pendidikan tinggi yang ideal di Indonesia. Karena banyak bukti menunjukkan pendidikan tinggi di Indonesia jauh tertinggal di bandingkan negara lain. Meskipun kita bersikap masa bodoh dengan survei yang menyatakan posisi pendidikan tinggi Indonesia termasuk papan bawah di Asia bahkan di dunia, ada baiknya kita melirik bagaimana sebenarnya sistem pendidikan tinggi di negara-negara yang tergolong maju. Pada era yang serba materialistis ini ternyata dunia pendidikan sudah menuai imbas. Untuk menyelenggarakan pendidikan bermutu diperlukan biaya tinggi. pendidik yang profesional dan berpengalaman memerlukan biaya tinggi, alat-alat laboratorium yang standar memerlukan biaya tinggi, bahan-bahan praktik yang lengkap memerlukan biaya tinggi, overhead persekolahan yang normal memerlukan biaya tinggi. Jadi, untuk mendukung pendidikan yang bermutu memerlukan biaya tinggi. Sangat dimungkinkan kiranya tak dapat dihindari untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas diperlukan biaya tinggi. Namun, biaya tinggi tidak selalu identik dengan mahal. Bahwa pendidikan yang bermutu itu memerlukan biaya tinggi memang benar; namun hal itu menjadi tidak mahal bagi rakyat kalau pemerintah pintar membuat kebijakan yang tepat untuk mengatasinya. Ilustrasi riilnya sebagai berikut: biaya pendidikan di Jepang dikenal sangat tinggi sehingga menghasilkan standar kualitas yang diakui dunia internasional. Meski demikian, rakyat Jepang hampir tak pernah mengeluh akan mahalnya biaya pendidikan. Mengapa? Karena pemerintah memberi subsidi memadai bagi rakyat, baik langsung maupun tidak langsung. Bersumber laporan UNDP, pemerintah Jepang mengalokasi 3,6 persen GNP-nya untuk pendidikan. GNP Jepang mencapai US$4.089,1 miliar. Jadi, sebanyak US$147,21 miliar digunakan mendanai pendidikan. Karena siswa dan mahasiswa di Jepang berjumlah sekitar 25 juta orang, tiap orang disubsidi sekitar US$5.888,3 ribu. Bagaimanakah dengan kita? Pemerintah Indonesia hanya mengalokasi 1,4 persen GNP-nya untuk pendidikan. GNP Indonesia hanya US$130,6 miliar. Jadi sebanyak US$1,83 miliar dipakai mendanai pendidikan. Karena siswa dan mahasiswa di Indonesia berjumlah sekitar 50 juta orang, tiap orang hanya disubsidi sekitar US$36,5. Besarnya subsidi pendidikan pemerintah Jepang apabila dihitung per siswa/mahasiswa bernilai 161 kali lipat pemerintah Indonesia. Dengan kata lain, karena subsidi pendidikan di Jepang relatif besar, yang dibayar langsung oleh orang tua atau masyarakat menjadi tidak mahal; sebaliknya karena subsidi pemerintah kita relatif kecil, yang dibayar langsung oleh orang tua atau masyarakat menjadi mahal. Besar dan kecilnya subsidi pemerintah itulah yang membuat mahal atau murahnya biaya pendidikan yang harus dibayarkan oleh orang tua atau masyarakat. Kalau kita ingin biaya pendidikan tidak mahal, subsidi pemerintah harus besar. Mungkin kata Konsistensi adalah kunci atas semua pertanyaan kita hari ini dan juga besok akan pendidikan tinggi kita, terutama konsistensi dalam menjalankan amanat undang-undang dasar dan kebijakan yang telah disepakati. (*)Pemerhati Masalah Pendidikan, Staf Peneliti FISIP Universitas Sriwijaya asal Bangka [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
