Garis besarnya, analisa pertarungan segi tiga (Soekarno, PKI TNI)
seperti dibawah ini sudah lama beredar, tapi penulis ini datang dengan
beberapa data baru yang memperkuat analisa sebelumnya, yaitu dokumen
berbagai jawatan Amerika yang sekarang telah diumumnkan....

Dan yang melintas difikiran kita (atau persisnya kami) ketika itu juga
begitu.

Saya masih ingat, ketika itu dengan sejumlah mahasiswa Indonesia dari
Perancis, Mesir dan beberapa negeri lain kami dibawa ke Aljazair untuk
membantu persiapan Konferensi Asia Afrika. 

Dan sebelum Konferensinya berlangsung 30 September terjadi.

Saya masih ingat beberapa hari setelah 30 September, ketika
segala-galanya masih kabur karena tidak ada berita yang pasti (ketika
itu tidak CNN, tidak ada internet, tidak ada satelit), dalam salah
satu diskusi tidak resmi dirumah duta besar, saya kontan berkata: "Ini
pasti Angkatan Darat yang bikin gara-gara..."

(Ketika itu saya pikir Nasution)

Dan Umar Said yang juga ada di Aljazair ketika itu langsug bilang
(saya ingat betul): "Betul, Bung".
 
(Saya kenal Umar Said untuk pertama kali di Aljazair itu).

Dan, setelah itu, mahasiswa Islam yang datang dari Mesir selanjutnya 
menjauhi saya...

Kelemahan analisa itu - walaupun tidak sama sekali salah - tidak 
menjelaskan kenapa tentara ( + Adam malik dll.) berhasil.

Karena CIA ?

Bukan, tapi karena dukungn rakyat terhadap Soekarno (dan PKI) ketika
itu sudah luntur.

Orang banyak (terutama penduduk kota) sudah capek antri beras, antri
minyak, antri gula dan capek inflasi yang mencapai 650%.

(Saya tidak lupa salah satu surat dari mendiang ibu saya yang ketika
itu ada di Jakarta, menulis bahwa dia malam-malam takut pergi tidur
karena dia tahu bahwa kalau dia bangun besoknya maka harga beras sudah
naik lagi...)
   
Lalu 'aksi sepihak' BTI (terutama di Jawa Timur) yang menjauhkan orang
Islam pendukung NU dari pendukung Soekarno dan kampanye Lekra dan LKN
yang 'mengganyang" "Manikebu" menjauhkan kaum intelektuil urban dari
Soekarno pula. 

Yang paling penting dari segala-galanya adalah ini:

Karena rezim Demokrasi Terpimpin itu adalah rezim diktatur, maka
kejatuhannnya juga - sebagaimana lazim terjadi - dengan kekerasan dan
genangan darah..

Tentu saja tidak berarti bahwa kita bisa berdiam diri dihadapan
genangarn darah itu.


--- In [email protected], "gsuryana" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> FYI.
> Mohon Uda JQ bisa kasih komentar yah.
> 
> sur.
> ----- Original Message ----- 
> From: "ysulaimn" <sulaiman.6@
> Telah dimuat di Kompas, http://www.kompas.com/kompas-
> cetak/0709/29/opini/3873018.htm
> 
> Sabtu, 29 September 2007 
>  
> Soekarno, Malaysia, dan PKI 
> 
> Yohanes Sulaiman 
> 
> Sudah 42 tahun tragedi berdarah yang disebut peristiwa G30S/PKI itu 
> berlangsung. Namun, apa yang terjadi pada malam naas tersebut masih 
> merupakan misteri. Salah satu pertanyaan yang sering diajukan adalah 
> apa hubungan Soekarno dengan PKI? Benarkah Soekarno mau menyerahkan 
> Indonesia kepada PKI? Jawabannya tidak! Soekarno memerlukan PKI 
> karena saat itu ia ingin mengganyang Malaysia. Namun, Soekarno 
> sendiri tak mau membiarkan PKI naik ke panggung kekuasaan. 
> 
> Seberapa jauh keterlibatan Soekarno dalam tragedi tersebut? Apa saja 
> yang termuat dalam berbagai dokumen Kementerian Luar Negeri Amerika 
> Serikat dan CIA yang baru saja dideklasifikasikan? 
> 
> Satu hal yang kurang diperhatikan para sejarawan yang meneliti 
> kedekatan Soekarno dan PKI adalah hubungan antara konfrontasi 
> Malaysia dan kedekatan Soekarno dengan PKI. 
> 
> Demonstrasi anti-Indonesia 
> 
> Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, di mana para 
> demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa 
> lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman-Perdana 
> Menteri Malaysia saat itu-dan memaksanya untuk menginjak Garuda, 
> amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak. 
> 
> Howard Jones, Duta Besar AS saat itu, melaporkan kepada Washington 
> bahwa ia bertemu Soekarno. "Saat itu Soekarno marah besar.... Tidak 
> ada lagi pertukaran salam. Tak ada basa-basi.. Menjawab pertanyaan 
> saya, apakah situasi sudah terkendali, Soekarno meledak dan mengutuk 
> tindakan Tunku. "Sejak kapan seorang kepala negara pernah menginjak-
> injak lambang negara lain?" Soekarno juga menyebutkan fotonya yang 
> dirobek dan diinjak-injak. "Rakyat Indonesia sudah murka! Ini Asia, 
> tahun 1963. Saya juga amat beremosi! (telegram dari Kedubes AS di 
> Indonesia kepada Departemen Luar Negeri AS, 19 September 1963) 
> 
> Howard Jones menyatakan simpatinya, tetapi ia menekankan bahwa 
> Indonesia tak bisa mengandalkan bantuan AS jika Soekarno ingin 
> melakukan balas dendam. Sementara itu, TNI Angkatan Darat terpecah: 
> Jenderal Ahmad Yani tidak bersedia mengerahkan pasukan untuk menyerbu 
> Malaysia karena tidak merasa tentara Indonesia cukup siap menghadapi 
> Malaysia yang dibelakangi Inggris. Namun, Jenderal AH Nasution setuju 
> untuk mengganyang Malaysia karena ia khawatir isu Malaysia akan 
> ditunggangi PKI untuk memperkuat posisinya di percaturan politik di 
> Indonesia. 
> 
> Saat itu PKI merupakan pendukung terbesar gerakan mengganyang 
> Malaysia, yang dianggap antek neokolonialisme dan imperialisme. 
> Namun, pertimbangan PKI bukan didasarkan sekadar idealisme. PKI 
> berusaha membangkitkan semangat nasionalisme Indonesia dan 
> menempatkan PKI sebagai gerakan nasionalis yang lebih nasionalis 
> daripada tentara untuk memperkuat posisinya dalam percaturan politik 
> di Indonesia, yang saat itu berpusat pada Soekarno, tentara, dan PKI. 
> 
> Melihat dukungan tentara yang setengah-setengah, Soekarno kecewa, 
> padahal ia ingin sekali mengganyang Malaysia. Sejak saat itulah, 
> hubungan Soekarno dan PKI bertambah kuat, apalagi setelah tentara 
> sendiri mengalami kegagalan dalam operasi gerilya di Malaysia. 
> Penyebab kegagalan itu bukan karena tentara Indonesia tidak 
> berkualitas, tetapi para pemimpin TNI Angkatan Darat di Jakarta tidak 
> tertarik untuk mengeskalasi konfrontasi. 
> 
> Kita harus memerhatikan secara saksama jalur pemikiran para pemimpin 
> Angkatan Darat saat itu. Mereka menghadapi buah simalakama. Mereka 
> tidak mau mengeskalasi konflik karena tidak tak yakin akan bisa 
> menang menghadapi Inggris. Di sisi lain, jika mereka tak melakukan 
> apa-apa, Soekarno akan mengamuk. Tak peduli keputusan apa yang 
> diambil, PKI akan tetap untung. 
> 
> Akhirnya, para pemimpin Angkatan Darat mengambil posisi unik. Mereka 
> menyetujui perintah Soekarno untuk mengirimkan tentara ke Kalimantan, 
> tetapi tak akan benar-benar serius dalam konfrontasi ini agar situasi 
> tak bertambah buruh menjadi perang terbuka Indonesia melawan Malaysia-
> Inggris (dan Australia-Selandia Baru). Tak heran, Brigadir Jenderal 
> Suparjo, komandan pasukan di Kalimantan Barat, mengeluh, konfrontasi 
> tak dilakukan sepenuh hati dan ia merasa operasinya disabotase dari 
> belakang. (JAC Mackie, 1971, hal 214) 
> 
> Kekhawatiran Soekarno 
> 
> Namun, pada saat yang sama, gagalnya konfrontasi juga berakibat buruk 
> bagi para penentang PKI, seperti Partai Murba. Posisi PKI menguat, 
> sampai 25 November 1964, kepada Washington, Howard Jones melaporkan, 
> Adam Malik, Chaerul Saleh, Jenderal Nasution, Jenderal Sukendro, dan 
> banyak lagi yang lain meminta Pemerintah AS membantu menyelamatkan 
> kaum moderat di Indonesia dari posisi mereka yang amat sulit (akibat 
> menguatnya posisi PKI).. Sebagian tentara Indonesia merasa malu 
> karena gagalnya usaha mengganyang Malaysia. (telegram dari Kedubes AS 
> di Indonesia kepada Departemen Luar Negeri AS, 25 November 1964) 
> 
> Sementara itu, secara internasional pun posisi PKI bertambah kuat 
> dengan semakin dekatnya hubungan Indonesia dengan China-Beijing. 
> Kedekatan ini disebabkan kesuksesan China dalam menguji bom nuklir 
> dan dukungan Beijing kepada konfrontasi Malaysia. Di sisi lain, 
> Soekarno merasa khawatir dengan PKI yang dianggap terlalu kuat. 
> Namun, masalahnya, ia amat memerlukan PKI untuk mengganyang Malaysia, 
> apalagi karena Indonesia sendiri sudah terkucil di lingkungan 
> internasional akibat konfrontasi tersebut. 
> 
> Kekhawatiran Soekarno terlihat dalam dokumen CIA yang baru 
> dideklasifikasikan beberapa tahun lalu, bertanggalkan 13 Januari 
> 1965. Dokumen itu menyebutkan, dalam sebuah percakapan santai dengan 
> para pemimpin politik sayap kanan, Soekarno menyatakan tak bisa 
> menoleransi gerakan anti-PKI karena ia butuh dukungan PKI untuk 
> menghadapi Malaysia. Ia menyatakan, namanya sudah "jatuh" di dunia 
> internasional dan Indonesia dianggap negara gila karena keputusannya 
> membawa Indonesia keluar dari PBB. Namun, Soekarno menekankan, suatu 
> waktu, "giliran PKI akan tiba" dan saat itu gerakan menentang PKI 
> sama dengan gerakan untuk menentang Soekarno. Soekarno berkata, "Kamu 
> bisa menjadi teman atau musuh saya. Itu terserah kamu." Soekarno 
> mengakhiri percakapan itu dengan berkata, "Untukku, Malaysia itu 
> musuh nomor satu. Suatu saat saya akan membereskan PKI, tetapi tidak 
> sekarang." 
> 
> Dari sini terlihat, kedekatan Soekarno dengan PKI diakibatkan 
> gagalnya TNI Angkatan Darat memenuhi keinginan Soekarno mengganyang 
> Malayia. Soekarno di sini terlihat bukan sebagai antek atau pendukung 
> PKI, tetapi ia memang berusaha menggunakan PKI untuk membantu 
> kebijakannya dalam mengganyang Malaysia. Kegagalan para pemimpin TNI 
> Angkatan Darat juga membuat tentara-tentara, seperti Brigadir 
> Jenderal Suparjo kesal kepada para pimpinan Angkatan Darat. Mereka 
> akhirnya merasa perlu melakukan operasi untuk mengadili para pemimpin 
> TNI Angkatan Darat yang dianggap berkhianat kepada misi yang 
> dibebankan Soekarno. Untuk melakukan hal ini, mereka memutuskan untuk 
> berhubungan dengan orang-orang dari PKI karena dianggap memiliki misi 
> yang sama, yakni mengganyang Malaysia. Hal ini akhirnya menyebabkan 
> peristiwa yang sampai sekarang disebut sebagai G30S/PKI. 
> 
> Yohanes Sulaiman Mahasiswa PhD Ilmu Politik Sekaligus Mengajar 
> Hubungan Internasional di Ohio State University. Disertasi "Politik 
> Luar Negeri Indonesia di Bawah Soekarno dan Hubungannya dengan AS 
> Tahun 1945-1967"
>




Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke