Refleksi: Lho, koq tiap kali dibilang komunis atau komus-kumis membahayakan bila dihadapkan dengan maslah kemiskinan yang tak bisa diatasi oleh penguasa. Bukankah kaum komus-komis sudah dibabat habis oleh Pak Harto dan mertuanya presiden NKRI sekarang ini. Jadi tak logis bila komus-kumis dibilang memiskinan Indonesia. Kemiskinan sudah berakar dan merajalela tanpa mereka. Tetapi, kalau komus-kumis adalah obat mujarab mengatasi kemiskinan,kelaparan dan keterbelakangan, mengapa dihebohkan sebagai kuntilanak?
Agaknya komus-kumis sudah tak ada di Indonesia. Sisa-sisa yang ada diluar negeri bukan kaum entusias nan pantang menyerah seperti Muso atau Tan Malaka zaman kolonial dulu. Mereka ini kaum lemah syahwat. Paling-paling ngoceh menghibur diri pada upacara kenduri. Wong, sudah sering bikin upacara mesra bersama dengan KBRI, dijinakan, jadi tidak lagi akan mengigit seperti nyamuk malaria tertiana, tusuk sana tusuk sini. Tapi, bagi yang mau mempelajari komunisme jangan dihindari. Silahkan pembaca yang memiliki kejujuran intelektual nang impartial tanpa prejudice memberikan penilaian. Bukankah untuk mengetahui sisi gelap kapitalisme sebagusnya membaca tulisan Marx dan konco-konconya? http://www.suarapembaruan.com/News/2007/10/01/index.html SUARA PEMBARUAN DAILY Istri Mendiang Amir Machmud, Komunis dan Kemiskinan PERISTIWA berdarah G30S atau G30S/PKI (tergantung siapa yang menyebutnya) sudah lama berlalu, 42 tahun lalu. Namun bagi istri mendiang Amir Machmud, Shrie Hardhani tetap saja tak terlupakan, terutama betapa peristiwa politik seperti itu hanya menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat, bangsa dan negara. Karena itulah, kata Shrie Hardhani, komunisme harus diwaspadai dan salah satu caranya adalah dengan memberantas kemiskinan. Berbincang-bincang dengan wartawan, di Jakarta, Minggu (30/9) kemarin, istri mantan salah satu saksi peristiwa itu yang kemudian dipercaya Presiden Soeharto menjadi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) meyakini, ideologi komunisme tidak pernah mati. "Paham komunisme itu terus hidup, apalagi dalam situasi negara kacau balau dan kesenjangan antara kaya dan miskin sangat lebar," katanya. Bahaya laten komunisme. Itu juga yang diyakini Shrie Hardhani dan karena itu dia mengajak untuk mewaspadainya. Menurutnya, tercatat dua kali Partai Komunis Indonesia (PKI) mencoba mengganti ideologi negara Pancasila menjadi komunis, yakni pada 1948 dan 1965. "Pemberontakan itu berhasil ditumpas TNI, maka jangan heran, TNI musuh bebuyutan komunis dan PKI," kata Shrie Hardhani yang juga aktif berkegiatan di MPR/DPR semasa suaminya menjadi Ketua MPR/DPR periode 1982-1987. Menurutnya, memang PKI sudah dilarang di Indonesia dan partai politik (parpol) pun tidak boleh berasaskan komunisme. Namun bahaya laten komunis, katanya, bisa saja muncul dalam bentuk lain. Lebih dari itu, katanya, untuk mencegah meluasnya ideologi komunisme, langkah yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan kesejahteraan rakyat, terutama memberantas kemiskinan dan terus mengurangi pengangguran. Kemiskinan adalah lahan subur komunisme. Hanya kemiskinan dan kesengsaraan yang bisa membuat orang mudah diajak menjadi komunis, karena salah satu ajarannya adalah pertentangan kelas. Ironisnya, kata Shrie Hardhani, saat ini kemiskinan bukannya berkurang, tetapi justru bertambah. Menjadi tugas semua pihak, terutama para pemimpin bangsa, mencegah kembalinya komunis dan komunisme, sekaligus mengingatkan bahwa Pancasila sebagai dasar negara, filsafat bangsa dan alat pemersatu bangsa. Pancasila adalah jati diri bangsa Indonesia. Seperti halnya ideologi lain bagi bangsa dan negara lain. Pancasila sudah teruji dan banyak menghadapi ujian. Pancasila terbukti sakti dan tetap bertahan sebagai ideologi bangsa, yang kita peringati hari ini sebagai Hari Kesaktian Pancasila. [Y-3] -------------------------------------------------------------------------------- Last modified: 1/10/07 [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
