Galamedia
MINGGU, 30 SEPTEMBER 2007
Tanpa Izin Suami, Menjadi TKW di Arab Saudi (6)
Istri Pulang ke Tanah Air, Keluarga Utuh Kembali
TERSAMBUNGNYA çkembali komunikasi antara Mas Jon dengan istrinya setelah
tiga bulan tak ada kontak, membuat Jon lebih tenang dan percaya diri. Meski
harus mengasuh Asep, anaknya, Jon yang menjadi tukang ojek, tambah bersemangat.
Bagaimana akhir dari kisah pasangan ini? Simak edisi pamungkas H. Arya Rusli di
bawah ini.
TAK terasa istriku sudah setahun berada di Mekah. Selama itu, aku baru dua kali
kontak dengan menggunakan HP bibiku, maklum aku tak punya HP. Saat menelepon
untuk yang ketiga kalinya, aku tidak lagi menggunakan HP bibi, karena aku sudah
punya HP yang kubeli dari rekan sesama pengojek dengan harga lumayan miring.
Mendengar kabar aku sudah punya HP, istriku senang bukan kepalang. Satu hal
yang sebenarnya sudah lama ingin kutanyakan, yaitu bagaimana istriku bisa punya
HP, apakah ia mendapat izin dari majikan atau bagaimana. Aku baru tahu,
ternyata istriku bernasib sangat baik. Ia bekerja pada penduduk setempat yang
punya darah Sunda. Mungkin karena merasa ada hubungan, majikan istriku bersikap
sangat baik, suatu hal yang jarang terdengar dalam berita-berita di Indonesia.
Sungguh waktu berlalu begitu cepat, Asep sudah berusia satu setengah tahun dan
mulai bisa berjalan. Celotehan lucunya selalu menghiasi rumahku dan melenyapkan
rasa penat, manakala malam hari aku pulang ke rumah atau ke rumah bibi untuk
menjemput Asep yang memang sering dititipkan di sana.
Begitulah, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tiga hari lagi istriku
akan pulang bersama sejumlah TKW lainnya. Aku, Asep, bibi, juga ibu dan bapak
mertuaku diminta menjemput di Cengkareng. Biaya untuk semua itu sudah dikirim.
Karena itu, aku memesan sebuah mobil rental untuk keperluan ke Cianjur,
menjemput bapak ibu mertua, selanjutnya ke Cengkareng.
Di terminal khusus kedatangan TKW di Bandara Cengkareng, keluarga yang akan
menjemput TKW memenuhi halaman terminal, begitu juga mobil penjemput, begitu
banyak. Sayangnya kami tak diperkenankan masuk ke dalam, kecuali di pintu
pagar. Karena itu, terpaksa dengan sabar kami menanti kedatangan istriku.
Tiga jam kemudian, pesawat yang mengangkut rombongan TKW dari Jedah mendarat.
Selanjutnya, tampak istriku keluar dari ruang pemeriksaan sambil membawa sebuah
tas kecil. Dari kejauhan kami saling melambaikan tangan. Ia bergegas mengurus
barang-barang di bagasi yang terdiri atas tiga koper besar.
Singkat cerita, istriku pun akhirnya berlari-lari kecil menghampiri kami,
setelah semua barang miliknya berhasil diambil dan ditempatkan dalam satu troli
oleh petugas angkut bandara. Suasana haru begitu terasa ketika Sri memeluk,
menggendong, dan mencium Asep berkali-kali, seolah tak ingin dilepaskan. Isak
tangisnya makin menjadi manakala ia memelukku sambil meminta maaf
sejadi-jadinya. Begitu juga ketika ia berpelukan dengan bapak dan ibunya yang
juga ikut menjemput. Sri tak henti-hentinya menangis.
Di balik semua itu, aku sangat bersyukur karena inilah buah dari kesabaranku
selama ini. Kini istriku sudah kembali, keluargaku sudah utuh sepenuhnya, dan
yang penting, anakku Asep sudah kembali dalam pelukan ibu yang melahirkannya.
Selain itu, kecurigaanku kepada pihak mertua, sudah tak lagi menggelayuti
benakku. Untuk itu, aku minta maaf dan mencoba untuk tidak lagi suuzan pada
siapa pun.
Hanya saja aku mewanti-wanti istriku agar untuk sementara ini jangan dulu
kembali ke Arab Saudi, kecuali nanti setelah dua tahun. Untuk itu, uang hasil
keringat selama bekerja di Mekah yang sudah ditabungkan di rekening istriku,
akan digunakan seefisien mungkin. Selain untuk kebutuhan hidup sehari-hari,
juga untuk modal usaha.
Aku dan istriku sepakat membuka warung yang tidak hanya menjual barang kering,
tapi juga basahan, seperti sayuran, ikan, dan sebagainya. Pokoknya aku ingin
warungku ibarat pasar tradisional mini di kampungku yang dapat memenuhi
kebutuhan sehari-hari kaum ibu.
Kini hidupku agak tenang. Selain istriku bekerja menjaga warung sambil mengasuh
Asep, aku juga disibukkan dengan berbelanja kebutuhan dagangan setiap dini
hari. Selanjutnya jika tidak terlalu lelah, aku melanjutkan kegiatanku dengan
bekerja sebagai pengojek. (tamat)**
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/