Refleksi: Sutiyoso atau SBY tidak beda besar, kedua-duanya ex militer yang 
tentunya terikat sumpah prajurit, jadi bisa dipikirkan bahwa reformasi militer 
tidak akan mudah berlangung sebagaimana dikehendaki, sama halnya dengan menagih 
$35 milyar simpanan Pak Harto untuk negara. Ada pendapat lain?

http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=9338
Selasa, 02 Okt 2007,


Sutiyoso Tantang SBY 


Deklarasikan Diri sebagai Capres 2009
JAKARTA - Lengser dari gubernur DKI Jakarta nanti tidak membuat Sutiyoso 
pensiun. Justru dia memulai pekerjaan yang lebih besar untuk memburu kursi 
lebih tinggi, kursi presiden! Kemarin dia mulai melangkah dengan deklarasi 
"Sutiyoso for President" yang berlangsung di sebuah hotel berbintang di kawasan 
Mega Kuningan, Jakarta Pusat.

Seribu lebih simpatisan Sutiyoso hadir. Mereka menggunakan kaus putih bertajuk 
"Bang Yos Pemimpin Masa Depan". Warna putih bakal menjadi warna 'kebesaran' 
pencalonan pria yang akrab disapa Bang Yos itu. Sebuah poster raksasa bergambar 
wajah sosok yang akan melepaskan jabatan gubernur DKI pada 7 Oktober itu 
menjadi latar belakang panggung. Berbagai hiburan juga digelar sambil menunggu 
waktu buka puasa. 

Hadir sejumlah tokoh nasional dengan beragam basis. Tokoh dari militer antara 
lain mantan Panglima ABRI Jenderal (pur) Try Sutrisno dan mantan Kepala BIN 
Jenderal (pur) Hendropriyono. Juga terlihat beberapa politisi, seperti mantan 
Presiden Abdurrahman Wahid, politisi PAN A.M. Fatwa, Ketua Umum PNBK Eros 
Djarot dan Sophan Sopiaan. Juga ada penyair Taufik Ismail dan mantan Gubernur 
Jawa Timur Basofi Sudirman. Selain itu, hadir sejumlah artis dan atlet, seperti 
Chris John dan Wulan Guritno.

Deklarasi Sutiyoso itu bakal meramaikan panggung Pilpres 2009. Dia bakal 
menjadi salah satu penantang serius incumbent Presiden SBY. Selain itu, ada 
kandidat kuat lain, yakni Megawati Soekarnoputri, yang sudah menyatakan 
kesediaannya maju lagi ke gelanggang capres. 

Selain tiga tokoh tersebut, calon lain tak bisa dianggap enteng. Misalnya, 
mantan Panglima ABRI Jenderal Wiranto yang telah membangun dukungan lewat 
deklarasi Partai Hanura. Sedangkan Golkar, partai pemenang Pemilu 2004, belum 
mengeluarkan nama calon. Sangat mungkin partai beringin itu mengusung nama 
Ketua Umum Jusuf Kalla. 

Dari calon yang sudah tampak di permukaan itu, Sutiyoso praktis menjadi 
kandidat yang tidak memiliki basis partai besar. Hingga kemarin belum ada 
partai besar yang secara eksplisit memberi dukungan. Padahal, untuk meraih 
tiket calon presiden, dia minimal mengantongi 15 persen suara dari parpol atau 
koalisi parpol. 

Andaikan melewati pintu calon independen, hingga saat ini belum ada aturan di 
UU. Masalah tersebut masih digodok di DPR, bahkan sulit terealisasi karena 
partai-partai yang menguasai parlemen cenderung mempersulit persyaratan calon 
perseorangan. 

Walaupun belum memiliki kendaraan politik, Sutiyoso sangat percaya diri untuk 
tampil. Itu tergambar dalam pidato politiknya kemarin. Dia begitu membanggakan 
diri dengan klaim sukses memimpin Jakarta. "Sepuluh tahun (menjadi gubernur DKI 
Jakarta, Red) banyak pengalaman yang saya peroleh. Keberhasilan adalah hasil 
kerja keras rakyat Jakarta dan dukungan semua pihak. Kekurangannya karena 
keterbatasan saya sebagai manusia," cetus pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 
tersebut yang langsung disambut teriakan "hidup Bang Yos" oleh para simpatisan.

Sutiyoso yang pernah menjadi atasan SBY saat menjadi Pangdam Jaya -saat itu SBY 
Kasdam- menegaskan, niat menjadi calon presiden ada sejak setahun terakhir. 
Alasannya adalah semangat pengabdian dan kuatnya dorongan dan dukungan partai 
politik, organisasi, sejumlah tokoh nasional, hingga keluarga.

Dia pun langsung menyebut nama Try Sutrisno sebagai salah satu pendukungnya. 
Secara diplomatis purnawirawan TNI berpangkat letnan jenderal itu menjawab 
pertanyaan wartawan. "Anda tahu sendiri siapa yang mengundang Anda kemari (Try 
Sutrisno, Red). Itu kepala sukunya purnawirawan TNI," katanya dengan bangga. 

Sutiyoso juga mengaku didukung sejumlah partai kecil yang sudah ada dan 
beberapa partai baru. "Saya nggak mau menyebut apa saja partainya. Karena 
dukungan itu sifatnya tidak resmi," ujarnya.

Saat ditanya hal apa yang membuatnya yakin menang dari incumbent Susilo Bambang 
Yudhoyono, Sutiyoso juga enggan berkomentar banyak. Dia meminta masyarakat 
menilai kinerja serta visi misinya untuk membangun Indonesia. "Program utama 
saya, menyukseskan otonomi daerah. Sasarannya buruh, tani, dan nelayan," tandas 
mantan Asisten Operasi Koppassus tersebut.

Namun, Gus Dur yang hadir dalam deklarasi itu menjelaskan, kehadirannya bukan 
berarti memberi dukungan untuk Sutiyoso. "Siapa yang mendukung. Wong saya ke 
sini cuma diundang," ujar ketua Dewan Syura PKB itu. Hanya, Gus Dur menyambut 
baik kesiapan Sutiyoso bertarung di 2009. "Siapa pun calonnya memang harus 
siap," tandasnya. 

Empat jam menjelang deklarasi, Bang Yos -panggilan akrab Sutiyoso- ternyata 
masih menyempatkan diri untuk menemui Ketum PDIP Megawati di kediaman Mega, 
Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat. Pertemuan tertutup itu berlangsung kurang dari 
satu jam, pukul 12.00-12.45.

Para wartawan pun hanya bisa gigit jari karena tidak mendapat kesempatan sama 
sekali untuk mencegat Sutiyoso. Seusai pertemuan, dia langsung meninggalkan 
kediaman Mega dengan menggunakan mobil Black Toyota Harrier bernopol B8731OG.

Sekjen PDIP Pramono Anung yang ikut mendampingi Mega menyampaikan, pertemuan 
itu memang sudah direncanakan sebelumnya. Jadi, tidak mendadak. "Pertemuan ini 
atas permintaan Bang Yos. Saya sudah dihubungi sejak Sabtu (29 September) 
lalu," katanya.

Menurut dia, Sutiyoso juga mengundang Megawati untuk datang ke acara deklarasi 
"Sutiyoso for President". Namun, Megawati tidak bisa hadir karena juga harus 
mempersiapkan diri untuk acara buka puasa bersama yang diadakan di rumahnya. 
"Tapi, Bu Mega tetap memberikan selamat kepada Bang Yos yang telah maju," 
ujarnya.

Pram -demikian dia akrab disapa- menegaskan, pascadeklarasi, baik Megawati 
maupun Sutiyoso sama-sama berharap ada pembicaraan lanjutan untuk membangun 
sinergi. "Nah, bentuk sinergi itu apakah nanti saling bersaing satu sama lain 
atau bekerja sama memang belum dirumuskan. Itu akan dirumuskan nanti," tegasnya.

Artinya, pintu bagi Sutiyoso untuk menjadi cawapres Mega belum tertutup? "Yang 
jelas, komunikasi yang baik ini merupakan modal untuk kerja sama di kemudian 
hari. Bentuknya seperti apa, itu tentunya beliau berdua yang paling tahu," 
jawabnya. 

Pram hanya menyebut setiap langkah yang diambil Sutiyoso selalu diawali dengan 
membangun komunikasi kepada Bu Mega. "Bagaimanapun, Bang Yos itu jenderal. 
Kemunculannya pasti akan memengaruhi jenderal yang lain," ucapnya.

Dikonfirmasi malamnya, Megawati Soekarnoputri yang baru saja mengadakan acara 
buka puasa di kediamannya mengakui Sutiyoso memang menyampaikan secara langsung 
perihal deklarasinya. "Saya jawab, oh, bagus. Silakan. Itu kan demokrasi. 
Selamat," jelas Mega yang tampil dengan baju muslimah berwarna biru muda.

Menurut dia, dalam pertemuan singkat tersebut, Sutiyoso juga mengucapkan terima 
kasih kepada dirinya. "Soalnya, sewaktu dia jadi gubernur DKI, pemerintahan 
saya dapat bekerja sama dengan baik," imbuhnya.

Bang Yos menawarkan kerja sama politik? "Bukannya saya yang mesti menawarkan 
kerja sama politik," jawab Mega sambil bercanda. Tak takut tersaingi? "Kok yang 
ditanyain begitu. Katanya disuruh berdemokrasi. Kalau demokrasi, ya siapa saja 
ingin menjadi calon silakan saja," jawab Mega enteng.

Ketika disinggung soal posisi Wapres, Mega juga tetap tidak menunjukkan sinyal 
siapa yang akan mendampinginya. "Sabar saja deh. Nama-nama kan banyak. Nanti 
kita lihat," katanya. Presiden kelima RI itu menegaskan, ada aturan di internal 
PDIP yang harus ditaati. "Dalam forum seperti rakernas itulah, nanti kami akan 
evaluasi dan memutuskan siapa yang mendampingi saya," tandasnya. 


Reaksi SBY

Keputusan Sutiyoso maju dalam Pilpres 2009 tidak membuat Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono terpancing. SBY memilih tidak memberikan reaksi atas manuver 
politik mantan atasannya itu. Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng 
menyatakan, SBY sama sekali tidak terpengaruh dan belum memikirkan agenda 
Pilpres 2009. 

Bagi SBY, kata Andi, siapa pun berhak berkompetisi dalam menjadi presiden atau 
wakil presiden. Siapa pun itu, mulai Megawati, Gus Dur, maupun Sutiyoso. "Mau 
jadi capres, mau cawapres, ya silakan siapa saja. Yang penting, memenuhi syarat 
atau tidak. It is free country," ujar Andi kemarin.

Menurut Andi, SBY masih disibukkan dengan urusan kenegaraan dan pemerintahan 
sehingga tidak sempat memikirkan perebutan kekuasaan yang masih dua tahun lagi 
itu. "Beliau (SBY, Red) menganggap jabatannya masih dua tahun. Jadi, pilihan 
terbaik dan bijaknya adalah fokus pada pekerjaan. Kalau sudah waktunya, pasti 
akan dipikirkan," kata alumnus Fisipol Universitas Gadjah Mada itu. 

Karena itu, SBY tidak pernah memusingkan tokoh yang sibuk bermanuver untuk 
Pilpres 2009. "Kalau ada yang mau duluan, jalan sendiri, deklarasikan, ya itu 
hak masing-masing. Biar rakyat menilai. Kalau presiden sih, ya kerja saja yang 
baik, jalankan amanah rakyat. Kalau rakyat kehendaki, ya terserah rakyat," 
katanya. 


Golkar Anggap Sutiyoso Terlalu Dini

Partai Golkar menganggap deklarasi Sutiyoso itu terlalu dini. Sekjen DPP Partai 
Golkar Soemarsono mengatakan, deklarasi tersebut hanya membuat iklim politik 
Indonesia semakin memanas.

"Sah-sah saja kalau dia mau maju. Tetapi bagi kita, 2009 itu masih jauh. 
Ekonomi kita masih perlu recovery, pemimpin jangan memanaskan situasi politik 
dengan terlalu dini mencalonkan diri," katanya kepada wartawan di DPP Partai 
Golkar kemarin.

Partai Golkar, lanjut Soemarsono, tidak mau ikut-ikutan bermanuver soal Pilpres 
2009 dan cukup berkonsentrasi bekerja untuk rakyat. "Buat apa? Lebih banyak 
mudlarat-nya. JK juga tidak pernah menyinggung soal capres-capresan. Yang 
penting bekerja serius mempersiapkan diri untuk 2009. Soal presiden dipikir 
belakangan," tandasnya.(cak/yus/noe/pri/tom

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke