http://www.gatra.com/artikel.php?id=108340


Persaingan Baru Para Mitra Lama

Sutiyoso dinilai sebagai penantang serius pada pemilu presiden 2009. Tanpa 
mengecilkan kekuatan kandidat yang lain, banyak yang meramalkan, Bang Yos bakal 
menjadi pesaing serius presiden incumbent SBY. Label sebagai "muka baru" dalam 
pentas politik nasional pada Bang Yos justru dianggap menguntungkan. Menurut 
Sukardi Rinakit, pengamat politik dari Soegeng Sarjadi Syndicated, ada 
kecenderungan pada publik untuk memilih tokoh berpengalaman, tapi baru muncul 
ke bursa calon presiden. "Misalnya Sutiyoso," katanya. Tokoh "muka baru", kata 
Sukardi, diyakini lebih berani membuat kebijakan pro-rakyat.

Proses pencalonan Bang Yos juga berbeda dari kandidat lain yang diusung partai 
politik. Jauh-jauh hari, seperti diungkapkannya selepas deklarasi 
pencalonannya, Bang Yos menasbihkan sebagai calon independen. "Saya ini 
kesatria yang sedang menanti kereta (partai politik)," ujarnya, sambil 
mengklaim sudah ada 14 partai politik yang menyatakan siap mendukungnya.

Artinya, Bang Yos lebih dulu mencalonkan diri, kemudian menyusul mendapat 
dukungan dari partai politik. Namun, hingga kini, Bang Yos belum mau menyebut 
parpol-parpol yang mendukungnya. Bila melihat partai-partai yang hadir dalam 
pendeklarasian, indikasi dukungan ini diperlihatkan oleh partai baru, seperti 
Partai Bela Negara, Partai Indonesia Sejahtera, Partai Kongres, dan Laskar 
Merah Putih.

Sedangkan muka lama yang mengisyaratkan dukungan adalah PNBK dan PAN. "Sampai 
sekarang, keputusan rapat partai masih mengusung nama Sutiyoso," kata Eros 
Djarot, Ketua Umum PNBK. Sedangkan Sutrisno Bachir, Ketua Umum DPP PAN, memberi 
sinyal, "Kalau Bang Yos hakulyakin mau jadi presiden, PAN siap jadi kendaraan 
politiknya," katanya.

Selama 10 tahun jadi Gubernur DKI, Bang Yos menunjukkan sosok pemimpin yang 
berani bertindak dan tegas. Bekas prajurit yang malang melintang di berbagai 
daerah konflik, mulai Aceh hingga Timor Timur, ini begitu yakin dengan 
langkahnya, sekalipun dihujani kritik dari sana-sini. Sebut saja kebijakan 
memagar Monas dan proyek busway yang menghebohkan. "Pemimpin Indonesia harus 
berani ambil risiko dalam membuat perubahan yang lebih baik," kata Sutiyoso 
dalam berbagai kesempatan.

Karakter inilah yang kemudian sering dibandingkan dengan gaya kepemimpinan SBY 
yang hati-hati. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang memiliki keberanian dan 
ketegasan. "Tidak seperti pemimpin yang sekarang berkuasa, terlalu hati-hati 
dan cenderung elitis serta mementingkan kelompoknya saja," kata Eros Djarot, 
seperti dikutip Suara Pembaruan.

Namun tak semua enjoy dengan gaya kepemimpinan Bang Yos. Wardah Hafidz, 
Koordinator Urban Poor Consortium (UPC), organisasi non-pemerintah yang bekerja 
sama dengan komunitas marjinal perkotaan, misalnya, terang-terangan merasa 
gerah melihat kinerja Bang Yos selama dua periode menakhodai Jakarta. "Sutiyoso 
itu otoriter dan anti-rakyat miskin," katanya.

Di mata Wardah, selama ini Bang Yos tak pernah berdialog dengan warga dalam 
mengelola kota. "Mau bikin patung atau apa pun, terserah dia," ujarnya. 
Akibatnya, rakyat miskin kerap jadi korban. Wardah menunjuk berbagai 
penggusuran yang dinilainya tak mengindahkan hak-hak warga.

Menyoroti gaya kepemimpinan SBY dan Bang Yos, Samsuddin, pengamat politik LIPI, 
menyatakan memang berbeda. SBY boleh dibilang lebih hati-hati. Sedangkan Bang 
Yos lebih berani dan cepat mengambil keputusan. Menurut Samsuddin, dari dua 
tipikal itu, yang cocok menjadi pemimpin ke depan adalah yang lebih tegas. 
Sebab Indonesia sudah banyak dipimpin presiden yang cenderung "lembek". 
Betulkah pemimpin yang dibutuhkan itu Bang Yos?

Hidayat Gunadi, Anthony, Deni Muliya Barus, dan Rach Alida Bahaweres
[Laporan Utama, Gatra Nomor 47 Beredar Kamis, 4 Oktober 2007] 



[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke