Jabatan Duta Besar bukan jabatan orang suci, apalagi di tempat-tempat yang 
banyak TKInya. 

Biasanya para calo TKI  bekerja sama dengan kedutaan, karena itu rejeki mereka, 
jadi sebagai alat pelicinan jalan urusan harus digosok dengan "bakshishi". Ini 
rahasia umum. 

  ----- Original Message ----- 
  From: MTI 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[email protected] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Thursday, October 11, 2007 6:05 AM
  Subject: [indonesia_damai] Mantan Duta Besar Rusdihardjo Disebutkan Terima 
Uang


  Mantan Duta Besar Rusdihardjo Disebutkan Terima Uang

  Uang pungutan liar atau pungli yang berasal dari selisih tarif fasilitas
  keimigrasian dinikmati juga oleh para duta besar Republik Indonesia untuk
  Malaysia, termasuk mantan Duta Besar Rusdihardjo. Seperti duta besar RI di
  Malaysia lainnya, Rusdihardjo secara rutin menerima 30.000-40.000 ringgit
  Malaysia.

  Hal itu dipaparkan mantan Kepala Bidang Imigrasi Kedutaan Besar RI di
  Malaysia Arihken Tarigan, sebagai saksi, dalam sidang di Pengadilan Khusus
  Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Rabu (10/10). Saksi lainnya adalah
  mantan Wakil Duta Besar RI di Malaysia Suherman Obon. "Setiap bulan saya
  serahkan kepada Dubes 30.000-40.000 ringgit Malaysia," ujar Arihken.

  Kepada saksi, hakim Masrurdin Chaniago menanyakan reaksi Rusdihardjo saat
  uang itu diberikan. Arihken mengatakan, "Tidak ada tanggapan apa-apa."

  Arihken menjelaskan, selain kepada dubes, selisih tarif biaya fasilitas
  keimigrasian itu juga diberikan kepada wakil dubes sebesar 10.000-15.000
  ringgit Malaysia.

  Suherman mengatakan, ia pernah menerima uang beberapa kali dari mantan
  Kepala Bidang Imigrasi KBRI Suparba W Amiarsa. Namun, ia lupa berapa
  jumlahnya. Ia hanya ingat pemberian uang itu dalam bentuk ringgit Malaysia.
  "Suparba suka memberikan uang," katanya.

  Menurut Suherman, ia pernah memanggil Arihken saat ada pemeriksaan dari
  Inspektorat Jenderal Departemen Luar Negeri (Itjen Deplu). "Saya panggil
  Arihken untuk menyelesaikan ini agar tak ada lagi laporan masyarakat yang
  diperlakukan seperti itu. Saya pikir semua selesai," tuturnya lagi.

  Arihken mengakui, saat mengakhiri jabatannya pada Desember 2005, tak ada
  saldo tersisa karena sisa di rekening bank disita saat ada pemeriksaan dari
  Deplu. Jumlah saldo adalah 590.000 ringgit Malaysia.

  Arihken mengaku selisih tarif yang diterima sama sekali tidak dibukukan.
  Dalam sidang sebelumnya, 26 September 2007, saksi Hindar Yudho dari Itjen
  Deplu menjelaskan, selisih tarif itu dibukukan Tri Widowati, salah satu staf
  di Kedubes RI di Malaysia.

  Dari catatan itu, uang tersebut tidak digunakan, tetapi disetorkan ke atase
  imigrasi dan atasannya. Saat itu atase imigrasi adalah Arihken. "Kami tidak
  menemukan uang itu, tetapi cuma menemukan catatan pengumpulan dana itu,"
  kata Hindar. (VIN)

  Sumber: Kompas - Kamis, 11 Oktober 2007

  ++++++++++

  Untuk berita aktual seputar pemberantasan korupsi dan tata kelola
  pemerintahan yang baik (good governance) klik
  http://www.transparansi.or.id/?pilih=berita

  Untuk Indonesia yang lebih baik, klik
  http://www.transparansi.or.id/

  --------

  Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI)
  The Indonesian Society for Transparency
  Jl. Polombangkeng No. 11,
  Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12110
  Telp: (62-21) 727-83670, 727-83650
  Fax: (62-21) 722-1658
  http://www.transparansi.or.id



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.14.7/1062 - Release Date: 10/10/2007 
5:11 PM


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke