Tulisan ini juga disajikan dalam website

http://kontak.club.fr/index.htm)




                                PEMBANTAIAN MASSAL



                                Sebagai Pembunuhan Terencana



                                            Oleh: Harsutejo



Prof Teuku Jacob mendaftar ulah kekejaman manusia dengan kata-kata lugas
yang cukup mencengangkan. Penyiksaan dan penganiayaan tahanan dan tawanan
menunjukkan kebengisan yang tak terbayangkan, mulai dari mencambuk, mencabut
kuku, menjepit ibu jari, melilit tubuh, membakar bagian badan, menyiram
cairan panas, menjepit daging dengan jepitan membara, memotong urat,
membuang, memperbudak, memenggal kepala, menggantung, melempar dari tempat
tinggi, mencekik, membenamkan, mengubur hidup-hidup, mencincang, sampai
membunuh atau memperkosa anggota keluarganya di depan mata, menjemur, tidak
memberi makan, menyeret dengan kuda, membakar dalam unggun api, dan
sebagainya... sebagian besar dilakukan oleh pemerintah terhadap rakyatnya
sendiri.



Begitu sulit dipercaya bahwa ulah kekejaman semacam itu dilakukan juga oleh
rezim militer Orde Baru terhadap musuh politik mereka atas nama suatu
gagasan yang begitu tinggi dan mulia, yakni Pancasila! Malahan rezim ini
masih menggenapi khasanah penyiksaan dan pembunuhan dengan penemuan baru
mereka: memasukkan tahanan politik hidup-hidup ke dalam luweng atau sumur
alam yang amat dalam, memasukkan ke dalam kapal bobrok dan
menenggelamkannya, meneggelamkan hidup-hidup tahanan dengan beban besi atau
batu, menyiram gua dan ruba tempat persembunyian dengan bensin dan
membakarnya serta melemparkan alat peledak, menyetrom kemaluan laki
perempuan ketika mereka dipaksa bersetubuh, menancapkan bambu runcing ke
dalam vagina, dan tindakan keji lain yang sulit diterima akal sehat dan akal
normal dan sulit dipercaya oleh masyarakat beradab. Dan hebatnya rezim ini
berusaha keras untuk menghapusnya dari memori orang banyak dengan segala
macam cara termasuk memalsu sejarah dan menggantinya dengan memori rekayasa,
Pancasila sakti.



Perburuan dan pembantaian orang-orang PKI dan yang disangka PKI serta
seluruh gerakan kiri sering dimulai dengan apa yang disebut sebagai
"penemuan" dokumen-dokumen di kantor atau tokoh PKI atau organisasi yang
lain tentang daftar hitam tokoh-tokoh lawan PKI yang hendak dibunuh. Di
samping itu juga adanya dokumen yang berisi rencana-rencana gelap dan jahat
yang lain. Setelah 1 Oktober 1965 dan sepanjang tahun 1966, koran dan
penerbitan di Indonesia penuh dengan berita segala macam kekejian dan
kekotoran PKI beserta ormasnya sampai dengan yang paling ganjil dan tidak
masuk akal, telah menimbulkan histeria nasional dan histeria bangsa sebagai
landasan subur untuk melakukan pembasmian terhadap mereka. Tidak selembar
pun dokumen semacam itu pernah diajukan di suatu pengadilan.



Dalam telegram No. 868 kepada Kemlu AS pada tanggal 5 Oktober 1965, sore
hari setelah menghadiri pemakaman para jenderal di Kalibata, Dubes AS
Marshall Green memaparkan tentang petunjuk dasar dalam membantu rezim
militer di Indonesia agar benar-benar dijaga kerahasiaannya. Pentingnya
disebarkan dongeng kesalahan dan pengkhianatan PKI serta kebiadabannya,
sesuatu yang bersifat amat mendesak.



Kedubes Inggris di Jakarta menghubungi kantor besar dinas rahasia mereka di
Singapura tentang langkah-langkah yang perlu segera diambil menghadapi
perkembangan situasi di Indonesia. Perang urat syaraf alias perang
penyesatan terhadap lawan untuk merongrong dan melemahkan PKI. Tema
propaganda berupa kisah kebiadaban PKI dalam pembunuhan para jenderal dan
puteri Jenderal Nasution, bahwa PKI agen asing. Hal-hal itu harus
dilaksanakan dengan halus, seolah sama sekali tidak melibatkan Inggris,
bahan semacam itu sebaiknya dikirim dari Pakistan atau Filipina sebagai
tercantum dalam telegram rahasia kedubes Inggris No.1835 6 Oktober 1965.



Sebagai spesialis propaganda Norman Reddaway dipilih oleh Dubes Inggris
Gilchrist sebagai orang terbaik untuk pekerjaan kotor itu. Selanjutnya sang
spesialis antara lain memanfaatkan jalur koresponden BBC Asia Tenggara,
Roland Challis. Ia meminta sang koresponden melakukan apa saja untuk merusak
dan menghancurkan Sukarno, di samping PKI serta mendukung Jenderal Suharto
dengan menyiapkan dokumen-dokumen untuk dimanfaatkan olehnya. Karena sang
koresponden tak bisa masuk ke Indonesia sampai pertengahan 1966, maka ia
menggunakan sumber-sumber MI6 yang agen-agennya mondar mandir keluar masuk
Indonesia. Dalam berita-berita yang ditulisnya tak satu pun menyinggung
adanya pembantaian ribuan orang di Indonesia, yang ada perang saudara dan
gerombolan komunis bersenjata. Berita itulah yang muncul dalam koran-koran
Inggris The Times, Daily Telegraph, Observer, dan Daily Mail.



Robert J Martens, seorang agen CIA dengan jabatan Perwira Politik pada
Kedubes Amerika di Jakarta telah berhasil menyusun daftar terpilih terdiri
atas 5.000 orang kader PKI dari tingkat pusat sampai pedesaan beserta
organisasi massanya dengan rincian jabatannya. Daftar itu dibuat selama dua
tahun (1963-1965) dengan bantuan para pegawai CIA sebagaimana yang
dibenarkan oleh Joseph Lazarsky, Deputi Kepala CIA di Jakarta. Selanjutnya
diadakan kesepakatan dengan perwira intelijen Kostrad Ali Murtopo, secara
berkala yang bersangkutan melaporkan siapa-siapa dari daftar itu telah
ditangkap dan siapa-siapa telah dibunuh. Kostrad menjadi pusat pemantauan
terhadap laporan pihak militer dari seluruh penjuru tentang penangkapan dan
pembunuhan terhadap kaum komunis dan golongan kiri lain. Demikian tulis
Cathy Kadane dalam San Fransisco Exeminer, 20 Mei 1990.

Penghancuran terhadap PKI dan seluruh gerakan kiri pertama-tama adalah
membasmi secara fisik para anggota dan pendukungnya. Basmi sampai
akar-akarnya, itulah yang terus-menerus diserukan baik oleh Jenderal Suharto
maupun Jenderal Nasution serta para pengikutnya. Kekuasaan, dan segalanya
ada di bawah laras senapan.



Pertama-tama perlu diingatkan bahwa segala macam aksi terhadap gerakan kiri
dan pendukung BK yang lain yang antara lain dimotori oleh KAP (Komite Aksi
Pengganyangan) Gestapu, mendapatkan dana dari kekuatan asing yang selalu
disebut oleh BK dengan Nekolim. Resminya badan ini didirikan oleh tokoh NU
Subchan ZE bersama Harry Tjan, tapi di baliknya beberapa perwira Kostrad
dengan Brigjen Sucipto sebagai pemrakarsa. Pemerintah Amerika dengan CIA nya
mendukung dana sebesar Rp50 juta [ketika itu setara dengan US1,2 juta] yang
diberikan lewat tangan Adam Malik sebagaimana yang dimintanya. Meskipun
jumlah bantuan itu menurut CIA relatif kecil, tetapi cukup berarti untuk
kegiatan badan ini. Di pihak lain bantuan ini akan dapat meningkatkan pamor
Adam Malik (CIA 2001:379-380), ini berarti pamor sang kancil telah dibeli
dengan dollar.



Pada 17 Oktober 1965, pasukan elite RPKAD di bawah Kolonel Sarwo Edhi,
lulusan sekolah staf AD Australia, berada di basis PKI segi tiga
Boyolali-Klaten-Sala dengan tugas dengan cara apa pun juga untuk
menghancurkan basis itu. Ketika disadari bahwa jumlah pasukan tidak
mencukupi untuk tugas, maka "Kami memutuskan untuk menggalang barisan anti
komunis untuk membantu tugas tersebut. Di Sala kami mengumpulkan para pemuda
kelompok nasionalis dan Islam. Kami memberikan latihan selama dua tiga hari,
kemudian mengirimkan mereka untuk membantai kaum komunis", demikian kata
Sarwo Edhi. Hal ini berlanjut pada akhir Oktober dan permulaan November 1965
di Jawa Timur dan  pada Desember 1965 dan permulaan 1966 di Bali.



Dalam penyelidikannya tentang pembantaian di Jawa Timur, terutama di daerah
Kediri, sejarawan Hermawan Sulistyo menemukan bahwa para perwira tertinggi
[AD] setempat (Korem, Kodim), perwira intelijen, dalam derajat tertentu
memulai pembantaian. Kemudian juga pimpinan partai politik dan tokoh
setempat termasuk beberapa ulama berpengaruh. Lapis selanjutnya adalah
organisasi seperti Ansor dengan Banser-nya. Dalam beberapa kasus, si
pembunuh menjilati darah korban, meskipun hal itu dilarang oleh para kiai,
tetapi jalan terus. Dan dengan rasa kesetanan mereka membantai korban-korban
berikutnya. Algojo kadang memotong alat kelamin korban, kuping, jari, untuk
menyebarkan teror.



Di Sumatra Utara, pembunuhan-pembunuhan telah dimulai sejak 1 Oktober 1965.
Brigjen Kemal Idris yang sedang bertugas di daerah itu mengambil inisiatif
membersihkan wilayahnya dari orang-orang komunis dalam radius 5 km dari
pengkalan mereka di Tebing Tinggi. Ketika perintah datang dari Jakarta, ia
telah membunuh 20% buruh perkebunan karet di Medan area.

Dalam banyak kasus para kader dan aktivis komunis dibunuh beserta seluruh
keluarganya, agar di belakang hari tidak akan timbul pembalasan dendam atau
retaliasi (Cribb 2000:13). Pendeknya pembunuhan menumpas sampai cindil
abange, sampai bayi yang baru lahir. Ini rupanya versi pelaksanaan perintah
Jenderal Suharto dan seruan Jenderal Nasution 'menumpas sampai ke
akar-akarnya'.



Di banyak tempat terutama di Jawa Timur, setelah dibantai beramai-ramai
mayat mereka ditinggalkan begitu saja berserak di berbagai tempat sampai
berhari-hari tak seorang pun berani mengurusnya. Atau mayat-mayat itu
beramai-ramai diseret dilempar ke sungai. Mendapatkan laporan keadaan itu
Presiden Sukarno dalam pidatonya pada 18 Desember 1965 mengutuk
pembunuhan-pembunuhan dan mengingatkan akan perintah agama tentang soal
merawat jenasah.

Di Bali ribuan orang komunis atau yang disebut komunis diburu dan dibantai.
Ribuan anak-anak dan perempuan diusir dari desa mereka, lalu desa itu
diluluhlantakkan dengan api. Dari malam yang satu ke malam yang lain, api
menyala di banyak desa di Bali, menghancurkan pemukiman beserta penghuninya
dalam kuburan massal. Adakah desa-desa yang hancur itu kemudian diresaikel.
Seseorang bercerita bahwa di bawah hotel Oberoi yang mewah itu sampai ke
pantai terkubur 2000 mayat mereka yang dibantai. Mungkin berbeda dengan di
Jawa, di Bali tempat-tempat kuburan massal semacam itu dijadikan sasaran
pemerintah Orba untuk mendirikan proyek-proyek sebagai cara untuk
menghilangkan jejak secara permanen. Konon sejumlah tengkorak manusia sering
ditemukan dalam proyek semacam itu, sesuatu yang biasa bagi orang Bali, dan
mereka tahu tengkorak macam apa itu. Hal ini tidak pernah diberitakan media
massa [selama rezim Orba, hs]



Penjagalan TerhadapTapol



Ratusan ribu orang ditahan dalam ratusan rumah tahanan dan penjara serta
tahanan darurat di seluruh Jawa, Sumatra, dan pulau-pulau lain. Kata-kata
Jenderal Suharto, "Siapa yang akan memberi makan mereka?" dilaksanakan
dengan sebaik-baiknya di banyak tempat. Umumnya pada malam hari puluhan atau
ratusan tahanan, tergantung pada kapasitas tahanan atau pun pada besarnya
logistik yang dapat mereka siapkan berupa truk dan tenaga pembantai. Mereka
dinaikkan truk-truk untuk dipindah, tetapi tangan mereka dalam keadaan
terikat. Sesampai di suatu tempat yang telah ditentukan, maka lubang-lubang
besar sudah siap untuk menelan mereka selama-lamanya, setelah para pembantai
beraksi serentak baik dengan senjata api mau pun senjata tajam. Sebuah
kuburan massal. Mereka berasal dari penjara-penjara Kalisosok Surabaya,
Lowokwaru Malang, Banyuwangi, Madiun, Kediri, Tulungagung, Blitar, Sala,
Sragen, Yogya, Wonosobo, Semarang, Ambarawa, Nusakambangan dan dari banyak
tempat tahanan lain termasuk Jakarta dan Bandung.



Pulau Kemarau terletak di tengah Sunga Musi. Di situ terdapat bangunan bekas
tempat usaha penimbunan besi tua yang diubah sebagai tempat tahanan. Pada
permulaan Maret 1966 para tahanan mendapat jatah makan sekali sehari
sebanyak tiga sendok. Kemudian makanan ini diganti jagung sebanyak 25 butir
tiap kepala. Pada 1 Juni 1966 semua sel dikunci, selama tiga hari tiga malam
para tahanan tidak diberi makan maupun minum. Maka satu per satu mereka
menjadi tengkorak dan mayat. Mayat ditumpuk jadi satu disusun selang seling
kepala dan kaki, lalu dibungkus karung dan diikat. Dengan diganduli besi,
karung-karung tersebut dibuang ke Sungai Musi. Kejadian ini berlangsung
hampir sebulan lamanya. Dari seluruh penjuru Jawa Tengah dan Timur, ribuan
tapol diangkut ke penjara-penjara Nusakambangan, mencapai 30.000 orang. Di
samping yang mati kelaparan dan penyakit, maka tiap malam berpuluh tapol
dibawa ke Pasir Putih di bagian barat pulau untuk dibantai dan dikubur
secara massal. Selama 1966-1969 jatah makanan begitu buruknya, tiap orang
menunggu kematian.



Yang sangat umum terjadi selama 1965 sampai 1969 adalah sangat buruknya
jatah makanan dan kesehatan di seluruh tahanan dan penjara, di banyak tempat
hampir tanpa layanan medis apa pun. Satu-satunya pengecualian adalah rumah
tahanan Nirbaya, tempat sejumlah menteri ditahan. Tak aneh apabila segala
macam penyakit dari hongerudim, tifus, tbc dsb melanda para tapol. Ribuan
orang dibunuh secara perlahan-lahan dengan cara ini. Selama tahun 1967/68 di
penjara Kalisosok Surabaya, puluhan orang meninggal setiap harinya, sedang
di Nusakambangan rata-rata 20 orang tiap harinya. Kembali ribuan orang
ditangkap setelah operasi Trisula di Blitar Selatan. Pendeknya pembunuhan
massal telah terjadi di banyak tahanan dan penjara. Inilah praktek dari
perikemanusiaan yang adil dan beradab model Orde Baru.



Para tapol yang selama bertahun-tahun dibuat lapar serta menderita busung
lapar serta berbagai penyakit lain itu secara ironis pada setiap tahunnya
menjelang puasa diajari oleh ulama yang didatangkan dari dunia bebas,
tentang pentingnya berpuasa, menahan lapar, menahan nafsu..." Demikian
Pramoedya mencatat pengalamannya



Sasaran Pembunuhan



Sasaran pembunuhan yang telah direncanakan di samping tokoh-tokoh PKI dari
puncak sampai ke akar rumput, juga termasuk kader dan aktivis semua lapisan
organisasi massanya. Di samping itu terdapat target khusus yang lain berupa
kaum intelektual dan tokoh yang duduk di pemerintahan seperti walikota,
bupati, juga guru, seniman, kepala desa dsb. yang dianggap komunis atau
simpatisan komunis. Nampaknya target tertentu ini benar-benar telah
direncanakan dengan matang setelah analisis mendalam tentang kemungkinan
hari depan komunisme di Indonesia. Mungkin sekali hal ini ada kaitannya
dengan daftar maut CIA seperti tersebut di atas yang dimasak oleh dapur
intelijen Jenderal Suharto.



Pemilihan target ini dilakukan baik dengan pembunuhan secara langsung maupun
ditujukan bagi mereka yang telah mendekam di ratusan kamp tahanan dan
penjara. Dengan demikian rezim militer Orba hendak memastikan bahwa tidak
ada peluang lagi bagi kemungkinan kebangkitan mereka. Sebagaimana tak
henti-hentinya dicanangkan oleh Jenderal Suharto dan Jenderal Nasution yang
diikuti oleh media massa, 'pembasmian kaum komunis dan komunisme sampai ke
akar-akarnya'. Dan yang mereka maksud dan mereka laksanakan pertama-tama
adalah pembasmian fisik. Selanjutnya diikuti oleh penghapusan dan rekayasa
memori sosial dengan penghancuran segala macam dokumentasi, buku,
perpustakaan, dan karya budaya dan intelektual yang lain sebagai bagian dari
vandalisme. Karena itu betapa tidak masuk akalnya jika pembunuhan itu
terjadi secara spontan tanpa perencanaan matang.



Standar Ganda dan Terorisme Negara



Biarlah pembantaian itu berjalan terus, toh yang dibunuh orang komunis!
Begitulah standar ganda perikemanusiaan dan hak asasi manusia yang dianut
rezim Barat yang mereka terapkan sebagai yang telah dianut jurnalisme
majalah Time dalam artikel 'Vengeance in Smile' pada 15 Juli 1966 yang
melukiskan pembantaian massal itu sebagai "Kabar paling bagus bagi Barat
selama bertahun-tahun di Asia", "The West's best news for years in Asia."



Celakanya standar ganda semacam ini pun masih terus hidup di Indonesia
sebagai hasil gelombang fitnah tak berkesudahan termasuk lewat buku
pelajaran sejarah dan upaya cuci otak yang terus-menerus dilakukan rezim
Orba selama 32 tahun, dalam beberapa hal bahkan sampai saat ini, sering
tanpa sadar dianut oleh jutaan rakyat Indonesia termasuk sejumlah kecil
intelektualnya. Untuk meletakkan nilai-nilai perikemanusiaan yang adil dan
beradab sesuai dengan Pancasila dan ajaran semua agama, diperlukan daya
upaya yang terus menerus tiada kenal lelah dari semua yang memiliki
kesadaran dan kemauan baik dengan memerangi standar ganda tersebut di atas.
Untuk itu diperlukan waktu, barangkali setidaknya setara dengan waktu
bercokolnya rezim militer Orba Suharto atau lebih. Menyebarkan nilai luhur
sekaligus memerangi kejahatan memerlukan waktu dan daya upaya jauh lebih
besar daripada kebalikannya.



Apabila terorisme didefinisikan sebagai ancaman, penistaan dan pembantaian
terhadap penduduk sipil dalam jumlah amat besar dalam waktu pendek, terhadap
mereka yang tidak tahu-menahu urusannya, tidak memiliki kemampuan melawan
atau membela diri sendiri beserta keluarganya serta tanpa peluang
menyelamatkan diri, maka ini merupakan terorisme paling hebat dan mengerikan
di jaman modern, terorisme yang dilakukan oleh negara. (Dipetik dari
Harsutejo, "Sejarah Gelap G30S" - revisi).



Upaya Mengelak Tanggungjawab



Sejumlah petinggi militer, sebagai yang pernah ditulis Jnderal Yasir
Hadibroto yang membanggakan diri sebagai eksekutor DN Aidit, ketika itu
(1965-1966) merupakan keadaan perang. Selanjutnya sejumlah pelaku dan
penulis pendukung Orba seperti Sulastomo, Fadly Zon, Mayjen Samsudin,
menggambarkan seolah-olah ketika itu dalam keadaan "membunuh atau dibunuh".
Itu semua bohong dan tidak ada buktinya, sekedar upaya mengelakkan
tanggungjawab, agar pembantaian itu sah adanya. Apa ada situasi "membunuh
atau dibunuh" di kamp tahanan dan penjara sebagai yang dipropagandakan untuk
penyesatan oleh pendukung rezim Orba, agar pembunuhan massal itu dapat
diterima sebagai kewajaran.



Meski keadaan politik tegang tetapi situasi relatif aman sebagai yang
direkam buku yang populer disebut Cornell Paper yang disusun berdasarkan
berita koran Orba sampai dengan Desember 1965, karenanya laporan Benedict
Anderson dan Ruth McVey ini dinamainya A Preliminary Analysis of the October
1, 1965 Coup in Indonesia, 1971. Fakta-fakta yang terhimpun dalam buku ini
didukung dan dilengkapi dengan fakta-fakta berupa sejarah lisan dari
berpuluh-puluh narasumber mereka yang mengalami langsung pada 1965/1966 yang
antara lain terekam dalam buku John Roosa cs (ed), Tahun yang Tak Pernah
Berakhir, , 2004 dan HD Haryo Sasongko, Korupsi Sejarah dan Kisah Derita
Akar Rumput, 2005. Pembunuhan itu dilakukan dengan senjata bedil oleh
pasukan militer, juga dengan menggunakan golongan anti-komunis yang termakan
propaganda hitam dan rakyat yang dipaksa dan melakukannya baik dengan
senjata api maupun senjata tajam, termasuk dengan bambu runcing.



Apa pun celoteh mereka, termasuk mencoretnya dari buku-buku sejarah yang
diajarkan di sekolah, pembunuhan massal terhadap satu sampai tiga juta
rakyat tak berdosa itu merupakan kejahatan berat terhadap kemanusiaan yang
tidak akan dapat dilupakan dengan Jenderal Besar (Purn) Suharto sebagai
pelaku tertingginya.









No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.14.8/1064 - Release Date: 11/10/2007
15:09


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke