Inilah masaalahnya: Saat ada orientalis sepeti Luxenberg yang mau mengajak orang Islam berfikir,, maka Darwin Baharpun segera merapatkan saf dengan orang Islam fundementalis anggota PKS...
Saat ada orang Islam yang mau mengajak orang berfikir, seperti Taslimah Nasrin atau Abu Zaid maka mereka dipersekusi dan terpaksa mencari suaka ke negeri orang-orang kafir. Ada pula yang digantung seperti Muh. Taha di Sudan. Islam itu, saya katakan dan saya ulang adalah laknat buat ummat manusia, termasuk buat orang Islam sendiri. Dan saya tambahkan: selama orang Islam masih bersedia menjadi korban kibulan orang Arab dan percaya begitu saja kepada omongan orang Arab, yang tidak berbukti, yang bilang al-Mushaf itu berisi wahyu Alllah, maka Islam itu akan tetap jadi laknat buat ummat manusia. --- In [EMAIL PROTECTED], Darwin Bahar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Tari, GM tidak sedang menulis desertasi atau karya ilmiah sehingga perlu melakukan riset lapangan dan harus tampil dengan data yang akurat. Dia menangkap gejala, mengambil beberapa kasus, lalu menulis keprihatinannya terhadap---apa yang saya pahami---sebagai paradigma keberagamaan mayoritas ulama yang berdasarkan pengamatan saya, diikuti oleh mayoritas umat, "paradigma keberagamaan yang teosentrik", atau teologi yang mendahulukan "hak asasi Allah" dari pada "hak asasi manusia". Saya beberapa kali menyebutnya---meminjam Ahmad Tohari---sebagai "Teologi Langit", teologi yang "memberhalakan" Tuhan, termasuk dalam salah satu kolom saya di Superkoran: "Puasa, Seorang Pendosa, dan Kanjeng Nabi yang Tertawa" (PPKNT), yang sekalipun beda kelas dan kualitas dengan Caping "Puasa", tetapi mirip dalam pesan. Sebagai bagian dari kebangkitas Islam di berbagai tempat di dunia, secara kasat mata mudah dilihat bahwa Islam semakin dominan dalam berbagai aspek kehidupan di Indonesia (bahkan saya sudah mulai "bersu'uzon", SMS pemirsa dalam acara-acara full hiburan seperti "Indonesiaan Idol" dan "Mama Mia" akhir-akhir ini, sudah kejangkitan prasangka agama pula) tetapi sayangnya hal tersebut tidak membuat kehidupan yang lebih aman dan nyaman, termasuk bagi sebagian umat Islam sendiri. Bahkan bagi orang-orang Islam "tipikal" seperti saya ini. Dalam sebuah workshop di sebuah daerah sekitar 3 Tahun yang lalu, saya yang sedang "cuap-cuap" diminta oleh rekan yang duduk di sebelah saya untuk istirahat sejenak. So what? Ternyata, Astagfirullah, azan lohor---yang kebetulan waktunya jatuh sebelum jam istirahat tiba---sedang dikumandangkan di sebuah Masjid. Kalau acara di-"break" untuk shalat itu sesuatu yang sangat lumrah. Tetapi kalau acara harus di-"break" untuk mendengar azan, apa landasan syariinya? Seorang Khatib pernah mengeritik sikap para jemaah shalat Jumat yang datang pas waktu azan dikumandangkan, yang menunggu azan selesai, baru melakukan shalat Tahiyatul Masjid, padahal mendengar azan itu hukumnya sunah, sedangkan mendengar khutbah merupakan rukun shalat Jumat. Itu di dalam Masjid, apatalah lagi di luarnya. Tetapi ya apa hendak dikata, di mana bumi dipijak di sana bumi dijunjung. Suka tak suka saya harus menghentikan "celotehan" saya. Di Aceh, sepanjang Ramadan orang-orang bertadarus di masjid-masjid dari sehabis tarawih sampai waktu sahur, sesuatu yang bagus tentu saja. Tetapi masalahnya di sejumlah Masjid dilakukan dengan pengeras suara. Di sekitar tempat kos saya ada beberapa Masjid dan hampir semuanya menggunakan pengeras suara. Bagi saya pribadi, kecuali saya jadi terhalang untuk bertahajud yang sangat memerlukan ketenangan agar bisa dilakukan dengan tartil dan khususk, hal itu tidak terlalu jadi masalah. Pertama, saya termasuk yang senang bertadarus selama Ramadan. Kalau saya berada di rumah saya di Depok, kegiatan tarawih dan tadarus bergilir (tanpa pengeras suara) yang diselenggarakan oleh IKM di blok kami merupakan kegiatan yang jarang saya tinggalkan. Kedua, saya termasuk orang yang sangat mudah tidur jika capek dan mengantuk. Lalu bagaimana dengan muslim lain, yang memerlukan ketenangan untuk bisa tidur, karena mereka besok harus bekerja? Atau mereka yang sedang sakit? Lalu bagaimana dengan non-muslim yang sekarang jumlahnya cukup banyak juga saat ini di Kota Banda Aceh, yang sebagian besar di antaranya, bekerja dan atau mnyalurkan dana bantuan untuk pembangunan Aceh pasca-Tsunami dan pasca-Perjanjuan perdamaian Helsinki? Bukankan non-muslim, apapun maksud kehadirannya di Aceh, hak-hak dasarnya harus dihormati dan dilidungi? Malah di Aceh, praktis tidak ada warung makanan yang buka siang hari selama bulan Ramadan. Jadi non-muslim yang berada di Aceh yang mengandalkan makannya di warung-warung makan, tidak jarang terpaksa ikut berpuasa. Dari dua contoh kecil itu saja terlihat kesahihan tengarai saya dalam PPKNT, bahwa melakukan tindakan yang dianggap "menyenangkan" atau "memulyakan" Tuhan sah-sah saja, walaupun itu merugikan sesama, baik muslim atau bukan. Memang kaum muslimin, apa lagi secara keseluruhan tidak pernah secara eksplisit minta supaya (hak-hak) mereka dalam beribadah "dihormati", tetapi perilaku mereka dalam beragama cenderung seperti itu. Siapa yang harus mengoreksi hal-hal seperti ini, tentu dari kalangan kaum muslimin sendiri. Sebab jika dilakukan oleh pihak luar, keadaan bisa tambah runyam. Tulisan GM tentu bukan sesuatu yang sempurna, apa lagi tulisan saya. Tetapi ini adalah bagian yang sangat-sangat kecil dari usaha besar yang harus dilakukan Umat Islam, jika ingin mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam, bukan sebaliknya, seperti yang terkesan pada saat ini. Tetapi pertanyaan yang tersisa adalah, apakah iya kegiatan-kegiatan seperti bertadarus sepnjang malam dengan pengeras suara itu memulyakan Tuhan? Seperti pernah saya tulis beberapa kali di milis ini, dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Nabi s.a.w. pernah melarang seseorang mengeraskan bacaan Al Quran di dalam Masjid karena hal itu dapat mengganggu jemaah lain yang sedang bertafakur. Dan saya biasanya mengambil contoh bahwa di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di haramain, lantunan qiraat Al Quran dengan pengeras suara, selain yang dibaca oleh imam shalat ketika menjaharkan bacaan shalat pada shalat-shalat Subuh, Magrib dan Isa tidak akan pernah dijumpai. Padahal sebenarnya tidak perlu jauh-jauh. Hal serupa juga tidak ditemukan di Masjid Ar-Ryadh tempat saya biasanya melaksanakan shalat subuh berjamaah bila sedang berada di rumah, yang diasuh orang-orang Persis yang umumnya sangat "strict" terhadap sunah Nabi dalam pelaksanaan ibadah, serta masjid-masjid lain yang dikelola dengan semangat serupa di berbagai tempat di Indonesia, walaupun secara keseluruhan masih merupakan minoritas. Begitu. Wassalam, Darwin. Re: CaPing Goenawan Mohamad: Puasa Posted by: "tari.susanto" [EMAIL PROTECTED] tari.susanto Fri Oct 12, 2007 10:25 am (PST) Siapa yg menjadi sasaran umpatan yang mulia tuan Gunawan ini? Polisi kah? Pemda? Pemerintah Pusat? Atau seluruh muslim yg berpuasa? Atau Tuhan nya orang muslim gara-gara memerintah kan puasa? Ngak jelas, dan sengaja dikaburkan? --- End forwarded message --- Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
