From: "milis75" <[EMAIL PROTECTED]> : Mohon maaf, yg saya mau komentari adalah : pembangunan jalur bus way, : kenapa tidak konsen dulu di satu lokasi : malah menyebar kemana2 & ga jadi2. : apa ga mending diurutkan sehingga kalo udah selesai : bisa beroprasi sebagian, bahkan ga terlalu mengacokan : kepentingan umum. : kenyataan yg terjadi dibangun belom selesai : main tinggal aje,... : belegug bener nich perencanaanya : begitu juga untuk pembangunan mono rel, : main tinggal aje. : Inovasi terlalu cepat & banyak malah jadi kaco. : : D. Bey :
Komentar bagus. Kalau saya jadi pejabat busway sekaligus monorel, komentar sebagus ini cukup ditanggapi dengan meneladani si Yudhoyono saja: "rakyat sering lupa berterimakasih". Untung cuma rakyat biasa, jadi saya malah mau ikut numpang tanya: apa tujuan sebenarnya dari proyek ngacak-acak kota ini? Program udara bersihkah? Mengatasi kemacetankah? Melayani khalayak bermobil (agar rajin ngobrol dengan sekitarnya) kah? Atau, justru untuk melayani rakyat tak bermobil - yang selama ini berjejalan seperti ikan sarden dalam tumpukan kaleng? Sejauh ini, truf-truf itulah yang dimainkan penguasa DKI untuk mengatasi kebuntuan di lapangan. Apapun halangannya selalu tersedia trufnya. Taruhlah alasan tadi betul semua. Lalu, sejauh mana konsistensi dari masing-masing alasan? Soal membersihkan udara misalnya, seberapa dekat bus-bus tersebut dengan stasiun pengisian bahan bakar gasnya; atau dengan perda larangan menrokok di tempat umum; atau dengan proyek pemerintah pusat membersihkan dapur (bagi-bagi kompor gas gratis)? Kalau memang sejalan dan saling berkaitan, bagaimana dengan konsistensi pelaksanaannya, mengingat orang mendeteksi program pelayanan umum itu masih menggunakan pola pembangunan masa lalu yang tumpang-tindih dan cuma menguntungkan peserta proyek. Malah, semakin banyak saja orang yang mengendus gelagat "busway for president"... Sebelum ada bukti konkrit ke arah sana, sebaiknya kita kesampingkan dulu cita-cita Sutiyoso jadi presiden. Lebih mendesak untuk dibahas - karena berdampak jangka panjang - adalah keadaan ibukota negara yang terlanjur acak-acakan begini. Untuk udara bersih, gubernur baru DKI bisa belajar dari "ahli"nya. Sesama gubernur yang kembali didudukkan warganya di kursi gubernur karena dirasakan ada manfaatnya dia di sana, yakni Gubernur California, Arnold Schwarzenegger. Sebenarnya "Arnie" dipilih kembali karena keberhasilannya dalam program lingkungan secara menyeluruh. Jadi, untuk urusan udara bersih - yang cuma salahsatu persoalan lingkungan - bolehlah dia kita anggap 'ahli'. Demi udara bersih, ia menyanggupi berbicara dengan para petinggi industri di wilayah kekuasaannya. Mendesak dunia industri untuk berkreasi menghasilkan produk-produk yang ramah lingkungan (termasuk "produk" limbah / buangannya), tak terkecuali industri kendaraan bermotor serta pengusaha bahanbakar. Schwarzenegger sadar bahwa kelakuannya itu ibarat mencuri makanan dari singa-singa industri yang selalu lapar. Alhasil, dia jadi sibuk berpolemik dengan perusahaan-perusahaan yang mencapnya sebagai pencuri nafkah orang-orang kaya. Tak mau digertak ancaman para industrialis, sekalian saja ia tantang mereka untuk menggugat keabsahan standar emisinya secara hukum. Memang, sepintas Arnie kelihatan sewenang-wenang mainkan perda. Tapi toh dia bisa meyakinkan para pebisnis bahwa yang terberat bagi pelanggar standar emisi bukanlah tuntutan secara hukum, melainkan "hukuman" dari masyarakat yang terlanjur membutuhkan udara bersih. Dalam hal ini masyarakat punya hak untuk meninggalkan produk-produk dari perusahaan perusak lingkungan. Di kita, 'hak masyarakat' mungkin masih belum berapa nyaring. Apalagi aneka produk yang tersedia di pasar kebanyakan milik orang / kelompok yang itu-itu juga. Mati di satu unit usaha masih ada sederet unit usaha lainnya. Nggak akan bikin mereka menyerah. Tetapi, mumpung terpilih secara demokratis, tidak ada salahnya gubernur yang baru betul-betul mau bertindak untuk masyarakat luas dengan perhitungan jangka panjang. Bukan sekedar tipuan di bibir yang menghasilkan kekacauan dan bikin bingung sendiri. Aneh kan, bekas wakil gubernur kok kebingungan sama hasil kerjanya sendiri - bukti bahwa penanganan proyek busway memang tidak direncanakan dengan baik. Nah, mumpung masih kebingungan cara mengatasi kemacetan di JKT, ada baiknya gubernur baru menetapkan dulu apa maunya dengan kota yang acak-acakan begini. Jangan sungkan bicara dengan juragan-juragan industri mobil untuk memahami kemacetan sebagai persoalan bersama dan ikut mencarikan jalan keluarnya. Ajak juga partai-partai pendukung untuk belajar bermasyarakat. Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
