Konflik Bisa Saja Ada Tiap Saat, Tapi Mana Mampu Menculik Jenderal2 ! > BISAI" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > "Ketua BC PKI Syam..."adalah sesuatu yang masih penuh misterius atau > paling tidak untuk sementara. Bahwa ada hubungan antara Syam dengan > Ketua PKI memang tidak bisa disangkal. Terlebih lagi "BC" > dipopulerkan sebagai hanya urusan dua orang yaitu Ketua PKI dan Syam > saja, pimpinan tertinggi lainnya termasuk Politbiro dan CC PKI tidak > tahu menahu. Pengetahuan absurd yang dipopulerkan oleh Syam ini lalu > menjadi "bukti" bahwa Ketua CC PKI adalah sumber dari segala > malapetaka dan lalu dijadikan selimut tebal bagi menutupi penyebab > malapetaka yang sesungguhnya: SUHARTO.
Masalah konflik internal bukanlah hal yang penting karena semua partai tidak pernah terlepas dari konflik2 internalnya. Jadi berbagai konflik baik internal ataupun external dengan ABRI yang dianggap adanya perpecahan dalam TNI-AD, kesemuanya ini merupakan hal yang lumrah, merupakan hal yang biasa. Dipangkalan becak juga ternyata bisa anda ketemukan konflik para abang becak yang rebutan penumpang. Apakah karena konflik ini bisa terjadi kudeta ??? Jelas ya, enggak ada hubungannya. Jadi kalo cuma cari2 konflik internal dan external dari PKI ataupun dari TNI-AD, tentunya banyak sekali, tapi bisa enggak dibuktikan mereka yang terlibat konflik ini memiliki kemampuan menculik tanpa bekas2 begitu ??? Para penculik tidak mungkin dari ABRI ataupun TNI-AD, karena semua gerakan ABRI maupun TNI-AD pasti bisa dimonitor, dalam hal ini ada prosedur dan protokolnya. Yang sekarang menjadi kontroversi adalah siapa pelaku, perencana, maupun penggerak G30S ini. Karena tidak ada satupun dari mereka yang konflik itu memiliki kemampuan untuk menggerakkan pasukan yang demikian canggih tanpa bisa dilawan baik oleh pengawal para jenderal2 yang dibunuh dan juga tanpa bisa diatasi oleh Cakrabirawa yang merupakan pasukan kelas satu pemerintah RI waktu itu. Bayangkanlah, satu Brigade Cakrabirawa sebagai pasukan pengawal presiden bisa dibubarkan tanpa sedikitpun bisa dicegah oleh presiden Sukarno. Suharto baik dengan pangkatnya maupun dengan kewibawaannya, tidak mungkin mampu memaksakan Brigade Cakrabirawa untuk bubaran padahal Brigade ini selain dibawah pimpinan seorang Jenderal Sabur yang pangkatnya lebih tinggi dari Suharto, juga merupakan pasukan yang paling istimewa yang membuat gentar semua pasukan yang ada di Indonesia. Itulah pertanyaan utama yang harus anda temukan jawabannya. Saya hanya memberi solusi, bahwa tak pernah dimungkinkan bahwa ada pasukan Indonesia yang mampu membubarkan pasukan Cakrabirawa, kecuali pasukan khusus Amerika. Brigade Cakrabirawa inilah pagar penting dari kekuasaan Bung Karno, artinya kalo Sukarno tetap masih berada dibawah perlindungan pasukan Cakrabirawa, tentu dia tidak sukar untuk memerintahkan jenderal2 lain maupun memecat jendral2 seperti Suharto. Bubarnya Brigade Cakrabirawa berarti berakhirnya kekuasaan Sukarno. Kenyataan tidak mungkin dibantah, bahwa bukan cuma 6 jenderal yang berhasil diculik dan dibunuh, tetapi bahkan juga Bung Karno berhasil diculik dan dipertemukan dengan jenderal2nya sendiri yang sudah terbunuh di Lubang Buaya. Tidak masuk akal kalo Bung Karno dibawa oleh Cakrabirawa ke Lubang Buaya sementara semua jenderal2nya yang diculik juga dibawa ketempat yang sama. Yang lebih masuk akal bahwa semua jenderal2 maupun Bung Karno berhasil diculik oleh pasukan khusus Amerika yang berseragam Cakrabirawa untuk kemudian diangkut ke lubang buaya. Pasukan khusus Amerika ini bisa jadi mendarat melalui kapal selam di selatan Jawa, atau lebih mungkin pasukan khusus ini mendara langsung dilapangan terbang militer Halim Perdana Kusuma Lubang Buaya. Setelah selesai tugasnya pasukan ini kembali ke Lubang Buaya untuk naik pesawat khusus balik ke Armada ke 7 di laut Jawa. Komandan pasukan khusus ini sebelum kembali ke pangkalannya, menelepon Suharto untuk menjemput Bung Karno dan juga mayat2 ke 6 jenderal yang sudah mati terbunuh. Mengapa Suharto belum berani bergerak? Hal ini se-mata2 dia masih ragu dan takut, Suharto baru yakin untuk bertindak lebih jauh dalam memaksa Sukarno mundur setelah semua jenderal2 itu mati terbunuh. Tidak pernah ada yang menanyakan kepada Suharto, apakah pada saat itu dia mendapatkan telepon dari kedubes Amerika ???? Sangat mungkin Suharto mendapatkan telepon dari dubes Amerika untuk menjemput Sukarno di Lubang Buaya juga mayat2 jenderal yang mati terbunuh itu yang dalam hal ini untuk menaikkan keberanian Suharto dalam memulai proses pengambil alihan kekuasaan. Ny. Muslim binti Muskitawati. Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
