Little Wing <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Tanggal: Sat, 3 Nov 2007 16:28:00 +0700 
(ICT)
Dari: Little Wing <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: Single hits gak harus ngomong asmara kan?
Kepada: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
  [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]

   Single hits gak harus ngomong asmara kan?
     
Ditulis oleh LittleWing2611 | di Selatan Jakarta, akhir Oktober 2007
     
Mengamati  lagu lagu hits (baik penyanyi solo maupun grup) dari tahun ke tahun 
sepertinya tak mengalami perubahan, utamanya dari segi tema; umumnya single 
gacoan sebuah album musik pasti ngomong asmara/cinta. Ini berlaku wajib bagi 
penyanyi maupun grup pop yang tentu saja bertujuan agar mudah laku di pasar. 
Kita ingat hits hits pop era tahun 80an-90an awal (sampai sekarang bahkan), 
musisi musisi seperti Rinto Harahap, Pance Pondaag, Obbie Messakh, Deddy 
Dorres, Wahyu OS dengan produktivitas karyanya saat itu mampu melambungkan 
penyanyi penyanyi macam Nia Daniati, Dian Piesesha, Mariam Bellina, Poppy 
Mercury, Nike Ardilla, Nindy Elise, Lidya Natalia, Ratih Purwasih, Helen 
Sparingga, Betharia Sonata dst..dst, pokok jalur pop luluh lantak oleh tema 
patah hati, nelangsa, haru biru rindu kekasih, cinta bertepuk sebelah tangan 
hingga seorang Harmoko (menteri penerangan jaman orde baru Soeharto kala itu) 
perlu mengeluarkan himbauan untuk menghentikan lagu lagu  cengeng.
     
Sebenarnya penulis (dan mungkin juga pak Harmoko) tidak anti lagu cinta, karena 
tak ada yang melarang untuk jatuh cinta, tak ada larangan untuk bebas 
berekspresi karena cinta, toh Ismail Marzuki, Erros Djarot, Jockie Suryoprayogo 
juga jatuh cinta tapi bisa mengolahnya jadi karya yang indah dan tahan di 
segala zaman. Jadi penulis complaine pada porsinya yang sudah overload, itulah  
alasan menulis ini.
     
Malaysia (yang mengklaim blok Ambalat, mencaplok pulau Sipadan Ligitan, baru 
baru ini juga mengklaim kepemilikan kerajinan tradisional Indonesia batik dan 
wayang kulit, serta memakai lagu rakyat Rasa Sayange dalam kampanye wisata 
mereka -Truly Asia-) dulu pernah “menyerbu” Indonesia lewat Search, Iklim, 
Wings, XPDC, Bumi Putra Rocker, Exist dst. Rombongan rockers malaysia itu 
berambut gondrong, berjaket-bercelana kulit/berjeans robek dengan aksesoris 
logam di leher juga tangan, mendayu dayu melantunkan Isabella-Seribu Tahun 
Takkan Mungkin-Sejati-Suci Dalam Debu-Mencari Alasan-Gerimis Mengundang dsb.
     
Tapi syukurlah, luluh lantaknya jalur musik pop oleh terjangan badai asmara 
tidak begitu “merusak” ranah musik rock. Band band rock kita di era 80an-90an 
telah membuktikan (walau mereka di major label) mampu mencipta hits single 
diluar tema asmara. Peranan ‘sang kaisar rock’ Log Zhelebour tentu tak bisa 
dipandang sebelah mata untuk hal ini. Hajatan festival musik rock yang tiap 
tahun diadakan menghasilkan kader kader handal dan siap mengibarkan tinggi 
panji panji rock tanah air. Puluhan band rock lahir dari gelaran festival rock 
paling bergengsi versi Log Zhelebour yang dimulai dari tahun 1984 hingga 2007. 
Grass Rock, Elpamas, Power Metal, Slank, Andromedha, Saltis, Boomerang, Jamrud, 
Roxx, Kaisar, U9, Mujizat, Kobe sampai Workstation (nama terakhir keluar 
sebagai juara Gudang Garam Rock Competition  2007) adalah grup grup yang 
kemudian membuat gegap gempita industri panggung dan rekaman musik rock tanah 
air.
     
Selain di lingkaran itu juga ada SAS yang meraung kencang lewat Baby Rock, 
Sirkuit, Metal Baja, Sampek-Engtay, atau Edane dengan distorsi gitar menyambar 
gendang telinga, menggelontorkan lagu dari album album mereka; The Beast 
(1992), Jabrik (1994), Borneo (1996), 9299 (1999), 170 Volts (2002), Time to 
Rock (2005). Tapi baik SAS juga Edane bisa tampil lunak lewat beberapa 
reportoar mereka dan tidak sampe’ menye’-menye’.
      
Kita tentu akrab dengan album Semut Hitam-nya God Bless di 1988, hits mereka 
Kehidupan dan Rumah Kita jadi lagu rock populer sepanjang tahun. Saat itu 
armada rockers kita seperti punya tanggung jawab untuk tidak melulu ngomong 
asmara di sepanjang album, tapi juga bersuara anti perang, kerasnya hidup di 
kota besar, kerusakan lingkungan dan fenomena sosial yang terjadi sekaligus 
membangun kesadaran, menyuntikkan optimisme pada massa pendengar /penikmat 
musik. Remy Soetansyah (penyair-pemerhati musik-mantan wartawan -pendiri Rumah 
Musik Indonesia) menyumbang penulisan lirik pada lagu Ogut Suping dan Bla.. 
Bla.. Bla.. menyempurnakan album Semut Hitam God Bless jadi demikian  dahsyat 
dan termahsyur.
     
Setelah God Bless ada Roxx dengan deretan track track mereka yang pekat 
distorsi; Gontai, Rock Bergema, Penguasa, Yang Tersisih, 5 Cm. 
     
Ian Antono (arranjer rock sekaligus gitaris God Bless dan Gong 2000) lewat 
tangan dinginnya membesut Ikang Fauzi, Nicky Astria, Iwan Fals jadi ngerock 
lewat Preman, Gersang,  Pesawat Tempur. 
     
Grass Rock jebolan festival rocknya Log Zhelebour (tahun 1986 dan 1997 
menjuarai ‘Djarum Super Rock Festival) punya vocalis bernama Dayan Zmach yang 
mumpuni menulis lirik. Kedalaman liriknya bisa kita baca di lagu Gadis 
Tersesat, Bersamamu, Bulan Sabit, Lingkaran, Rakyat Hutan, Selamat Pagi 
Tragedi, Santet, Kereta Api dst, semua terangkum di empat album yang telah 
mereka rilis; Anak Rembulan (1990), Bulan Sabit (1992), Grass Rock (1994), 
Menembus Zaman (1998), dan satu single Rock Kemanusiaan berjudul Prasangka. 
Bersama Remy Soetansyah Dayan menulis lirik untuk lagu  yang digemari dan 
selalu diingat oleh pencinta musik rock hingga hari ini; Peterson (Anak 
Rembulan). 
     
Elpamas yang kalau dipanjangkan adalah ELek elek PAndaan MAS tak kalah sama 
Grass Rock. Lagu KGB (Kereta Gaya Baru)-Dinding Dinding Kota-Brutal (Anak 
Durhaka) adalah peristiwa sosial, nasionalisme-optimisme dibangun lewat Untukmu 
Generasiku-Tinggal Landas dan Tegar, serta sindirin nan satir disampaikan pada 
lagu yang kemudian sukses jadi hits; Pak Tua dan RSSS (Rumah Sangat Sederhana 
Sekali).
     
Jamrud yang produktif dan jadi anak emas Log Zhelebour setelah Boomerang, 
menebar lagu lagu berirama rap-thrash-ska bahkan nuansa melayu dipadu lirik 
heboh juga vulgar; Nekad, Ningrat, Surti Tejo, Otak Kotor, Telat 3 Bulan, 
Berakit rakit, Gak Cabul Lagi, Senandung Raja Singa, Waktuku Mandi dsb. Klip 
video mereka yang bertitel Putri konon dicekal tayang di ANteve karena lirik 
yang dinilai kurang etis dan mendiskreditkan kaum perempuan. Pada album ke 
tujuh Jamrud berkompromi ikut pasar guna mencari uang sebanyak-banyaknya dengan 
membuat  album bertitel All Access In Love, dimana sekitar 80 persen lagu-lagu 
di album tersebut memuat kisah percintaan, pertengkaran asmara dan cinta putus 
asa.
     
Majunya peradaban technologi seperti sekarang, digitalisasi proses rekaman, 
promo album sampai segala hal yang terkait dengan sebuah band bisa dilakukan 
lewat cyber spice justru kemunduran dalam segi arrasement juga tema tema yang 
disuarakan. Yang lahir malah band band rock atau pop rock dengan lagu berlirik 
semanis anggur dan bermusik demikian simple (memang sih Peterpan, Nidji, Drive, 
Samsons, Padi, Ungu, Ada Band, Kangen Band, Dewa, Radja, Naff, Kerispatih mampu 
menjual album ratusan ribu hingga sejuta copy, panen ketenaran, dipuja para 
ABG, lagunya  dipasang-dinyanyikan diberbagai tempat, photo personilnya 
dipajang di blog, hits mereka jadi ring tone/nada tunggu di hand phone). Beda 
spirit bermusiknya dengan God Bless, AKA, SAS, Elpamas, Grass Rock (yang tidak 
semua bisa mengecap technologi rekaman secanggih sekarang) justru memainkan 
heavy metal sampai progressif rock dengan lirik-lirik keras menggedor kesadaran.
     
Tapi memang dasar rock adalah tradisi memberontak maka seperti tak peduli 
dengan hegemonik trend musik (yang dicipta-kondisikan oleh industri musik 
beragama kapitalisme) ternyata ada juga yang “melawan arus” itu. Seperti The 
Brandals contohnya, band ini punya energi besar dalam membuat tumpah emosi 
massa, penonton jadi mabuk/trance sembari nyerocos melafal bait-bait Obsesi 
Mesin Kota, atau koor massal saat 24:00 Lewat menggema. Seperti melepas semua 
gundah dan frustasi yang menghimpit, orang-orang muda itu meledak bermediakan 
rock ‘n roll yang dibunyikan The Brandals. Ucapan Stan Getz (musisi Jazz & 
pemain tenor saxophonist) bisa jadi benar dalam kasus The Brandals, bahwa 
“Engkau harus menyalahkan Thomas Edison atas keberadaan Rock ‘N Roll saat ini, 
karena dialah yang menemukan listrik” (hehehehehe……). ‘Sang Kereta Rock ‘n 
Roll’ dari Duren Sawit Jakarta Timur itu sepertinya akan terus mendengus 
menghampiri orang-orang muda yang bingung dan gundah sebab
 susah cari kerja, sekolah mahal dan sejuta  problem kaum urban lainnya, andai 
Eka Annash dkk bisa ‘menjawab’ kegundahan kegundahan itu, bukan tidak mungkin 
juru bicara kaum muda di dekade mendatang tidak Slank, tidak lagi Iwan Fals 
tapi The Brandals yang kongkrit, yang optimis, tidak dekaden, tidak absurd dan 
gue banget!
     
Satu lagi Seringai. Single Citra Natural adalah wacana Seringai yang tidak 
setuju pada pencitraan media bahwa cantik itu harus berkulit putih, lurus 
rambutnya dan rata perutnya. Sementara Membakar Jakarta ditujukan ke orang 
orang yang sehari hari berkubang kesibukan kota besar, datanglah ke Seringai 
untuk melepas belenggu rantai rutinitas, membunuh kebosanan atau marah sama 
keadaan. Maka jadilah buas bak serigala!
  
Di jalur (musik) independent terbangun komunitas-jalur distribusi penjualan 
album-merchandise dan pementasan sendiri. Semangatnya memang independent guna 
idealisme bermusik, maka terkadang mereka tak segan mengolok olok-memusuhi 
teman bermusik mereka yang nyebrang ke mayor label. 
     
Maka sekarang tak ada alasan lagi untuk takut (gak laku) membuat album musik 
yang tak melulu bicara kesedihan mendalam sebab ditinggal kekasih, merana  
berlarut-larut karena ditolak cinta (pokok ‘Cinta Melulu’ seperti judul lagunya 
Efek Rumah Kaca). Karena begitu melimpahnya persoalan yang bisa diangkat jadi 
karya, mulailah bicara penghapusan hutang luar negeri, ngomonglah pentingnya 
nasionalisasi perusahaan perusahaan tambang, suarakan pentingnya membangun 
industri nasional yang kuat atau berserulah ke semua orang bahwa ‘cukup sudah 
jadi bangsa kuli-bersatu bangkit jadi bangsa mandiri’.
     
Semoga keluhan ini jadi provokasi kecil buat anak band seIndonesia (yang 
semuanya bermimpi-bercita cita jadi rockstar) untuk memulai lagi apa yang telah 
dilakukan oleh para rockers progressif kita dulu. Maju Musik  Indonesia! ***
       
Comment ke [EMAIL PROTECTED] / http://littlewing2611.multiply.com/ 
   
  ______________________________________________
    
Lampiran lirik lagu
     
Ode Pinggiran Kota
  (ditulis Eka Annash, vocalist The Brandals)
           
intip malam cerah sinar mentari
kupaksa kepala kaki berdiri
berat mata tutup empat jam
dimana kutinggal rokokku semalam
           
jatuh bangun kuraih sendok nasibku
tak berubah sejak dua tahun yang lalu
cekung mata kurus kerontang
rokok-kopi-mie instan kulit membalut tulang
           
tapi ku  tidak pernah menyerah
pantang jangan tadahkan tangan
di hati semua sama tinggi
atas bawah akan berpindah
           
terjal aspal debu Kampung Melayu
kejar metromini napas diburu
bergulir roda ke timur Jakarta
berjejak kaki tinggalkan banyak cerita
          
wajah letih penuh guratan luka
bergulat melawan tembok hati manusia
tak tahan beban (tagihan) harus terbayar
terjatuh-limbung-bangkit ayo coba!
           
tapi kau jangan pernah menyerah
pantang jangan tadahkan tangan
di hati semua sama tinggi
atas bawah akan berpindah
           
dan kau jangan pernah menyerah
pantang diulang tadahkan tangan
nyanyikan.. nyanyikan saja lagi
suara kita akan terdengar
           
keruh dalam kelam sampah air Ciliwung
rentang tangan kakimu pendek terkurung
mengais iba peluh ibu kota
tantang nasib kapan giliran tiba
 
 
      disini banyak tercecer rongsok derita
tak sedap bau aroma palingkan mata
 Bantar Gebang-Kebon Kacang
Prumpung-Tanah Tinggi-Priok-Kemayoran
 
 
    Bla.. Bla.. Bla..
  (ditulis Remy Soetansyah)
             
dengan senjata yang geram
berdentam suara yang kejam
terperangkap larut di dalam  kepedihan 

    
menjerit perut yang lapar
menjelang mati terkapar
bermandikan merah darah luka di dada
         
dendam mendendam antar manusia
tapal batas pecah terbelah
angkat bicara
         
dendam mendendam antar manusia
saling hina saling menyerang
angkat senjata!
           
hantam kiri kanan  persetan
penting tahta bertabur intan
lagu kematian
lantang dan bergema
           
hantam kiri kanan persetan
penting tahta bertabur intan
lagu perdamaian
hilang tak bergema
         
karena senjata
karena kuasa
karena bla.. bla.. bla..
            

---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers


JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat) 
Jl.Tebet Dalam 2G No.1 Jakarta Selatan 12810 INDONESIA  
Phone/Fax  :+62-21-8354513 
Hp     :+8176879598(Tedjo Priyono) 
Email  :[EMAIL PROTECTED]  / [EMAIL PROTECTED]
Web    :http://www.jakker.blogspot.com/
       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke