Refleksi: dalam soal ngibul, nipu dan pengecutnya sama dgn jusfiq
hadjar yg bahkan untuk mesin tikpun berani ngibul
http://www.gatra. com/artikel. php?id=109228
Wawancara Eksklusif
H.M. Soeharto: Nyatanya, Saya Tidak Korupsi
Matahari belum sepenggalah ketika H.M. Soeharto berjemur di pekarangan rumahnya
di Jalan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat, pertengahan Ramadan lalu. Di pagi
cerah itu, Pak Harto, 86 tahun, menghangatkan tubuhnya dengan duduk menyandar
di kursi taman. Usai bermandi cahaya matahari, ia kemudian berjalan ke ruang
keluarga.
Langkahnya tertatih-tatih. Tak sampai 10 meter berjalan, Pak Harto sudah tampak
kelelahan. Napasnya tersengal. Tubuhnya pun tampak terhuyung, tapi dengan cepat
dipegang oleh pengawalnya ketika mengulurkan tangan untuk menyalami tim Gatra
yang datang. Toh, ia menyebut kesehatannya tidak ada masalah. "Saya baik-baik
saja," katanya seraya melempar senyumnya yang khas.
Namun tampaknya dua kali serangan stroke, ditambah usianya yang semakin lanjut,
membuat kondisinya jauh menurun. Tangannya tak berfungsi normal. Bahkan, pada
saat akan duduk di kursi, Pak Harto harus sering dibantu pengawal setianya,
Letkol (purnawirawan) I Gusti Nyoman Sweden, 61 tahun.
Purnawirawan polisi militer itu bertugas di ring satu Cendana sejak berpangkat
letnan. "Sudah 20 tahun saya mengawal Bapak," tutur Sweden, yang menjelang H.M.
Soeharto lengser pada Mei 1998 menjabat sebagai Komandan Detasemen Pengamanan
Khusus, satuan pada Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) yang ditempatkan
di ring satu.
Sehari-hari, kini Sweden menemani Pak Harto mulai subuh hingga malam. Tak
mengherankan bila ia lebih sering menginap di Jalan Cendana ketimbang pulang ke
rumah pribadinya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Timur. Sweden merasa tak
enak hati bila terlalu sering meninggalkan Cendana.
Tak banyak perwira mantan Paspampres yang berada di sekitar Pak Harto. Sebagai
mantan presiden, semestinya Pak Harto berhak mendapat pengawalan anggota
Paspampres aktif. Tapi tak ada lagi yang ditempatkan di sana.
Kini dia hanya dijaga 10 pensiunan Paspampres, termasuk Sweden. Yang lain
adalah satpam sebanyak 15 personel yang bertugas secara bergiliran. Keadaan ini
berbeda dari para penerusnya, baik B.J. Habibie, Gus Dur, maupun Megawati
Soekarnoputri, yang masih mendapat pengawalan personel militer aktif.
Ditemani Nyoman Sweden, mantan Presiden Soeharto menerima tim Gatra untuk
sebuah wawancara. Ini kali pertama Pak Harto bersedia ditemui pers sejak
lengser pada Mei 1998. Wawancara berlangsung di ruang keluarga kediamannya,
yang disekat dari ruang makan oleh rana kayu jati berhiaskan ukiran kulit sosok
Pandawa Lima.
Ruang keluarga itu tampak sederhana untuk ukuran rumah seorang mantan presiden.
Langit-langit ruangan itu terlampau pendek, membuat sirkulasi udara di dalamnya
terasa terbatas. Tak terlihat perabotan baru. Satu-satunya perkakas yang
terbilang keluaran abad ke-21 hanyalah televisi layar datar 36 inci merek
Samsung, ditambah sebuah jam meja berbentuk bundar bertuliskan "Peringatan
1.000 Hari Wafatnya L.B. Moerdani".
Di luar itu, semuanya stok lama. Ada satu set sofa dengan bingkai kayu jati
ukiran khas Jepara. Ada juga meja ukir dengan beberapa toples. Isinya makanan
ringan, seperti keripik tempe, pisang sale (semacam keripik pisang), emping
melinjo, dan kacang mete. Sebuah keranjang buah ada juga di sana, berisi buah
duku yang sebagian besar kulitnya sudah menghitam.
Mantan Presiden Soeharto duduk membelakangi rana. Usia sepuh, ditambah kondisi
fisik yang semakin renta, membuatnya tak mampu lagi duduk tegak. Ia selalu
menyandarkan badan di kursi.
Pak Harto juga selalu kesulitan berbicara atau gagap pada saat mengawali
ucapan. Ia seperti kesulitan memilih kata-kata. Kalaupun sempat mengucapkan
kalimat panjang, hampir selalu ditutup dengan suara batuk-batuknya.
Pedengarannya makin terbatas, Karena itu, tim Gatra yang terdiri dari Putut
Trihusodo, Heddy Lugito, dan Herry Mohammad harus "setengah berteriak" ketika
mewawancarainya. Pak Harto pun hanya menjawab dengan kalimat-kalimat pendek.
Petikannya:
Apakah kesehatan Bapak sekarang cukup baik?
(Mantan Presiden Soeharto hanya tersenyum. Tidak menjawab sepatah kata pun).
Bapak baik-baik saja?
Saya baik-baik saja.
Bapak masih sempat mengurus yayasan-yayasan yang dulu Bapak dirikan?
Dhar, Dhar... Dharmawis (maksudnya Dharmais) itu bantu orang miskin (Pak Harto
sering gagap pada saat mengawali ucapan). Bantu orang tua jompo operasi mata.
Tahun ini, Yayasan Dharmais masih menyalurkan bantuan? Berapa besar?
(Pak Harto tidak menjawab. Ia mengangkat kepala, lalu menyandarkannya kembali
di bantalan kursi. Beberapa saat kemudian, ia memencet tombol bel di meja
kecil, di samping tempat duduknya. Sweden bergegas mendekat. Lalu tangan Pak
Harto menunjuk ke arah tumpukan berkas di meja sambil mengucapkan, "Dharmais,
Dharmais, laporan...." Sweden segera mengambil berkas itu dan menyerahkannya
pada Pak Harto).
(Berkas itu adalah laporan penyaluran dana Yayasan Dharmais yang diterima pada
hari itu juga. Setelah mencermati berkas itu, Pak Harto kemudian memberikannya
kepada Gatra. Isinya menyebutkan, selama tahun 2007 Yayasan Dharmais
menyalurkan dana sebesar Rp 32 milyar).
Disalurkan ke mana?
Seribu... seribu seratus... (Pak Harto masih terus menatap angka-angka di map
tersebut sambil berpikir keras. "Seribu lima ratus lima puluh panti asuhan dan
panti jompo," Sweden membantu membacakan. Ia juga menunjukkan data bahwa
bantuan itu jatuh ke 47.500 anak yatim piatu dan orang tua jompo yang tersebar
di 1.550 panti di seluruh Indonesia. Yayasan Dharmais pun membiayai operasi
katarak dan bibir sumbing warga miskin).
Dari mana sumber dana Yayasan Dharmais itu?
Penghasilan Dharmais itu dari rente.
Bunga bank?
Ya, bunga dana abadi. Seluruhnya dari rente untuk menghidupkan yayasan.
Kalau begitu, dana abadi milik yayasan itu tidak akan habis?
Ya. Umpamanya dipakai 7%, sisanya 30% disimpen.
Maksudnya, dari bunga dana abadi itu, yang dipakai 70%, kemudian yang 30%
disimpan?
Apa namanya, 30% disimpen. Lantas 70% disimpen, biar tambah terus. Kontinu,
membantu orang miskin. (Tampaknya Pak Harto kesulitan menjawab pertanyaan
panjang. Jawabannya sering tidak klop dengan persoalan yang ditanyakan).
Jadi, Bapak menginginkan yayasan itu terus-menerus memberi bantuan?
Ya. Kontinu, terus.
Yayasan lainnya apa saja?
Ada tujuh. Supersemar mengatasi kemiskinan. (Sebenarnya Yayasan Supersemar
begerak di bidang pendidikan. Boleh jadi, Pak Harto kini sudah lupa tentang
fungsi dan peran masing-masing yayasan yang didirikannya) .
Selain Yayasan Supersemar, yayasan apa lagi?
Lantas itu, Dharmais, Mandiri, Gotong Royong, YAM (Yayasan Amal Bhakti Muslim)
memberi bantuan masjid.
Apakah Yayasan Amal Bhakti sekarang masih bisa membangun masjid?
Tinggal 33 yang belum. Kompletnya 999, nanti tahun 2009.
Kalau sudah 999, apa masih akan membangun masjid lagi?
Mem, mem... membangun lagi. Ada lagi, terus saja.
Akan membangun masjid sampai berapa jumlahnya?
Membangun satu, satu, satu lagi, sampai 999. Nyambung terus.
Mengapa harus 999?
Sembilan, sembilan, sembilan dibagi-dibagi jadi 99. Itu asmaul khusna (99
adalah nama-nama keagungan Tuhan dalam ajaran Islam).
Yayasan Dakab juga masih melakukan kegiatan?
Dakab mengentasken kemiskinan. Keseluruhannya mengentasken kemiskinan.
Ada yayasan yang bergerak di bidang pertanian?
Ada juga.
Karena Bapak ahli pertanian, ya? (Pertanyaan diulang dua kali)
He, he, he... cita-citanya. Cita-citanya itu. Yayasan pertanian, apa namanya,
Mekar Sari. Oleh Mamiek (putri bungsu Pak Harto) dikembangken jadi pembibitan
buah. Eh, apa namanya, luasnya dua, dua, 250 hektare.
Apakah pengurus yayasan memberikan laporan rutin?
Ada laporan. Ada tanggung jawab.
Masih sempat hadir dalam rapat yayasan?
Saya hadir, akan tetapi tempo-tempo.
Berapa besar dana yang disalurkan seluruh yayasan per tahunnya?
Ehm, ehm, ehm... (Pak Harto terbatuk-batuk) . Dharmais itu untuk pendidikan,
kebudayaan (Pak Harto lupa bahwa Yayasan Dharmais bergerak di bidang kesehatan
dan batuan sosial).
Jumlah dana yang disalurkan berapa?
Itu ditanyaken pada Yono (maksudnya Haryono Suyono, mantan Menko Kesra dan
Menteri Kependudukan, kini menjadi Ketua Harian Yayasan Dharmais).
Ketika dituduh melakukan korupsi, apakah Bapak merasa sakit hati?
He, he, he... biarken saja. Biarken ngomong, pating celomet. Biarken saja
disangka korupsi. Nyatanya, saya tidak korupsi. Lantas saya dikasih satu
trilyun.
Satu trilyun karena menang gugatan terhadap majalah Time. Akan digunakan untuk
apa uang itu?
Kalau sudah dibayar, apa namanya, untuk pajak 350%.
Maksudnya 350 milyar atau 35% untuk membayar pajak?
Ya, ya. Sisanya untuk bantu orang miskin.
Tapi, sisanya kan masih banyak?
He, he, he... sugih dadakan (kaya mendadak). He, he, he... semua disumbangkan
fakir miskin.
Apa benar Bapak punya tanah di mana-mana?
He, he... ndak benar.
Tanah di Tapos itu atas nama pribadi atau yayasan?
Tanah pemerintah, hak guna usaha. Dipakai mengembangken domba dan sapi untuk
rakyat. Apa namanya, anak sapi dan kambing itu diberikan rakyat.
Bapak juga dikabarkan punya simpanan uang di bank Swiss? (Pertanyaan diulang
dua kali)
Ndak benar itu (berhenti sebentar). Saya sudah bikin kuasa (surat kuasa). Kalau
ada, biar untuk rakyat. Tapi, nyatanya, ya, ndak ada.
Atau mungkin disimpan di bank lainnya di luar negeri?
(Pak Harto tak langsung menjawab. Ia melihat dulu ke Nyoman Sweden. "Ndak ada
simpenan di luar," kata Pak Harto).
Bapak masih sering menonton televisi?
Tempo-tempo.
Acara televisi apa yang paling sering ditonton?
Badut-badutan, pelawak, Srimulat, Tukul, he, he, he....
Suka film atau sinetron?
Dulu itu ada Angling Dharma, Jaka Tingkir, sekarang ndak ada.
Acara olahraga?
Tinju. Dulu, apa namanya itu, banting-bantingan. .. smackdown (Pak Harto
menirukan Nyoman Sweden). Sekarang sepak bola.
Apa kegiatan lain untuk mengisi waktu senggang?
Berdoa. Membaca ini (Pak Harto menunjukkan selembar kertas berisi catatan
sejumlah doa dan zikir. Antara lain berbunyi, "Laa khaula walaa quwwata illa
billahil aliyyil adzim", yang artinya, "Tiada daya upaya dan kekuatan kecuali
atas izin Allah").
[Laporan Utama, Gatra Nomor 50 Beredar Kamis, 22 Oktober 2007]
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/