DEMO BALI
PANCASILA LAWAN LIMA SILA GLOBALISASI Oleh M. Isa, mantan pengajar
Universitas Humboldt, Berlin; [EMAIL PROTECTED]
âLima Sila Globalisasiâ Globalisasi juga mempunyai âLima Silaânya,
yaitu:
1. Penistaan Martabat Manusia
2. Pelenyapan Peri Kemanusiaan (HAM)
3. Peracunan Udara
4. Pemanasan Suhu Dunia
5. Pemusnaan Kehidupan di Dunia
Manusia bukan menghadapi ke lima Sila itu, melainkan sudah berada di
tengah-tengah prosesnya, malah mungkin telah melangkaui titik tanpa balik
(point of no return). Pelaku/pimpinan Limasila Globalisasi itu ialah 8 Negara
Industri (8N): Amerika Serikat (Bush), Russia (Putin), Jerman (Merkel), Inggris
(Brown), Perancis (Sarkozy) dll. Mereka ditopang oleh 10 Negara (10N) dari
seluruh dunia: Cina (Hu Jin Tao), Brasilia (Luli), India (Singh), Mesir
(Mubarak) dll. Jadi yang menguasai dunia dalam mewujudkan Lima Sila tsb. di
atas ialah 8N + 10N = 18N. Di Jerman, ada orang yang menamakan 18N itu
"Heimliche Weltregierung" (HWR) yang berarti Pemerintah Dunia di Belakang Layar
(PDBL), yang diam-diam menguasai dunia. Jadi pemerintah dunia bukanlah misalnya
PBB, melainkan PDBL (HWR). "Der Spiegel", majalah terbesar di dunia (4-6-07),
telah menulis tentang kedahsyatan akibat ulah "Heimliche Weltregierung" itu
bagi umat manusia. Orang hanya bisa beristigfar dan mengusap dada membaca
fakta-fakta yang berdokumentasi sempurna disertai angka-angka itu: mengerikan,
memilukan. A.l. bahwa mayoritas umat manusia masih diperbudak, mereka bekerja
setengah mati untuk bisa setengah hidup. Kita tahu bahwa di India ada
Perhimpunan Buruh Tani, yaitu Perhimpunan Bunuh Diri, yang menuntut agar bila
anggotanya bunuh diri, pemerintah harus membebaskan anaknya yang menjadi budak
seumur hidup sejak usia 5 tahun. Kita tahu, bahwa Cina demi kepentingan
ekonominya, memihak kepada penguasa Sudan yang telah membantai ratusan ribu
manusia di Darfur, bahwa Cina dan Russia menyokong diktatur militer fasis di
Birma, seraya mencekik leher Aung San Suu Kyi, wanita pemegang hadiah Nobel
untuk Perdamaian yang selama 18 tahun ini masuk penjara keluar penjara,
dipenjarakan oleh trio dikmilfas Than Shwe, Hu Jin Tao, Wladimir Putin.
Fakta-fakta seperti itu menyebabkan banyak sekali orang, a.l. ilmuwan-ilmuwan
sosial, berbalik pendapat: asal memihak globalisasi, menjadi penentangnya yang
sengit. Dunia apa itu, sekelompok miliarder mampus karena kekenyangan, di
tengah-tengah samudera manusia yang mati karena kelaparan?
Globalisasi di Indonesia Dalam "Siapa bilang Indonesia miskin" (10.01.07),
Imam Cahyono menulis: 1. Indonesia adalah salah satu negara termiskin: 100 juta
jiwa (versi Bank Dunia), 2. majalah AS "Forbes Asia" menulis: 40 orang super
kaya Indonesia, kekayaannya 22,7 miliar dollar AS (Rp 200 triliun), 3. Di
Singapur ada 16.000 orang WNI yang tinggal di sana dengan kekayaan 87 juta
dollar AS. Belum lagi kekayaan di negeri-negeri lain, 4. Dulu Indonesia dikuras
Belanda (dan Jepang), sekarang oleh negara-negara lain, 5. miliarder-miliarder
itu masih mencari untung dengan mengeruk kekayaan Indonesia, 6. Indonesia
merupakan pangsa pasar yang potensial bagi luar negeri, 7. Freeport, Exxon,
Mobile Inco, menguasai sumber-sumber kekayaan alam: emas, nikel, gas, minyak
bumi, 8. Pemodal asing mencengkeram bank-bank: Bank Central Asia, Bank Niaga,
Bank Danamon, Bank Lippo, Bank Bumiputera dll., malah juga bank-bank kecil, 9.
Di negeri-negeri asing, kepemilikan saham asing dibatasi dari
30% - 50%, di Indonesia hingga 99%, 10. Industri tele-komunikasi, ritel dll.
juga digempur pemain asing, 11. AS adalah negara dedengkot kapitalisme.
Prof. Dr. Amien Rais telah dengan jitu merumuskan peran Globalisasi di
Indonesia dalam menghilangkan kedaulatan Indonesia: 1. Kedaulatan ekonomi
berupa penjajahan terselubung terhadap Indonesia oleh IMF, International
Monetary Fund: deregulasi, privatisasi, mekanisme pasar. 2. Kedaulatan atas
kekayaan alam: minyak / gas bumi, nonmigas dalam tangan asing habis dikuras
oleh pihak asing. 3. Kedaulatan atas wilayah Indonesia: DCA (Defence
Cooperative Agreement) dengan Singapura, penggadaian sebagian wilayah Indonesia
kepada Singapura, suatu penghinaan terhadap bangsa: Singapura bersama
negara-negara asing lainnya boleh mempergunakan sebagian wilayah Indonesia
sebagai latihan peperangan. DCA merupakan "kebodohan yang tidak bisa diampuni"
dan paling "menggetarkan perasaan anak bangsa". Dalam Sinar Harapan Amien Rais
pernah menulis bahwa IMF dan Bank Dunia mengangkangi kedaulatan ekonomi
Indonesia, 50% perbankan nasional sudah dimiliki bank asing. Pemerintah telah
melacurkan
politik luar negeri kita kepada negara superbody seperti Amerika Serikat.
Pancasila hanya dihafal saja, tidak dipraktekkan.
Dalam film yang kesohor (Die Mörder sind unter uns, Pembunuh-pembunuh ada di
tengah-tengah kita) diceritakan tentang orang-orang fasis di Jerman yang
disangka sudah musna, padahal masih ada yang bebas berkeliaran dalam
masyarakat. DCA memungkinkan timbulnya situasi semacam di Jerman itu. Dalam
tulisannya tsb. Amien Rais tidak menulis satu pun nama orang. Honi soit qui mal
y pense! (Sungguh jahat orang yang menaruh buruk sangka!). Pada akhir tulisan
itu Rais menuliskan harapannya yang benar-benar tulus ikhlas: agar Soesilo
Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla membawa Indonesia ke negara yang adil dan
makmur.
Pancasila Kelima Sila dari Pancasila ialah:
1. Ketuhanan, yaitu persatuan antara semua agama
2. Kemanusiaan. yaitu persatuan antara yang beragama dengan yang tidak
beragama
3. Kebangsaan, yaitu persatuan antar-bangsa
4. Kerakyatan, yaitu persatuan seluruh rakyat, bahwa di setiap negara, yang
berkuasa
penuh
5. Masyarakat yang adil dan makmur, yaitu persatuan cara, jalan yang ditempuh
untuk
mencapai tujuan terwujudnya masyarakat itu.
Kelima Sila Pancasila itu, baik secara keseluruhan maupun satu demi satu,
adalah persatuan kaum yang ditindas, yang hendak melenyapkan globalisasi.
Kebalikannya, globalisasi ialah persatuan kaum penindas, yang ditujukan untuk
memusnakan kaum yang ditindas. Pancasila Sejati bertolak dari pandangan, bahwa
manusia adalah makhluk yang termulia. Atas dasar ini dosa yang terbesar ialah
menindas sesama manusia, sumber dari semua kejahatan dan semua penderitaan
manusia. Kebalikannya, Lima Sila Globalisasi bertolak dari pandangan, bahwa
mayoritas manusia adalah makhluk yang rendah dan hina dan karena itu adalah
layak bila mereka ditindas oleh suatu kelompok kecil: rakyat jelita memperbudak
rakyat jelata.
Keterangan Ringkas Setiap Sila Pancasila
ad 1: Ketuhanan. Dalam menghadapi kejahanaman Globalisasi, adalah absurd,
bila ada agama yang merasa super dan memandang rendah kepada agama-agama lain.
Ini menyerupai "Chauvinisme agama" yang sama jahatnya seperti sikap "bangsaku
adalah super". Penindasan tidak pilih bulu, ia terdapat pada yang bertuhan satu
atau tiga, yang bertuhan kepada Triniti, kepada Tuhan Buddha dan nirwana,
kepada arwah nenek moyang. Tetapi toh agama Islam memang agama super dalam arti
yang positip dan baik. Pertama, ia adalah satu-satunya agama yang dengan begitu
tegasnya dan konsekwennya menentang penindasan dalam kata (kutukan terhadap
Firaun) maupun dalam fakta (Nabi berperang). Kedua, karena Islamlah yang
(mungkin) satu-satunya agama yang mengatakan: "Dalam agama tidak ada paksaan".
Ajaran yang luhur dan mulia ini barangkali tidak terdapat dalam agama lain.
Mungkin kedua ajaran tsb. merupakan sebab utama, kenapa Islam adalah agama yang
paling cepat meluas di dunia dewasa ini.
ad 2: Kemanusiaan. Ada dua kategori umat manusia: 1). yang percaya akan
adanya Tuhan dan 2). yang tidak percaya Tuhan itu ada, ateisme. Kedua kategori
manusia itu menderita di bawah satu nasib; ditindas oleh sesama manusia. Adakah
yang lebih logis daripada keharusan kerjasama antara kedua golongan besar itu
dalam melawan kaum penindas? Seorang ateis adalah manusia juga, makhluk yang
teringgi, sedangkan seorang Muslim / Kristen yang menistakan sesamanya,
siapakah di antara kedua itu yang layak dicap sebagai "kafir"? Alangkah baiknya
bila MUI mengeluarkan fatwa tentang hal ini. Betapapun, (tidak) dapat
dibayangkan dahsyatnya malapetaka, bila terjadi perang antara kedua kategori
itu: 4,5 milyar yang beragama memerangi 1,5 milyar ateis. Dan pula (tidak)
dapat dibayangkan betapa cepat lenyapnya penindasan, bila kedua golongan
manusia itu merupakan kawan seperjuangan (comrades-in-arms).
ad 3: Kebangsaan. "Tuhan menciptakan bangsa-bangsa agar saling mengenal
masing-masing". Di sini tersimpul makna, bahwa antara bangsa-bangsa, berkat
saling kenal itu, harus terdapat damai, rukun dan kerjasama. Dan bukannya untuk
sampai kepada kesimpulan Chauvinisme: "Bangsaku ini ternyata super,
bangsa-bangsa lain adalah tidak beradab, malah biadab. Dus kita berhak menjajah
mereka". "Kita harus mengirimkan ke sana putera-putera kita yang terbaik untuk
menangkap manusia yang dungu yang setengah kanak-kanak dan setengah setan
(sajak Rudyard Kipling: Beban Orang Kulit Putih, The White Man's Burden)".
Sugesti diri yang "paling beradab" itu ternyata justru bermuara kepada
kebiadaban tanpa batas: kolonialisme, imperialisme, Hitlerisme, Tojoisme,
Suhartoisme, Hirohitoisme.
ad 4: Kerakyatan atau Demokrasi. Demokrasi (demo = rakyat, krasi =
memerintah) berarti bahwa di dalam negeri yang memonopoli kekuasaan ialah
rakyat dan bukan dicengkeram oleh suatu kelompok elit kekuasaan. Di AS, baik
500 kursi parlemen maupun kursi menteri, tidak ada satu pun yang diduduki oleh
buruh kecil, penyemir sepatu, prajurit krocokan, pengantar koran dsb. yang
mewakili golongan-golongan masing-masing. Semua kursi diduduki oleh "rakyat
jelita", bukan oleh rakyat jelata. Setelah mencengkeram kekuasaan, dengan
leluasa mereka mencengkeram pula seluruh kekayaan rakyat, negara dan alam.
Dalam demokrasi rakyat, rakyatlah yang 100% berkuasa, menguasai segala
kekayaan, tapi tanpa jatuh kepada prinsip samarata dalam arti samamiskin.
Sungguh mengejutkan, bahwa tanggal 12 â 14 November 2007 akan diselenggarakan
upacara pemberian "Medali Demokrasi" oleh Asia Pacific Association of Political
Consultants (APAPC) kepada Presiden Indonesia, yang juga dihadiri oleh Robert W.
Murdoch, wakil ketua APAPC (Siapa sih yang tak kenal akan nama Murdoch?).
Upacara itu memberi kesempatan yang bagus bagi Pemerintah RI untuk revans,
membalas dendam terhadap "peristiwa celana pendek" (baca selanjutnya): Semua
hadirin upacara tsb. seharusnyalah bercelana pendek. Kekecualian tentunya
Presiden RI. Kalau tidak, itu akan sedikit memerosotkan gengsi beliau, bukan
memerosotkan celana-celana pendek. Rakyat yang amat sakit hati justru akan
berjingkrak ramai, andaikata yang merosot itu celana-celana pendek, gengsi
Presiden RI tak boleh dimerosotkan.
ad 5: Kesatuan cara/jalan. Yang merupakan masalah utama bukanlah masyarakat
yang adil/makmur itu sendiri, melainkan jalan mana yang harus ditempuh untuk
mewujudkannya. Ringkasnya: jalan itu harus diarahkan kepada tujuan demokrasi
kerakyatan, demokrasi terpimpin, yaitu dari demokrasi elit menjadi demokrasi
rakyat. Hanya dengan demikian pula dilaksanakan ekonomi terpimpin, yaitu
ekonomi yang dicengkeram oleh elit menjadi ekonomi yang 100% dikuasai oleh
rakyat. Yaitu masyarakat yang makmur dan adil dalam distribusi kekayaan. Hanya
dengan demikian pula kultur yang dekaden, membusuk, menjadi kultur yang
dipimpin ke arah kultur yang sehat dan segar bugar. Kultur yang didasarkan
"saling cengkeram" menjadi kultur yang layak bagi manusia sebagai makhluk Tuhan
yang termulia. Jadi yang memimpin bukan si Polan / Badu, melainkan prinsip:
Prinsip kultur Manusia adalah Makhluk Tertinggi, lawan kultur Manusia adalah
Srigala. Demokrasi, Ekonomi, Kultur, semua dipimpin oleh prinsip, bukan
oleh individu, demikian wasiat para leluhur pendiri NKRI.
Lima Rukun Islam Yang juga menyebabkan agama Islam mempunyai kelebihan
ketimbang agama lain ialah kewajiban setiap Muslim untuk menunaikan Lima Rukun
Isalm. Upacara atau ritual itu terutama ditujukan kepada memperkuat jiwa dan
karakter setiap Muslim secara perseorangan. Ibarat melatih setiap orang,
individu, agar menadi seorang pejuang, âprajurit Islamâ. Sedangkan
Pancasila bukan membina orang, melainkan membina masyarakat yang diperjuangkan
oleh setiap Muslim. Lima Rukun Islam adalah salah satu bidang, dimensi, dari
mata uang logam, Pancasila adalah bidangnya yang lain. Keduanya dapat
dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan. Adanya âwajib latihâ (âWalaâ)
dalam agama Islam itu adalah unik, tak ada yang semacam itu dalam agama-agama
lain, sama uniknya seperti ketiadaan paksaan beragama dan uniknya anggapan,
bahwa manusia adalah makhluk yang termulia. Penganut Pancasila bukanlah hanya
kaum Muslim, melainkan seluruh umat manusia yang tertindas, yang tak pernah
melakukan Lima Rukun Islam.
Kelima Rukun Islam itu ringkasnya ialah:
1. Mengakui kebenaran Kalimat Syahadat
2. Sholat
3. Berpuasa
4. Zakat
5. Ibadah Haji
ad 1: Kalimat Syahadat: Tiada tuhan melainkan Tuhan dan Muhamad adalah
RasulNya.
Percaya kepada kebenaran kalimat Syahadat bukan hanya berarti percaya bahwa
Tuhan itu Maha Esa, melainkan di atas segala-galanya kepada firmanNya.
Berhalapun oleh pengikutnya dianggap âtuhanâ, tapi ia tuhan yang bisu dan
tak berguna apapun bagi manusia. Percaya kepada adanya Tuhan tanpa mengetahui
firman-firmanNya, adalah semacam âberhalaismeâ. Firman-firmanNya itu
adalah: Pertama: pembasmian penindasan. Ini dinyatakan dalam Al Quran, yang
banyak memuat ayat tentang tema itu. Malah ada 80 kutukan terhadap Firaun,
lambang kaum penindas. Di sisi itu Tuhan telah menitahkan kepada Nabi Muhamad
SAW untuk melawan dan mengalahkan kaum penindas. Titah itu dituruti Nabi dalam
perang 20 tahun. Nurcholish Majid mengatakan, bahwa Muhamad termasuk tiga
âNabi Berperangâ dalam sejarah. Menurut Muzadi ("Islam dan Persaudaraan
Universal", 12.10.07), menurut agama Islam, perang harus memenuhi syarat-syarat
berikut: 1. harus defensif, membela diri, jangan ofensif, menyerang 2.
harus semata-mata ditujukan kepada perdamaian (Si vis pacem, para bellum,
kalau mau damai, siaga untuk berperang) 3. tidak ekseksip, keterlaluan 4. tidak
destruktip, menghancurkan 5. didasarkan HAM, yaitu tidak menganiaya orang
sipil, anak-anak, perempuan, orang tua dan tawanan perang diperlakukan sesuai
dengan HAM. 6. tidak merusak lingkungan alam, fasilitas umum, simbol-simbol
agama (gereja, sinagoga dsb.) 7. tidak membunuh hewan. Sepatutnyalah
syarat-syarat itu ditambahkan kepada piagam PBB, karena sifatnya yang universal
itu. Kedua: Di samping tugas di atas, ada fungsi konstruktip: Nabi Muhamad
diwajibkan mendirikan masyarakat yang sekarang sering dinamakan âmasyarakat
Madaniâ. Menurut ilmuwan-ilmuwan, masyarakat Madani itu mengandung
unsur-unsur dasar Pancasila, walaupun masih redimenter (belum berkembang) dan
masih ada pada proses âsedang lahirâ (in statu nascendi). A.l. dalam Piagam
Madinah dikatakan, bahwa musuh yang sudah takluk, tetap merasa aman dan
nyaman, gereja dan sinagoga boleh menyelenggarakan peribadahan tanpa
ketakutan. Sebaiknyalah bila semua yang disebut di atas itu ditambahkan kepada
Piagam PBB dan semua UUD di dunia.
ad 2: Sholat. Ada dua fungsi sholat, sembahyang: Pertama mengingatkan kepada
Kalimat Syahadat beserta maknanya. Kedua: memohon kekuatan Ilahi untuk
perjuangan melawan penindasan, di samping memohon kesejahteraan pribadi.
ad 3: Puasa. Fungsinya ialah menanamkan empati (turut merasakan penderitaan)
kaum yang lapar, yang tertindas dan empati terhadap segala jenis/bentuk
penderitaannya.
ad 4: Zakat, yaitu pemberian sedekah pada hari Idhul Fitri kepada kaum yang
miskin yang berasaskan filantropi (fil = cinta, antropos = manusia). Berpuasa
menanamkan sekedar empati rasa turut menderita kaum miskin. Ini dilengkapi
dengan perbuatan, yaitu menolong dengan kongkrit secara material: beras,
pakaian, uang. Kaum miskin dengan sendirinya dibebaskan dari memberi zakat. Ini
mengandung pengakuan, bahwa dalam masyarakat ada kategori kaum miskin di amping
kategori kaum kaya. Pemberian zakat termasuk âWajib Latihâ, adalah ajaran
Islam yang penting. Akan tetapi puluhan ribu filantrop, mustahil melenyapkan
kelaparan bagi seluruh negara, negaralah yang seharusnya menjadi
âfilantropâ. Ini berarti, bahwa Negara yang bertanggungjawab, selama masih
ada yang kelaparan, meskipun hanya seorang. Kewajiban Negara sebagai
âfilantropâ ini dinyatakan dalam Sila ke lima Pancasila: Negara harus
membina masyarakat yang adil dan makmur. Suatu Negara berhak menyebut diri
sebagai
negeri Islam, terutama sekali bila di dalamnya tidak terdapat kelaparan. Ini
adalah salah satu syarat di samping syarat-syarat lain bagi penyebutan negara
islami. Menurut para ilmuwan, hingga dewasa ini tidak ada negara yang formalnya
menyebut diri âNegara Islamâ, yang memang islami. Berarti semua âNegara
Islamâ hingga kini sebenarnya tidak ada yang islami. Pada beberapa âNegara
Islamâ dewasa ini malah terdapat kondisi-kondisi yang sungguh anti-islami,
a.l. Pakistan, Emirat-emirat, Arab Saudi (yang berarti Arabia milik keluarga
Saudi).
Ad 5:Ibadah Haji. Fungsi utama ibadah haji ialah membina persatuan antara
semua Muslim di dunia. Setiap persatuan mempunyai tujuan. Kaum mafia bersatu
dengan tujuan yang jahat, yang kriminal. Kaum Muslim bersatu dengan tujuan
pembentukan masyarakat yang adil dan makmur, jadi Sila ke lima dari Pancasila.
Hanya Pancasila yang mampu mempersatukan umat Islam seluruh dunia. Tujuannya
bukan turisme, bukan sekedar bersilaturahmi saling kenal secara pribadi:
âKita saling mencintai karena sama-sama Islam. Nanti kita saling kirim surat
pada hari Idul Fitri, yaâ.
Ada minoritas kecil kaum Islam yang berpendapat: âAku berzikir, aku
sembahyang, aku berpuasa, aku memberi zakat, aku sudah beribadah haji, semua
upacara atau ritual itu kupenuhi. Dus aku ini seorang Muslim.â Padahal ia
belum Muslim bila ia tidak memahami makna setiap ritual itu, bila dia hanya
terfokus, kepada segi upacara tanpa makna, ritual tanpa isi itu. Sikap jiwa
demikian bisa dinamakan âritualismeâ, âupacaraisme(?)â. Ritualisme bisa
mengambil bentuk-bentuk yang ekstrim sehingga menjadi absurd, bertentangan
dengan akal sehat: âAku Muslim karena tidak makan babi, tidak minum alkohol.
Aku Muslim karena aku (maaf!) dikhitan". Ritualisme yang absurd dan
vulgar/murahan semacam itu bisa dianggap sebagai pejoratip, merendahkan, bagi
umat Islam.
Ritualisme mencolok mata sekali dalam soal ibadah haji. Minoritas yang sangat
kecil di kalangan haji, seakan merupakan nila setitik dalam susu sebelanga.
Minoritas dua persen itu bisa merusak nama seluruh golongan kaum haji. Tujuan
ibadah haji sebenarnya ialah membina persatuan kaum Muslim sedunia dalam
menentang penindasan manusia oleh manusia. Oleh minoritas yang keblinger tsb
tadi, tujuan yang luhur itu samasekali tidak digubris. Mereka ke Mekkah hanya
supaya pertama naik status sosial mereka di mata masyarakat sebagai Muslim
teladan, dan kedua supaya akseptabel, dapat diterima, oleh Tuhan untuk masuk
surga. Jadi tujuannya ialah: surga di dunia dan surga di akhirat. Ritual ibadah
haji dengan demikian adalah ibarat membeli tiket masuk surga. Sebagian dari
minoritas itu malahan ada yang membiayai ibadah haji dengan jalan korupsi,
pemerasan dll. kejahatan. Uang korupsi untuk biaya ibadah haji, ini berarti
melakukan kejahatan untuk membeli tiket ke surga, sungguh munafik.
Untunglah semuanya itu belum mencapai tingkat sistem surat keterangan,
sertifikat bebas dosa yang dalam abad-abad pertengahan dilakukan oleh gereja
katolik. Sertifikat itu dijual kepada kaum berada, supaya dengan âtiketâ
itu pintu surga dibuka oleh para penjaga baginya. Penjaga pintu itu ialah
pastor-pastor dan petinggi-petinggi gereja lainnya. Dengan hasil penjualan
âtiketâ itu mereka berpesta-ria: Wein, Weib und Gesang (anggur, cewek dan
musik). Sistem sertifikat seperti itu tidak terdapat di Indonesia, calon haji
bisa melakukan ibadahnya tanpa biaya ekstra selain biaya tiket. Kementerian
Agama bukanlah kementerian pencoleng kocek calon haji.
5 Rukun Islam (RI) + 5 Sila Pancasila (PS) = 10 Firman Tuhan (FS)
Tuhan menciptakan manusia sebagai makhlukNya yang tertinggi. Tersirat di
dalamnya, bahwa sebagai makhluk yang tertinggi, manusia diberiNya kemampuan
untuk menemukan pedoman hidup sekulernya, hidup di dunia ini.Atas dasar ini,
pedoman sekuler yang lahir di bumi Indonesia itu adalah legitim (syah-syah
saja) bila dianggap sebagai Firman Tuhan yang direstuiNya. Dengan demikian maka
Firman Tuhan terdiri atas 5 Rukun Islam + 5 Sila Pancasila = 10 Firman Tuhan,
10 FS. 5PS dan 5RI adalah dua bidang dari mata uang logam yang tidak bisa
dipisahkan, tetapi bisa diperbeda-bedakan. Di atas telah dicoba diberi uraian
tentang 10 FT itu, yang selain serupa dengan uraian-uraian tradisional, juga
berbeda, bahkan bertentangan dengannya. Perbedaan yang paling besar ialah,
bahwa dalam uraian yang tradisional, uraian Pancasila seakan secara dibuat-buat
(artificial) dipisahkan dari uraian tentang 5 Rukun Islam, sehingga tidak
terdapat pandangan yang menyeluruh serta komprehensip,
âikhtisariâ, melainkan pandangan itu bersifat dikotomis, malah dwikutub,
bipolar. Kenyataannya ialah bahwa 10 FT adalah satu âsesuatuâ (entity)
dengan dua seginya yang saling lengkapi (komplementer): 5RI + 5PS.
KH A. Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU, dalam artikel JIL 12.10.07 menulis,
bahwa menurut KH Achmad Siddiq Rais Aam PBNU era 1980an, ada 3 macam
persaudaraan (ukhuwah): Pertama ukhuwah Islamiah, yaitu keagamaan dalam skala
lokal / nasional / internasional. Kedua ukhuwah wathariah yang berdasarkan
kebangsaan. Ketiga ukhuwah basyariah yang berdasarkan kemanusiaan. Keempat
ukhuwah itu meliputi orang ateis. Jelas sekali bahwa keempat ukhuwah tsb.
adalah pendant (serupa, sejalan) dengan lima Sila Pancasila (malah keduanya
identik). Dan pendapat ini memperkuat pendapat, bahwa Pancasila adalah Firman
Tuhan juga. Jadi ia membenarkan juga adanya Sepuluh Firman Tuhan tsb. di atas.
Tetapi antara Sepuluh Firman Tuhan menurut Islam dan Sepuluh Titah (The Ten
Commandments) menurut Kristen /Yahudi terdapat perbedaan-perbedaan /
pertentangan-pertentangan yang besar (seakan ada "tiga Tuhan"). Lagi pula,
menurut Lembaga Survei Indonesia Oktober 2006, Pancasila didukung oleh 95%
rakyat. Suara
Rakyat adalah Suara Tuhan, Vox Populi Vox Dei. Jadi Pancasila ialah Suara
Tuhan. Ini memperkuat alasan, mengapa Pancasila harus diyakini sebagai Firman
Tuhan. Dengan demikian, maka bagi seorang Muslim patuh kepada Sepuluh Firman
Tuhan:
Sepuluh Firman Tuhan 1. Kesaksian akan benarnya Kalimat Syahadat
2. Sholat
3. Puasa
4. Zakat / Fitrah
5. Ibadah Haji
6. Persatuan antar Agama
7. Persatuan antar Umat Manusia
8. Persatuan antar Bangsa
9. Persatuan Rakyat
10. Persatuan Tujuan: Masyarakat adil / makmur
Bagi Non-Muslim, termasuk kaum ateis, hanya berlaku Firman ke 6 sampai 10.
FRONT PANCASILA = REAKSI TERHADAP SEPARATISME DAN GLOBALISASI
Separatisme sebagai fokus Front Pancasila Separatisme. Banyak orang yang
mengalami kejutan (shock) yang besar bila membaca esei cemerlang yang ditulis
oleh Zaenal Ma'arif, mantan Wakil Ketua DPR (Republika online 26.09.07).
Beberapa hal mencolok mata dalam karangan yang berani blak-blakan tanpa tedeng
aling-aling. Kutipan-kutipan dari tulisan Zaenal Maâarif: 1. Seharusnya
pemerintahan Presiden SBY sudah mampu membaca skenario AS untuk menghancurkan
NKRI. 2. Amerika Serikat merasa menjadi polisi dunia dan berlaku
sewenang-wenang terhadap negara-negara lain. 3. Rakyat Afghanistan dan Irak
menderita akibat keangkaraan rezim Presiden Gorge W. Bush. 4. NKRI akan
dihancurkan secara diam-diam melalui âsilent operationâ dengan membantu
gerakan separatis Aceh, Papua, Maluku, Riau.
5. Intervensi asing terutama dilakukan oleh AS dan Australia. 6. Seharusnya
aparat intelijen BIN, BIA dll sudah sejak dini memperhitungkan semuanya itu. 7.
Tetapi mereka, TNI dan Polri memusatkan diri pada perlawanan memusnakan
terorisme, perlawanan yang di bantu oleh AS dan Australia dengan dana jutaan
dolar. 8. NGO, (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang dibantu oleh donatur Barat,
secara diam-diam membantu gerakan separatisme.
Semua yang ditulis itu bukanlah retorik kosong, melainkan disertai
fakta-fakta. A.l. bahwa pada awal Revolusi 17 Agustus, "agen AS sudah terlalu
dalam dan lama beroperasi di Indonesia". Yang dimaksud penulis tentulah Sutan
Syahrir yang tahun 1946 di gedung Taman Siswa di Jln. Matraman, Jakarta,
menyerukan: "Indonesia berdasarkan geopolitisnya harus berada dalam wilayah
pengaruh AS." Dengan demikian Syahrir merupakan tokoh pertama yang menggiring
Indonesia kepada blok imperialisme. Ada juga tulisan Zaenal, yaitu bahwa si Eni
Paleomavarga, utusan Bush, sebagai tokoh top diplomat, dengan memakai celana
pendek, diterima oleh Presiden SBY di istana negara. Seharusnyalah Presiden SBY
membalas dengan mengirimkan top diplomatnya (asal jangan Hasan Wirayuda) ke
Presiden Bush dengan juga memakai celana pendek, tanpa kemeja , berdasi tok.
Untuk menghadapi skenario AS untuk âmenghancurkan NKRIâ itu, yang sudah
begitu gawatnya, KH Hasyim Muzadi (NU) dengan tegas telah memproklamasikan
âFront Pancasilaâ. Pengumuman tsb. seharusnya saat ini juga disertai
tindakan-tindakan yang kongkrit: mengerahkan seluruh rakyat menghadapi ancaman
separatisme itu, khususnya badan-badan intelijen BIN, BIA dan Tentara serta
Polisi. Jangan sampai lengah karena terselewengkan oleh soal terorisme. Besar
kemungkinan, bahwa terorisme itu malahan justru direkayasakan oleh AS dan
Australia sendiri, yaitu sebagai suatu âmanuver, penyelewenganâ dari
separatisme: âHancurkanlah terorisme, bukan separatisme. Separatisme bukan
musuhmu. Musuhmu ialah terorisme". Adalah sesuatu yang bisa fatal bila orang
menganggap enteng kepada kejenialan Bush. Kejenialan itu dibuktikannya juga
dengan peristiwa 11.9.01, pemboman gedung World Trade Center: Yang membom Bush,
yang dituduh teror, Islam. Dengan alasan ini pula Bush membunuh rakyat
Irak dan Afghanistan (dan tak lama lagi Iran) atas tuduhan melakukan teror.
Kesimpulan: Adalah mutlak bagi dua mainstream, yaitu kaum agama dan nasional,
untuk segera mendesakpaksa Presiden SBY agar sekarang ini juga mulai melawan
gerakan separatisme dengan tindakan-tindakan yang kongkrit. Dengan desakpaksa
tsb. Front Pancasila bukan sekedar slogan retorik, melainkan pasti menjadi
kekuatan kongkrit yang telah meninggalkan taraf omong-omong dan masuk taraf
operasional, taraf tindakan.
Globalisasi sebagai Fokus Front Pancasila
Globalisasi dengan Lima Sila tsb. terdahulu, jelas merupakan fokus yang sama
penting seperti separatisme. Sebab antara kedua itu bukan hanya terdapat
antarrelasi melainkan juga antaraksi, yang satu memperkuat yang lain. Oleh jeni
semacam Bush, antaraksi itu bukan hanya transparan, tembuslihat, melainkan juga
mudah dapat dipraktekkan. Yang ditugaskannya untuk mempraktekkannya ialah
Cameron R. Hume, Dubes AS yang baru. Hume menjadi "trouble shooter", "pembasmi
hama". "Hama" di sini dalam arti musuh yang menentang kepentingan AS. Dalam
pidatonya yang pertama di Indonesia, Hume menguraikan strategi AS untuk
membasmi hama, yaitu dalam rangka "menghancurkan NKRI" (istilah Zaenal). 1. Ia
memuji upaya Indonesia karena "keikutsertaannya dalam Pertemuan Negara-negara
Ekonomi Utama 8N (18N), juga sebagai tuanrumah Konperensi ke-13 (COP ke-13 UNF
CCC) di Bali Desember yad." Bila Pemerintah RI "masuk perangkap" (istilah Amien
Rais) pujian itu, maka Bush memperoleh tumpuan yang
terkokoh, tumpuan politis. 2. Tumpuan kedua yang kokoh ialah tumpuan militer,
yang telah dibicarakan antara Presiden RI dan Presiden AS di bawah 4 mata / 4
telinga di Sidney waktu KTT APEC Oktober 2007. Dalam rendez-vous di Sidney itu,
dari mulut Bush terlontar (atau dilontarkan?) kata-kata yang pokoknya ialah
antara AS dan NKRI harus diadakan "peningkatan pengiriman tentara dari
Indonesia ke AS untuk dilatih". Kerjasama itu diperinci dalam DCA dengan
Singapura, ujung barat. Di ujung RI yang satu untuk membantu GAM, dibantu oleh
DCA (Defence Cooperation Agreement) dengan Singapur. Dan di ujung lain, ujung
timur, dengan mitra AS, yaitu Australia, pemilik Papua Timur, yang geografis
(dan etnis) merupakan kesatuan yang memudahkan pemasokan senjata / serdadu
untuk membantu OPM. Dalam rangka proyek penghancuran NKRI itu, Bush sebagai
panglima tertinggi "Heimliche Weltregierung" (Penguasa Dunia di Belakang
Layar), dengan sendirinya cucitangan: "Itu kan soal dalam negeri
Indonesia, aku ini sahabat Indonesia, lho". Argumen "lho" itu diperkuat oleh
ucapan-ucapan Cameron dalam pidatonya. 3. "sektor swasta dan LSM akan mengikuti
KTT di Bali itu". Yang dimaksud dengan "swasta" bukanlah penjual sate atau
pedagang pecel, melainkan Lapindo dan lain-lain miliarder, yang a.l.
bertanggungjawab atas "Lumpur Sidoarjo", umumnya bertanggungjawab atas
kemelaratan rakyat yang diperas habis oleh mereka. Yang dimaksud dengan LSM
(Lembaga Swadaya Masyarakat) ialah puluhan ribu ormas, NGO (Non-governmental
Organisation) yang pada dasarnya semua penentang globalisasi. "No problem,"
kata Bush, lalau dibelinya mentah-mentah sejumlah NGO-NGO yang ditugaskan untuk
mencegah / menumpas kegiatan-kegiatan patriotis anti-globalisasi itu, a.l.
melalui demo-demo dalam kaitan dengan KTT Bali. 4. Negara-negara yang
ekonominya kuat dan negara yang sedang berkembang. Inilah yang menurut Cameron
yang merupakan dikotomi, dwibagi, di dunia. Negara yang sedang berkembang,
dengan
sendirinya berkembang menjadi negara-negara ekonomi kuat. Sedangkan pihak yang
anti-globalisasi berpendapat, bahwa dunia ini di belah dua: kaum penindas dan
kaum yang ditindas, dua kekuatan yang tak dapat dirukunkan. Kepalsuan pendapat
Cameron/Bush dan kebenaran pendapat kekuatan anti-globalisasi, dibuktikan
dengan jelas oleh terealisasinya Lima Sila globalisasi yang sudah lama sekali
diramalkan ilmu-ilmu pengetahuan dan rakyat-rakyat sedunia. 5. Taktik Ganti
Jubah, PDBL berjubah PBB. Konperensi Tingkat
Tinggi 18N di BAli itu nanti digelar atas nama Konvensi Kerangka Kerja PBB
tentang Perubahan Iklim (COP ke-13 UNFCC). Jadi atas nama PBB dan bukan atas
nama PDBL (Pemerintah Dunia di Belakang Layar, Heimliche Weltregierung). Seakan
yang telah dan sedang memanaskan planit itu adalah seluruh umat manusia, bukan
melulu 18N. Jadi salah sekali memusuhi 18N. Kenapa 18N itu bisa menyusup dalam
jubah PBB, itu pasti diketahui oleh Deplu RI. Demikian juga Deplu tentunya
mengetahui tentang taktik ganti jubah yang mengelabui mata dunia itu. Kata
mulut usil: Deplu layak juga mengetahui, kenapa PBB "menunjuk" Indonesia
sebagai tuanrumah KTT. Indonesia adalah negara yang berdaulat, bukan Republik
Pisang (Banana republic), baik Republik Pisang GAM, Papua atau Republik Pisang
Ambon. Kata "menunjuk" itu menyiratkan adanya hubungan Tuan-bawahan à la
"Suara Tuannya" (His Master's Voice). Honi soit qui mal y pense! Di atas
segala-galanya, yang berdosa ialah AS. Sudah sejak awal, yaitu tahun
1985, AS menolak mentah-mentah Protokol Montreal tentang pengurangan emisi CO2
Gas Rumah Kaca (GRK). Selanjutnya dalam setiap KTT tentang hal itu, AS setiap
kali menjadi negara pembangkang: Rio de Janeiro (1992), Kyoto (1997). KTT yang
akan datang, yaitu yang ke-13, akan diadakan
3 â 14 Desember 2007 di Bali. Ia akan dikunjungi oleh 10.000 peserta dari
189 negara dan 2000 wartawan. Di Jerman, tahun ini (2007) pagar besi yang
menyelamatkan Bush tingginya 2,20 meter, di Sidney 2,50 meter dan di Bali
(kalau Bush berani datang) mungkin pasti 3 meter. Menurut Republika Online
pagar besi di Sidney itu pintu masuknya digamblok dan dirantai, jalan banyak
yang ditutup. 6. Indonesia adalah satu-satunya negara ASEAN yang menolak
mengutuk dikmilfas di Birma. Dengan demikian Indonesia bisa dianggap sebagai
perusak kesetiakawanan ASEAN. Qui bono? Ini menguntungkan Bush dalam
kasak-kusuknya di Indonesia dalam separatisme.
Agenda Pokok: Memperluas NEFO baru Perlawanan terhadap globalisasi oleh
Heimliche Weltregierung yang kekuatannya begitu gigantis (seperti raksasa) itu,
tidak cukup oleh satu negara saja. Melainkan ia harus dilakukan secara bersama,
kolektip, oleh sejumlah negara. Dan ini telah terjadi di benua Amerika Latin
yang diprakarsai oleh Hugo Chavez, Venezuela. Di sana sejak beberapa tahun ini
sudah bermunculan tokoh-tokoh / negara-negara yang melawan AS, karena AS telah
puluhan tahun meluaskan kelaparan, pengangguran, penyakit dsb. Untuk menahan
rasa lapar, hampir 100 juta orang setiap hari harus mengunyah daun kola.
Negara-negara / tokoh-tokoh yang bermunculan baru itu, dewasa ini sudah meluas
jumlahnya: Amos Morales (Bolivia), Daniel Ortega (Nikaragua), Rafael Correra
(Equador), Fernando Lugo (Paraguay) dan jangan lupa Maradona (Argentina). Di AS
sendiri malahan Madonna telah membuat Anti-Bush Album ("American Life") yang
laku sebagai goreng pisang. Kekuatan yang muncul baru
itu boleh kita namakan New Emerging Forces (kekuatan-kekuatan yang muncul
baru) atau NEFO. NEFO telah membuktikan kehebatan dayatempurnya di benua
Amerika Latin. Logis, bahwa ia harus menjadi agenda pokok bagi kekuatan
anti-globalisasi, yaitu meluaskan dan mengokohkannya di dunia, bukan hanya
terbatas di Amerika Latin. Di Russia Putih (Lukasyenko), Mahmud Ahmadinejad
(Iran) telah masuk kubu NEFO itu. Demikian juga Aung San Suu Kyi (Birma), tokoh
anti fasis yang hampir tak ada taranya itu, dapat diharapkan akan masuk NEFO.
Kalau ini terjadi, NEFO seakan mendadak diperkuat dengan satu divisi yang
dayatempurnya sangat besar.Indonesia dengan sendirinya memihak NEFO, paling
tidak tiga tokoh: Megawati (nasionalisme), Amien Rais (Islam) dan
Muzadi (NU), tiga tokoh yang selalu membuktikan kemampuan dan keandalannya
pada rakyat. Bertolak dari adanya Konfrontasi Mega/Chavez melawan Bush/Merkel
itu memungkinkan orang dapat memahami dunia dewasa ini. Titik tolak lain pun
mungkin: Chavez lawan Bush, Fernando Lugo lawan Benedikt. Titik tolak-titik
tolak ini pun dapat merupakan kunci yang membuat kita dapat memahami dunia.
STRATEGI BUSH: MENDISORIENTASIKAN UMAT MANUSIA Indonesia, tempat lahirnya
NEFO Pertama
Indonesia ialah tempat lahirnya Pancasila dan NEFO, dua gagasan yang oleh
sementara ilmuwan disebut gagasan yang paling jenial sesudah gagasan tentang
Kelima Syahadat.
NEFO adalah anak kandung, pewujudan kongkrit, dari Pancasila; Front Pancasila
adalah Frontnya NEFO. NEFO terletak pada dimensi operasional, tindakan,
sedangkan Pancasila masih terletak pada dimensi ideologi. Tetapi kaum
imperialis tidak kurang jenialnya: mereka menyadari bahwa selama sejarah dunia,
baru NEFOlah yang merupakan bahaya yang benar-benar mengancam kelanjutan sistem
kemasyarakatan mereka, yaitu sistem yang bersendikan prinsip "manusia adalah
srigala bagi sesamanya". Lalu tahun 1950an, Dubes AS di Indonesia, Marshall
Green, trouble shooter, menciptakan strategi besar, "Grand Strategy". Gerakan
ini kemudian oleh satu harian Australia disebut "triade
McNamara-Suharto-Soemitro". Triade inilah yang dalam peristiwa "G30S" atau
"Gestapu" menimbulkan satu dari 6 drama terbesar dalam sejarah umat manusia.
Bila bencana G30S dengan sejuta korban itu ditambah dengan malapetaka
urbanisasi puluhan juta orang akibat revolusi hijau, ditambah pula dengan tanam
paksa,
transmigrasi dan perampasan tanah milik yang luasnya kurang dari setengah
hektar serta ditambah keterlantaran para "ex-tapol", maka pasti malapetaka
rekayasa Suharto itu secara keseluruhannya, mengakibatkan malapetaka yang
terbesar dalam sejarah dunia, suatu these yang tidak berlebih-lebihan. Dengan
demikian hancurluluhlah gagasan NEFO yang baru terdiri atas beberapa negara
itu, bersama dengan kehancuran penggagasnya, hancurlah ideologi bersama dengan
ideolognya. Pancasila pun telah diludahi oleh Suharto, ketika ia berseru:
"Siapa yang menentang aku, menentang Pancasila". Dan baru pada awal milenium
ke-20 ini lahir "NEFO BARU" sebagai inkarnasi NEFO LAMA yang menjadi pengilham
NEFO BARU. Sic transit gloria mundi! Demikianlah lenyapnya kejayaan dunia!.
Tetapi dunia baru yang lebih jaya sedang dilahirkan: dunia Chavez, Ahmadinejad,
Megawati, Aung San Suu Kyi, Benazir. Untuk dapat memahami dunia, kita harus
bertitik tolak dari perumusan ini. Perumusan ini adalah persis yang
"kebetulan" terkandung dalam intisari ajaran pokok agama Islam, yaitu Kalimat
Syahadat. Intisari Kalimat Syahadat itu ialah:
1. Di dunia ini ada penindasan manusia oleh manusia, biangkeladi dari semua
kejahatan.
2. Atas dasar itu, manusia harus melawan dan melenyapkannya serta harus
menciptakan dunia baru yang bebas dari penindasan, yang adil dan makmur.
Kita hanya dapat memahami dan mengubah dunia, bila kita bertolak dari
pandangan tsb., yaitu konfrontasi yang ditindas lawan yang menindas. Inilah
pada dasarnya mengapa tokoh-tokoh Islam yang terkemuka di Indonesia, Mega,
Muzadi, Rais yang memelopori perwujudan Kalimat Syahadat itu. Pancasila adalah
ibarat jembatan pertama yang secara konsepsional menghubungkan Kalimat Syahadat
dengan bumi. Dan NEFO merupakan jembatan kedua yang secara kongkrit yang
menghubungkan Pancasila dengan bumi. Pejuang NEFO adalah Pejuang Pancasila. Dan
Pancasila lahir dari Kalimat Syahadat.
Tanpa memahami dunia, orang pasti akan mengalami disorientasi, grogi, pusing
kepala karena tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi di dunia ini, ke arah
mana sejarah akan membawa umat manusia, ke dalam jurang penderitaan atau ke
taman firdusi. Disorientasi ini disalahgunakan oleh Bush: Katanya yang
menyebabkan penderitaan manusia bukanlah penindasan, seperti yang dirumuskan
dalam Kalimat Syahadat tsb. di atas. Melainkan teror (yang dilakukan oleh
Islam) yang dilawan oleh anti-teror (yaitu Bush). "Oleh karena itu marilah kita
bersama melawan Islam, Islam hilang, kita senang". Jadi bagi Bush yang
menentukan jalan sejarah bukanlah konfrontasi (atau antagonisme) Chavez lawan
Bush, bukan konfrontasi NEFO lawan Globalisasi, melainkan konfrontasi
anti-teror sebagai juruselamat dunia melawan teror sebagai perusak dunia. Dan
Bush adalah satu-satunya kekuatan anti-teror, satu-satunya juruselamat. Ini
sebaliknya sekali dengan tuduhan Amos Morales: Satu-satunya teroris di dunia ini
ialah Bush. Banyak lagi konfrontasi isapan jempol Bush yang tujuannya ialah
menyelewengkan perhatian dunia dari konfrontasi yang sebenarnya tsb. Yang
terkenal di antaranya ialah 1. konfrontasi "Barat lawan Timur",
2. konfrontasi "Agama Kristen lawan Agama Islam", 3. konfrontasi antara
"Islam lawan Barat", antara 4. "Dunia Pertama" dan "Dunia Ketiga", 5.
konfrontasi AS lawan Iran, malahan 6. konfrontasi Sunnah lawan Syiah. Pokoknya
konfrontasi siapa lawan siapa pun boleh dikarang-karang, asal dunia tetap
butatuli terhadap konfrontasi yang sebenarnya: NEFO lawan Heimliche
Weltregierung. Dusta-dusta Bush dkk. tsb. di atas ditambah dengan dusta Komisi
Pemberi Hadiah Nobel: ia telah memberi hadiah Nobel bagi Perdamaian kepada PBB,
yaitu kepada IPCC, salahsatu badannya. Hadiah itu diboncengkan kepada hadiah
penerima yang sebenarnya, yaitu kepada Al Gore. Demikian nama PBB turut meroket
tinggi, padahal PBB bukannya banyak jasanya, melainkan banyak dosanya dalam
soal perdamaian. Terutama PBB selalu membiarkan diri menjadi jubah yang
menyelubungi Heimliche Weltregierung. Al Gore sendiri, lepas dari soal-soal
lainnya, memang telah sangat berjasa dalam membangkitkan / meluaskan peka krisis
dunia terhadap akan timbulnya apokalipse (malapetaka yang mahadahsyat). Film
kreasinya yang apodiktip itu telah menyadarkan dunia akan globalisasi dengan
lima Silanya. Ramalan apokadiktip itu didasarkan kepada data-data ilmiah yang
solid, tak dapat dipungkiri. Dengan sendirinya William G. Bush menentangnya,
sebab pengurangan pemanasan suhu dunia, pasti akan mengurangi laba
perindustrian AS yang begitu astronomisnya (60% dari pemanasan suhu dunia
dilakukan oleh AS). (Catatan: Juga Karl Marx telah berdusta besar, meski tanpa
niat jahat, malah mungkin sebaliknya. Katanya: Musuh umat manusia bukan
imperialisme (penindasan) tok, melainkan juga agama dan nasionalisme. Ini
berarti, bahwa segenggam
( 150 juta) komunis melawan 6 milyar umat manusia, ibarat "seorang diri
melawan dunia", alone against the world. Dengan sendirinya "Kerajaan Lenin" itu
hanya singkat sekali hidupnya di dunia ini, hanya 70 tahun. Kemudian ia hilang
tak tentu rimbanya, meninggalkan suara tangisan nostalgik oleh segenggam bekas
penganutnya).
Di antara isapan-isapan jempolkaki Bush itu ada yang mencolok mata karena
absurdnya. Tetapi Bush toh berhasil juga menipu dunia, malah termasuk menipu
kaum intelek. Mereka semua telah keblinger kena sihir "ilmuwan-ilmuwan besar"
seperti Huntington, gurubesarnya Bush.
Kemitraan Strategis Baru Asia-Afrika (NAASP) baru-baru ini mulai nampak
pelan-pelan menggeliat-geliat dari tidurnya yang pules. Pejuang-pejuang NEFO
menghimbau agar NAASP tidak terus-menerus menggeliat keenakan dalam ranjang
bayinya. Melainkan akan lekas bangkit dan menanamkan peka krisis pada 107
negara AA asuhannya. Yaitu peka krisis terhadap amukan globalisasi dan semangat
/ tekat melawannya. Kalau tidak, bisa-bisa orang yakin, bahwa NAASP itu suatu
rekayasa Bush: "NAASP adalah mitra, NEFO adalah musuh". NAASP harus berteladan
kepada pendiri-pendiri (founding fathers) NEFO tahun 1960an, kepada Aung San
Suu Kyi, ke Amerika Latin. Noblesse oblige!
DEMO BALI MEMBANGKITKAN PEKA KRISIS
Antara 3 â 14 Desember 2007 di Bali akan digelar Konperensi Tingkat tinggi
PBB tentang perubahan iklim (COP ke-13 UNFCCC). KTT tsb. memberikan kesempatan
yang benar-benar unik dan âsuperâ (par excellence) untuk menyelenggarakan
demonstrasi. Ia merupakan suatu tes, uji coba, yang pertama kali bagi Front
Pancasila untuk menguji hak hidupnya, kekuatannya, dayatempurnya. Tujuan-tujuan
utama Demo itu ialah:
1. Menanamkan kesadaran dan perasaan, bahwa dewasa ini seluruh dunia sedang
berada dalam suatu krisis, situasi yang gawat. Dunia harus âpeka krisisâ
(sense of crisis), yaitu merasakan sedang berada dalam situasi krisis. Adanya
atau tidak adanya sense of crisis itulah yang menentukan akan berada atau tidak
beradanya dunia dan umat manusia (to be or not to be). Peka krisis tsb.
Dilahirkan oleh praksis globalisasi dengan kelima Silanya. KTT Bali adalah KTT
Heimliche Weltregierung dan bukannya KTT PBB.
2. Khususnya, peka krisis itu harus ditanamkan kepada bangsa Indonesia yang
sedang mengalami bahaya separatisme: to be or not to be sebagai bangsa dan
negara. Antara globalisasi dengan separatisme terdapat interaksi. Ini
menyebabkan perlawanan terhadap keduanya harus simultan , serempak, mungkin
dengan penandasan kepada melawan separatisme.
3. Pemikir di belakang layar (auctor intellectualis) sekaligus pimpinannya
ialah Bush. Sedangkan auctor intellectualis separatisme ialah Si Anu, yaitu
hasil persekongkolan Memorandum Of Understanding (MoU) antara Si Anu
(Indonesia) dan Martti Ahtisaari, waktu itu Presiden Finlandia. Dan Martti ini
lalu menyerahkan mandate kepada si Tiga Kuat dalam Kesatuan Eropa. Yaitu
Jerman, Inggris dan Perancis, yang untuk selanjutnya menangani soal Aceh. Atas
dasar semuanya itu, âDemo Baliâ harus diujungtombakkan kepada Bush sebagai
lambang serta dedngkot globalisasi dan kepada Si Anu sebagai lambang dan
dedengkot separatisme.
4. Demo Damai. Demo Bali itu harus identik dengan âDemo Damaiâ, untuk
mendemonstrasikan kepada dunia, bahwa kita cinta damai, dan bukan cinta teror
seperti yang dipropagandakan oleh Bush dkk. Demo tenang berarti Demo menang. Di
atas telah dikatakan, bahwa di sinilah letak kemunafikan ucapan Dubes AS:
âKita harus mengikutsertakan LSM ke dalam KTT Bali.â Yang dimaksudnya ialah
menyewa sejumlah LSM untuk menyusup ke dalam Demo itu dan memprovokasikan
kekerasan dalam segala bentuk, malah termasuk terhadap para tamu. Yang dirusak
namanya, didiskreditkan, bukan hanya keseluruhan LSM (NGO, Lembaga Swadaya
Masyarakat), melainkan juga seluruh bangsa. Alat-alat negara harus dikerahkan
untuk mencegah pengkhianatan LSM sewaan itu. Ini adalah tugas yang sama
mendesaknya (crash-programm) dengan melawan separatisme.
5. Demo lingkup negara (nation wide). Demo Bali yang dilakukan di seluruh
Negara , di setiap kota, akan menjadi pemicu / katalisator bagi demo lingkup
dunia (world-wide). Dan ini pasti akan menyuburkan lahan bagi lahirnya /
tumbuhnya NEFO di dunia. Demo Bali berhasil, NEFO berhasil, NEFO berhasil,
Dunia Pancasila terwujud. Ini adalah suatu ideal yang kedengarannya
muluk-muluk, bombastis, tapi toh harus kita jadikan tujuan terakhir. Sebab
tujuan itu realistis, adalah benar-benar dapat diwujudkan. Alternatip lain
tidak ada, kecuali âalternatipâ Globalisasi. Dan juga tidak dapat dikatakan
pendapat yang bombastis, bila ada yang berkata, bahwa Demo Bali merupakan
langkah yang pertama
kearah memPancasilakan dunia, meskipun langkah yang kecil. Jarak sejauh 100
km pun harus diawali oleh jarak satu meter.
Slogan-slogan Demo Bali: Demo ini adalah Demo Damai
Slogan tsb. itulah yang seharusnya mendominasi seluruh Demo Bali. Kita harus
ingat kepada Nelson Mandela yang berhasil menggulingkan resim fasis-rasis
Afrika Selatan dengan cara damai. Lebih-lebih lagi kepada Mahatma Gandhi yang
dengan cara-cara yang damai tapi unik, melakukan langkah pertama kepada
kehancuran imperialisme Inggris, meski dia sendiri wafat karena kekerasan. PBB
telah mengumumkan hari wafat Gandhi sebagai âHari Perikemanusiaanâ sedunia.
Di samping didominasi slogan tsb. Di atas, tentulah Demo membawa juga
slogan-slogan yang mengenai keseluruhan antagonisme NEFO lawan Globalisasi.
Bebarapa saran:
Megawati + Chavez, Yes! Merkel + Bush, No! ....... Amien Rais, Muzadi, Yes!
S. Anu + Si Anu, No! ....... SoekarnoPUTRI, Yes! Aung San PUTRI, Yes! .......
Chavez, Yes! Bush, No! ....... Globalisasi, No! ....... Ban, No! Ki, No!,Moon,
No! ....... Ban Ki Moon, NO! Madonna, YES! ....... Hari wafat Munir jadikan
Hari Perikemanusiaan! ....... Benazir Bhutto, YES! Musharaf, NO! ....... Sunnah
dan Syiah: Bersatulah Dalam Pancasila! .......
Jaringan Islam Liberal, bersatulah Dalam Rangkulan Islam Pancasila! .......
Gunduli Maha Boss Penggundul Hutan! ....... Bush = satu-satunya Teroris di
dunia! ....... Islam menentang Teror. Teror menentang Islam! ....... Islam
menentang Bush, Bush menentang Islam! ....... Yang duluan mati Pohon, sesudah
itu Manusia! ....... PBB = Jubah Globalisasi! ....... Yankee, go home! .......
Gringo, go home! ....... Kami cinta damai! ....... Stop penghancuran Dunia,
Stop Globalisasi! ....... Teroris, go home! ....... Helsinki, NO! .......
Ahmadinejad, YES! ....... Lukasyenko, YES! ....... Hu Jin Tao, Mubarak, Luli,
NO! ....... Al Gore, YES! ....... Bush, NO! ....... Jaringan Islam Liberal sama
dengan Panacsila! ....... Megawati Taufik Kiemas, NO! Megawati Bung
Karnoputri, YES!.......Muslihat yang jitu: Koruptor diburu, Miliarder
dicumbu!.......Kalau berani gundulin koruptor, gundulin dulu Miliarder,
dong!.......Gundulin Mahapelindung Miliarder!.......Musuh = imperialisme +
agama +
nasionalisme? Nyet!.......Musuh = Globalisasi? Daaa!.......
Ban Ki Moon, Ketua PBB telah menyerukan, agar semua kepala negara menghadiri
KTT Bali. NEFO pun harus menyerukan kepada negara-negara dan tokoh-tokoh
petensial NEFO, agar menghadiri KTT tsb., setidaknya memberi sumbangan politis
atau moral: Chavez, Morales, Madonna, Maradona, Ortega, Correa, Lugo,
Ahmadinejad, Lukasyenko, Aung San Suu Kyi, Benazir, LSM-LSM sedunia.
Pengundang: Megawati, Muzadi, Rais, LSM sebagai pimpinan Komite Demo Bali.
Program mendesak: mengorganisasi Demo Bali yang lingkup negara. Front Pancasila
tidak layak berpangku tangan selaku penonton, membiarkan kaum Globalisasi
mengerahkan dana dan tenaga untuk mencemarkan bumi Ibu Pertiwi. Front
Globalisasi harus dihadapi oleh Front Pancasila: oleh Mega, Muzadi, Rais
sebagai wakil-wakil mainstream Agama dan Nasionalisme, serta oleh
patriot-patriot LSM sebagai motor pendorong, motivasi setiap kegiatan.
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya dan untuk Dunia
Raya!
RINGKASAN
Globalisasi telah menyebabkan malapetaka sosial dan alamiah yang terbesar
selama sejarah. Globalisasi itu dipimpin oleh satu kelompok negara yang pucuk
pimpinannya akan mengadakan KTT di Bali. Menghadapi KTT itu adalah tugas Front
Pancasila untuk mengorganisasi Demonstrasi yang tujuannya ialah untuk
membangkitkan peka krisis dalam ukuran nasional / internasional. Demo itu
merupakan langkah pertama bagi meluaskan / mengokohkan kekuatan NEFO, yaitu
kekuatan-kekuatan yang muncul baru. Hanya NEFO yang akan mampu mengakhiri
penindasan manusia oleh manusia. Kalimat Syahadat dibumikan oleh Pancasila dan
selanjutnya Pancasila dibumikan oleh NEFO. Pancasila dan NEFO adalah dua
jembatan yang berturut-turut menghubungkan Kalimat Syahadat dengan bumi /
manusia. Pejuang NEFO adalah Pejuang Pancasila, Pejuang Islam.
Empat Kera dan bigbosbus
kau
yang dari kumpulannya terbuang, yang telah
melanda bumi kami sayang, yang telah
memperkosa Ibu Pertiwi tersayang
yang telah merenggut jiwa sejuta spartakus
sejuta gandhi, sejuta munir,
kau yang ingin hidup seribu tahun lagi,
besok akan melihat sosok tubuhmu sendiri
terdedah hangus di atas lumpur Sidoarjo
di atas planit gersang milik kau ini
aku kera pertama, yang buta, tapi
menampak kau yang hantu berjubah pastor
aku kera kedua, yang tuli, tapi
aku dengar geram suaramu yang psikopatis
aku kera ketiga, yang bisu, tapi
kalbuku melaknat kau yang hedonis-sizofrenis
namun,
kami bertiga plus seekor kunyuk, hanyalah kera, dan kau adalah mahakunyuk
dan kami merangkak mengemis sekerat roti
dari kau, boss kami yang agung:
BIG BOSS BUSH!.....................
(oleh Andi Pramono setelah mengunjungi Sidoarjo)
[EMAIL PROTECTED]
milisgrup opini alternatif
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
penerbit buku sejarah alternatif
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan
http://herilatief.wordpress.com/
---------------------------------
Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See how.
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/