Ada hal menarik dari buku "Confession of an Economic Hit man" ini ketika John Perkins sedang di Bandung dan diajak menghadiri sebuah pertunjukkan wayang oleh Rasy, seorang mahasiswa di Bandung.
John Perkins berada di Indonesia tahun 1970-an. oo00oo Setelah menyelesaikan suatu pilihan klasik dari teks kuno Ramayana, dalang mengeluarkan sebuah boneka Richard Nixon, lengkap dengan hidung panjangnya dan gelambirnya yang menggelantung. Boneka Presiden Amerika Serikat itu berpakaian seperti Paman Sam, mengenakan topi tinggi dengan motif bendera Amerika dan jas berekor. Ia ditemani oleh boneka lainnya, yang mengenakan setelan terdiri dari tiga potong bermotif garis-garis. Boneka kedua ini memegang sebuah ember yang dihiasi tanda dolar di tangannya. Ia menggunakan tangannya yang lain untuk melambaikan bendera Amerika diatas kepala boneka Nixon seperti seorang budak yang mengipasi tuannya. Sebuah peta Timur Tengah dan Timur Jauh muncul di belakang keduanya. Nixon segera mendekati peta itu, mengangkat Vietnam dari kaitnya, dan memasukkannya kedalam mulutnya. Ia meneriakkan, "Pahit! Sampah. Kita tidak memerlukan yang seperti ini lagi!". Kemudian ia melemparkannya kedalam ember dan melanjutkan hal yang sama dengan negara-negara lainnya. Akan tetapi, aku terkejut melihat bahwa pilihan Nixon yang berikutnya tidak meliputi negara-negara domino Asia Tenggara, melainkan negara-negara Timur Tengah - Palestina, Kuwait, Arab Saudi, Irak, Suriah, dan Iran. Sesudah itu, ia berbalik ke Pakistan dan Afghanistan. Setiap kali, boneka Nixon meneriakkan beberapa julukan sebelum menjatuhkan negara itu kedalam ember, dan setiap kali makiannya yang anti Islam, "Anjing Muslim", "Monster Mohammed", dan "Setan Islam". Kerumunan orang itu menjadi sangat bergairah, ketegangan meningkat dengan setiap negara yang baru di tambahkan ke dalam ember itu. Mereka tampaknya sulit memilih diantara ledakan tawa, terguncang dan kemarahan. Terkadang, aku merasakan mereka merasa dilecehkan karena bahasa sang dalang. Aku juga merasa ditakut-takuti. Aku tampak menonjol diantara kerumunan ini, lebih tinggi dari penonton lainnya, dan aku cemas bahwa mereka mungkin mengarahkan kemarahannya kepadaku. Kemudian Nixon mengatakan sesuatu yang membuat mukaku memerah ketika Rasy menerjemahkannya. "Berikan yang satu ini kepada Bank Dunia. Lihatlah apa yang dapat dilakukannya agar kita dapat mengeruk uang dari Indonesia." Ia mengangkat Indonesia dari peta dan memindahkannya untuk menjatuhkannya ke dalam ember. Tetapi, tepat pada saat itu sebuah boneka lain melompat keluar dari bayang-bayang. Boneka ini menggambarkan seorang laki-laki Indonesia yang mengenakan kemeja batik dan celana dril, dan ia memakai tanda yang di atasnya tercetak namanya dengan jelas. "Seorang politikus Bandung yang populer", Rasy menerangkan. Boneka ini benar-benar terbang keantara Nixon dan Boneka Ember dan menahan tangannya. "Berhenti!", ia berteriak. "Indonesia adalah negara yang berdaulat" Kerumunan orang bertepuk tangan. Kemudian Boneka Ember mengangkat benderanya dan menusukkannya seperti sebatang tombak kepada Boneka Indonesia, yang berjalan terhuyung-huyung dan meninggal secara amat tragis. Para penonton mengolok-olok, meneriaki, menjerit, dan mengacungkan tinju mereka. Nixon dan Boneka Ember berdiri disana, memandangi kami. Mereka membungkuk dan meninggalkan panggung. o00o Seorang perempuan cantik, yang mengambil jurusan Bahasa Inggris di universitas, duduk berseberangan meja denganku. "Tetapi kamu bekerja untuk Bank Dunia, kan?", dia bertanya. Aku menceritakan kepadanya bahwa tugasku sekarang adalah untuk Bank Pembangunan Asia dan USAID. "Bukankah semua itu sama?" . Dia tidak menantikan jawaban. "Bukankah itu seperti sandiwara yang di pertunjukkan malam ini? Bukankah pemerintah kamu melihat Indonesia dan negara-negara lain seolah-olah kami hanyalah seikat..." Dia mencari-cari kata itu. "Anggur", satu dari temannya membantunya. "Tepat sekali. Seikat anggur. Kau dapat memetik dan memilihnya. Pertahankan Inggris. Makan China. Dan buang Indonesia". "Setelah kamu mengambil semua minyak kami", perempuan lain menambahkan. Aku bertanya kepada mereka, mengapa mereka berpikir dalang telah memilih negara Muslim, kecuali Vietnam. Mahasisiwi bahasa Inggris yang cantik itu tertawa, "Karena itulah rencananya". "Vietnam hanyalah sekedar tindakan pendukung, seperti Belanda untuk Nazi. Sebuah batu loncatan." "Target sesungguhnya," perempuan itu melanjutkan, "adalah dunia Islam". Aku tidak dapat membiarkan pertanyaan ini tak terjawab. "Pastinya," aku memprotes, "kalian tidak dapat percaya bahwa Amerika Serikat anti Islam." "Oh tidak?" perempuan itu bertanya. "Sejak kapan? Kamu perlu membaca salah satu sejarawanmu sendiri - seorang Inggris bernama Arnold Toynbee. Tahun 50-an ia memprediksikan bahwa perang sejati di abad berikutnya bukanlah antara komunis dan kapitalis, tetapi antara Kristen dan Islam". "Arnold Toynbee mengatakan hal itu?", aku merasa bingung. "Ya. Bacalah 'Civilization On Trial' dan 'The World and the West'." "Tetapi mengapa ada rasa permusuhan antara orang Islam dan orang Kristen?" aku bertanya. Mereka saling berpandangan di sekeliling meja. Mereka tampak sulit untuk percaya bahwa aku dapat mengajukan pertanyaan bodoh seperti itu. "Karena," dia berkata perlahan, seolah-olah kepada seseorang yang bodoh atau sulit mendengar, "Barat - terutama pemimpinnya, Amerika Serikat - bertekad untuk menguasai seluruh dunia, untuk menjadi kekuasaan yang terbesar di dalam sejarah. Dan itu hampir berhasil. Uni Soviet sekarang ini menghalangi jalannya, tetapi Soviet tidak akan bertahan lama. Toynbee telah melihat hal itu. Mereka tidak beragama, tidak beriman, tidak mempunyai substansi di belakang ideologi mereka. Sejarah memperlihatkan bahwa iman - jiwa, suatu keyakinan akan kekuasaan yang lebih tinggi - penting sekali. Kami orang Islam mempunyai itu. Kami mempunyainya lebih dari orang lain di dalam dunia ini, bahkan lebih dari orang Kristen. Maka kami menunggu. Kami tumbuh menjadi kuat". "Kami tidak akan terburu-buru," salah satu laki-laki itu menyela, "dan kemudian seperti seekor ular kami akan menyerang". "Mengerikan sekali!" aku hampir tidak dapat menahan diri. "Apa yang dapat kita lakukan untuk mengubah hal ini?" Mahasiswi bahasa Inggris memandang langsung ke mataku. "Berhentilah menjadi tamak," dia berkata, "dan begitu egoistis. Sadarilah bahwa ada yang lain di dunia ini selain rumahmu yang besar dan toko mewahmu. Orang-orang sedang kelaparan dan kau mencemasi minyak untuk mobilmu. Bayi-bayi sedang sekarat karena dahaga dan kau mencari gaya mutakhir di majalah modemu. Bangsa-bangsa seperti kami sedang tenggelam dalam kemiskinan, tetapi rakyatmu bahkan tidak mendengar teriakan kami meminta bantuan. Kamu menutup telingamu terhadap suara mereka yang mencoba menceritakan kepadamu berbagai hal ini. Kamu menjuluki mereka radikal atau komunis. Kamu mesti membuka hatimu kepada orang-orang miskin dan tertindas, bukannya menggiring mereka kedalam kemiskinan dan perbudakan lebih dalam. Waktunya tidak banyak lagi. Jika kamu tidak berubah, kamu akan hancur." Beberapa hari kemudian politisi Bandung yang populer itu, yang bonekanya berani menghadapi Boneka Nixon dan ditusuk oleh Boneka Ember, tewas sebagai korban tabrak lari. ========== Ini adalah kutipan dari buku "Confession of an Economic Hit man" karangan John Perkins, ISBN 979-3047-27-5, sesuai teks aslinya. Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
