Oleh : Redaksi 05 Jan 2008 - 8:00 pm

KDNY (Kabar Dari New York):
imageimageAkhirnya, "wanita menyebalkan" dengan tertawanya yang lepas
dan bersuara keras itu mengucapkan dua kalimah syahadat dan memeluk Islam.

Ketika pertama kali mengikuti kelas the Islamic Forum, wanita ini
cukup menyebalkan sebagian peserta. Pasalnya, orangnya seringkali
tertawa lepas, bersuara keras dan terkadang dalam mengekpresikan
dirinya secara blak-blakan. Bahkan tidak jarang di tengah-tengah
keseriusan belajar atau berdiskusi dia tertawa terbahak. Hal ini
tentunya bagi sebagian peserta dianggap kurang sopan. Theresa,
demikian dia mengenalkan dirinya, sangat kritis dan agresif dalam
menyampaikan pandangan-pandangannya. "From what I've learned I do
believe Islam is the best religion", katanya suatu ketika. (watch 1.5
million Americans converted to ISLAM in USA )

"but why women can not express themselves freely as men?, lanjutnya.

Dalam sebuah diskusi tentang takdir dan bencana alam, tiba-tiba
Theresa menyelah "wait..waitÂ…what? I don't think God will allow people
to suffer". Ternyata maksud Theresa adalah bahwa Allah itu Maha
Penyayang dan tidak mungkin akan menjadikan hamba-hambaNya menderita.
Dia menjelaskan bahwa tidak mungkin bisa disatukan antara sifat Allah
Yang Maha Pemurah dan penyayang dan bencana alam yang terjadi di
berbagai tempat.

Biasanya saya memang tidak terlalu merespon secara serius terhadap
pertanyaan atau pernyataan si Theresa tersebut. Saya tahu bahwa dia
memang memiliki kepribadian yang lugas dan apa adanya, dan sangat
cenderung untuk merasionalisasi segala hal. Belakangan saya tahu bahwa
Theresa dengan nama akhir (last name) Gordon, ternyata adalah direktur
sebuah rumah sakit swasta di Manhattan. Kedudukannya itu menjadikannya
cukup percaya diri dan berani dalam mengekspresikan dirinya.

Namun dalam tiga minggu sebelum Ramadan lalu, terjadi perubahan
drastis pada sikap dan cara bertutur kata Theresa. Kalau biasanya
tertawa terbahak apa adanya, dan bahkan tidak ragu-ragu memotong
pembicaraan atau penjelasan-penjelasan saya dalam diskusi-diskusi di
kelas, kini dia nampak lebih kalem dan sopan. Hingga suatu ketika dia
bertanya: "Is it true that Islam does not allow the women to laugh
loudly?" Saya mencoba menjelaskan kepadanya: "It depends on its
context" jawabku.

"Some women or people laugh loudly for no reasons but an expression of
bad attitude. But some others do laugh because that is their nature",
jelasku.

Maksud saya dalam penjelasan tersebut, jangan-jangan Theresa sering
tertawa keras dan apa adanya memang karena tabiatnya. Bukan karena
prilaku yang salah. Kalau memang itu sudah menjadi bagian dari
tabiatnya, tentu tidak mudah merubahanya. Sehingga kalau saya terfokus
kepada masalah ketawa, jangan-jangan dia terpental dan lari dari
keinginannya untuk belajar Islam.

Suatu hari Theresa meminta waktu kepada saya setelah kelas. Menurutnya
ada sesuatu yang ingin didiskusikan. Setelah kelas usai saya tetap di
tempat bersama Theresa. "I am sorry Imam" katanya. "Why and what is
the reason for the apology?", tanyaku. "I think I've been impolite in
the class in the past", katanya seraya menunduk. "Sister Theresa, I
have been teaching in this class for almost 7 years. Alhamdulillah,
I've received many people with many backgrounds. Some people are very
quite and some others are the opposite", jelasku. "But I always keep
in mind that people have different ways of understanding things and
different ways of expressing things", lanjutku.

Saya kemudian menjelaskan kepadanya karakter manusia dengan merujuk
kepada para sahabat sebagai contoh. Di antara sahabat-sahabat agung
Rasulullah SAW ada Abu Bakar yang lembut dan bijak, tapi juga ada Umar
yang tegas dan penuh semangat. Ada Utsman yang juga lembut dan sangat
bersikap dewasa, tapi juga ada Ali yang muda tapi tajam dalam
pandangan-pandangannya. "Even between themselves, they often involved
in serious disagreement", kataku. Tapi mereka salaing mamahami dan
saling menghormati dalam menyikapi perbedaan-perbedaan yang ada.

"Do you think I will be able to change?", tanyanya lagi. Saya berusaha
menjelaskan bahwa memang ada hal-hal yang perlu dirubah dari cara
bersikap dan bertutur kata, dan itu adalah bagian esensial dari ajaran
agama Islam. Tapi di sisi lain, saya ingin menyampaikan bahwa dalam
melakukan semua hal dalam Islam harus ada pertimbangan prioritas. "I
am sure, one day when you decide to be a Muslim, you will do so",
motivasi saya. "But don't expect to change in one day", lanjutku.

Hampir sejam kami berdialog dengan Theresa. Ternyata umurnya sudah
mencapai kepala 4. Bahkan Theresa adalah seorang janda beranak satu
wanita dan sudah menginjak remaja.

Hari-hari Theresa memang sibuk Sebagai direktur rumah sakit di kota
besar seperti Manhattan, tentu memerlukan kerja keras dan pengabdian
yang besar. Tapi hal itu tidak menjadikan Theresa surut dari belajar
Islam. Setiap hari Sabtu pasti disempatkan datang walaupun terlambat
atau hanyak untuk sebagian waktu belajar.

Sekitar dua minggu sebelum Idul Adha, Theresa datang ke kelas sedikit
lebih awal dan nampak berpakaian rapih. Selama ini biasanya
berkerudung untuk sekedar memenuhi peraturan mesjid, tapi hari itu
nampak berpakaian Muslimah dengan rapih. "You know what, I've decided
to convert", katanya memulai percakapan pagi itu. "Alhamdulillah. You
did not decide it Sister!", kataku. "When some one decides to accept
Islam, it's God's decision", jelasku.

Beberapa saat kemudian beberapa peserta memasuki ruangan. Saya
menyampaikan kepada mereka bahwa ada berita gembira. "A good news,
Theresa have decided to be a Muslim today". Hampir saja semua peserta
yang rata-rata wanita itu berpaling ke Theresa dan menyalaminya. "So
the big lady will be a Muslim?", kata salah seorang peserta. Memang
Theresa digelari "big lady" karenanya sedikit gemuk.

Menjelang shalat Dhuhur, saya meminta Theresa untuk mengambil air
wudhu. Sambil menunggu adzan Dhuhr, saya kembali menjelaskan
dasar-dasar islam secara singkat serta beberapa nasehat kepadanya.
Saya juga berpesan agar kiranya Theresa dapat menggunakan posisinya
sebagai direktur rumah sakit untuk kepentingan Islam. "Insha Allah!",
katanya singkat.

Setelah adzan dikumandangkan saya minta Theresa untuk datang ke ruang
utama masjid. Di hadapan ratusan jama'ah, Theresa mempersaksikan
Islamnya: "Laa ilaaha illa Allah-Muhammadan Rasul Allah". Allahu
Akbar! [www.hidayatullah.com]

New York, December 24, 2007

* Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. 

Shalom,
Tawangalun.



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke