Siapa berbuat apa, kaum Salafi itu ?
Kaum fundamentalis, Rasis, Radikal, Ekstrimis, Terorist, Talibanis...?

Tampilan perilaku keagamaan kaum salafi pun laksana diaspora. Karena ada 
kategori salafi yang moderat, maka ada pula salafi “radikal”. Orang boleh tak 
setuju dengan kategori yang stigmatik seperti itu, tapi salafi yang disebut 
terakhir itu, selain serba harfiah dalam memahami Islam, juga menampilkan 
praktek keagamaan yang serba militan dan keras. Taliban di Afghanistan, yang 
pernah tampil sebagai rezim Islam, merupakan prototipe paling signifikan salafi 
yang super-rigid dan keras itu.
 Bahkan Imam Samudra yang terlibat dalam tragedi bom Bali 12 Oktober 2002, 
sebagaimana dalam biografinya, Aku Melawan Teroris, mengklaim diri sebagai 
pengikut ajaran salaf al-shalih. Imam Samudra dengan klaim ajaran salafiyahnya 
bahkan menampilkan sosok penggiat Islam garis keras yang dengan terang-terangan 
menyatakan “aku memang demen yang ribut-ribut dan berbau kematian”, kendati 
dinyatakan pula bahwa dirinya bukanlah seorang anarkis dan paranoid.
 Pada titik inilah kaum salafi “radikal” kemudian bersentuhan dengan format 
keagamaan fundamentalisme dan revivalisme Islam. Mereka seolah mendaur ulang 
salafiyah Wahabbiyah sekaligus bersinergi dengan neo-revivalisme Ikhwanul 
Muslimin, Jama’at-i-Islamy, bahkan Taliban dalam bermacam ragam tampilan. Dalam 
konteks ini pula wajah Islam yang serba harfiah dan doktriner itu bersenyawa 
dengan militansi dan gerak politik ideologis yang sama kakunya, sehingga 
melahirkan polarisasi dan konflik keagamaan yang seringkali keras.
 Maka, ketika kaum salafi berbeda dan berebut tafsir, jangan salah bahwa mereka 
tidak terlalu sulit untuk saling berbenturan paham dengan keras. Baik karena 
salafiyah maupun tidak, manakala Islam dikonstruksi serba harfiah dan doktriner 
dengan klaim kebenaran dan tafsir mutlak, maka yang muncul adalah perselisihan 
keras dan tajam.
Dalam konteks gerakan salafiyah, fenomena konflik keagamaan tersebut juga 
menampilkan genre baru kaum salafi yang radar teologis dan ideologisnya begitu 
sensitif untuk saling menegasikan dan bertikai paham dengan keras. Ketika kaum 
salafi maupun sesama kelompok Islam lain saling berebut tafsir keagamaan dengan 
harga mati, maka seringkali wilayah perseteruan berbuntut rumit.
 Absolutisasi pandangan tentang Islam memang selalu menjadi titik rawan 
lahirnya perseteruan. Islam salafiyah maupun penganut Islam “murni” lainnya, 
sepanjang selalu menganggap dirinya paling Islami sambil menganggap pihak lain 
tidak Islami, maka pada saat itulah ruang untuk kenisbian paham dan toleransi 
menjadi menyempit. (Sumber Internet |+ H. Nashir)


       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke