republika
Senin, 21 Januari 2008

Krisis Pangan Lagi 

Oleh : Iman Sugema 


Rasanya kita telah bosan mendiskusikan kenaikan harga pangan dari bulan ke 
bulan, dan dari tahun ke tahun. Di bulan ini saja setidaknya tiga jenis pangan 
mengalami kenaikan secara beruntun, mulai dari beras, kedele, sampai minyak 
goreng. Bulan ini dilalui bagai mimpi buruk oleh ibu rumah tangga yang 
kantongnya semakin kempis. Mimpi buruk terutama dialami oleh rakyat jelata yang 
paling miskin.

Selama tiga tahun terakhir, inflasi harga pangan kira-kira mencapai satu 
setengah kali lipat inflasi barang lainnya. Dalam satu tahun terakhir inflasi 
pangan tercatat kira-kira dua kali lipat inflasi umum. Karena itu tak heran, 
upaya pengentasan kemiskinan menjadi lebih sulit. Pasalnya, dua pertiga 
pengeluaran keluarga miskin dipakai untuk membeli bahan makanan. Saya agak 
heran kenapa pemerintah begitu optimistis dalam penurunan angka kemiskinan.

Lebih heran lagi, ada menteri yang mengatakan bahwa kalau ada masyarakat yang 
makan nasi aking janganlah terlalu dipermasalahkan karena itu bagian dari 
diversifikasi pangan. Sungguh tak ada empati. Apakah hati kita telah begitu 
berkarat sehingga makanan yang hanya layak untuk dimakan kucing merupakan 
santapan yang layak untuk saudara-saudara kita. 

Ada juga pejabat negara yang menyatakan ketahanan pangan akan tercipta bila 
lidah orang Indonesia diubah, dari menyukai nasi ke pangan lainnya. Benar sih, 
tapi pengalaman kita menunjukan mengubah lidah lebih sulit dibanding 
meningkatkan produksi pangan. Dari waktu ke waktu justru lebih banyak orang 
Indonesia yang beralih ke beras. Konsumsi beras per kapita per tahun sekarang 
telah mencapai 120 kg. Mengubah kebiasaan dan pola makan adalah sesuatu yang 
amat sulit karena menyangkut persepsi, preferensi, dan budaya dari 225 juta 
orang. Kalaupun ada program diversifikasi pangan, pasti hasilnya tidak terukur 
karena menyangkut perilaku manusia. 

Ada satu hal yang sangat mengerikan yang ditunjukkan para penguasa. Semakin 
seringnya kerawanan pangan dan kenaikan harga pangan dalam tiga tahun terakhir 
ini tak kunjung ada penyelesaian secara permanen. Dari waktu ke waktu kita 
berpolemik mengenai hal ini tak habis-habisnya. Solusi yang diambil pemerintah 
cenderung bersifat sementara dan gampangan. Dalam kasus kedele, misalkan, hanya 
sebatas penghapusan tarif impor. Dalam hal minyak goreng dan CPO, kebijakan 
yang dikeluarkan hanya berupa pengenaan tarif ekspor yang lebih tinggi.

Sadarkah kita bahwa masalah yang sedang kita hadapi adalah masalah jangka 
panjang? Ceritanya adalah sebagai berikut. Cina dan India dalam sepuluh tahun 
terakhir ini sedang mengalami pertumbuhan ekonomi yang begitu menakjubkan. 
Seiring dengan kenaikan pendapatan di kedua negara yang total penduduknya 
sekitar sepertiga penduduk bumi itu, maka permintaan akan energi dan pangan 
dunia menjadi terdongkrak dengan sangat drastis. Lahan untuk pangan di muka 
bumi relatif tidak beranjak, dan karenanya harga melesat naik. 

Produksi minyak bumi dan gas tak bisa mengikuti kenaikan permintaan, dan 
akhirnya harga energi juga naik tajam. Tragisnya, negara-negara maju memutuskan 
untuk mengalihkan pemakaian energi berbahan bakar fosil ke bio-fuel. Minyak 
sawit dipakai untuk bio diesel. Jagung, tebu dan singkong digunakan untuk bio 
ethanol. Akibatnya pemenuhan kebutuhan energi harus berkompetisi dengan 
pemenuhan kebutuhan perut. Harga pangan menjadi sangat terkait dengan harga 
energi.

Kedele dan komoditi pangan lainnya menjadi ikut-ikutan. Meningkatnya pemakaian 
CPO untuk bio diesel mengakibatkan permintaan minyak kedele menjadi meningkat. 
Membaiknya harga jagung mengakibatkan lahan yang ditanami kedele dan pangan 
lainnya menjadi lebih sedikit. Akibatnya terjadilah ekses permintaan yang 
membuat harga melambung. Kelak membaiknya harga kedele, jagung dan tebu akan 
mengakibatkan tanaman padi semakin tersingkir. Pasokan beras di pasar dunia 
akan semakin susah didapatkan. Kerawanan pangan akan semakin nyata dan semakin 
sering terjadi.

Saya hanya sekedar mengingatkan saja, bahwa masalah yang kita hadapi adalah 
masalah fundamental jangka panjang. Solusinya tak cukup dengan menaikturunkan 
tarif perdagangan. Mulai saat ini kedaulatan pangan harus menjadi program 
prioritas pemerintah. Ketergantungan terhadap impor pangan harus secepatnya 
dikurangi. Kalau saat ini kita masih bisa melakukan impor, hal itu mungkin akan 
sulit untuk dilakukan dalam lima sampai sepuluh tahun mendatang. Setiap negara 
yang memiliki kelebihan pasokan pangan saat ini, akan sangat memprioritaskan 
pemenuhan kebutuhan domestiknya dalam jangka dekat.

Tentu meningkatkan produksi domestik tak bisa dilakukan dalam sekejap. Bibit 
unggul harus disediakan, lahan pertanian di luar Jawa harus dibuka lebih luas, 
dan petani di Jawa terpakasa harus ditransmigrasikan. Beberapa daerah kini 
sudah mengalami kekurangan pasokan tenaga kerja pertanian, namun karena ego 
kedaerahan pasca desentralisasi, kekurangan tenaga kerja menjadi tidak mudah 
ditutupi dengan mendatangkan tenaga kerja dari daerah lain.

Intinya, masalah yang kita hadapi dalam jangka panjang akan semakin pelik. 
Swasembada pangan tidak lebih mudah diwujudkan dibanding sewaktu jaman Orba 
dahulu. Sangat mengherankan bila pemerintah sekarang ini cenderung 
tenang-tenang saja. Berpikirlah dan bekerjalah untuk kepentingan bangsa jangka 
panjang. Lupakan terlebih dahulu pemilu 2009. 




[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke