Para Nabi yang Hilang
4 Februari 2008 12:25:19
Sekitar tiga ribu lima ratus tahun yang lalu Nabi Musa
memimpin sebuah bangsa keluar dari Mesir. Sekitar dua
ribu tahun yang lalu Yesus, atau Isa hadir di muka
bumi dan menyebarkan ajaran-ajarannya. Dan sekarang
sudah seribu lima ratus tahun sejak Nabi Muhammad
mendirikan Islam di jazirah Arab.
Lalu masih dilengkapi lagi dengan nabi-nabi lainnya;
Adam, Idris, Nuh, Hud, Saleh, Ibrahim, Lut, Ismail,
Ishaq, Yakub, Yusuf, Ayub, Shoaib, Harun, Daud,
Sulaiman, Ilyas, Al-Yasa, Yunus, Zakariah, dan Yahya.
Banyak sekali.
Dulu, secara rutin Tuhan Allah mengirimkan
nabi-nabinya ke muka bumi untuk membimbing manusia,
memberitahukan jika ada yang salah, mengembalikannya
ke jalan yang benar, dan yang terpenting adalah -
membuat pesan-pesan dari-Nya selalu up to date, fresh.
Tapi ke mana lagi nabi-nabi yang lain? Sejak kehadiran
Nabi Muhammad 1500 tahun yang lalu, Allah belum
mengirimkan lagi nabinya barang sebijipun, tidak ada
bimbingan lagi untuk manusia, tidak ada pemberitahuan
jika ada yang salah, tidak ditarik menuju jalan yang
benar, dan - seperti pada paragraf sebelumnya - tidak
ada lagi yang datang untuk membuat pesan-pesan
dari-Nya selalu up to date.
Tidakkah Allah mengirimkan nabinya? Dalam rentang
waktu seribu lima ratus tahun ini? Tidakkah Allah
perduli pada manusia-manusia ciptaannya ini yang telah
berkali-kali dan berkali-kali jatuh ke dalam jurang
kedosaan selama seribu lima ratus tahun itu? Masak iya
sih Allah tidak sekalipun mengirimkan nabinya, untuk
mendamaikan hati manusia pada masa-masa penuh
pergolakan dan kehancuran, seperti pada Perang Dunia
II, Perang Dunia I, zaman Kolonialisme, zaman
Perbudakan, Perang Salib, dan sekarang adalah zaman
Imperialisme, juga pada zaman-zaman "jahiliyah"
lainnya - masak sih Allah tidak mengirimkan - sekali
saja mengirimkan - seorang nabinya untuk memberi
kekuatan baru pada hati manusia??
Atau jangan-jangan Allah pernah mengirimkannya, tetapi
keburu dibantai hingga mampus oleh manusia dengan
banyak sekali stempel berbunyi "SESAT" di jidat,
pantat, dan sekujur tubuhnya?!
Atau jangan-jangan Allah telah sering mengirimkannya,
lagi dan lagi, dan lagi, tetapi ternyata para
nabi-nabi yang dikirimnya itu selalu gagal melewati
"ujian" yang diselenggarakan pihak panitia penerimaan
di muka bumi - umat manusia?!
Jangan-jangan Allah telah sering mengirimkan
nabi-nabinya. Tetapi para nabi yang dikirimnya itu
segera mengakhiri perjalanannya di penjara,
pengucilan, dibakar hidup-hidup, dirajam, dicambuki,
diracun, atau dibantai begitu saja.
Jangan-jangan.
***
"Tetapi katanya Muhammad itu nabi terakhir! Katanya
Muhammad itu adalah 'seal of the Prophets'! Muhammad
menggenapkan setiap pesan dari Allah yang pernah
hinggap di muka bumi! Tidak ada lagi nabi apapun dan
siapapun setelah Muhammad!"
Yah, betul, memang begitu katanya. Tapi kan kau
sendiri tentu dapat melihat, dari segi kebahasaan,
satu komponen yang sangat penting pada kata-katamu
adalah "KATANYA". Walaupun "katanya" di kalimat itu
sifatnya berkesan hanya tambahan saja di bahasa
Indonesia, tetapi ia sesungguhnya sangat-sangat
penting. Karena melalui sepotong kata tersebut,
menjadi jelas bahwa apa yang dikatakan hingga ke ujung
kalimatnya adalah "belum fakta" dan baru berupa
"informasi", yang didapat dari pihak lain pula.
Dan memang demikian pula faktanya! Tidak dapat
disangkal, bagaimanapun juga, memang hebatnya kata
"katanya" tersebut tidak dapat dan tidak boleh
dilepaskan dari kalimatnya. Karena begitu kau
melepaskan kata itu dari kalimatmu, maka artinya kau
telah tidak jujur, kepada siapapun.
Kau menyembunyikan sebuah fakta bahwa "apa yang kau
tau" itu ternyata barulah "katanya", barulah
"informasi" yang kau dapat dari pihak lain, dan kau
sekadar "meyakininya".
Dan kau, juga seluruh umat manusia yang hidup pada
saat ini, pada dasarnya berada di posisi yang TIDAK
MUNGKIN dan MUSTAHIL mengetahui sebagai pihak pertama
dan membenarkan sang fakta, kecuali sebagai sepotong
informasi yang berasal dari pihak lain dan
"meyakininya".
Ketika kau dihadirkan sebagai seorang saksi pada
sebuah persidangan, dan kau ditanya apakah benar tuan
A ini mencuri ayam, kan tidak lucu kalau kau menjawab
"katanya sih gitu".
***
Lagipula, kan kita tau memang Allah kadang bertindak
agak konyol.
Seperti ketika ia menyuruh Ibrahim untuk membunuh
Ishak anaknya sebagai persembahan, yang kemudian
dibatalkan pada detik-detik terakhir, karena ternyata
Allah hanya mengujinya saja.
Lalu seekor biri-biri yang menjadi penggantinya.
Kau sendiri juga yang mengatakan bahwa kita tidak
dapat dan tidak sepatutnya menyamai nalar kita dengan
nalar Allah. Dan kau juga yang bilang Allah tentu
punya rencana dan hal-hal tertentu memang rahasia
Ilahi.
Maka atas dasar apa kau mengukur statement-nya
terdahulu (bahwa Muhammad adalah nabi terakhir)
menggunakan nalar duniawimu yang sungguh melarat itu?
Kita pun selalu diajarkan untuk "jangan perhitungan
dengan Allah", khan? Kalau kita hitung-hitung hubungan
dengan Allah sebagai untung-rugi kan itu namanya
salah. Dan bukankah semestinya demikian juga dalam hal
firman dan urusan-urusan lainnya?
Lagipula, kita tau nabi Isa sendiri ditentang
habis-habisan oleh bangsanya sendiri, Yahudi. Muhammad
sendiri pada awalnya diketawain di Mekkah. Begitu juga
dengan sebagian nabi-nabi lainnya, seperti Nuh, Saleh,
Lut, Ilyas, dan lainnya.
Jadi, apakah tidak ada secuil saja kekhawatiran, bahwa
ternyata satu dari antara orang-orang yang telah
dipenjarakan, dikucilkan, diracun, dibunuh, dibakar
hidup-hidup, dirajam, dicambuki - bahwa salah satu
dari antara korban-korban kebiadaban manusia tersebut
ternyata memang nabi yang diutus oleh Allah?
Apakah tidak takut, bahwa kita umat manusia ini, sejak
dahulu kala hingga hari-hari ini di abad modern, telah
berkali-kali membantai nabi yang dikirim oleh Allah
untuk mengingatkan kembali kepada umat manusia bahwa
"tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah" dan "tolong
deh, jangan perhitungan dengan-Ku"??
***
"Engga!! Bukan begitu! Kamu aja ngga ngerti! Aduh! Kan
dalam ini dibilang begitu! Kan begitu begini! Haq hiq
huq al ngiq bin nguq, bla bla bla, cuit-cuit meong!!"
Nah! Stop di sana! Stop tepat di sana!!
Di mana letaknya Tuhan Allah?
Mengapa jadi kau yang mengukur dan mengatur Dia
seperti apa?
Kenapa kau yang menentukan Dia harus bagaimana?
Kenapa kau yang mendirikan protokol-protokol yang
mengikat tindak-tanduk Tuhan Allah?
Kenapa kau yang justru membatasi dan bahkan memrogram
apa yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh-Nya?
Maka sekarang kita dapat dengan jelas melihat, bahwa
dalam pikiranmu memang imanlah yang berkuasa. Yang
mengerangkeng dan mengurung rasio, logika, dan
nalarmu.
Yang mana melalui imanmu yang pada dasarnya berdiri di
atas sepotong kata "katanya" itu, kau bentuk dan kau
cetak Tuhan Allah-Tuhan Allah-mu sendiri.
Kau buat Tuhan Allah sesuai dengan keinginanmu, sesuai
dengan kengototanmu, sesuai dengan keyakinanmu, sesuai
interpretasimu.
***
Dan pada akhirnya Ia sama sekali bukanlah Tuhan Allah,
melainkan sekadar "katanya".
camarmerah
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/