(catatan dibuang sayang) 

Gerah. Semua orang dari segala usia dan warna kulit (juga model rambut) pasti 
punya pendapat yang sama tentang panasnya udara Pulau Bali sepekan kemarin. 

Suhu yang tak mau kurang dari 35°C seperti mengolok konferensi perubahan iklim 
tahun lalu; manusia baru bikin road map, udara panas sudah bikin es krim di 
tangan mencair lebih cepat. Walhasil, acara makan es krim di pantai berubah 
jadi adegan nyeruput lelehan susu.

Tak jadi soal. Di tempat wisata, orang memang perlu siap mengalami situasi yang 
tidak lazim. Apalagi di Bali yang segenap pelosoknya merupakan tempat wisata. 
Sekalipun panasnya udara di luar kelaziman, orang yang datang ke sana tidak 
serta-merta membatalkan acaranya. Malah, sepanjang pekan kemarin, pantai-pantai 
di sisi timur dan sisi barat daerah “kaki burung” lebih ramai dari biasa. 
Sebab, selain untuk rutinitas menyongsong fajar di Sanur dan menikmati senja di 
Kuta, kedua pantai itu berubah menjadi arena pesta olahraga pantai se-Asia 
(Asian Beach Games, ABG) yang belum pernah ada sebelumnya. 

Lihat, ke mana pun pandangan melayang, manusia ada di mana-mana. Mirip sebuah 
pesta ruang terbuka dalam ukuran kolosal. Orang boleh berpesta wisata sambil 
menonton pertandingan, atau sebaliknya, peserta ABG bisa berpesta olahraga 
sambil berwisata. 

Di luar arena pertandingan, tak jarang wisatawan, atlet, panitia, dan wartawan 
saling tonton lantaran sama-sama berkostum pantai. Banyak yang bercelana pendek 
dengan kaus kutang serta bertelanjang kaki di pasir seperti bocah setempat yang 
sehari-harinya banting tulang menukar kerajinan tangan asal kampungnya dengan 
selembar dua lembar rupiah.

Pemandangan paling istimewa di tengah panas membakar itu adalah nyaris tak ada 
seorang pun yang pasang muka masam. Semua berseri-seri. Termasuk atlet-atlet 
yang kalah bertanding. Kalah-menang tak jadi soal. Hiruk-pikuk pertandingan 
hanya luapan kegembiraan bersama layaknya pesta rakyat Agustusan. Segala 
sesuatu yang tidak lazim di tempat lain, di pulau wisata ini dengan mudah 
termaafkan. Dianggap lumrah. 

Memang, Bali sepanjang pekan kemarin adalah Bali sebelum bom. Bali yang ramai, 
meriah, tetapi tetap damai. Persis tarian legong yang kadang pelan kadang 
mengentak tapi tak lupa senyuman. Sepekan suntuk pantai Bali seperti sedang 
merayakan kemerdekaan. Semua orang dari segala usia dan warna kulit - juga 
model rambut - bersukacita bersama dan saling meringankan derita akibat 
sengatan hawa panas. 

Sayang, gegap-gempita persaudaraan antarmanusia ini berlangsung singkat dan 
hanya ada di pantai Bali, bukan di seluruh pantai Indonesia... 

* 

Sulit memang membayangkan persaudaraan yang tak lekang oleh panas seperti itu 
di tengah situasi negeri yang masih serba hangat-hangat tai ayam begini. 

Hampir tak satu persoalan pun di negeri ini yang menjadi jelas selain 
bertimbunnya utang. Pemerintahan datang dan pergi seperti tai ayam ketimpa tai 
ayam lainnya. Selalu hangat tapi langsung lapuk diterjang banjir utang. 

Setiap pemerintahan yang pergi dari istana tak pernah lupa meninggalkan bon-bon 
utang yang bakal merepotkan lawannya di pemerintahan berikut. Begitu 
seterusnya. Berestafet dari pemerintahan satu ke pemerintahan lain sampai 
akhirnya utang menjadi beban yang harus dipikul anak-cucu. Termasuk bocah-bocah 
pelosok yang banting tulang demi selembar dua lembar rupiah. 

Ketidakbecusan pemerintah mengelola utang menyebabkan mereka harus putus 
sekolah untuk menambal kebutuhan hidup sehari-hari. Singkatnya, belum ada 
pemerintahan yang betul-betul berpandangan bahwa rakyat adalah saudaranya 
sendiri. 

*

Lucunya, semboyan ABG di Bali berbunyi: “Inspire the World”. Bagus bunyinya, 
tapi apa yang mau diinspirasikan pemerintah Indonesia kepada dunia? 

Kalau diteliti lebih jauh, kisah sukses tertinggi dari pesta olahraga pantai di 
Bali itu adalah terwujudnya persaudaraan antarmanusia, apapun warna kulitnya, 
dari kampung mana pun ia berasal. Kita semua tau bahwa semangat persaudaraan 
adalah semangat yang melandasi dunia olahraga. Sesuatu yang sangat lumrah. 

Jadi, kenapa Indonesia harus susah-susah mengilhami dunia dengan semangat 
persaudaraan ABG Bali? Padahal, persaudaraan di Bali itu mestinya lebih bagus 
untuk mengilhami Indonesia sendiri yang semakin kumuh dengan gontok-gontokan. 

Ini seperti memanaskan tai ayam karena sekedar hangat tidak lagi cukup. 

Perlu yang lebih panas! 










      

------------------------------------

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke