--- Pada Rab, 3/12/08, audifax - <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Dari: audifax - <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: BECOMING BUDDHA
Kepada: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Tanggal: Rabu, 3 Desember, 2008, 4:41 PM
Becoming Buddha
Oleh:
Audifax
Research Director di SMART Center for Human Re-Search & Psychological
Development
How many roads must a man walk down, before you call him a man? The answer my
friend is blowing in the wind..the answer is blowing in the wind. Demikian
lirik lagu Blowing in the Wind dari Bob Dylan. Tak ada jawaban pasti seberapa
jauh perjalanan manusia mampu membuat manusia memahami kemanusiaannya.
Seringkali manusia justru berperilaku seperti hewan. Persis seperti kalimat
Thomas Hobbes, homo homini lupus, manusia satu menjadi serigala bagi manusia
yang lain.
Perjalanan manusia menemukan kesejatian dirinya, digambarkan Deepak Chopra
dalam novel ’Buddha’. Novel tentang perjalanan seorang pangeran yang menjadi
pertapa hingga mencapai pencerahan. Perjalanan Siddharta menjadi Buddha adalah
perjalanan yang menginspirasi manusia. Kebenaran yang diungkapkan melalui
ajaran-ajarannya terus hidup di hati umat manusia sejak ratusan tahun sebelum
Masehi hingga sekarang.
Novel ”Buddha” dalam bahasa Indonesia, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada
bulan April 2008. Edisi dalam bahasa Inggrisnya, terbit di tahun 2007. Jadi,
novel ini bisa dibilang karya yang masih baru dari Deepak Chopra. Selain
menulis novel, Chopra juga banyak menulis buku non-fiksi. Chopra adalah seorang
penulis dan dokter medis. Ia banyak menulis tentang spiritualitas dan
penyembuhan diri melalui pengendalian tubuh dan pikiran.
Sejak 1987 hingga sekarang, ada setidaknya 35 buku telah ditulis oleh Choopra,
selain juga sejumlah CD dan Video mengenai pemikirannya. Setelah menulis novel
’Buddha’, ada dua buku lagi dari Choopra, yaitu The Third Jesus: The Christ We
Cannot Ignore (2008) dan Why Is God Laughing? The Path to Joy and Spiritual
Optimism (2008). Cara pandang Choopra, melampaui sekat-sekat yang memisahkan
agama satu dengan yang lain. Karya-karya Choopra tersebut, termasuk novel
’Buddha’ ini, layak dibaca oleh pemeluk agama apapun.
Buddha sendiri, lebih merupakan ajaran tentang hidup. Bahkan, jika menilik
kesejarahan Nusantara, agama Buddha memiliki akar yang kuat di Jawa. Ajaran
Buddha lekat dengan filosofi lelaku yang menjadi salah satu ciri dalam Kejawen.
Demikian pula apa yang dipaparkan Choopra dalam novel ini, adalah filosofi
dalam menjalani hidup. Perjalanan hidup manusia yang fana, tak akan menjadi
kesia-siaan jika manusia mampu menemukan suatu titik kemuliaan yang membawanya
melampaui kefanaan tersebut.
Buddha dan ‘Melampaui Manusia’
Dalam sosok seperti Siddharta Gautama, kita bisa melihat manusia yang melampaui
manusianya yang fana. Manusia adalah spirit yang terikat dalam tubuh yang
terikat ruang dan waktu. Manusia yang melampaui manusianya adalah mereka yang
spiritnya ”tetap hidup” melampaui ruang dan waktu di mana tubuh mereka (dulu)
hidup. Kita bisa melihat itu bukan saja pada Buddha Gautama, melainkan juga
Rasullulah SAW, Yesus dan banyak lagi para teladan yang meski tubuhnya telah
tiada namun spirit Kisah Hidupnya ”terus hidup” hingga kini.
’Kisah Hidup’ mereka bahkan menghidupi kehidupan itu sendiri. Begitu banyak
orang terinspirasi dan tercerahkan kehidupannya saat mengenal kisah hidup
mereka. Friedrich Nietzche menyebut orang-orang seperti Buddha, Yesus,
Rasullulah, dan semacamnya, sebagai der grosse mensch atau orang besar. Hidup
yang mereka jalani membuat mereka menjadi orang besar. Tokoh-tokoh ini dikagumi
karena memiliki dorongan hidup yang besar sekaligus dapat mengatur (aufheben)
dorongan itu. Sebuah dorongan yang membuat mereka melakukan pengorbanan diri
untuk dunia.
Dalam novel ’Buddha’, kita diajak melihat bahwa kebesaran seorang Siddharta
Gautama terletak pada bagaimana dia berkata ’Ya’ atau mengafirmasi hidup yang
dijalaninya. Kita mungkin mengenal Buddha sebagai tokoh yang damai dan tenang,
namun jika kita cermati, sejatinya kisah hidup Siddharta penuh konflik
manusiawi. Perjalanan dari dunia material yang penuh hasrat menuju puncak
spiritual tertinggi. Buddha menginspirasi kita agar lebih dekat pada pemahaman
hidup dan diri kita sendiri. Ia tak menjanjikan surga sebagai pengganti hidup
saat ini melainkan mengajak mengafirmasi hidup yang sekarang dijalani dan
memahaminya lebih dalam.
Perjalanan Menjadi Buddha
Buddha memulai hidup sebagai pangeran muda yang terperangkap dalam kerajaan dan
mendambakan hidup di luar istana. Sendirian dan menghadapi iblisnya sendiri,
Pangeran Siddharta memutuskan menjadi pertapa dengan meninggalkan istana
berikut gelar pangerannya. Hingga akhirnya, berkat tekad keras, dia berhasil
mencapai pencerahan dengan menaklukkan hawa nafsu dunia yang menguasai tubuh
dan pikirannya. Termasuk bagaimana dia menghadapi Devadatta, orang yang
memusuhinya, dan bagaimana ia merelakan Sujata, perempuan yang dicintai dan
dibunuh Devadatta.
Perjalanan Buddha bukan hanya menginspirasi umat Buddha, namun juga filsafat.
Nietzche, filsuf yang terkenal dengan ’Senjakala para Berhala’-nya, dalam
banyak hal juga terinspirasi Buddha. Kesamaan antara Nietzche dan Buddha adalah
ajarannya agar manusia melampaui ke-manusia-annya sendiri. Caranya dengan
menaklukkan hasrat yang mengikat manusia. Melampaui bukan berarti menolak atau
melarikan diri, tapi justru dengan menghadapi, mengafirmasi dan mengendalikan
dorongan hasrat serta mengarahkannya pada tujuan mulia.
Siddharta mengatakan bahwa semua manusia bisa menjadi Buddha. Di sini terdapat
kesimetrian antara ’Menjadi Buddha’ dan Übermensch. Dalam filosofi nietzchean,
orang-orang besar seperti Buddha, adalah orang-orang yang mampu menatap
Übermensch dalam hidupnya. Übermensch adalah ‘upaya’ melampaui manusia.
Nietzche sependapat dengan Darwin, bahwa manusia tak lebih dari salah satu
spesies binatang. Bedanya, manusia mampu melampaui kemanusiaannya. Pemahaman
Nietzche kemudian dielaborasi oleh Martin Heidegger dengan mengatakan bahwa
manusia bisa menjadi Dasein dan bukan sekedar das man.
Dasein adalah bagaimana manusia merenungkan ‘Ada’-nya sehingga tak sekedar ada
begitu saja sebagai kerumunan spesies manusia atau das man. Kita bisa
mengaitkan pemikiran Heidegger dan bagaimana Gautama mengajarkan untuk
menemukan Buddha dalam diri kita. Setiap orang bisa menjadi Buddha karena
Buddha adalah jalan kehidupan. Ungkapan itu simetri dengan bagaimana manusia
menjadi Dasein ketika merenungkan dan membuat hidupnya bukan sekedar untuk
‘Ada’ (To Be) di dunia melainkan selalu dalam proses meng-Ada (To Becoming) di
dunia. Hidup yang becoming berarti hidup yang meng-Ada-nya tak pernah selesai
karena hidup itu terus-menerus menjadi inspirasi bagi kehidupan orang lain.
Dasein mencapai totalitas ‘Ada’-nya dalam kematian (Tod). Kematian adalah zenit
totalitas ‘Ada’ Dasein sekaligus di titik itu pula Dasein kehilangan ‘Ada’-nya.
Inilah nadir ontologis, ‘Ada’ sekaligus ‘Tiada’. Bukan keabadian jiwa dalam
pemahaman agama yang diacu di sini, melainkan pengalaman akan dunia-bersama
yang masih membekas pada mereka yang ditinggalkan. Inilah hidup yang bukan
sekedar To Be melainkan To Becoming seperti kisah hidup orang besar.
Kembali pada pertanyaan: How many roads must a man walk down, before you call
him a man?. Kita bisa membaca novel ‘Buddha’ dan merenungkan ungkapan Julia
Kristeva, seorang psikoanalis Perancis, yang mengatakan bahwa: “Manusia tidak
akan sanggup menanggung bahwa dirinya manusia, jika ia tak sekaligus adalah
puisi”. Kristeva melihat, bahwa menjadikan hidup manusia bak karya seni (puisi)
adalah jalan untuk memuliakan hidup itu sendiri.
Lalu, bagaimana cara menjadikan hidup kita bak karya seni? Apa yang diungkapkan
Kristeva itu sebenarnya memiliki keterkaitan dengan ungkapan Nietzche dalam
Also Sprach Zarathustra: “Apakah yang mempersamakan hidup manusia dengan
keindahan kuntum mawar yang gemetar menanggung tetes embun di pagi hari? Ya,
itu terjadi ketika manusia mencintai kehidupan bukan karena terbiasa hidup,
melainkan karena terbiasa mencintai”.
Dalam perjalanan hidupnya, manusia mungkin menghadapi situasi yang membuatnya
cemas, gentar, gemetar, seperti pergulatan Buddha mencari pencerahan. Namun,
keindahan dari hidup justru terletak pada bagaimana manusia mampu menghadapi
itu semua dengan rasa cinta terhadap kehidupan ini. Keindahan yang
mempersamakan manusia dengan indahnya mawar di pagi hari. Itulah gambaran hidup
yang menghidupi kehidupan itu sendiri. Hidup yang Becoming. Hidup yang
menjadikan manusia yang menjalani hidup itu sebagai Buddha.
Esei ini sekaligus tawaran bagi anda untuk bergabung dalam diskusi di milis
Psikologi Transformatif. (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif )
Sekilas Mailing List Psikologi Transformatif
Mailing List Psikologi Transformatif adalah ruang diskusi yang didirikan oleh
Audifax dan beberapa rekan yang dulunya tergabung dalam Komunitas Psikologi
Sosial Fakultas Psikologi Universitas Surabaya. Saat ini milis ini telah
berkembang sedemikian pesat sehingga menjadi milis psikologi terbesar di
Indonesia. Total member telah melebihi 2400, sehingga wacana-wacana yang
didiskusikan di milis inipun memiliki kekuatan diseminasi yang tak bisa
dipandang sebelah mata. Tak ada moderasi di milis ini dan anda bebas masuk atau
keluar sekehendak anda. Arus posting sangat deras dan berbagai wacana muncul di
sini. Seperti sebuah jargon terkenal di psikologi ”Di mana ada manusia, di
situ psikologi bisa diterapkan” di sinilah jargon itu tak sekedar jargon
melainkan menemukan konteksnya. Ada berbagai sudut pandang dalam membahas
manusia, bahkan yang tak diajarkan di Fakultas Psikologi Indonesia.
Mailing List ini merupakan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang berminat
mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya untuk
mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini yang tekstual
menuju ke sifat yang kontekstual. Di milis ini anda diajak untuk mengalami
psikologi.
Anda tidak harus berasal dari kalangan disiplin ilmu psikologi untuk bergabung
sebagai member dalam mailing list ini. Mailing List ini merupakan tindak lanjut
dari simposium psikologi transformatif, melalui mailing list ini, diharapkan
diskusi dan gagasan mengenai transformasi psikologi dapat terus dilanjutkan.
Anggota yang telah terdaftar dalam milis ini antara lain adalah para pembicara
dari simposium Psikologi Transformatif : Edy Suhardono, Cahyo Suryanto, Herry
Tjahjono, Abdul Malik, Oka Rusmini, Jangkung Karyantoro,. Beberapa rekan lain
yang aktif dalam milis ini adalah: Audifax, Leonardo Rimba, Mang Ucup, Anwar
SBY, Goenardjoadi Goenawan, Prastowo, Prof Soehartono Taat Putra, Bagus Takwin,
Amalia “Lia” Ramananda, Himawijaya, Rudi Murtomo, Felix Lengkong, Kartono
Muhammad, Ridwan Handoyo, Dewi Sartika, Jeni Sudarwati, FX Rudy Gunawan, Arie
Saptaji, Radityo Djajoeri, Tengku Muhammad Dhani Iqbal, Anwar Holid, Elisa
Koorag, Priatna Ahmad, J.
Sumardianta, Jusuf Sutanto, Stephanie Iriana, Lulu Syahputri, Lan Fang, Yunis
Kartika, Ratih Ibrahim, Nuruddin Asyhadie, Arif Nurcahyo, Sinaga Harez Posma
dan masih banyak lagi.
Jika anda berminat untuk bergabung dengan milis Psikologi Transformatif, klik:
www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif
Perhatian: Tidak ada moderator dalam milis ini sehingga upaya untuk masuk atau
keluar dari milis ini mutlak tanggung jawab anda sendiri
Sikap Peduli Lingkungan? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers.
http://id.answers.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/