Irael-Palestina adalah masalah yang menyangkut banyak segi. Obrolan di bawah
hanyalah sesudut kecil dari masalah yang bersegi banyak itu.
--- Ignas Iryanto <ignas_irya...@...> wrote:
> Sebenarnya larangan mengebom rumah sakit atau sekolah juga harus diikuti
> dengan larangan tiak menggunakan rumah sakit atau sekolah (atau area
> dengan radius tertentu dari gedung gedung tesebut) sebagai pangkalan
> militer, lokasi peluncur roket dan lain lain. Kedua langkah itu sama
> biadabnya, namun memiliki kasualitas yang jelas sekali.
Dari segi kemanusiaan, membom markas militer sekalipun adalah langkah biadab
juga. Bagaimanapun, militer adalah manusia. Dibuatnya aturan perang terutama
bertujuan untuk menyelamatkan kemanusiaan. Seperti misalnya larangan menembak
pasukan payung yang masih mengapung di udara atau menggunakan tawanan perang
sebagai pembuka jalan di lapangan ranjau dlsb. Tetapi kebanyakan peserta perang
kan cuma ingat 3 kata: membunuh atau dibunuh.
Dalam hal ini saya sependapat dengan Sdr. Sumarno: apapun alasannya, membom
rumahsakit dan sekolah adalah tindakan biadab. Samasekali tidak
berperikemanusiaan. Kebejatan militer Israel yang mengguyur pasien tak berdaya
dengan bom bertubi-tubi itu jelas melebihi kebiadaban teroris yang menargetkan
hotel dan tempat umum lain di mana orang cukup sehat untuk bisa lari
menyelamatkan diri.
>
> Begitu pula soal bisnis terowongan yang dilakukan oleh Hamas, jika itu
> menjadi penyebab roket roket Hamas secara sporadis diluncurkan ke
> wilayah Israel, bahkan sebelum 27 desember, tentu saja akan sangat
> mengganggu israel.
Keadaan akan sangat berbeda jika Israel memberi kesempatan pada Palestina untuk
menjadi sebuah negara yang utuh. Faktanya, Israel masih memakai strategi kuno
para penjajah yaitu politik pecah-belah. Palestina dipecah menjadi wilayah Gaza
untuk satu kelompok serta Tepi Barat untuk kelompok lain, dan semuanya berada
di bawah pengawasan ketat Israel.
Hamas mungkin tidak perlu menembakkan roket kalau gencatan senjata di Gaza
tidak disertai "gangguan sipil" yang mencekik kehidupan penduduk Palestina
seperti terganggunya sediaan air bersih, makanan, maupun listrik.
Sebelumnya, kepungan militer Israel sudah menimbulkan krisis kemanusiaan di
Gaza, terutama menjelang dan setelah Hamas memenangkan Pemilu 2006. Dari sudut
ini semua gangguan itu jelas terlihat sebagai bentuk perlawanan Israel terhadap
kemenangan Hamas dalam pemilu. Kelihatan, Israel berusaha keras menghancurkan
wibawa pemimpin bangsa lain. Dari segi internasionalnya jelas Israel mencampuri
urusan dalam negeri orang lain.
>
> Sejak zamannya yaser Arafat, polanya yang membuka diri atas dialog di
> meja perundingan dan sama sama melihat kepentingan bersama, sudah
> ditentang oleh kelompok kelompok kelompok palestina yang radikal.
> Sejarah mencatat, bahwa yaser lah yang sukses membawa kemajuan paa
> status Palestina. Dus metodenyalah yang memberikan hasil konkrit. Jika
> kini, Al fatah, sebagai penerus Yaser hanya duduk saja meilihat Hamas
> diserang, jelas ini adalah akibat dari perbedaan pandangan strategis
> mengenai metoda perjuangan.. ..yang masing masing membawa dampak yang
> harus ditanggung.
Kalangan garis keras Israel berulangkali coba melenyapkan Arafat.
Mereka tidak suka kesan internasional tentang Arafat yang diposisikan seolah
menjadi pelindung bagi Israel dari gempuran Palestina.
Di sektor sebaliknya, garis keras Palestina justru menuding Arafat melemah
sejak diusir dari Lebanon. Di mata mereka Arafat melahap begitu saja janji
Barat yang membolehkannya membentuk administratur sendiri di tanah Palestina.
Perubahan sikap Arafat yang ke mana-mana menggantung pistol di pinggang itu
dinilai sangat kontras dengan sikap kerasnya ketika diusir pertamakali dari
Yordania (pengusiran yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Black September).
Ada hal menarik yang belum terungkap dari kematian Arafat. Tim dokter Prancis
yang menangani Arafat sempat berulangkali menunda pernyataan resmi sehingga
merebaklah isu Arafat tewas karena racun. Anehnya, karena isu ini dunia
internasional kompak menoleh ke tokoh garis keras Israel yang saat itu menjadi
perdana menteri, Jenderal Ariel Sharon.
Sharon memang tokoh keras yang tersohor sebagai penjagal orang Palestina
(peristiwa Sabra & Shatila). Tetapi, ia juga melejit sebagai Israel pertama
yang setuju penarikan mundur pasukan Israel dari Gaza memenuhi tekanan Barat
untuk tegaknya administrasi Arafat (Palestina).
Sudah barang tentu tindakan Sharon menarik pasukan itu mengundang reaksi
kalangan garis keras Israel. Mereka mencap Sharon sebagai pengkhianat sampai
sekonyong-konyong terdengar kabar PM Israel itu terkapar bungkam lantaran
stroke (11 bulan setelah wafatnya Arafat).
Boleh jadi Arafat / Palestina sudah membuka diri di meja perundingan, tapi
bagaimana dengan kalangan garis keras Israel? Tidak sedikit tokoh Israel yang
menjadi korban kelompok ini, diantaranya adalah PM Yitzhak Rabin yang tewas
dibunuh Israel garis keras.
>
> Sejarah kitapun begitu khan ? Walaupun Soekarno Hatta dicap kolaborator,
> namun metoda mereka lah yang membawa kemerdekaan pada negeri ini. Banyak
> yang mengira proklamasi dilakukan karena rengasdengklok namun jika baca
> memoirnya Bung hatta, jelas sekali itu tidak benar.
Bedanya, sejarah kemerdekaan Indonesia tidak diwarnai kesan Soekarno / Hatta
menjadi pelindung Jepang, Inggris, apalagi Belanda dari gempuran rakyat
Indonesia. Tidak di Lapangan Ikada, tidak di 10 November, juga tidak di
Linggarjati. Soekarno saat itu justru seolah betul penyambung lidah rakyat,
seluruh rakyat. Bukan cuma rakyat Indonesia, tapi juga Asia, Afrika, dan
Amerika Latin.
>
> Dunia perlu segera menghentikan perang ini, karena persoalan
> kemanusiaan. namun soal startegy perjuangan adalah soal rakyat
> palestina. Pilihan startegy perjuangan tentu diikuti dengnan berbagai
> konsekuensinya. Dan yang pasti itu bukan masalah Indonesia.
Soal strategi perjuangan memang urusan Palestina-Israel sendiri, tapi tidak
betul kalau Indonesia bukan bagian dari dunia yang Anda bilang "perlu segera
menghentikan perang ini".
Lebih jauh lagi - menyangkut perikeadilan & perikemanusiaan - mukadimah UUD
menegaskan posisi Indonesia yang menentang penjajahan di atas dunia. Yang
berarti, setiap penjajahan (harusnya) merupakan masalah bagi Indonesia.
>
> SBY menelpon Zarkozy mengucapkan apresiasi. Lebih Pro aktif adalah
> menugaskan dubes keliling masalah timur tengah, mengunjungi negara
> negara arab untuk melakukan lobby.
Menelepon Sarkozy saat ini kan mirip bocah iseng yang mondar-mandir di depan
proyektor layar tancep; bayangan si bocah ikut muncul di layar sehingga menyita
perhatian penonton. Numpang beken lewat event spektakuler (banyak spectatornya)
ya boleh-boleh saja. Tapi lebih terhormat kalau saat ini ybs fokus dulu ke
persoalan dalam negeri. Sekurangnya, ke soal langkanya BBM dan tantangan Dirut
Pertamina yang katanya siap dicopot.
>
> Salam, Ignas Iryanto.
ajeg=
>
> From: ajegile <ajegil...@...>
>
> > Yang lagi dibahas adalah mengenai sifat konflik & peran PBB di sana.
> > Kalau soal biadab mah jangankan ngebom, bunyikan klakson dekat
> > rumahsakit & sekolah pun termasuk biadab. Usahakanlah ngebom komentar
> > secara tepat, jangan membabibuta.
> >
> > ajeg=
> >
> > --- Sumarno <tiakaisl...@...> wrote:
> >
> > > Apapun namanya dan alasanmya, mengebom rumah sakit dan sekolah
> > > adalah tindakan biadab yang tidak bisa ditolerir!!!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[email protected]
mailto:[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/