Bisa dibilang sejak 65 banyak Tenglang Indonesia yang menjadi imigran ke 
seantero dunia, dan dilanjut setelah era 65, ada yang menjadi warganegara di 
negara tempat dia tinggal ada pula yang masih memegang passport hijau.

Khusus untuk Tenglang Indonesia yang sudah menjadi Imigran bisa dibilang 
banyak yang tidak melakukan intropeksi diri dimana pada umumnya para Imigran 
dari negara lain membuat kelompok kelompok sendiri sehingga bisa saling 
bantu sedang Tenglang Indonesia lebih banyak bersifat egois sehingga tidak 
ada istilah kelompok Tionghoa Indonesia.

Dan yang lebih parah lagi bagi mereka yang mampu ber internet dan masuk 
keberagam millis, dengan isi tulisan yang bisa dibilang malah lebih banyak 
merugikan Tionghoa Indonesia yang sebenarnya ingin hidup dengan tenang tanpa 
diganggu oleh segala macam provokasi dari dunia maya.

Topik yang paling umum selalu mengenai agama Islam dan menjelek jelek an 
agama Islam tanpa pernah sadar bila memang Islam sedemikian jelek, maka 
Tionghoa Indonesia sudah punah dari Indonesia.

Dan membanggakan Kristen sampai diluar batas kewajaran tanpa mau tahu bahwa 
didalam Krsiten sendiri umat nya banyak yang gontok gontokan dan malah tidak 
sedikit penjual ayat dari Alkitab yang tujuan utamanya mencari uang, untuk 
yang ini mohon di perhatikan bahwa pada dasarnya Tionghoa Indonesia adalah 
pencari uang dan menjual ayat untuk mencari uang menjadi sebuah hal yang 
wajar karena dikenalnya istilah perpuluhan, siapapun tahu dan sadar bahwa 
dengan adanya perpuluhan tersebut sudah dapat hidup enak dan diatas rata 
rata Masyarakat umumnya yang bekerja dengan membanting tulang.

Menjelek jelek an Islam Indonesia adalah tindakan yang tidak bertanggung 
jawab, karena selain tidak mengenal dengan baik umat Islam pada umumnya yang 
berada di Indonesia juga lebih banyak yang sok tahu dan mendengar sepihak 
tanpa memakai nalar manusia normal umumnya, dimana dengan data ribuan gereja 
dibakar/dirusak padahal apa yang terjadi dilapangan karena arogansi dari 
umatnya sendiri yang membuat masyarakat sekitar menjadi kecewa.
Agama semistik yang memang agama berjenis dakwah dan selalu mencari umat 
adalah salah satu penyebab yang membuat saling sikut dan sikat.
Hal ini diperparah lagi dengan para Tionghoa Indonesia yang berpindah agama 
dari ajaran leluhur dan agama Asia menjadi Kristen/Islam, sedang pada 
dasarnya memiliki kepribadian Asia.

Era Reformasi dan di saat Gusdur memerintah kebudayaan Tionghoa mulai boleh 
di laksana kan tanpa perlu takut lagi, demikian juga dengan perayaan Imlek 
yang di saat Megawati memerintah membuat hari Imlek sebagai hari libur 
Nasional, hal ini sesungguhnya memukul umat Kristen Tionghoa, terutama para 
pendeta dan petingginya, sehingga tidak sedikit diawal awal menyerukan 
kepada umatnya untuk tidak ikut merayakan Imlek karena ketidak tahuan 
hakekat Imlek, dan karena ketakutan yang tidak mendasar menyerukan pula 
bahwa budaya Barongsay pun penuh dengan iblis, setan dedemit dan tentu saja 
sesat.
Bila dianalisa secara rasional seruan tersebut bisa dibilang menandakan 
penyerunya tidak mengenal dengan baik apa itu sejarah dan budaya.
Dan sebagai sifat dasar Tionghoa dalam kurun waktu singkat budaya Tionghoa 
malah dianggap sebagai sesuatu yang bukan sesat dimana barongsay sampai ada 
didalam acara kebaktian umum, disini terlihat bahwa kepribadian adaptasi 
dikalangan Tionghoa memang masih tetap berakar didalam diri Tionghoa, 
biarpun terkadang terlihat menjadi penuh dengan egois.

Menjelek jelek an Islam bisa dibilang sedang dan masih berlangsung di dunia 
maya, dan tidak sedikit Tionghoa Indonesia baik yang tinggal di Indonesia 
dan terutama yang tinggal di luar negeri mencemooh, menghina serta menjelek 
jelek agama Islam secara membabi buta tanpa pernah sadar bahwa apa yang 
ditulisnya selain tidak bertanggung jawab juga membahayakan Tionghoa 
Indonesia yang tidak mengenal dunia maya.
Seperti halnya kasus Mei, Ambon dan Poso cukup banyak beredar tulisan dan 
gambar yang sebenarnya selain hasil dari browsing juga editing.

Memang kenyataan ada banyak gereja yang kena bakar/rusak, bila memang mau 
berfikir jernih, mengapa tidak melihat bahwa yang kena bakar dan rusak bukan 
gereja semata, melainkan masih ada yang lainnya semisal Ahmadiah, dalam hal 
ini pun pada umumnya dilakukan oleh ormas yang sebenarnya menjadi tanggung 
jawab pemerintah, bukan lagi tanggung jawab penulis di dunia maya yang hanya 
tahu sepihak.

Bila memang umat Islam Indonesia sedemikian keras, apa mungkin sampai 
sekarang masih banyak gereja berdiri dan dibangun ? ( siapa yang ngeh berapa 
banyak gereja yang dibangun ?, di dunia maya tidak pernah di tulis )

Aku tidak pernah bosan menulis mengenai Tionghoa Indonesia yang menjadi 
almarhum, dimana secara gamblang dan nyata membuat sebal siapapun yang 
melihatnya, sebagai contoh memakai lahan pekuburan layaknya membangun sebuah 
villa, ketika kereta jenasah lewat semua kendaraan distop ( malah ada yang 
sampai memberi sopir angkot uang setoran sehari hanya agar mau stop dengan 
tujuan mulia mengganti uang setoran ) dan tidak sadar bahwa didalam angkot 
banyak penumpang.
Ada lagi yang karena lahannya ditolak oleh masyarakat sekitar, malah memakai 
helikopter untuk menurunkan peti mati.
Apakah para Tionghoa Indonesia sadar akan hal ini ?, bila di sentil malah 
dijawab sirik, apakah Tionghoa Indonesia semacam ini tahu diri, maka dijawab 
'' lha duit duit gue kenapa eloe yang pusing ", sungguh jenis manusia egois 
yang sangat merusak image seluruh Tionghoa Indonesia yang sebenarnya jauh 
lebih banyak dibandingkan segelintir Tionghoa Indonesia yang tidak tahu 
diri.
Sering keluar negeri dan tidak pernah bertanya berapa luas kuburan orang 
kaya yang tinggal di Hongkong, Jepang, Korea dan RRT sendiri, sungguh pola 
pikir yang aneh.

Demikian juga dengan para Tionghoa Indonesia yang menjadi Imigran keberbagai 
penjuru dunia, dan untuk yang ini jujur saja bisa dibilang pada umumnya 
tinggal di Amerika yang merasa sudah tinggal di negara bebas dan bebas 
melakukan apa saja terutama didunia maya, dan bilamana didata jumlahnya pun 
bisa dibilang bisa segelintir saja dibandingkan dengan total Tionghoa 
Indonesia yang menjadi imigran di Amerika, dan belum lagi ditambah dengan 
kelompok yang masih memakai passport hijau.
Entah mengapa kelompok ini sepertinya menantikan segala sesuatu yang buruk 
yang sedang terjadi di Indonesia dan hop hop horeyy begitu ada berita buruk 
yang terjadi di Indonesia, sehingga memiliki bahan untuk tulisan didunia 
maya.
Apalagi bila berita buruk tersebut menyangkut Tionghoa Indonesia, sunggu 
berita yang sangat dinanti dan menjadi sebuah kebahagiaan tiada tara bila 
membaca ada berita buruk yang dialami oleh Tionghoa Indonesia.
Peringatan Mei menjadi ajang silahturami dan transaksi, tidak sadar bahwa 
yang mengalami peristiwa tragis tersebut lebih banyak tinggal di Indonesia 
dan tidak mau mengerti dan merasa menjadi pahlawan bahwa dengan memperingati 
peristiwa Mei adalah tindakan mulia, dilain sisi lupa berapa banyak nyawa 
menghilang ketika 65 terjadi, dan peritiwa 65 karena didukung oleh Amerika 
lah maka tidak layak untuk diperingati, bisa jadi karena waktu nya sudah 
terlalu lama sehingga tidak layak jual ( bandingkan dengan para manusia 
kelayaban yang tinggal di Europa, yang sampai saat ini masih terus berusaha 
agar peristiwa Mei dibongkar melalui jalur resmi dan bukan dirayakan dengan 
ketawa ketiwi sambil ber transaksi ).
Entah apa yang akan terjadi bila dalam kurun waktu tertentu tidak ada berita 
negatif yang menerpa Tenglang Indonesia, apa akan menjadi stress ?.

Untuk menjadi seorang pastor di Katholik, maka seseorang harus masuk 
kesekolah minimal 6 tahun ( itupun syaratnya berat banget sampai harus 
menulis surat wasiat untuk tidak menerima warisan segala macam ) dan baru 
bisa dan diperbolehkan berkotbah, hal ini menandakan bahwa untuk belajar dan 
mendalami Alkitab membutuhkan waktu yang tidak sedikit, dan silahkan 
bandingkan dengan para pendeta Kristen yang asal usulnya malah banyak yang 
tidak jelas ( para mantan sales paling cepat beradaptasi untuk menjual 
ayat ), cukup belajar sd 3 tahun layaknya seseorang mencari gelar S1, sudah 
bisa menjadi pendeta dan berkotbah panjang pendek dengan ayat yang di 
plintir sedemikian rupa sesuai dengan keinginan pendeta, dan menyatakan 
bahwa apa yang di kotbah kan nya berdasarkan Roh Kudus, itu masih mending 
belajar sd 3 tahun, malah banyak yang belajar apa adanya, dan menjadi 
gembala karena merasa sudah memiliki kemampuan dan memahami semua isi 
Alkitab.
Akibatnya ?, silahkan terka sendiri karena yang namanya umat hanya boleh 
mendengar dan meng amin kan apa yang dikatakan gembala dan pendeta, tidak 
boleh interupsi apalagi mendebat, dan bila ada umat yang tidak cocok dengan 
mudah pindah gereja dan mencari pendeta yang dirasa cocok ( frasa 'dirasa' 
aku tekankan karena bukan lagi memakai logika ), sehingga otomatis yang 
namanya pendeta/gembala saling sikat dan sikut karena lahan/umat yang ada 
tidak seimbang dengan jumlah pendeta yang ada, apalagi lulusan pendeta yang 
bergelar layaknya seseorang mendapatkan gelar S1.

Untuk informasi, aku punya dua teman, dan keduanya adalah teman yang status 
di Indonesia sebagai Sales ( sales gagal sih ), dan sekarang sudah bermukim 
di Amerika, dan sudah menjadi warganegara Amerika, pekerjaannya 
?....................Pendeta.
( untuk Tionghoa Indonesia yang ber imigrasi ke Australia, jangan pernah 
bercita cita jadi pendeta deh, disana perpuluhannya medit banget, gak cukup 
untuk hidup. )

Dengan kata lain, menulis dengan tulisan vulgar dan ber nada provokasi di 
dunia maya, dan memakai kata Tionghoa, hasilnya jauh lebih banyak negatifnya 
dibandingkan dengan positifnya.
Kata Tionghoa bisa dibilang hanya dikenal untuk Indonesia, sedang dinegara 
lain masih tetap memakai Chinesse, belum lagi menulisnya dengan bahasa 
Indonesia, bukankah aneh menjelek jelek sesuatu hal di Indonesia, sedang 
berwarganegara asing dan mampu berbahasa asing, mengapa tidak memakai bahasa 
negaranya sendiri ?, apa karena kagum dengan Sumpah Pemuda ?
Apa karena masih mencintai Indonesia ?, apa karena ingin menjadi Hasan Tiro 
yang berwarganegara Asing masih tetap mencintai Aceh sampai akhir hayatnya 
( sebenarnya sih terlalu jauh dengan membandingkan Hasan Tiro, karena beliau 
mengecam Pemerintah bukan agama dan rakyat Indonesia ).

Semoga tulisan ini sedikitnya bisa menggugah untuk dijadikan bahan renungan, 
dan minimal mengingatkan bahwa Tenglang di Indonesia jumlahnya berjuta juta.

Selamat Tahun Baru Imlek.

sur. 


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke