Kepalamu itu rasioanl Sur.. :D

GP

2009/1/19 gsuryana <[email protected]>

>   Bisa dibilang sejak 65 banyak Tenglang Indonesia yang menjadi imigran ke
>
> seantero dunia, dan dilanjut setelah era 65, ada yang menjadi warganegara
> di
> negara tempat dia tinggal ada pula yang masih memegang passport hijau.
>
> Khusus untuk Tenglang Indonesia yang sudah menjadi Imigran bisa dibilang
> banyak yang tidak melakukan intropeksi diri dimana pada umumnya para
> Imigran
> dari negara lain membuat kelompok kelompok sendiri sehingga bisa saling
> bantu sedang Tenglang Indonesia lebih banyak bersifat egois sehingga tidak
> ada istilah kelompok Tionghoa Indonesia.
>
> Dan yang lebih parah lagi bagi mereka yang mampu ber internet dan masuk
> keberagam millis, dengan isi tulisan yang bisa dibilang malah lebih banyak
> merugikan Tionghoa Indonesia yang sebenarnya ingin hidup dengan tenang
> tanpa
> diganggu oleh segala macam provokasi dari dunia maya.
>
> Topik yang paling umum selalu mengenai agama Islam dan menjelek jelek an
> agama Islam tanpa pernah sadar bila memang Islam sedemikian jelek, maka
> Tionghoa Indonesia sudah punah dari Indonesia.
>
> Dan membanggakan Kristen sampai diluar batas kewajaran tanpa mau tahu bahwa
>
> didalam Krsiten sendiri umat nya banyak yang gontok gontokan dan malah
> tidak
> sedikit penjual ayat dari Alkitab yang tujuan utamanya mencari uang, untuk
> yang ini mohon di perhatikan bahwa pada dasarnya Tionghoa Indonesia adalah
> pencari uang dan menjual ayat untuk mencari uang menjadi sebuah hal yang
> wajar karena dikenalnya istilah perpuluhan, siapapun tahu dan sadar bahwa
> dengan adanya perpuluhan tersebut sudah dapat hidup enak dan diatas rata
> rata Masyarakat umumnya yang bekerja dengan membanting tulang.
>
> Menjelek jelek an Islam Indonesia adalah tindakan yang tidak bertanggung
> jawab, karena selain tidak mengenal dengan baik umat Islam pada umumnya
> yang
> berada di Indonesia juga lebih banyak yang sok tahu dan mendengar sepihak
> tanpa memakai nalar manusia normal umumnya, dimana dengan data ribuan
> gereja
> dibakar/dirusak padahal apa yang terjadi dilapangan karena arogansi dari
> umatnya sendiri yang membuat masyarakat sekitar menjadi kecewa.
> Agama semistik yang memang agama berjenis dakwah dan selalu mencari umat
> adalah salah satu penyebab yang membuat saling sikut dan sikat.
> Hal ini diperparah lagi dengan para Tionghoa Indonesia yang berpindah agama
>
> dari ajaran leluhur dan agama Asia menjadi Kristen/Islam, sedang pada
> dasarnya memiliki kepribadian Asia.
>
> Era Reformasi dan di saat Gusdur memerintah kebudayaan Tionghoa mulai boleh
>
> di laksana kan tanpa perlu takut lagi, demikian juga dengan perayaan Imlek
> yang di saat Megawati memerintah membuat hari Imlek sebagai hari libur
> Nasional, hal ini sesungguhnya memukul umat Kristen Tionghoa, terutama para
>
> pendeta dan petingginya, sehingga tidak sedikit diawal awal menyerukan
> kepada umatnya untuk tidak ikut merayakan Imlek karena ketidak tahuan
> hakekat Imlek, dan karena ketakutan yang tidak mendasar menyerukan pula
> bahwa budaya Barongsay pun penuh dengan iblis, setan dedemit dan tentu saja
>
> sesat.
> Bila dianalisa secara rasional seruan tersebut bisa dibilang menandakan
> penyerunya tidak mengenal dengan baik apa itu sejarah dan budaya.
> Dan sebagai sifat dasar Tionghoa dalam kurun waktu singkat budaya Tionghoa
> malah dianggap sebagai sesuatu yang bukan sesat dimana barongsay sampai ada
>
> didalam acara kebaktian umum, disini terlihat bahwa kepribadian adaptasi
> dikalangan Tionghoa memang masih tetap berakar didalam diri Tionghoa,
> biarpun terkadang terlihat menjadi penuh dengan egois.
>
> Menjelek jelek an Islam bisa dibilang sedang dan masih berlangsung di dunia
>
> maya, dan tidak sedikit Tionghoa Indonesia baik yang tinggal di Indonesia
> dan terutama yang tinggal di luar negeri mencemooh, menghina serta menjelek
>
> jelek agama Islam secara membabi buta tanpa pernah sadar bahwa apa yang
> ditulisnya selain tidak bertanggung jawab juga membahayakan Tionghoa
> Indonesia yang tidak mengenal dunia maya.
> Seperti halnya kasus Mei, Ambon dan Poso cukup banyak beredar tulisan dan
> gambar yang sebenarnya selain hasil dari browsing juga editing.
>
> Memang kenyataan ada banyak gereja yang kena bakar/rusak, bila memang mau
> berfikir jernih, mengapa tidak melihat bahwa yang kena bakar dan rusak
> bukan
> gereja semata, melainkan masih ada yang lainnya semisal Ahmadiah, dalam hal
>
> ini pun pada umumnya dilakukan oleh ormas yang sebenarnya menjadi tanggung
> jawab pemerintah, bukan lagi tanggung jawab penulis di dunia maya yang
> hanya
> tahu sepihak.
>
> Bila memang umat Islam Indonesia sedemikian keras, apa mungkin sampai
> sekarang masih banyak gereja berdiri dan dibangun ? ( siapa yang ngeh
> berapa
> banyak gereja yang dibangun ?, di dunia maya tidak pernah di tulis )
>
> Aku tidak pernah bosan menulis mengenai Tionghoa Indonesia yang menjadi
> almarhum, dimana secara gamblang dan nyata membuat sebal siapapun yang
> melihatnya, sebagai contoh memakai lahan pekuburan layaknya membangun
> sebuah
> villa, ketika kereta jenasah lewat semua kendaraan distop ( malah ada yang
> sampai memberi sopir angkot uang setoran sehari hanya agar mau stop dengan
> tujuan mulia mengganti uang setoran ) dan tidak sadar bahwa didalam angkot
> banyak penumpang.
> Ada lagi yang karena lahannya ditolak oleh masyarakat sekitar, malah
> memakai
> helikopter untuk menurunkan peti mati.
> Apakah para Tionghoa Indonesia sadar akan hal ini ?, bila di sentil malah
> dijawab sirik, apakah Tionghoa Indonesia semacam ini tahu diri, maka
> dijawab
> '' lha duit duit gue kenapa eloe yang pusing ", sungguh jenis manusia egois
>
> yang sangat merusak image seluruh Tionghoa Indonesia yang sebenarnya jauh
> lebih banyak dibandingkan segelintir Tionghoa Indonesia yang tidak tahu
> diri.
> Sering keluar negeri dan tidak pernah bertanya berapa luas kuburan orang
> kaya yang tinggal di Hongkong, Jepang, Korea dan RRT sendiri, sungguh pola
> pikir yang aneh.
>
> Demikian juga dengan para Tionghoa Indonesia yang menjadi Imigran
> keberbagai
> penjuru dunia, dan untuk yang ini jujur saja bisa dibilang pada umumnya
> tinggal di Amerika yang merasa sudah tinggal di negara bebas dan bebas
> melakukan apa saja terutama didunia maya, dan bilamana didata jumlahnya pun
>
> bisa dibilang bisa segelintir saja dibandingkan dengan total Tionghoa
> Indonesia yang menjadi imigran di Amerika, dan belum lagi ditambah dengan
> kelompok yang masih memakai passport hijau.
> Entah mengapa kelompok ini sepertinya menantikan segala sesuatu yang buruk
> yang sedang terjadi di Indonesia dan hop hop horeyy begitu ada berita buruk
>
> yang terjadi di Indonesia, sehingga memiliki bahan untuk tulisan didunia
> maya.
> Apalagi bila berita buruk tersebut menyangkut Tionghoa Indonesia, sunggu
> berita yang sangat dinanti dan menjadi sebuah kebahagiaan tiada tara bila
> membaca ada berita buruk yang dialami oleh Tionghoa Indonesia.
> Peringatan Mei menjadi ajang silahturami dan transaksi, tidak sadar bahwa
> yang mengalami peristiwa tragis tersebut lebih banyak tinggal di Indonesia
> dan tidak mau mengerti dan merasa menjadi pahlawan bahwa dengan
> memperingati
> peristiwa Mei adalah tindakan mulia, dilain sisi lupa berapa banyak nyawa
> menghilang ketika 65 terjadi, dan peritiwa 65 karena didukung oleh Amerika
> lah maka tidak layak untuk diperingati, bisa jadi karena waktu nya sudah
> terlalu lama sehingga tidak layak jual ( bandingkan dengan para manusia
> kelayaban yang tinggal di Europa, yang sampai saat ini masih terus berusaha
>
> agar peristiwa Mei dibongkar melalui jalur resmi dan bukan dirayakan dengan
>
> ketawa ketiwi sambil ber transaksi ).
> Entah apa yang akan terjadi bila dalam kurun waktu tertentu tidak ada
> berita
> negatif yang menerpa Tenglang Indonesia, apa akan menjadi stress ?.
>
> Untuk menjadi seorang pastor di Katholik, maka seseorang harus masuk
> kesekolah minimal 6 tahun ( itupun syaratnya berat banget sampai harus
> menulis surat wasiat untuk tidak menerima warisan segala macam ) dan baru
> bisa dan diperbolehkan berkotbah, hal ini menandakan bahwa untuk belajar
> dan
> mendalami Alkitab membutuhkan waktu yang tidak sedikit, dan silahkan
> bandingkan dengan para pendeta Kristen yang asal usulnya malah banyak yang
> tidak jelas ( para mantan sales paling cepat beradaptasi untuk menjual
> ayat ), cukup belajar sd 3 tahun layaknya seseorang mencari gelar S1, sudah
>
> bisa menjadi pendeta dan berkotbah panjang pendek dengan ayat yang di
> plintir sedemikian rupa sesuai dengan keinginan pendeta, dan menyatakan
> bahwa apa yang di kotbah kan nya berdasarkan Roh Kudus, itu masih mending
> belajar sd 3 tahun, malah banyak yang belajar apa adanya, dan menjadi
> gembala karena merasa sudah memiliki kemampuan dan memahami semua isi
> Alkitab.
> Akibatnya ?, silahkan terka sendiri karena yang namanya umat hanya boleh
> mendengar dan meng amin kan apa yang dikatakan gembala dan pendeta, tidak
> boleh interupsi apalagi mendebat, dan bila ada umat yang tidak cocok dengan
>
> mudah pindah gereja dan mencari pendeta yang dirasa cocok ( frasa 'dirasa'
> aku tekankan karena bukan lagi memakai logika ), sehingga otomatis yang
> namanya pendeta/gembala saling sikat dan sikut karena lahan/umat yang ada
> tidak seimbang dengan jumlah pendeta yang ada, apalagi lulusan pendeta yang
>
> bergelar layaknya seseorang mendapatkan gelar S1.
>
> Untuk informasi, aku punya dua teman, dan keduanya adalah teman yang status
>
> di Indonesia sebagai Sales ( sales gagal sih ), dan sekarang sudah bermukim
>
> di Amerika, dan sudah menjadi warganegara Amerika, pekerjaannya
> ?....................Pendeta.
> ( untuk Tionghoa Indonesia yang ber imigrasi ke Australia, jangan pernah
> bercita cita jadi pendeta deh, disana perpuluhannya medit banget, gak cukup
>
> untuk hidup. )
>
> Dengan kata lain, menulis dengan tulisan vulgar dan ber nada provokasi di
> dunia maya, dan memakai kata Tionghoa, hasilnya jauh lebih banyak
> negatifnya
> dibandingkan dengan positifnya.
> Kata Tionghoa bisa dibilang hanya dikenal untuk Indonesia, sedang dinegara
> lain masih tetap memakai Chinesse, belum lagi menulisnya dengan bahasa
> Indonesia, bukankah aneh menjelek jelek sesuatu hal di Indonesia, sedang
> berwarganegara asing dan mampu berbahasa asing, mengapa tidak memakai
> bahasa
> negaranya sendiri ?, apa karena kagum dengan Sumpah Pemuda ?
> Apa karena masih mencintai Indonesia ?, apa karena ingin menjadi Hasan Tiro
>
> yang berwarganegara Asing masih tetap mencintai Aceh sampai akhir hayatnya
> ( sebenarnya sih terlalu jauh dengan membandingkan Hasan Tiro, karena
> beliau
> mengecam Pemerintah bukan agama dan rakyat Indonesia ).
>
> Semoga tulisan ini sedikitnya bisa menggugah untuk dijadikan bahan
> renungan,
> dan minimal mengingatkan bahwa Tenglang di Indonesia jumlahnya berjuta
> juta.
>
> Selamat Tahun Baru Imlek.
>
> sur.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>



-- 
Salam, Great Pretender


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke