Panggilan 
dari Minaret, apakah artinya itu?http://conversationwithmuslim.wordpress.com/


                                Ketika 
minyak, disebabkan efek Perang Yom Kippur tahun 1973, naik menjadi empat
 kali harga normal, dan terus menjadi semakin mahal, maka ketegasan para
 Muslim pun semakin meningkat. Berdasarkan Hukum Islam (Syariah), 20 
persen dari penghasilan bersih produksi minyak harus diinvestasikan 
untuk mendukung pengembangan agama Islam (Sura 8:41). Maka sejak saat 
itu, mesjid-mesjid menjamur di seluruh kontinen.

Setiap pagi, saat fajar akan merekah, 
segera setelah “seseorang dapat membedakan antara sebuah benang putih 
dan benang hitam”, muezzin (pengumandang azan), memanggil dari menara 
mesjid untuk menyembah Allah. Di kota-kota dan di desa-desa, suara 
loudspeaker mereka terdengar sangat keras di atap-atap rumah: “Sholat 
lebih baik daripada tidur!” Lima kali sehari, ajakan untuk sholat turun 
dari menara-menara itu: saat fajar, tengah hari, sekitar jam 3 sore, 
saat matahari tenggelam dan pada malam hari (2 jam kemudian).

Kata “minaret” berasal dari bahasa Arab 
“manarat”, artinya “mercu suar”. Sama halnya seperti sorotan dari lampu 
navigasional dipakai untuk mencegah kapal agar tidak kandas atau 
menabrak karang, demikian juga minaret akan memimpin semua Muslim untuk 
tetap tinggal di sekitar Islam dan mengajak semua orang-orang non-Muslim
 yang tersesat untuk bertobat dan memilih “jalan yang lurus” menuju 
Firdaus. Islam memandang dirinya sebagai “agama yang memanggil”, 
mengundang semua manusia (Din al-Da’wa), dan memiliki sebuah ideologi 
misionari yang penuh keyakinan serta bersifat memaksa (Sura 2:193; 8:31;
 61:9-11).

Karena panggilan yang disuarakan jutaan 
kali dari menara-menara mesjid harus diucapkan dalam bahasa Arab, maka 
pertama-tama kita akan menterjemahkan doa yang diucapkan oleh muezzin 
tersebut:
Allah adalah lebih besar! Allah adalah 
lebih besar!
Allah adalah lebih besar! Allah adalah 
lebih besar!
Aku bersaksi: Tiada Tuhan selain Allah!
Aku bersaksi: Tiada Tuhan selain Allah!
Aku bersaksi: Muhammad adalah Rasul 
Allah!
Aku bersaksi: Muhammad adalah Rasul 
Allah!
Bangunlah untuk berdoa! Bangunlah untuk 
menjadi sukses!
Bangunlah untuk berdoa! Bangunlah untuk 
menjadi sukses!
Allah adalah lebih besar! Allah adalah 
lebih besar!
Pendahuluannya terdiri dari empat kali 
panggilan: “Allah adalah lebih besar!” Bagian terakhir merupakan 
pengulangan dari pendahuluan yang diucapkan dua kali. Semua seruan yang 
lainnya diulangi dua kali. Berikut ini, prinsip-prinsip sentral dari 
iman Islamik ini akan dijelaskan.

1.  Allah adalah lebih besar

Ringkasan dari pengakuan Islamik ini diulangi sebanyak enam kali dari 
panggilan yang diserukan oleh muezzin, dan diumumkan dari minaret tiga 
puluh kali dalam sehari. Penegasan ini seringkali salah diterjemahkan 
sebagai “Allah adalah besar!” atau “Allah Maha besar/Yang terbesar!” 
Jika Allah hanya “besar”, maka itu artinya ada mahluk lain yang lebih 
besar (daripada Dia). Sebaliknya, jika Ia dipanggil “Yang Terbesar”, 
maka ia akan berada dalam satu kategori dengan ciptaanNya sendiri. 
Tidak, Allah adalah besar melampaui semua hal yang bisa diperbandingkan!

1. Allah ditinggikan di atas semua 
ciptaanNya: Implikasi dari seruan iman Islamik ini adalah sebagai 
berikut: Allah, Yang Maha Kuasa, adalah Pencipta dari alam semesta (Sura
 39:5, 67:2-3; dsb.)! Punya Dialah kemakmuran dan kekayaan. Kepemilikan 
dan otoritasnya melampaui segala sesuatu (Sura 31:26; 47:38). Dialah 
yang memiliki kekuatan dan kemuliaan. Kekuasaan dan penyembahan adalah 
milikNya seorang (Sura 55:27). Ia memiliki lebih banyak pengetahuan dan 
hikmat dibandingkan dengan semua ahli filsafat (Sura 2:282; 9:60, dsb.).
 Ia lebih menakutkan daripada semua bom nuklir dan hidrogen (Sura 57:2; 
64:1; 67:1-2; dsb.)

2. Allah adalah lebih besar daripada 
semua roh dalam dunia supranatural: Kematian diyakini berada dibawah 
kendaliNya. Tak ada seorang pun yang mati secara kebetulan. Allah 
membunuh siapa pun yang Ia kehendaki (Sura 30:40; 40:68; dsb.). Bahkan 
Setan adalah budakNya sebagaimana halnya semua ciptaan yang lain (Sura 
25:2). Keinginan Allah adalah untuk memenuhi neraka dengan manusia dan 
roh-roh (Sura 32:13)! Semua malaikat ada dibawah perintahNya. Qur’an 
berbicara mengenai Roh Kudus sebagai budak Allah juga (Sura 17:85; 
97:4). Sebagaimana halnya “Jibril” (Gabriel) dianggap sebagai oknum yang
 telah menyampaikan pewahyuan dari Tuhannya kepada Zakaria, Maria, 
Kristus dan Muhammad. Roh-roh yang percaya kepada Qur’an dianggap 
sebagai Muslim. Namun demikian, mereka tidak memiliki akses ke Surga 
(Sura 72:8-14).

Orang-orang Muslim percaya ketika Neil 
Armstrong keluar dari pesawat ruang angkasa dan menginjakkan kaki di 
bulan, ia mendengar seruan: “Allah adalah lebih besar”. Ketika ia 
kemudian ditanya melalui telepon, Armstrong menjawab bahwa ia tidak 
mendengar suara atau bunyi apa pun. Namun demikian, orang-orang Muslim 
masih tetap meyakini bahwa seruan “Allah adalah lebih besar!” memenuhi 
seluruh alam semesta!

3. Allah adalah lebih besar dari apapun 
pengertian mengenai Dia: Semua pemikiran, pengetahuan dan tulisan 
mengenai pencipta, Tuhan dan hakim dunia tampaknya dalam Islam tidak 
mencukupi. Setiap statement teologis secara realitas akan gugur dan pada
 akhirnya akan dianggap palsu. Beberapa nama dari ke-99 nama-nama Allah 
yang paling indah berkontradiksi satu sama lain, sehingga, menurut 
al-Ghazali, Allah itu pastilah segala sesuatu dan bukan segala sesuatu. 
Ia tidak dapat diselami. Ia tetap secara total berbeda; agung, sangat 
jauh, Tuhan yang tidak terjangkau, jauh melampaui kategori-kategori dan 
emosi-emosi manusia (Sura 47:4-5).

Ia tetap dianggap sebagai Tuhan yang 
adil, kendati Ia menyesatkan siapa pun yang Ia inginkan. Ia membimbing 
ke jalan yang lurus siapa pun yang ia inginkan (Sura 6:39; 13:27; 
14:14). Ia menggantikan wahyu-wahyu yang Ia sampaikan sebelumnya dengan 
wahyu-wahyu yang lebih baik, yang cocok dengan situasi yang berlaku 
kemudian. Sekitar 240 ayat-ayat dalam Qur’an telah dibatalkan dengan 
wahyu-wahyu kemudian (Sura 16:101-103). Yang Maha Kuasa sanggup 
menghancurkan hamba-hambaNya, utusan-utusan dan agen-agen pewahyuanNya 
saat Ia menganggap tepat untuk melakukannya. Berdasarkan Qur’an, Yesus 
juga dikategorikan sebagai manusia, yang bisa Tuhan hapuskan pada satu 
waktu, sebagaimana yang Ia kehendaki (Sura 5:17). Allah jauh melampaui 
ide-ide manusia mengenai keadilan. Ia adalah penipu daya yang paling 
cerdik dari semuanya (Sura 3:54; 8:30)! Ia tidak bertanggungjawab kepada
 siapa pun.

4. Allah bahkan lebih besar daripada 
iman Kristen: Dalam Islam, putera Maria tidak disebut Yesus melainkan 
“Isa”. Dengan mengganti nama ini, maka Islam telah merampok 
keilahianNya, eksistensiNya yang kekal dan kuasa penyelamatanNya (Sura 
4:171; 5:72; 9:30). Qur’an mempresentasikan ‘Isa sebagai sebuah roh 
Allah yang diciptakan’, yang ditiupkan ke rahim Maria (Sura 3:47,59). 
Semua mujizat-mujizatNya dianggap bisa terjadi dengan seijin Yang Maha 
Kuasa dan dengan pertolongan rohNya (Sura 5:110). Berdasarkan teologi 
Islam, ’Isa tidak disalibkan, tetapi dengan diam-diam dibuat tidak sadar
 dan kemudian dilahirkan pada TuhanNya dalam kondisi hidup (Sura 3:55; 
4:157-158). Berdasarkan tradisi, Ia akan kembali pada akhir zaman untuk 
membunuh anti-Kristus dan untuk mengubahkan orang-orang tak bertuhan 
menjadi Islam. Allah dianggap lebih besar daripada ‘Isa, yang akan tetap
 untuk selama-lamanya menjadi hambaNya.

Dalam Islam, Roh Kudus bukanlah kudus 
dalam diriNya sendiri, tetapi hanya disebut “sebuah roh dari Yang Kudus”
 (Sura 2:87.253; 5:110; 16:102). Sebagaimana halnya Jibril (Gabriel) ia 
berada dibawah otoritas Yang Maha Mulia dan pada Hari Penghakiman ia 
harus berdiri dalam sebuah antrian yang panjang bersama-sama dengan 
semua malaikat, dengan diam menantikan vonis yang akan dijatuhkan 
padanya (Sura 78:38)
Allah dalam Islam bukanlah Tuhan Sang 
Bapa. Ia tidak dikandung dan juga tidak dilahirkan. Tak ada yang 
menyamaiNya (Sura 112:3-4). Ia bukanlah Tuhan Yang adalah kasih adanya, 
yang ingin membangun sebuah hubungan pribadi dengan orang-orang Muslim, 
agar Ia bisa mengadakan perjanjian dengan mereka. Ia menunjukkan belas 
kasihan kepada siapa saja yang Ia pilih, tetapi tetap jauh keberadaanNya
 dengan ciptaanNya. Allah tidak hadir di Firdaus atau di Surganya 
Muslim. Ia jauh menjulang di atas mereka dan untuk selamanya Ia akan 
tetap tidak bisa diakses.

Setiap pembaca yang cerdas yang 
memperbandingkan outline singkat ini dengan referensi-referensi Qur’anik
 akan tiba pada kesimpulan bahwa: Allah dalam Islam bukanlah Tuhan di 
Alkitab.

2. Tidak ada Tuhan selain Allah

Setelah keempat bagian “kebesaran Allah” (takbir), muezzin akan 
menyerukan dengan suara yang keras iman Islamik mereka. Ketika melakukan
 hal ini, mereka tidak sedang mengajukan sebuah diskusi teologis, tetapi
 sebaliknya, mempresentasikan kepada semua Muslim, bahwa mereka sedang 
mengucapkan pengakuan akan pondasi dan kultur dari agama mereka. Siapa 
pun yang mendengarkan panggilan ini, harus mengulangi deklarasi iman 
Islamik dengan bibirnya atau di dalam hatinya. Kapan pun pengakuan ini 
diserukan, diperdengarkan atau diterima, pemerintahan Allah telah 
dimulai, sesuai dengan pemahaman Islamik.

Siapa pun yang dengan sadar mengucapkan 
kesaksian ini dua kali di hadapan para Muslim, maka dengan ini ia 
menjadi seorang Muslim! Pengulangan dari artikel iman ini tidak hanya 
merupakan bagian pertama dari pengakuan (Kredo) Islamik, tetapi ia juga 
memiliki jangkauan yang jauh, yang secara legal merupakan karakter yang 
mengikat.

Muslim memberikan kesaksian bahwa tidak 
ada Tuhan selain Allah (Sura 59:23). Dengan melakukan hal ini, mereka 
memasuki konflik yang sama seperti yang pernah dialami Musa dan 
nabi-nabi Perjanjian Lama. Muhammad ingin menghapuskan politeisme di 
Ka’aba yang ada di Mekah, dan mendirikan sebuah agama modern yang 
merupakan sinkritisme antara Yudaisme, Kekristenan dan 
komunitas-komunitas agama lainnya. Ia percaya kepada satu-satunya Tuhan,
 sebagaimana halnya orang-orang Yahudi mengakuiNya dan dengan keras 
menyangkali kemungkinan bahwa Yang Satu itu ada dalam Tiga (Sura 4:171; 
5:73,116). Muhammad mengecam iman kepada Trinitas yang Kudus sebagai 
sebuah penghujatan yang tidak bisa diampuni. Misteri kasih Tuhan yang 
berinkarnasi dalam puteraNya Yesus, agar semua yang percaya padaNya bisa
 menerima Roh Kudus, tidak cocok dengan konsep dari nabi Arab ini (Sura 
9:29).
Karena itu, panggilan dari minaret 
memiliki implikasi sebagai sebuah penolakan yang sangat mencolok 
terhadap Tuhan sebagai Sang Bapa, Anak dan Roh Kudus! Kesaksian dari 
para muezzin berisi sebuah pesan anti-Kristen dan anti-spiritual, yang 
merobek semua mimpi-mimpi humanistik dari Pencerahan hingga tinggal 
serpihan-serpihan. Allah Islam tidak akan pernah merupakan Bapa dari 
Yesus Kristus! Panggilan dari minaret ibarat ribuan serangan yang 
dilakukan secara terus-menerus terhadap keyakinan dari setiap orang 
Kristen! Sayangnya, hanya sedikit orang yang memahami hal ini.

3. Muhammad adalah UtusanNya

Para muezzin tidak hanya menyatakan iman mereka kepada Allah, tetapi 
juga iman mereka kepada Muhammad, yang, berdasarkan pengakuan Islamik, 
ia bukan hanya seorang nabi, tetapi merupakan Utusan Allah. Bahkan 
Muhammad sendiri memahami dirinya sebagai seorang pengawas yang 
memberikan peringatan kepada umat akan kedatangan hari penghakiman (Sura
 13:7; 38:4,65; 50:2, dsb.). Ia menyaksikan hukum Islamik (Syariah) 
sebagai satu-satunya kemungkinan bagi murid-muridnya untuk bisa 
diselamatkan dari penghukuman Hakim yang kekal. Muhammad tidak pernah 
menyebut dirinya sebagai penyelamat, pembebas atau seorang mediator, 
melainkan memandang dirinya sebagai utusan atau wakil Allah, mencoba 
untuk membimbing semua Muslim ke Firdaus melalui mentaati hukum-hukumnya
 (Sura 1:6; 5:48, 45:18).

Muhammad tidak hanya menuntut kepada 
para pengikutnya untuk mempercayai dan beriman kepada dirinya sendiri, 
tetapi juga ketaatan dan penyerahan tanpa syarat terhadap otoritasnya 
(Sura 4:59, 150-152; 7:158; 47:33; 49:14; 57:28). Banyak dari para 
idealis yang meyakini bahwa Islam mengajarkan iman hanya kepada Allah. 
Ini adalah sebuah kesalahan. Qur’an juga menuntut sebuah ketaatan iman 
secara menyeluruh kepada Muhammad. Setiap Muslim harus hidup sama 
seperti nabinya hidup. Ia harus, diumpamakan “mengenakan” Muhammad! Cara
 hidupnya (Sunnah) merupakan sumber kedua dari Syariah. Karena itu 
Muhammad menjadi standard dan tujuan dari agamanya.

Islam bukanlah agama dalam pengertian 
sebagai Pencerahan, melainkan sebuah ideologi dimana agama dan politik, 
ibadah dan Perang Suci, iman dan legislasi dianggap sebagai sebuah 
kesatuan. Tujuan Islam yang tetap adalah negara berdasarkan agama (Sura 
2:193; 8:39; 49:14). Hukum menuntut sebuah otoritas eksekutif, sama 
halnya dengan negara Islamik membutuhkan sebuah hukum juga). Untuk 
alasan inilah, agama dan politik harus merupakan satu kesatuan. Muhammad
 memahami dirinya baik sebagai seorang nabi dan juga seorang negarawan. 
Musa adalah satu dari role model yang paling penting baginya.
Hassan al-Banna, pendiri dari 
Persaudaraan Muslim di Mesir, mengajarkan bahwa seorang beriman yang 
berdoa, berpuasa dan membayar pajak keagamaannya, masih tetap gagal 
untuk menjadi seorang Muslim yang baik. Hanya ketika Syariah 
dilaksanakan di negara dimana ia hidup, maka imannya pun akan bisa 
mencapai kesempurnaan. Semua praktek-praktek keagamaan lainnya hanya 
merupakan tahap awal dari Islam yang sesungguhnya. Untuk alasan ini, 
iman kepada Muhammad selalu tertuju pada sebuah negara agama.
4. Marilah berdoa!

Sepuluh kali sehari, orang-orang Muslim mendengar panggilan ini dari 
para muezzin mereka. Hal ini tidak berarti bahwa mereka dipanggil untuk 
melakukan doa pribadi dengan tidak bersuara, tetapi untuk beribadah di 
mesjid sebanyak lima kali. Siapa pun yang tidak bisa pergi ke mesjid, 
bisa melaksanakan ritual doa yang diwajibkan ini di rumah mereka, di 
pesawat terbang atau di tempat-tempat umum. Ritual doa jika memungkinkan
 harus diucapkan dalam bahasa Arab. Semua Muslim diwajibkan untuk 
berdoa, karena beribadah kepada Allah ada tertulis dalam hukum!

Setiap waktu doa didahului dengan 
melakukan wudhu (pembersihan) sesuai dengan ritual yang ditentukan (Sura
 5:6). Muhammad Hamidullah menggambarkan ritual ini dalam bukunya 
“Introduksi kepada Islam” sebagai berikut:
“Langkah pertama adalah memformulasikan 
penekanan mengenai pemurnian, dengan mengatakan “bismillah” (dengan nama
 Allah), mencuci tangan hingga pergelangan, membasuh mulut dengan air, 
membersihkan lubang hidung dengan air, membasuh muka dari jidat hingga 
dagu dan dari telinga yang satu ke telinga yang lain, membasuh lengan 
kanan dan kemudian lengan kiri hingga siku (inklusif), menyapukan 
jari-jari yang basah ke muka dan lubang telinga (dan berdasarkan 
pengajaran beberapa sekolah, juga termasuk leher), kemudian pertama-tama
 mencuci kaki sebelah kanan dan kemudian sebelah kiri hingga pergelangan
 – melakukan setiap aksi ini sebanyak tiga kali (kecuali airnya tidak 
mencukupi, dimana dalam sejumlah kasus sekali pun sudah dianggap 
mencukupi).”

Jika rangkaian pembasuhan dilaksanakan 
tidak benar, maka doa dari individu tersebut menjadi batal. Jika air 
sepenuhnya kurang, seseorang boleh membasuh muka dan tangannya dengan 
pasir atau batu (tayammum) sebagai pernyataan kesungguhan dan untuk 
menggantikan ritual pemurnian diri. Setelah melakukan wudhu hingga 
berakhirnya ritual doa, kecuali untuk bernafas dan mengeluarkan 
kata-kata, tak ada satu pun yang boleh keluar dari tubuh seorang Muslim,
 sebab jika tidak maka ibadahnya menjadi batal.
Seorang Muslim tahu bahwa ia tidak bisa 
datang menghampiri Allah seperti apa adanya dia. Ia harus memurnikan 
dirinya sendiri dari kepala hingga kaki. Pembaharuan pikiran dan 
pengudusan hati tidak dikenal dalam Islam. Karena itu, pengudusan harian
 untuk berdoa tetap bersifat eksternal dan “hanya di permukaan saja”, 
tidak memproduksi sebuah pertobatan yang dalam atau sebuah perubahan 
karakter, atau sebuah pemurnian keinginan.

Ke-lima doa wajib dari orang-orang 
Muslim secara praktis tidak melibatkan komunikasi dengan Tuhan. Doa itu 
terdiri dari liturgi-liturgi yang sudah ditentukan, yang bertujuan untuk
 memuliakan Allah dan penyerahan diri para individu kepada ketuhananNya.
 Sebuah pengakuan dosa atau sebuah syafaat bagi mereka yang tengah 
mengalami kesusahan hampir-hampir tidak ditemukan dalam ritual 
doa/sholat.

Pada awalnya, orang-orang yang hendak 
sholat di mesjid akan berdiri di barisannya dan berkonsentrasi dengan 
apa yang akan mereka katakan atau doakan. Kemudian, mereka akan 
memberikan pengakuan pada permulaan lingkaran doa bahwa “Allah adalah 
lebih besar!” Setelah itu, dengan tidak bersuara mereka akan mengucapkan
 untuk diri mereka sendiri Al-Fatiha, doa utama Islam (Sura al-Fatiha 
1:1-6), atau Sura kesetiaan (Sura al-Ikhlas 112:1-4), keduanya berisi 
sebuah penyangkalan langsung terhadap Trinitas.

Para pemuja/umat kemudian merangkum doa 
yang mereka naikkan dengan tidak bersuara dengan sebuah seruan “Allah 
adalah lebih besar”!, menundukkan kepala mereka selagi mereka berdiri 
dan berbicara dalam hati: “Kemuliaan bagi Tuhanku yang besar!”

Setelah itu mereka kembali menegakkan 
kepalanya dan berkata, “Allah mendengarkan setiap orang yang 
memuliakanNya!”, kemudian mereka mengulangi kalimat, “Allah adalah lebih
 besar!”, kemudian berlutut dan sujud, menyentuh dahi mereka ke tanah 
(Sura 17:107; 22:77; 48:29). Kemudian setiap orang berkata tiga kali, 
“Kemuliaan bagi Tuhan Yang Maha Tinggi!”
Masih berlutut, mereka menegakkan 
kembali bagian atas tubuh mereka dan mengucapkan pengakuan, “Allah 
adalah lebih besar!”
Kemudian mereka sujud ke tanah untuk 
kedua kalinya dan kembali mengucapkan doksologi Islam sebanyak tiga 
kali, “Kemuliaan bagi Tuhan yang Maha Tinggi!”
Setelah menyelesaikan lingkaran doa yang
 pertama, mereka kembali berdiri dan mengulangi lingkaran berikutnya 
dengan seruan “Allah adalah lebih besar!”, kemudian kembali mengulangi 
kata-kata dan gerak tubuh yang sama persis dengan sebelumnya.
Berdasarkan peraturan dari orang-orang 
Maliki, dimana termasuk di dalamnya kebanyakan Muslim Afrika, liturgi 
doa yang bersifat tetap ini diulangi dua kali pada waktu fajar, empat 
kali pada tengah hari, empat kali pada sore hari, tiga kali pada waktu 
matahari terbenam, dan empat kali pada malam hari. Seluruhnya, liturgi 
doa yang sama dilakukan sebanyak 17 kali dalam sehari.
Pada penutupan setiap sesi doa, para 
penyembah mengucapkan Kredo mereka dalam sebuah versi yang diperpanjang,
 yang menegaskan penolakan mereka akan ketuhanan Kristus dan ketuhanan 
Roh Kudus. Akhirnya, setiap penyembah menyalami rekan di sebelah 
kanannya dengan damai Allah.
Dengan cara ini, dalam satu hari, 
orang-orang Muslim mengucapkan lebih dari 100 kali, “Kemuliaan bagi 
Tuhan Yang Maha Tinggi!”, 68 kali pengakuan, “Allah adalah yang lebih 
besar!”, 51 kali mereka mengulangi, “Kemuliaan bagi Tuhan Yang Besar!”, 
17 kali mereka menegaskan, “Allah mendengarkan orang-orang yang 
memujiNya!”, 5 kali mereka mengulangi Pengakuan (Kredo) Islamik, dan 
mengulangi pernyataan salam damai, yang hanya diperuntukkan bagi 
orang-orang Muslim saja. Di sini, sebuah prinsip dari pendidikan Islamik
 menjadi bukti: Pengulangan yang terus-menerus membawa kepada 
konsolidasi dan memenuhi pemikiran bawah sadar! Pemikiran rasional dan 
doa individual jarang dilakukan; kecuali sebuah liturgi sederhana yang 
dimaksudkan untuk menolong mereka yang buta huruf untuk memuliakan Allah
 dan menyerahkan diri mereka kepadaNya.
Penyembahan kepada Allah berpuncak pada 
sikap sujud Muslim, menundukkan dahi mereka hingga menyentuh tanah. 
Selama lima kali melakukan sholat, mereka sujud di hadapan Allah hingga 
34 kali sehari. Tujuan dari praktek ini adalah untuk membawa seluruh 
hidup mereka kepada Sang Pencipta, Tuhan dan Hakim. Mereka sepenuhnya 
adalah milikNya. Seorang Muslim tidak lagi menjadi seorang yang bebas. 
Ia telah meletakkan dirinya ke dalam tangan Allah. Ia terikat padaNya. 
Ia adalah budak dan harta milikNya. Islam artinya penundukan, 
penyerahan, atau kepatuhan. Dalam doa-doa harian yang dilakukan, 
penyerahan menjadi sebuah realitas. Doa resmi adalah tulang punggung 
dari agama ini.
Namun demikian, Allah dalam Islam 
bukanlah Bapa dari Yesus Kristus. Ia adalah ilah yang lain di samping 
Bapa, Anak dan Roh Kudus. Hal ini berarti bahwa, ketika orang-orang 
Muslim menyerah kepada Allah, mereka sedang menyerahkan diri mereka ke 
dalam kuasa dari sebuah roh yang anti-Kristen, yang sekarang menguasai 
mereka. Inilah alasan bagi ikatan korporat dari kebanyakan orang-orang 
Muslim. Ritual doa harian yang mereka lakukan, menegaskan akan 
perbudakan yang mereka alami, dan yang mengendalikan mereka kepada 
ketaatan buta kepada perkataan-perkataan Qur’an.

5. Bangkit menuju kesuksesan

9 kali dalam sehari, pengharapan Islamik dikumandangkan dalam panggilan 
Muezzin, “Siapa pun yang melakukan sholat (berdoa) akan berhasil.” Hal 
ini terutama mengandung makna bahwa bidang kehidupan sehari-hari akan 
diberkati, yaitu: kesehatan yang baik, lulus dalam ujian, efektif di 
pekerjaan dan keberuntungan dalam cinta, lahirnya banyak anak laki-laki,
 perencanaan politik dan ekonomi yang berhasil, dan kemenangan yang 
mulia dalam apa yang dinamakan sebagai Perang Suci (jihad). Jangkauan 
penuh dari keinginan duniawi Muslim juga dimasukkan dalam panggilan ini,
 “Bangkitlah untuk berdoa – bangkitlah menuju kesuksesan!”
Mengenai hidup sesudah mati, panggilan 
untuk berdoa ini berusaha untuk meraih pengampunan dosa melalui 
penyembahan reguler kepada Allah. Tujuan lain dari pemujaan adalah 
sukses yang bisa dilihat dalam penyebaran Islam. Lebih jauh lagi, 
penekanan dari doa seperti ini adalah untuk memanipulasi roh-roh (jin) 
untuk tujuan personal dan kutukan spesifik terhadap musuh (Sura 3:61). 
Harapan dari para penyembah, melalui ibadahnya adalah untuk mendapatkan 
sebuah putusan yang ringan pada Hari Penghakiman, yaitu untuk dibebaskan
 dari api Neraka (Sura 19:72), dan untuk memperoleh akses kepada 
kegembiraan dan kesenangan dari Taman Firdaus (Sura 9:111).
Menjadi sangat jelas, dari apa yang baru
 saja disampaikan, bahwa Islam adalah sebuah bentuk pembenaran 
berdasarkan perbuatan. Keselamatan yang ia tawarkan bukanlah berasal 
lewat anugerah, melainkan melalui prestasi religius personal. Seorang 
Muslim berharap bahwa perbuatan-perbuatannya yang baik akan meringankan 
perbuatan-perbuatannya yang jahat (Sura 11:114). Ia percaya bahwa ia 
akan dibenarkan melalui memuja Allah (Sura 5:12; 35:29-30; dsb.). Dengan
 berpuasa pada bulan Ramadhan, membayar pajak keagamaan, dan juga 
memberikan sedekah kepada fakir miskin, merupakan ekspresi dari 
penebusan diri yang sengaja dilakukan dan telah dikalkulasikan 
sebelumnya. Doa adalah sebuah perjanjian dengan Allah yang, lebih cepat 
daripada komputer, mencatat nomor dan intensitas dari ibadah para pemuja
 serta menimbangnya dengan dosa-dosa dan kelalaian di sisi yang lain 
(Sura 4:6,86; 6:62; 24:39).
Lima kali waktu sholat bukanlah sesuatu 
yang dilakukan dengan sukarela atau sesuatu yang dilakukan karena 
bimbingan roh: ini adalah sebuah kewajiban dan sebuah hukum. Waktunya 
sudah ditetapkan dan liturginya pun sudah ditentukan. Setiap Muslim 
harus tunduk pada persyaratan-persyaratan syariah (hukum Islam). 
Ketaatan mereka secara persis, dikatakan bisa menyelamatkan seseorang 
dari penghakiman Allah. Islam adalah agama yang ada di bawah hukum dan 
bukan ditemukan melalui anugerah dari seorang Penyelamat (Sura 5:9; 
22:50; 29:7; 33:35; dsb.).
Di sinilah terletak kesalahan utama 
Islam. Sementara ritual pembasuhan (wudhu) sebelum waktu sholat hanya 
bisa memurnikan kulit dan bukan hati, karena itu doa dalam Islam tidak 
bisa memproduksi keselamatan sepenuhnya. Muslim tidak menyadari 
kerusakan dirinya karena ia tidak menyadari Tuhan Yang Maha Kudus yang 
adalah kasih. Ia meraba-raba di tempat yang berkabut sebab ia tidak 
berjalan dalam terang Alkitab. Ia membayangkan bahwa ia cukup baik untuk
 menyelamatkan dirinya dari penghakiman Allah. Ia tidak tahu bahwa ia 
dilahirkan dalam kondisi berdosa dan bahwa apa pun yang ia lakukan telah
 dinodai oleh dosa (Kejadian 6:5; 8:21; Mazmur 51:5). Ia menolak Sang 
Penyelamat, Yesus Kristus dan menolak keselamatan yang dibangun 
berdasarkan anugerah cuma-cuma dari Bapa, yang sudah dipersiapkan 
baginya. Muslim tidak bisa memahami pujian Rasul Paulus yang menulis 
himne berikut ini:
Terberkatilah Elohim dan Bapa Tuhan kita
 YESUS Kristus, yang telah memberkati kita dengan segala berkat rohani 
di alam semesta di dalam Kristus. (Efesus 1:3 – ILT)
Orang Kristen tidak berdoa supaya mereka
 akan diselamatkan atau meraih kesuksesan pada waktunya dan dalam 
kekekalan; sebaliknya mereka berterimakasih kepada Bapa mereka di surga 
karena Ia sudah menyelamatkan mereka melalui puteraNya Yesus Kristus. 
Setelah kematian di kayu salib untuk penebusan yang dilakukan oleh 
PuteraNya, ia membuka lebar-lebar pintu gerbang surga untuk mereka yang 
menyembahNya dan untuk para lawan (Kis 2:17-21). Tujuan dari doa yang 
kita naikkan adalah untuk mengekspresikan ucapan terimakasih kita atas 
keselamatan yang menyeluruh melalui pencurahan Roh Kudus di dalam hati 
kita. Kita tidak menyembah Tuhan supaya Ia berbelas-kasihan kepada kita,
 tetapi sebaliknya kita mengasihi dan memujiNya karena Ia telah 
membenarkan kita dan melahirkan kita kembali melalui RohNya. Kita berdoa
 supaya seluruh kehidupan kita akan menjadi pujian bagi kemuliaan 
anugerahNya (Efesus 1:13-14)

6. Allah adalah lebih besar!

Di akhir dari panggilan mereka untuk melaksanakan sholat, para muezzin 
kembali menyerukan sebanyak dua kali, “Allah adalah lebih besar!” 
Seluruhnya sebanyak 98 kali sehari Allah ditinggikan dari menara-menara 
mesjid.
Penyembahan kepada Allah ini 
kadang-kadang bisa memimpin pada sebuah perpecahan dalam sebuah suku 
jika beberapa dari anggotanya menolak untuk memeluk Islam. Para partisan
 Hizbullah dianggap telah menerima porsi yang spesial dari roh Allah, 
sebab mereka lebih suka komunitas Muslim untuk terikat dengan 
saudara-saudari mereka yang belum percaya pada Islam. Jika 
saudara-saudari mereka ini tetap menolak iman Islam, maka para 
gerilyawan pejuang ini diminta untuk meninggalkan atau menyerang mereka 
(Sura 58:22).
1. Allah dianggap lebih besar daripada 
sebuah negara Islamik liberal yang menolak untuk mengaplikasikan syariah
 dalam integritasnya. Panggilan para muezzin adalah menghasut para 
pendengar untuk mengadakan revolusi, yaitu jika sebuah pemerintahan 
Muslim menyangkali otoritas syariah. Dalam sebuah negara non-Islamik, 
orang beriman diharapkan untuk mempersembahkan masyarakat tidak percaya 
yang ada di sekeliling mereka melalui nama dengan tujuan untuk 
menginfiltrasi mereka dari dalam.
2. Allah juga dianggap lebih besar 
daripada ketakutan dan keraguan dari kebanyakan orang-orang Muslim untuk
 menantang musuh-musuh Islam dibawah keanehan yang berlebih-lebihan. 
Mereka dijanjikan bahwa para malaikat akan menolong mereka ketika 
terjadi peperangan. Mereka dipanggil untuk mempercayai kemenangan 
minoritas Islamik melawan setiap mayoritas anti-Islamik. Bukan saja 
bahwa mereka akan mengalahkan musuh-musuh Islam, tetapi bahwa Allah 
sendiri akan berperang melawan mereka dan menghancurkan mereka melalui 
intervensi mereka (Sura 8:17). Ayat ini membuka lebar-lebar pintu kepada
 terorisme dengan mendefinisikan tindakan kekerasan yang keji dan 
disengaja sebagai ibadah kepada Allah.

3. Allah dianggap lebih besar dari semua
 penyembah berhala, orang-orang tidak percaya, orang beriman yang 
setengah hati, Yahudi dan Kristen. Semuanya ditantang oleh para muezzin 
untuk mengambil bagian dalam doa-doa harian. Sikap tunduk mereka di 
hadapan Allah menjadi tanda luar dari pertobatan mereka. Namun demikian,
 Qur’an mendeklarasikan sebuah perang tanpa belas kasihan pada siapa pun
 yang menolak untuk menerima iman (Sura 2:191-193; 8:60; 9:5,12-14,29). 
Meskipun demikian, orang Yahudi dan Kristen, jika mereka tunduk, mereka 
memiliki hak untuk diperlakukan sebagai warga negara kelas dua di sebuah
 negara Islamik.
4. Allah dianggap lebih besar dari semua
 illah. Otoritasnya atas alam semesta tidak tertandingi. Kedua perintah 
misionari dalam Qur’an mempersyaratkan orang-orang Muslim untuk 
menggunakan kekerasan yang dipersenjatai hingga tidak ada lagi godaan 
untuk melakukan kemurtadan dan ketundukan kepada Allah meliputi seluruh 
dunia (Sura 2:193; 8:39).
Hukuman yang menyakitkan dan 
mempermalukan di dunia sekarang dan dunia yang akan datang menanti 
mereka yang mencoba terlebih dahulu memeriksa Islam (Sura 2:7; 9:101; 
33:57; 45:9; 58:5.16 dsb.). Di Indonesia, lusinan orang Muslim 
meneriakkan kalimat “Allah hu Akbar” (Allah adalah lebih besar) sebelum 
mereka memperkosa gadis-gadis Kristen keturunan Cina sebagai sebuah 
hukuman yang mereka anggap sah karena menolak Islam. Saddam Husein 
mengenakan sebuah rompi anti peluru ketika ia menubuatkan kemenangan 
Allah atas Amerika Serikat dan Inggris. Di dinding tepat di belakangnya 
tidak ada apa-apa kecuali sebuah bendera bertuliskan “Allah adalah lebih
 besar.” Bagi dia dan Osama Bin Laden, penggunaan senjata-senjata 
penghancur massal ABC merupakan sebuah ibadah kepada Allah.
5. Apakah Allah juga lebih besar 
daripada Islam? Bentuk singkat dari iman Islamik juga berisi beberapa 
lubang yang berbahaya. Kaum Sufi (para mistik Islam) dalam 
asosiasi-asosiasi (turuq), mencoba untuk mengalami sebuah kesadaran 
personal yang lebih besar dalam penyembahan mereka melampaui 
peraturan-peraturan kaku syariah dan liturgi yang monoton di mesjid, 
yang mana bagi mereka, Allah sendiri melebihi hukum-hukumNya dan 
peraturan-peraturan keagamaan. Beberapa dari mereka bahkan mencoba, 
melalui mempraktekkan meditasi, untuk masuk dalam kontak dengan Allah 
sendiri, untuk mempenetrasi Dia atau untuk mencapai ruang dari roh-roh 
“di luar” Dia. Mereka menganggap pemahaman tradisional mengenai Allah 
seumpama sebuah kulit/cangkang luar, yang mereka coba untuk 
penetrasikan. Mereka mengabaikan fakta bahwa banyak dari mereka, ketika 
berada dalam proses itu, mengalami kerasukan (Sura 3:7,23; 5:59; 
24:35-36, dsb.).
6. Apakah Allah juga lebih besar dari 
diriNya sendiri? Allah dalam Qur’an, menyebut diriNya sebagai Yang 
Angkuh atau Yang Arogan (Sura 59:23). Panggilan para muezzin dan liturgi
 sholat mengatakan bahwa Allah tidak saja besar, tetapi bahwa 
kebesaranNya secara konstan semakin meluas. Bukankah roh yang angkuh ini
 adalah dosa dari si Setan, yang pada akhirnya akan memimpin pada 
kejatuhan yang besar dan membawa serta semua pengikutnya bersamanya ke 
Neraka?!
Yesus sebaliknya sangat berlawanan. Ia 
mengosongkan diriNya sendiri dan menjadi seorang bayi di palungan (Lukas
 2:9-12). Ia menjadi hamba dan mengucapkan rekomendasi berikut: 
“Belajarlah padaku, karena Aku ini lemah lembut dan rendah hati” (Matius
 11:29). Ia merendahkan diriNya hingga pada titik bagaimana Ia 
dicemoohkan oleh orang banyak, diludahi, disiksa dan akhirnya mati di 
kayu salib untuk menggantikan kita (Yesaya 53:3-12; Matius 26:66-67; 
Lukas 22:63-65). Karena Ia telah turun dan merendahkan diriNya 
sedemikian rupa, maka Elohim (YAHWEH) sangat meninggikan Dia dan 
mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, supaya di dalam Nama 
YESUS, setiap lutut, yang surgawi dan duniawi dan yang di bawah bumi, 
akan bertelut, dan setiap lidah mengaku bahwa YESUS Kristus adalah Tuhan
 bagi kemuliaan Elohim Bapa (Filipi 2:6-11).
Kerendahan hati Yesus membebaskan para 
pengikutNya dari arogansi Setan dan mengajari mereka, bahwa Tuhan sejati
 bukanlah Tuhan yang congkak, melainkan Tuhan yang rendah hati. Salib 
membebaskan kita dari pembenaran melalui amal yang sangat memberatkan, 
dan membuka pintu bagi kehidupan dibawah anugerah. Kerendahan hati Yesus
 Kristus menunjukkan pada kita, bahwa persekutuan dalam Roh KasihNya 
adalah lebih kuat daripada sebuah tentara modern yang dipenuhi dengan 
pengkhianatan dan kekerasan (Matius 5:44; 26:52). Penyaliban dan 
kebangkitan Kristus sendiri adalah jawaban atas panggilan dari minaret. 
Ia telah merubah doa kita dari ibadah yang dipenuhi dengan ketakutan 
kepada Allah yang penuh dengan penghakiman dan hukuman, kepada pujian 
dan sujud kepada Trinitas yang Kudus.

7. Panggilan dari lonceng gereja

Jauh sebelum kemunculan Islam, orang-orang Kristen juga memiliki 
panggilan harian untuk berdoa dan berefleksi. Banyak menara yang 
memiliki dua, tiga bahkan lebih lonceng, yang dentangannya membawa 
pesan-pesan yang konkret.
Lonceng kematian yang dibunyikan dengan 
perlahan saat memberangkatkan jenazah anggota komunitas gereja 
mengingatkan kita akan doa Musa, “Maka beritahukanlah kepada kami agar 
menghitung hari-hari kami, supaya kami dapat membawa hati yang 
bijaksana” (Mazmur 90:12)! Pada saat yang sama, dentangannya adalah 
sebuah panggilan untuk pertobatan, sebuah perubahan hati dan pulang ke 
rumah Tuhan. Pesannya akan masuk ke dalam kedua telinga dan hati: 
“Bertobatlah, karena kerajaan surga sudah mendekat!” (Matius 4:17).
Lonceng Penyaliban yang berbunyi di 
banyak tempat pada jam 9 pagi; yaitu waktu ketika Yesus dipaku di kayu 
salib (Markus 15:25; John 19:14), pada jam 11 siang, saat ketika 
kegelapan datang (Mat 27:45) dan pada jam 3 sore, saat ketika Yesus 
wafat (Mark 15:34), agar kita memahami bahwa dosa-dosa kita telah 
menyebabkan Tuhan dan Juru Selamat kita dipaku di atas kayu salib! Pada 
saat yang sama, lonceng penyaliban memberitakan kemenangan Yesus Kristus
 atas murka Tuhan, atas tuduhan Setan dan kuasa dosa, sehingga kita bisa
 dengan sukacita dan penuh syukur menerima anugerahNya yang cuma-cuma 
dan juga pembenaran yang seutuhnya (John 19:30; Ibrani 10:14).
Panggilan lonceng-doa yang berbunyi saat
 fajar merekah, pada siang dan malam hari, mengajak kita untuk mengucap 
syukur, menyembah, mengucapkan petisi dan syafaat, bagi pengakuan dosa 
dan pernyatan iman, supaya kita bisa dengan sadar menyelesaikan hari itu
 di hadapan wajah Tuhan dan Bapa kita. Lonceng yang sama, ketika ia 
berdentang pada jam 12 tengah hari, juga disebut oleh sejumlah jemaat 
gereja sebagai lonceng perlawanan, karena ia menantang setiap orang 
untuk tegar menghadapi cobaan dari si Anti-Kristus dengan doa, Firman 
Tuhan dan damai dalam persekutuan dengan orang-orang percaya (1 Yoh 
2:22-25; 4:1-5).
Sebagai tambahan untuk kesemuanya ini, 
banyak gereja yang memiliki lonceng baptisan, yang dengan keras dan 
penuh sukacita bergemuruh ketika seorang anak atau seorang dewasa 
dibaptiskan, karena melalui iman dan baptisan, hidup kekal melalui 
Putera Elohim datang untuk tinggal di dalam kita (Matius 16:16; 28:19; 
Yoh 3:3,5,16).
Terkadang, gereja-gereja besar memiliki 
sebuah “lonceng Dominika”, yang berbunyi sebelum pelaksanaan ibadah pada
 hari Minggu, untuk mengingatkan jemaat akan kebangkitan Kristus dan 
proklamasi kemenanganNya atas maut. Pada saat yang sama, ia juga 
menyaksikan pengharapan yang pasti akan hidup kekal bagi setiap pengikut
 Yesus Kristus (1 Petrus 1:3-7).
Beberapa kubah gereja dan katedral juga 
memiliki sebuah “lonceng Gloriosa”. Pada hari-hari libur spesial, ia 
membawakan suara dari pujian yang tidak pernah berakhir dari orang-orang
 yang sudah ditebus, atas keselamatan yang sudah dianugerahkan oleh 
Bapa, Anak dan Roh Kudus ke setiap rumah di kota-kota dan desa-desa 
(Lukas 2:14; Wahyu 7:9-12).
Sebelum ibadah utama pada hari Minggu, 
semua lonceng (kecuali lonceng “gloriosa”), berdentang bersama-sama dan 
menyerukan pertobatan dan anugerah, untuk berdoa dan beribadah, untuk 
mempercayai kesetiaan Tuhan dan untuk menerima damaiNya yang kekal.
Setiap pendengar yang serius akan 
mengenali bahwa sebuah hari akan ditandai dengan 7 kali bunyi lonceng, 
memanggil kita untuk berada di hadapan hadirat Tuhan: bunyi lonceng pada
 pagi hari saat fajar merekah, bunyi lonceng pada jam 9 pagi, 11 siang, 
12 tengah hari, 3 sore. Ketentuan dalam gereja nasional di Wurttemberg, 
ditulis pada tahun 1956, bukanlah sebuah rangkaian yang tetap, namun 
merupakan sebuah hak istimewa dan bisa ditambahkan atau dikurangi oleh 
gereja-gereja individual.
Satu hal yang pasti: lonceng tidak 
memanggil kita untuk memelihara hukum dengan sasaran untuk meraih 
pembenaran diri melalui pencapaian pribadi. Juga mereka tidak mengajak 
kita agar melakukan perang suci dengan tujuan menegakkan teokrasi 
(pemerintahan Tuhan). Sebaliknya, mereka berkontribusi untuk kemuliaan 
Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam Trinitas Yang Kudus (Efesus 2:4-10).
Apa yang muncul dalam pemikiran kita 
ketika kita mendengar suara lonceng? Siapakah yang mengerti suara mereka
 sebagai sebuah pengingat dan sebuah pendorong untuk kita melaksanakan 
doa secara hening? Dan siapa yang mendoakan banyak orang yang ada di 
tengah-tengah kita, yang sudah lupa bagaimana harus berdoa? Siapakah 
yang memikirkan para pekerja asing dan orang-orang Muslim yang tinggal 
di sekitar kita? Ketika lonceng di negara kita tidak lagi berdentang, 
sebagaimana yang terjadi di bekas negara Uni Sovyet selama 
bertahun-tahun, banyak yang merasakannya bahwa, di tengah-tengah stress 
yang setiap hari kita alami, sesuatu yang esensial sedang hilang.
KUIS

Para pembaca yang terkasih,
Jika anda sudah mempelajari buku ini 
dengan seksama, maka anda akan dengan mudah menjawab 
pertanyaan-pertanyaan berikut. Siapa pun yang menjawab 90 persen dari 
semua pertanyaan di buku yang berbeda dari seri ini dengan benar, bisa 
mendapatkan sebuah sertifikat dari kantor pusat kami.
Sebagai sebuah peneguhan untuk pelayan 
lebih jauh bagi Kristus, kami menghargai jika anda memasukkan juga 
referensi-referensi Qur’anik dalam jawaban anda.
1. Tuliskanlah terjemahan Inggris dari 
setiap panggilan dari minaret.

2. Apa arti seruan “Allahu akbar” dalam perspektif semua ciptaan?

3. Hingga tingkatan apa Allah lebih besar dari semua roh-roh dan juga 
lebih besar dari Roh Kudus?

4. Hingga tingkatan apa Allah lebih besar dari setiap pemikiran tentang 
Dia? Apa artinya konsepsi ini bagi pengetahuan mengenai Tuhan, dalam 
Islam?

5. Bagaimana Qur’an menjustifikasi bahwa Allah lebih besar dibandingkan 
Kristus dan lebih besar dibandingkan iman di dalam Dia?

6. Mengapa Muslim berperang secara fanatik untuk iman mereka bahwa tidak
 ada Tuhan selain Allah?

7. Mengapa seorang Muslim harus percaya kepada Muhammad dan mentaatinya?

8. Apakah artinya panggilan “marilah berdoa”?

9. Mengapa seorang Muslim harus membasuh dirinya sebelum melaksanakan 
sholat sesuai dengan peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan?

10. Berapa kali seorang Muslim dalam sehari harus berdoa dengan 
menggunakan liturgi doa yang sudah disusun?

11. Apakah artinya bahwa seorang Muslim harus mengulangi dalam sehari 
100 kali kalimat “terpujilah Tuhanku, Yang maha Tinggi?”

Kirimkan jawaban anda ke:
GRACE AND TRUTH, P.O.Box 1806
70708 Fellbach, Germany
Atau melalui e-mail ke:
[email protected]
                        





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke