Anda anggap produksi minyak adalah rampasan perang?
Ginilah cara Kristen mutar balik ayat Al Qur'an ya.


Salam,
nDeboost

--- In [email protected], siap murtad <islamic.invas...@...> wrote:
>
> Panggilan 
> dari Minaret, apakah artinya itu?http://conversationwithmuslim.wordpress.com/
> 
> 
>                               Ketika 
> minyak, disebabkan efek Perang Yom Kippur tahun 1973, naik menjadi empat
>  kali harga normal, dan terus menjadi semakin mahal, maka ketegasan para
>  Muslim pun semakin meningkat. Berdasarkan Hukum Islam (Syariah), 20 
> persen dari penghasilan bersih produksi minyak harus diinvestasikan 
> untuk mendukung pengembangan agama Islam (Sura 8:41). Maka sejak saat 
> itu, mesjid-mesjid menjamur di seluruh kontinen.
> 
> Setiap pagi, saat fajar akan merekah, 
> segera setelah “seseorang dapat membedakan antara sebuah benang putih 
> dan benang hitam”, muezzin (pengumandang azan), memanggil dari menara 
> mesjid untuk menyembah Allah. Di kota-kota dan di desa-desa, suara 
> loudspeaker mereka terdengar sangat keras di atap-atap rumah: “Sholat 
> lebih baik daripada tidur!” Lima kali sehari, ajakan untuk sholat turun 
> dari menara-menara itu: saat fajar, tengah hari, sekitar jam 3 sore, 
> saat matahari tenggelam dan pada malam hari (2 jam kemudian).
> 
> Kata “minaret” berasal dari bahasa Arab 
> “manarat”, artinya “mercu suar”. Sama halnya seperti sorotan dari 
> lampu 
> navigasional dipakai untuk mencegah kapal agar tidak kandas atau 
> menabrak karang, demikian juga minaret akan memimpin semua Muslim untuk 
> tetap tinggal di sekitar Islam dan mengajak semua orang-orang non-Muslim
>  yang tersesat untuk bertobat dan memilih “jalan yang lurus” menuju 
> Firdaus. Islam memandang dirinya sebagai “agama yang memanggil”, 
> mengundang semua manusia (Din al-Da’wa), dan memiliki sebuah ideologi 
> misionari yang penuh keyakinan serta bersifat memaksa (Sura 2:193; 8:31;
>  61:9-11).
> 
> Karena panggilan yang disuarakan jutaan 
> kali dari menara-menara mesjid harus diucapkan dalam bahasa Arab, maka 
> pertama-tama kita akan menterjemahkan doa yang diucapkan oleh muezzin 
> tersebut:
> Allah adalah lebih besar! Allah adalah 
> lebih besar!
> Allah adalah lebih besar! Allah adalah 
> lebih besar!
> Aku bersaksi: Tiada Tuhan selain Allah!
> Aku bersaksi: Tiada Tuhan selain Allah!
> Aku bersaksi: Muhammad adalah Rasul 
> Allah!
> Aku bersaksi: Muhammad adalah Rasul 
> Allah!
> Bangunlah untuk berdoa! Bangunlah untuk 
> menjadi sukses!
> Bangunlah untuk berdoa! Bangunlah untuk 
> menjadi sukses!
> Allah adalah lebih besar! Allah adalah 
> lebih besar!
> Pendahuluannya terdiri dari empat kali 
> panggilan: “Allah adalah lebih besar!” Bagian terakhir merupakan 
> pengulangan dari pendahuluan yang diucapkan dua kali. Semua seruan yang 
> lainnya diulangi dua kali. Berikut ini, prinsip-prinsip sentral dari 
> iman Islamik ini akan dijelaskan.
> 
> 1.  Allah adalah lebih besar
> 
> Ringkasan dari pengakuan Islamik ini diulangi sebanyak enam kali dari 
> panggilan yang diserukan oleh muezzin, dan diumumkan dari minaret tiga 
> puluh kali dalam sehari. Penegasan ini seringkali salah diterjemahkan 
> sebagai “Allah adalah besar!” atau “Allah Maha besar/Yang terbesar!” 
> Jika Allah hanya “besar”, maka itu artinya ada mahluk lain yang lebih 
> besar (daripada Dia). Sebaliknya, jika Ia dipanggil “Yang Terbesar”, 
> maka ia akan berada dalam satu kategori dengan ciptaanNya sendiri. 
> Tidak, Allah adalah besar melampaui semua hal yang bisa diperbandingkan!
> 
> 1. Allah ditinggikan di atas semua 
> ciptaanNya: Implikasi dari seruan iman Islamik ini adalah sebagai 
> berikut: Allah, Yang Maha Kuasa, adalah Pencipta dari alam semesta (Sura
>  39:5, 67:2-3; dsb.)! Punya Dialah kemakmuran dan kekayaan. Kepemilikan 
> dan otoritasnya melampaui segala sesuatu (Sura 31:26; 47:38). Dialah 
> yang memiliki kekuatan dan kemuliaan. Kekuasaan dan penyembahan adalah 
> milikNya seorang (Sura 55:27). Ia memiliki lebih banyak pengetahuan dan 
> hikmat dibandingkan dengan semua ahli filsafat (Sura 2:282; 9:60, dsb.).
>  Ia lebih menakutkan daripada semua bom nuklir dan hidrogen (Sura 57:2; 
> 64:1; 67:1-2; dsb.)
> 
> 2. Allah adalah lebih besar daripada 
> semua roh dalam dunia supranatural: Kematian diyakini berada dibawah 
> kendaliNya. Tak ada seorang pun yang mati secara kebetulan. Allah 
> membunuh siapa pun yang Ia kehendaki (Sura 30:40; 40:68; dsb.). Bahkan 
> Setan adalah budakNya sebagaimana halnya semua ciptaan yang lain (Sura 
> 25:2). Keinginan Allah adalah untuk memenuhi neraka dengan manusia dan 
> roh-roh (Sura 32:13)! Semua malaikat ada dibawah perintahNya. Qur’an 
> berbicara mengenai Roh Kudus sebagai budak Allah juga (Sura 17:85; 
> 97:4). Sebagaimana halnya “Jibril” (Gabriel) dianggap sebagai oknum yang
>  telah menyampaikan pewahyuan dari Tuhannya kepada Zakaria, Maria, 
> Kristus dan Muhammad. Roh-roh yang percaya kepada Qur’an dianggap 
> sebagai Muslim. Namun demikian, mereka tidak memiliki akses ke Surga 
> (Sura 72:8-14).
> 
> Orang-orang Muslim percaya ketika Neil 
> Armstrong keluar dari pesawat ruang angkasa dan menginjakkan kaki di 
> bulan, ia mendengar seruan: “Allah adalah lebih besar”. Ketika ia 
> kemudian ditanya melalui telepon, Armstrong menjawab bahwa ia tidak 
> mendengar suara atau bunyi apa pun. Namun demikian, orang-orang Muslim 
> masih tetap meyakini bahwa seruan “Allah adalah lebih besar!” memenuhi 
> seluruh alam semesta!
> 
> 3. Allah adalah lebih besar dari apapun 
> pengertian mengenai Dia: Semua pemikiran, pengetahuan dan tulisan 
> mengenai pencipta, Tuhan dan hakim dunia tampaknya dalam Islam tidak 
> mencukupi. Setiap statement teologis secara realitas akan gugur dan pada
>  akhirnya akan dianggap palsu. Beberapa nama dari ke-99 nama-nama Allah 
> yang paling indah berkontradiksi satu sama lain, sehingga, menurut 
> al-Ghazali, Allah itu pastilah segala sesuatu dan bukan segala sesuatu. 
> Ia tidak dapat diselami. Ia tetap secara total berbeda; agung, sangat 
> jauh, Tuhan yang tidak terjangkau, jauh melampaui kategori-kategori dan 
> emosi-emosi manusia (Sura 47:4-5).
> 
> Ia tetap dianggap sebagai Tuhan yang 
> adil, kendati Ia menyesatkan siapa pun yang Ia inginkan. Ia membimbing 
> ke jalan yang lurus siapa pun yang ia inginkan (Sura 6:39; 13:27; 
> 14:14). Ia menggantikan wahyu-wahyu yang Ia sampaikan sebelumnya dengan 
> wahyu-wahyu yang lebih baik, yang cocok dengan situasi yang berlaku 
> kemudian. Sekitar 240 ayat-ayat dalam Qur’an telah dibatalkan dengan 
> wahyu-wahyu kemudian (Sura 16:101-103). Yang Maha Kuasa sanggup 
> menghancurkan hamba-hambaNya, utusan-utusan dan agen-agen pewahyuanNya 
> saat Ia menganggap tepat untuk melakukannya. Berdasarkan Qur’an, Yesus 
> juga dikategorikan sebagai manusia, yang bisa Tuhan hapuskan pada satu 
> waktu, sebagaimana yang Ia kehendaki (Sura 5:17). Allah jauh melampaui 
> ide-ide manusia mengenai keadilan. Ia adalah penipu daya yang paling 
> cerdik dari semuanya (Sura 3:54; 8:30)! Ia tidak bertanggungjawab kepada
>  siapa pun.
> 
> 4. Allah bahkan lebih besar daripada 
> iman Kristen: Dalam Islam, putera Maria tidak disebut Yesus melainkan 
> “Isa”. Dengan mengganti nama ini, maka Islam telah merampok 
> keilahianNya, eksistensiNya yang kekal dan kuasa penyelamatanNya (Sura 
> 4:171; 5:72; 9:30). Qur’an mempresentasikan ‘Isa sebagai sebuah roh 
> Allah yang diciptakan’, yang ditiupkan ke rahim Maria (Sura 3:47,59). 
> Semua mujizat-mujizatNya dianggap bisa terjadi dengan seijin Yang Maha 
> Kuasa dan dengan pertolongan rohNya (Sura 5:110). Berdasarkan teologi 
> Islam, ’Isa tidak disalibkan, tetapi dengan diam-diam dibuat tidak sadar
>  dan kemudian dilahirkan pada TuhanNya dalam kondisi hidup (Sura 3:55; 
> 4:157-158). Berdasarkan tradisi, Ia akan kembali pada akhir zaman untuk 
> membunuh anti-Kristus dan untuk mengubahkan orang-orang tak bertuhan 
> menjadi Islam. Allah dianggap lebih besar daripada ‘Isa, yang akan tetap
>  untuk selama-lamanya menjadi hambaNya.
> 
> Dalam Islam, Roh Kudus bukanlah kudus 
> dalam diriNya sendiri, tetapi hanya disebut “sebuah roh dari Yang Kudus”
>  (Sura 2:87.253; 5:110; 16:102). Sebagaimana halnya Jibril (Gabriel) ia 
> berada dibawah otoritas Yang Maha Mulia dan pada Hari Penghakiman ia 
> harus berdiri dalam sebuah antrian yang panjang bersama-sama dengan 
> semua malaikat, dengan diam menantikan vonis yang akan dijatuhkan 
> padanya (Sura 78:38)
> Allah dalam Islam bukanlah Tuhan Sang 
> Bapa. Ia tidak dikandung dan juga tidak dilahirkan. Tak ada yang 
> menyamaiNya (Sura 112:3-4). Ia bukanlah Tuhan Yang adalah kasih adanya, 
> yang ingin membangun sebuah hubungan pribadi dengan orang-orang Muslim, 
> agar Ia bisa mengadakan perjanjian dengan mereka. Ia menunjukkan belas 
> kasihan kepada siapa saja yang Ia pilih, tetapi tetap jauh keberadaanNya
>  dengan ciptaanNya. Allah tidak hadir di Firdaus atau di Surganya 
> Muslim. Ia jauh menjulang di atas mereka dan untuk selamanya Ia akan 
> tetap tidak bisa diakses.
> 
> Setiap pembaca yang cerdas yang 
> memperbandingkan outline singkat ini dengan referensi-referensi Qur’anik
>  akan tiba pada kesimpulan bahwa: Allah dalam Islam bukanlah Tuhan di 
> Alkitab.
> 
> 2. Tidak ada Tuhan selain Allah
> 
> Setelah keempat bagian “kebesaran Allah” (takbir), muezzin akan 
> menyerukan dengan suara yang keras iman Islamik mereka. Ketika melakukan
>  hal ini, mereka tidak sedang mengajukan sebuah diskusi teologis, tetapi
>  sebaliknya, mempresentasikan kepada semua Muslim, bahwa mereka sedang 
> mengucapkan pengakuan akan pondasi dan kultur dari agama mereka. Siapa 
> pun yang mendengarkan panggilan ini, harus mengulangi deklarasi iman 
> Islamik dengan bibirnya atau di dalam hatinya. Kapan pun pengakuan ini 
> diserukan, diperdengarkan atau diterima, pemerintahan Allah telah 
> dimulai, sesuai dengan pemahaman Islamik.
> 
> Siapa pun yang dengan sadar mengucapkan 
> kesaksian ini dua kali di hadapan para Muslim, maka dengan ini ia 
> menjadi seorang Muslim! Pengulangan dari artikel iman ini tidak hanya 
> merupakan bagian pertama dari pengakuan (Kredo) Islamik, tetapi ia juga 
> memiliki jangkauan yang jauh, yang secara legal merupakan karakter yang 
> mengikat.
> 
> Muslim memberikan kesaksian bahwa tidak 
> ada Tuhan selain Allah (Sura 59:23). Dengan melakukan hal ini, mereka 
> memasuki konflik yang sama seperti yang pernah dialami Musa dan 
> nabi-nabi Perjanjian Lama. Muhammad ingin menghapuskan politeisme di 
> Ka’aba yang ada di Mekah, dan mendirikan sebuah agama modern yang 
> merupakan sinkritisme antara Yudaisme, Kekristenan dan 
> komunitas-komunitas agama lainnya. Ia percaya kepada satu-satunya Tuhan,
>  sebagaimana halnya orang-orang Yahudi mengakuiNya dan dengan keras 
> menyangkali kemungkinan bahwa Yang Satu itu ada dalam Tiga (Sura 4:171; 
> 5:73,116). Muhammad mengecam iman kepada Trinitas yang Kudus sebagai 
> sebuah penghujatan yang tidak bisa diampuni. Misteri kasih Tuhan yang 
> berinkarnasi dalam puteraNya Yesus, agar semua yang percaya padaNya bisa
>  menerima Roh Kudus, tidak cocok dengan konsep dari nabi Arab ini (Sura 
> 9:29).
> Karena itu, panggilan dari minaret 
> memiliki implikasi sebagai sebuah penolakan yang sangat mencolok 
> terhadap Tuhan sebagai Sang Bapa, Anak dan Roh Kudus! Kesaksian dari 
> para muezzin berisi sebuah pesan anti-Kristen dan anti-spiritual, yang 
> merobek semua mimpi-mimpi humanistik dari Pencerahan hingga tinggal 
> serpihan-serpihan. Allah Islam tidak akan pernah merupakan Bapa dari 
> Yesus Kristus! Panggilan dari minaret ibarat ribuan serangan yang 
> dilakukan secara terus-menerus terhadap keyakinan dari setiap orang 
> Kristen! Sayangnya, hanya sedikit orang yang memahami hal ini.
> 
> 3. Muhammad adalah UtusanNya
> 
> Para muezzin tidak hanya menyatakan iman mereka kepada Allah, tetapi 
> juga iman mereka kepada Muhammad, yang, berdasarkan pengakuan Islamik, 
> ia bukan hanya seorang nabi, tetapi merupakan Utusan Allah. Bahkan 
> Muhammad sendiri memahami dirinya sebagai seorang pengawas yang 
> memberikan peringatan kepada umat akan kedatangan hari penghakiman (Sura
>  13:7; 38:4,65; 50:2, dsb.). Ia menyaksikan hukum Islamik (Syariah) 
> sebagai satu-satunya kemungkinan bagi murid-muridnya untuk bisa 
> diselamatkan dari penghukuman Hakim yang kekal. Muhammad tidak pernah 
> menyebut dirinya sebagai penyelamat, pembebas atau seorang mediator, 
> melainkan memandang dirinya sebagai utusan atau wakil Allah, mencoba 
> untuk membimbing semua Muslim ke Firdaus melalui mentaati hukum-hukumnya
>  (Sura 1:6; 5:48, 45:18).
> 
> Muhammad tidak hanya menuntut kepada 
> para pengikutnya untuk mempercayai dan beriman kepada dirinya sendiri, 
> tetapi juga ketaatan dan penyerahan tanpa syarat terhadap otoritasnya 
> (Sura 4:59, 150-152; 7:158; 47:33; 49:14; 57:28). Banyak dari para 
> idealis yang meyakini bahwa Islam mengajarkan iman hanya kepada Allah. 
> Ini adalah sebuah kesalahan. Qur’an juga menuntut sebuah ketaatan iman 
> secara menyeluruh kepada Muhammad. Setiap Muslim harus hidup sama 
> seperti nabinya hidup. Ia harus, diumpamakan “mengenakan” Muhammad! Cara
>  hidupnya (Sunnah) merupakan sumber kedua dari Syariah. Karena itu 
> Muhammad menjadi standard dan tujuan dari agamanya.
> 
> Islam bukanlah agama dalam pengertian 
> sebagai Pencerahan, melainkan sebuah ideologi dimana agama dan politik, 
> ibadah dan Perang Suci, iman dan legislasi dianggap sebagai sebuah 
> kesatuan. Tujuan Islam yang tetap adalah negara berdasarkan agama (Sura 
> 2:193; 8:39; 49:14). Hukum menuntut sebuah otoritas eksekutif, sama 
> halnya dengan negara Islamik membutuhkan sebuah hukum juga). Untuk 
> alasan inilah, agama dan politik harus merupakan satu kesatuan. Muhammad
>  memahami dirinya baik sebagai seorang nabi dan juga seorang negarawan. 
> Musa adalah satu dari role model yang paling penting baginya.
> Hassan al-Banna, pendiri dari 
> Persaudaraan Muslim di Mesir, mengajarkan bahwa seorang beriman yang 
> berdoa, berpuasa dan membayar pajak keagamaannya, masih tetap gagal 
> untuk menjadi seorang Muslim yang baik. Hanya ketika Syariah 
> dilaksanakan di negara dimana ia hidup, maka imannya pun akan bisa 
> mencapai kesempurnaan. Semua praktek-praktek keagamaan lainnya hanya 
> merupakan tahap awal dari Islam yang sesungguhnya. Untuk alasan ini, 
> iman kepada Muhammad selalu tertuju pada sebuah negara agama.
> 4. Marilah berdoa!
> 
> Sepuluh kali sehari, orang-orang Muslim mendengar panggilan ini dari 
> para muezzin mereka. Hal ini tidak berarti bahwa mereka dipanggil untuk 
> melakukan doa pribadi dengan tidak bersuara, tetapi untuk beribadah di 
> mesjid sebanyak lima kali. Siapa pun yang tidak bisa pergi ke mesjid, 
> bisa melaksanakan ritual doa yang diwajibkan ini di rumah mereka, di 
> pesawat terbang atau di tempat-tempat umum. Ritual doa jika memungkinkan
>  harus diucapkan dalam bahasa Arab. Semua Muslim diwajibkan untuk 
> berdoa, karena beribadah kepada Allah ada tertulis dalam hukum!
> 
> Setiap waktu doa didahului dengan 
> melakukan wudhu (pembersihan) sesuai dengan ritual yang ditentukan (Sura
>  5:6). Muhammad Hamidullah menggambarkan ritual ini dalam bukunya 
> “Introduksi kepada Islam” sebagai berikut:
> “Langkah pertama adalah memformulasikan 
> penekanan mengenai pemurnian, dengan mengatakan “bismillah” (dengan nama
>  Allah), mencuci tangan hingga pergelangan, membasuh mulut dengan air, 
> membersihkan lubang hidung dengan air, membasuh muka dari jidat hingga 
> dagu dan dari telinga yang satu ke telinga yang lain, membasuh lengan 
> kanan dan kemudian lengan kiri hingga siku (inklusif), menyapukan 
> jari-jari yang basah ke muka dan lubang telinga (dan berdasarkan 
> pengajaran beberapa sekolah, juga termasuk leher), kemudian pertama-tama
>  mencuci kaki sebelah kanan dan kemudian sebelah kiri hingga pergelangan
>  â€" melakukan setiap aksi ini sebanyak tiga kali (kecuali airnya tidak 
> mencukupi, dimana dalam sejumlah kasus sekali pun sudah dianggap 
> mencukupi).”
> 
> Jika rangkaian pembasuhan dilaksanakan 
> tidak benar, maka doa dari individu tersebut menjadi batal. Jika air 
> sepenuhnya kurang, seseorang boleh membasuh muka dan tangannya dengan 
> pasir atau batu (tayammum) sebagai pernyataan kesungguhan dan untuk 
> menggantikan ritual pemurnian diri. Setelah melakukan wudhu hingga 
> berakhirnya ritual doa, kecuali untuk bernafas dan mengeluarkan 
> kata-kata, tak ada satu pun yang boleh keluar dari tubuh seorang Muslim,
>  sebab jika tidak maka ibadahnya menjadi batal.
> Seorang Muslim tahu bahwa ia tidak bisa 
> datang menghampiri Allah seperti apa adanya dia. Ia harus memurnikan 
> dirinya sendiri dari kepala hingga kaki. Pembaharuan pikiran dan 
> pengudusan hati tidak dikenal dalam Islam. Karena itu, pengudusan harian
>  untuk berdoa tetap bersifat eksternal dan “hanya di permukaan saja”, 
> tidak memproduksi sebuah pertobatan yang dalam atau sebuah perubahan 
> karakter, atau sebuah pemurnian keinginan.
> 
> Ke-lima doa wajib dari orang-orang 
> Muslim secara praktis tidak melibatkan komunikasi dengan Tuhan. Doa itu 
> terdiri dari liturgi-liturgi yang sudah ditentukan, yang bertujuan untuk
>  memuliakan Allah dan penyerahan diri para individu kepada ketuhananNya.
>  Sebuah pengakuan dosa atau sebuah syafaat bagi mereka yang tengah 
> mengalami kesusahan hampir-hampir tidak ditemukan dalam ritual 
> doa/sholat.
> 
> Pada awalnya, orang-orang yang hendak 
> sholat di mesjid akan berdiri di barisannya dan berkonsentrasi dengan 
> apa yang akan mereka katakan atau doakan. Kemudian, mereka akan 
> memberikan pengakuan pada permulaan lingkaran doa bahwa “Allah adalah 
> lebih besar!” Setelah itu, dengan tidak bersuara mereka akan mengucapkan
>  untuk diri mereka sendiri Al-Fatiha, doa utama Islam (Sura al-Fatiha 
> 1:1-6), atau Sura kesetiaan (Sura al-Ikhlas 112:1-4), keduanya berisi 
> sebuah penyangkalan langsung terhadap Trinitas.
> 
> Para pemuja/umat kemudian merangkum doa 
> yang mereka naikkan dengan tidak bersuara dengan sebuah seruan “Allah 
> adalah lebih besar”!, menundukkan kepala mereka selagi mereka berdiri 
> dan berbicara dalam hati: “Kemuliaan bagi Tuhanku yang besar!”
> 
> Setelah itu mereka kembali menegakkan 
> kepalanya dan berkata, “Allah mendengarkan setiap orang yang 
> memuliakanNya!”, kemudian mereka mengulangi kalimat, “Allah adalah lebih
>  besar!”, kemudian berlutut dan sujud, menyentuh dahi mereka ke tanah 
> (Sura 17:107; 22:77; 48:29). Kemudian setiap orang berkata tiga kali, 
> “Kemuliaan bagi Tuhan Yang Maha Tinggi!”
> Masih berlutut, mereka menegakkan 
> kembali bagian atas tubuh mereka dan mengucapkan pengakuan, “Allah 
> adalah lebih besar!”
> Kemudian mereka sujud ke tanah untuk 
> kedua kalinya dan kembali mengucapkan doksologi Islam sebanyak tiga 
> kali, “Kemuliaan bagi Tuhan yang Maha Tinggi!”
> Setelah menyelesaikan lingkaran doa yang
>  pertama, mereka kembali berdiri dan mengulangi lingkaran berikutnya 
> dengan seruan “Allah adalah lebih besar!”, kemudian kembali mengulangi 
> kata-kata dan gerak tubuh yang sama persis dengan sebelumnya.
> Berdasarkan peraturan dari orang-orang 
> Maliki, dimana termasuk di dalamnya kebanyakan Muslim Afrika, liturgi 
> doa yang bersifat tetap ini diulangi dua kali pada waktu fajar, empat 
> kali pada tengah hari, empat kali pada sore hari, tiga kali pada waktu 
> matahari terbenam, dan empat kali pada malam hari. Seluruhnya, liturgi 
> doa yang sama dilakukan sebanyak 17 kali dalam sehari.
> Pada penutupan setiap sesi doa, para 
> penyembah mengucapkan Kredo mereka dalam sebuah versi yang diperpanjang,
>  yang menegaskan penolakan mereka akan ketuhanan Kristus dan ketuhanan 
> Roh Kudus. Akhirnya, setiap penyembah menyalami rekan di sebelah 
> kanannya dengan damai Allah.
> Dengan cara ini, dalam satu hari, 
> orang-orang Muslim mengucapkan lebih dari 100 kali, “Kemuliaan bagi 
> Tuhan Yang Maha Tinggi!”, 68 kali pengakuan, “Allah adalah yang lebih 
> besar!”, 51 kali mereka mengulangi, “Kemuliaan bagi Tuhan Yang Besar!”, 
> 17 kali mereka menegaskan, “Allah mendengarkan orang-orang yang 
> memujiNya!”, 5 kali mereka mengulangi Pengakuan (Kredo) Islamik, dan 
> mengulangi pernyataan salam damai, yang hanya diperuntukkan bagi 
> orang-orang Muslim saja. Di sini, sebuah prinsip dari pendidikan Islamik
>  menjadi bukti: Pengulangan yang terus-menerus membawa kepada 
> konsolidasi dan memenuhi pemikiran bawah sadar! Pemikiran rasional dan 
> doa individual jarang dilakukan; kecuali sebuah liturgi sederhana yang 
> dimaksudkan untuk menolong mereka yang buta huruf untuk memuliakan Allah
>  dan menyerahkan diri mereka kepadaNya.
> Penyembahan kepada Allah berpuncak pada 
> sikap sujud Muslim, menundukkan dahi mereka hingga menyentuh tanah. 
> Selama lima kali melakukan sholat, mereka sujud di hadapan Allah hingga 
> 34 kali sehari. Tujuan dari praktek ini adalah untuk membawa seluruh 
> hidup mereka kepada Sang Pencipta, Tuhan dan Hakim. Mereka sepenuhnya 
> adalah milikNya. Seorang Muslim tidak lagi menjadi seorang yang bebas. 
> Ia telah meletakkan dirinya ke dalam tangan Allah. Ia terikat padaNya. 
> Ia adalah budak dan harta milikNya. Islam artinya penundukan, 
> penyerahan, atau kepatuhan. Dalam doa-doa harian yang dilakukan, 
> penyerahan menjadi sebuah realitas. Doa resmi adalah tulang punggung 
> dari agama ini.
> Namun demikian, Allah dalam Islam 
> bukanlah Bapa dari Yesus Kristus. Ia adalah ilah yang lain di samping 
> Bapa, Anak dan Roh Kudus. Hal ini berarti bahwa, ketika orang-orang 
> Muslim menyerah kepada Allah, mereka sedang menyerahkan diri mereka ke 
> dalam kuasa dari sebuah roh yang anti-Kristen, yang sekarang menguasai 
> mereka. Inilah alasan bagi ikatan korporat dari kebanyakan orang-orang 
> Muslim. Ritual doa harian yang mereka lakukan, menegaskan akan 
> perbudakan yang mereka alami, dan yang mengendalikan mereka kepada 
> ketaatan buta kepada perkataan-perkataan Qur’an.
> 
> 5. Bangkit menuju kesuksesan
> 
> 9 kali dalam sehari, pengharapan Islamik dikumandangkan dalam panggilan 
> Muezzin, “Siapa pun yang melakukan sholat (berdoa) akan berhasil.” Hal 
> ini terutama mengandung makna bahwa bidang kehidupan sehari-hari akan 
> diberkati, yaitu: kesehatan yang baik, lulus dalam ujian, efektif di 
> pekerjaan dan keberuntungan dalam cinta, lahirnya banyak anak laki-laki,
>  perencanaan politik dan ekonomi yang berhasil, dan kemenangan yang 
> mulia dalam apa yang dinamakan sebagai Perang Suci (jihad). Jangkauan 
> penuh dari keinginan duniawi Muslim juga dimasukkan dalam panggilan ini,
>  “Bangkitlah untuk berdoa â€" bangkitlah menuju kesuksesan!”
> Mengenai hidup sesudah mati, panggilan 
> untuk berdoa ini berusaha untuk meraih pengampunan dosa melalui 
> penyembahan reguler kepada Allah. Tujuan lain dari pemujaan adalah 
> sukses yang bisa dilihat dalam penyebaran Islam. Lebih jauh lagi, 
> penekanan dari doa seperti ini adalah untuk memanipulasi roh-roh (jin) 
> untuk tujuan personal dan kutukan spesifik terhadap musuh (Sura 3:61). 
> Harapan dari para penyembah, melalui ibadahnya adalah untuk mendapatkan 
> sebuah putusan yang ringan pada Hari Penghakiman, yaitu untuk dibebaskan
>  dari api Neraka (Sura 19:72), dan untuk memperoleh akses kepada 
> kegembiraan dan kesenangan dari Taman Firdaus (Sura 9:111).
> Menjadi sangat jelas, dari apa yang baru
>  saja disampaikan, bahwa Islam adalah sebuah bentuk pembenaran 
> berdasarkan perbuatan. Keselamatan yang ia tawarkan bukanlah berasal 
> lewat anugerah, melainkan melalui prestasi religius personal. Seorang 
> Muslim berharap bahwa perbuatan-perbuatannya yang baik akan meringankan 
> perbuatan-perbuatannya yang jahat (Sura 11:114). Ia percaya bahwa ia 
> akan dibenarkan melalui memuja Allah (Sura 5:12; 35:29-30; dsb.). Dengan
>  berpuasa pada bulan Ramadhan, membayar pajak keagamaan, dan juga 
> memberikan sedekah kepada fakir miskin, merupakan ekspresi dari 
> penebusan diri yang sengaja dilakukan dan telah dikalkulasikan 
> sebelumnya. Doa adalah sebuah perjanjian dengan Allah yang, lebih cepat 
> daripada komputer, mencatat nomor dan intensitas dari ibadah para pemuja
>  serta menimbangnya dengan dosa-dosa dan kelalaian di sisi yang lain 
> (Sura 4:6,86; 6:62; 24:39).
> Lima kali waktu sholat bukanlah sesuatu 
> yang dilakukan dengan sukarela atau sesuatu yang dilakukan karena 
> bimbingan roh: ini adalah sebuah kewajiban dan sebuah hukum. Waktunya 
> sudah ditetapkan dan liturginya pun sudah ditentukan. Setiap Muslim 
> harus tunduk pada persyaratan-persyaratan syariah (hukum Islam). 
> Ketaatan mereka secara persis, dikatakan bisa menyelamatkan seseorang 
> dari penghakiman Allah. Islam adalah agama yang ada di bawah hukum dan 
> bukan ditemukan melalui anugerah dari seorang Penyelamat (Sura 5:9; 
> 22:50; 29:7; 33:35; dsb.).
> Di sinilah terletak kesalahan utama 
> Islam. Sementara ritual pembasuhan (wudhu) sebelum waktu sholat hanya 
> bisa memurnikan kulit dan bukan hati, karena itu doa dalam Islam tidak 
> bisa memproduksi keselamatan sepenuhnya. Muslim tidak menyadari 
> kerusakan dirinya karena ia tidak menyadari Tuhan Yang Maha Kudus yang 
> adalah kasih. Ia meraba-raba di tempat yang berkabut sebab ia tidak 
> berjalan dalam terang Alkitab. Ia membayangkan bahwa ia cukup baik untuk
>  menyelamatkan dirinya dari penghakiman Allah. Ia tidak tahu bahwa ia 
> dilahirkan dalam kondisi berdosa dan bahwa apa pun yang ia lakukan telah
>  dinodai oleh dosa (Kejadian 6:5; 8:21; Mazmur 51:5). Ia menolak Sang 
> Penyelamat, Yesus Kristus dan menolak keselamatan yang dibangun 
> berdasarkan anugerah cuma-cuma dari Bapa, yang sudah dipersiapkan 
> baginya. Muslim tidak bisa memahami pujian Rasul Paulus yang menulis 
> himne berikut ini:
> Terberkatilah Elohim dan Bapa Tuhan kita
>  YESUS Kristus, yang telah memberkati kita dengan segala berkat rohani 
> di alam semesta di dalam Kristus. (Efesus 1:3 â€" ILT)
> Orang Kristen tidak berdoa supaya mereka
>  akan diselamatkan atau meraih kesuksesan pada waktunya dan dalam 
> kekekalan; sebaliknya mereka berterimakasih kepada Bapa mereka di surga 
> karena Ia sudah menyelamatkan mereka melalui puteraNya Yesus Kristus. 
> Setelah kematian di kayu salib untuk penebusan yang dilakukan oleh 
> PuteraNya, ia membuka lebar-lebar pintu gerbang surga untuk mereka yang 
> menyembahNya dan untuk para lawan (Kis 2:17-21). Tujuan dari doa yang 
> kita naikkan adalah untuk mengekspresikan ucapan terimakasih kita atas 
> keselamatan yang menyeluruh melalui pencurahan Roh Kudus di dalam hati 
> kita. Kita tidak menyembah Tuhan supaya Ia berbelas-kasihan kepada kita,
>  tetapi sebaliknya kita mengasihi dan memujiNya karena Ia telah 
> membenarkan kita dan melahirkan kita kembali melalui RohNya. Kita berdoa
>  supaya seluruh kehidupan kita akan menjadi pujian bagi kemuliaan 
> anugerahNya (Efesus 1:13-14)
> 
> 6. Allah adalah lebih besar!
> 
> Di akhir dari panggilan mereka untuk melaksanakan sholat, para muezzin 
> kembali menyerukan sebanyak dua kali, “Allah adalah lebih besar!” 
> Seluruhnya sebanyak 98 kali sehari Allah ditinggikan dari menara-menara 
> mesjid.
> Penyembahan kepada Allah ini 
> kadang-kadang bisa memimpin pada sebuah perpecahan dalam sebuah suku 
> jika beberapa dari anggotanya menolak untuk memeluk Islam. Para partisan
>  Hizbullah dianggap telah menerima porsi yang spesial dari roh Allah, 
> sebab mereka lebih suka komunitas Muslim untuk terikat dengan 
> saudara-saudari mereka yang belum percaya pada Islam. Jika 
> saudara-saudari mereka ini tetap menolak iman Islam, maka para 
> gerilyawan pejuang ini diminta untuk meninggalkan atau menyerang mereka 
> (Sura 58:22).
> 1. Allah dianggap lebih besar daripada 
> sebuah negara Islamik liberal yang menolak untuk mengaplikasikan syariah
>  dalam integritasnya. Panggilan para muezzin adalah menghasut para 
> pendengar untuk mengadakan revolusi, yaitu jika sebuah pemerintahan 
> Muslim menyangkali otoritas syariah. Dalam sebuah negara non-Islamik, 
> orang beriman diharapkan untuk mempersembahkan masyarakat tidak percaya 
> yang ada di sekeliling mereka melalui nama dengan tujuan untuk 
> menginfiltrasi mereka dari dalam.
> 2. Allah juga dianggap lebih besar 
> daripada ketakutan dan keraguan dari kebanyakan orang-orang Muslim untuk
>  menantang musuh-musuh Islam dibawah keanehan yang berlebih-lebihan. 
> Mereka dijanjikan bahwa para malaikat akan menolong mereka ketika 
> terjadi peperangan. Mereka dipanggil untuk mempercayai kemenangan 
> minoritas Islamik melawan setiap mayoritas anti-Islamik. Bukan saja 
> bahwa mereka akan mengalahkan musuh-musuh Islam, tetapi bahwa Allah 
> sendiri akan berperang melawan mereka dan menghancurkan mereka melalui 
> intervensi mereka (Sura 8:17). Ayat ini membuka lebar-lebar pintu kepada
>  terorisme dengan mendefinisikan tindakan kekerasan yang keji dan 
> disengaja sebagai ibadah kepada Allah.
> 
> 3. Allah dianggap lebih besar dari semua
>  penyembah berhala, orang-orang tidak percaya, orang beriman yang 
> setengah hati, Yahudi dan Kristen. Semuanya ditantang oleh para muezzin 
> untuk mengambil bagian dalam doa-doa harian. Sikap tunduk mereka di 
> hadapan Allah menjadi tanda luar dari pertobatan mereka. Namun demikian,
>  Qur’an mendeklarasikan sebuah perang tanpa belas kasihan pada siapa pun
>  yang menolak untuk menerima iman (Sura 2:191-193; 8:60; 9:5,12-14,29). 
> Meskipun demikian, orang Yahudi dan Kristen, jika mereka tunduk, mereka 
> memiliki hak untuk diperlakukan sebagai warga negara kelas dua di sebuah
>  negara Islamik.
> 4. Allah dianggap lebih besar dari semua
>  illah. Otoritasnya atas alam semesta tidak tertandingi. Kedua perintah 
> misionari dalam Qur’an mempersyaratkan orang-orang Muslim untuk 
> menggunakan kekerasan yang dipersenjatai hingga tidak ada lagi godaan 
> untuk melakukan kemurtadan dan ketundukan kepada Allah meliputi seluruh 
> dunia (Sura 2:193; 8:39).
> Hukuman yang menyakitkan dan 
> mempermalukan di dunia sekarang dan dunia yang akan datang menanti 
> mereka yang mencoba terlebih dahulu memeriksa Islam (Sura 2:7; 9:101; 
> 33:57; 45:9; 58:5.16 dsb.). Di Indonesia, lusinan orang Muslim 
> meneriakkan kalimat “Allah hu Akbar” (Allah adalah lebih besar) sebelum 
> mereka memperkosa gadis-gadis Kristen keturunan Cina sebagai sebuah 
> hukuman yang mereka anggap sah karena menolak Islam. Saddam Husein 
> mengenakan sebuah rompi anti peluru ketika ia menubuatkan kemenangan 
> Allah atas Amerika Serikat dan Inggris. Di dinding tepat di belakangnya 
> tidak ada apa-apa kecuali sebuah bendera bertuliskan “Allah adalah lebih
>  besar.” Bagi dia dan Osama Bin Laden, penggunaan senjata-senjata 
> penghancur massal ABC merupakan sebuah ibadah kepada Allah.
> 5. Apakah Allah juga lebih besar 
> daripada Islam? Bentuk singkat dari iman Islamik juga berisi beberapa 
> lubang yang berbahaya. Kaum Sufi (para mistik Islam) dalam 
> asosiasi-asosiasi (turuq), mencoba untuk mengalami sebuah kesadaran 
> personal yang lebih besar dalam penyembahan mereka melampaui 
> peraturan-peraturan kaku syariah dan liturgi yang monoton di mesjid, 
> yang mana bagi mereka, Allah sendiri melebihi hukum-hukumNya dan 
> peraturan-peraturan keagamaan. Beberapa dari mereka bahkan mencoba, 
> melalui mempraktekkan meditasi, untuk masuk dalam kontak dengan Allah 
> sendiri, untuk mempenetrasi Dia atau untuk mencapai ruang dari roh-roh 
> “di luar” Dia. Mereka menganggap pemahaman tradisional mengenai Allah 
> seumpama sebuah kulit/cangkang luar, yang mereka coba untuk 
> penetrasikan. Mereka mengabaikan fakta bahwa banyak dari mereka, ketika 
> berada dalam proses itu, mengalami kerasukan (Sura 3:7,23; 5:59; 
> 24:35-36, dsb.).
> 6. Apakah Allah juga lebih besar dari 
> diriNya sendiri? Allah dalam Qur’an, menyebut diriNya sebagai Yang 
> Angkuh atau Yang Arogan (Sura 59:23). Panggilan para muezzin dan liturgi
>  sholat mengatakan bahwa Allah tidak saja besar, tetapi bahwa 
> kebesaranNya secara konstan semakin meluas. Bukankah roh yang angkuh ini
>  adalah dosa dari si Setan, yang pada akhirnya akan memimpin pada 
> kejatuhan yang besar dan membawa serta semua pengikutnya bersamanya ke 
> Neraka?!
> Yesus sebaliknya sangat berlawanan. Ia 
> mengosongkan diriNya sendiri dan menjadi seorang bayi di palungan (Lukas
>  2:9-12). Ia menjadi hamba dan mengucapkan rekomendasi berikut: 
> “Belajarlah padaku, karena Aku ini lemah lembut dan rendah hati” (Matius
>  11:29). Ia merendahkan diriNya hingga pada titik bagaimana Ia 
> dicemoohkan oleh orang banyak, diludahi, disiksa dan akhirnya mati di 
> kayu salib untuk menggantikan kita (Yesaya 53:3-12; Matius 26:66-67; 
> Lukas 22:63-65). Karena Ia telah turun dan merendahkan diriNya 
> sedemikian rupa, maka Elohim (YAHWEH) sangat meninggikan Dia dan 
> mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, supaya di dalam Nama 
> YESUS, setiap lutut, yang surgawi dan duniawi dan yang di bawah bumi, 
> akan bertelut, dan setiap lidah mengaku bahwa YESUS Kristus adalah Tuhan
>  bagi kemuliaan Elohim Bapa (Filipi 2:6-11).
> Kerendahan hati Yesus membebaskan para 
> pengikutNya dari arogansi Setan dan mengajari mereka, bahwa Tuhan sejati
>  bukanlah Tuhan yang congkak, melainkan Tuhan yang rendah hati. Salib 
> membebaskan kita dari pembenaran melalui amal yang sangat memberatkan, 
> dan membuka pintu bagi kehidupan dibawah anugerah. Kerendahan hati Yesus
>  Kristus menunjukkan pada kita, bahwa persekutuan dalam Roh KasihNya 
> adalah lebih kuat daripada sebuah tentara modern yang dipenuhi dengan 
> pengkhianatan dan kekerasan (Matius 5:44; 26:52). Penyaliban dan 
> kebangkitan Kristus sendiri adalah jawaban atas panggilan dari minaret. 
> Ia telah merubah doa kita dari ibadah yang dipenuhi dengan ketakutan 
> kepada Allah yang penuh dengan penghakiman dan hukuman, kepada pujian 
> dan sujud kepada Trinitas yang Kudus.
> 
> 7. Panggilan dari lonceng gereja
> 
> Jauh sebelum kemunculan Islam, orang-orang Kristen juga memiliki 
> panggilan harian untuk berdoa dan berefleksi. Banyak menara yang 
> memiliki dua, tiga bahkan lebih lonceng, yang dentangannya membawa 
> pesan-pesan yang konkret.
> Lonceng kematian yang dibunyikan dengan 
> perlahan saat memberangkatkan jenazah anggota komunitas gereja 
> mengingatkan kita akan doa Musa, “Maka beritahukanlah kepada kami agar 
> menghitung hari-hari kami, supaya kami dapat membawa hati yang 
> bijaksana” (Mazmur 90:12)! Pada saat yang sama, dentangannya adalah 
> sebuah panggilan untuk pertobatan, sebuah perubahan hati dan pulang ke 
> rumah Tuhan. Pesannya akan masuk ke dalam kedua telinga dan hati: 
> “Bertobatlah, karena kerajaan surga sudah mendekat!” (Matius 4:17).
> Lonceng Penyaliban yang berbunyi di 
> banyak tempat pada jam 9 pagi; yaitu waktu ketika Yesus dipaku di kayu 
> salib (Markus 15:25; John 19:14), pada jam 11 siang, saat ketika 
> kegelapan datang (Mat 27:45) dan pada jam 3 sore, saat ketika Yesus 
> wafat (Mark 15:34), agar kita memahami bahwa dosa-dosa kita telah 
> menyebabkan Tuhan dan Juru Selamat kita dipaku di atas kayu salib! Pada 
> saat yang sama, lonceng penyaliban memberitakan kemenangan Yesus Kristus
>  atas murka Tuhan, atas tuduhan Setan dan kuasa dosa, sehingga kita bisa
>  dengan sukacita dan penuh syukur menerima anugerahNya yang cuma-cuma 
> dan juga pembenaran yang seutuhnya (John 19:30; Ibrani 10:14).
> Panggilan lonceng-doa yang berbunyi saat
>  fajar merekah, pada siang dan malam hari, mengajak kita untuk mengucap 
> syukur, menyembah, mengucapkan petisi dan syafaat, bagi pengakuan dosa 
> dan pernyatan iman, supaya kita bisa dengan sadar menyelesaikan hari itu
>  di hadapan wajah Tuhan dan Bapa kita. Lonceng yang sama, ketika ia 
> berdentang pada jam 12 tengah hari, juga disebut oleh sejumlah jemaat 
> gereja sebagai lonceng perlawanan, karena ia menantang setiap orang 
> untuk tegar menghadapi cobaan dari si Anti-Kristus dengan doa, Firman 
> Tuhan dan damai dalam persekutuan dengan orang-orang percaya (1 Yoh 
> 2:22-25; 4:1-5).
> Sebagai tambahan untuk kesemuanya ini, 
> banyak gereja yang memiliki lonceng baptisan, yang dengan keras dan 
> penuh sukacita bergemuruh ketika seorang anak atau seorang dewasa 
> dibaptiskan, karena melalui iman dan baptisan, hidup kekal melalui 
> Putera Elohim datang untuk tinggal di dalam kita (Matius 16:16; 28:19; 
> Yoh 3:3,5,16).
> Terkadang, gereja-gereja besar memiliki 
> sebuah “lonceng Dominika”, yang berbunyi sebelum pelaksanaan ibadah pada
>  hari Minggu, untuk mengingatkan jemaat akan kebangkitan Kristus dan 
> proklamasi kemenanganNya atas maut. Pada saat yang sama, ia juga 
> menyaksikan pengharapan yang pasti akan hidup kekal bagi setiap pengikut
>  Yesus Kristus (1 Petrus 1:3-7).
> Beberapa kubah gereja dan katedral juga 
> memiliki sebuah “lonceng Gloriosa”. Pada hari-hari libur spesial, ia 
> membawakan suara dari pujian yang tidak pernah berakhir dari orang-orang
>  yang sudah ditebus, atas keselamatan yang sudah dianugerahkan oleh 
> Bapa, Anak dan Roh Kudus ke setiap rumah di kota-kota dan desa-desa 
> (Lukas 2:14; Wahyu 7:9-12).
> Sebelum ibadah utama pada hari Minggu, 
> semua lonceng (kecuali lonceng “gloriosa”), berdentang bersama-sama dan 
> menyerukan pertobatan dan anugerah, untuk berdoa dan beribadah, untuk 
> mempercayai kesetiaan Tuhan dan untuk menerima damaiNya yang kekal.
> Setiap pendengar yang serius akan 
> mengenali bahwa sebuah hari akan ditandai dengan 7 kali bunyi lonceng, 
> memanggil kita untuk berada di hadapan hadirat Tuhan: bunyi lonceng pada
>  pagi hari saat fajar merekah, bunyi lonceng pada jam 9 pagi, 11 siang, 
> 12 tengah hari, 3 sore. Ketentuan dalam gereja nasional di Wurttemberg, 
> ditulis pada tahun 1956, bukanlah sebuah rangkaian yang tetap, namun 
> merupakan sebuah hak istimewa dan bisa ditambahkan atau dikurangi oleh 
> gereja-gereja individual.
> Satu hal yang pasti: lonceng tidak 
> memanggil kita untuk memelihara hukum dengan sasaran untuk meraih 
> pembenaran diri melalui pencapaian pribadi. Juga mereka tidak mengajak 
> kita agar melakukan perang suci dengan tujuan menegakkan teokrasi 
> (pemerintahan Tuhan). Sebaliknya, mereka berkontribusi untuk kemuliaan 
> Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam Trinitas Yang Kudus (Efesus 2:4-10).
> Apa yang muncul dalam pemikiran kita 
> ketika kita mendengar suara lonceng? Siapakah yang mengerti suara mereka
>  sebagai sebuah pengingat dan sebuah pendorong untuk kita melaksanakan 
> doa secara hening? Dan siapa yang mendoakan banyak orang yang ada di 
> tengah-tengah kita, yang sudah lupa bagaimana harus berdoa? Siapakah 
> yang memikirkan para pekerja asing dan orang-orang Muslim yang tinggal 
> di sekitar kita? Ketika lonceng di negara kita tidak lagi berdentang, 
> sebagaimana yang terjadi di bekas negara Uni Sovyet selama 
> bertahun-tahun, banyak yang merasakannya bahwa, di tengah-tengah stress 
> yang setiap hari kita alami, sesuatu yang esensial sedang hilang.
> KUIS
> 
> Para pembaca yang terkasih,
> Jika anda sudah mempelajari buku ini 
> dengan seksama, maka anda akan dengan mudah menjawab 
> pertanyaan-pertanyaan berikut. Siapa pun yang menjawab 90 persen dari 
> semua pertanyaan di buku yang berbeda dari seri ini dengan benar, bisa 
> mendapatkan sebuah sertifikat dari kantor pusat kami.
> Sebagai sebuah peneguhan untuk pelayan 
> lebih jauh bagi Kristus, kami menghargai jika anda memasukkan juga 
> referensi-referensi Qur’anik dalam jawaban anda.
> 1. Tuliskanlah terjemahan Inggris dari 
> setiap panggilan dari minaret.
> 
> 2. Apa arti seruan “Allahu akbar” dalam perspektif semua ciptaan?
> 
> 3. Hingga tingkatan apa Allah lebih besar dari semua roh-roh dan juga 
> lebih besar dari Roh Kudus?
> 
> 4. Hingga tingkatan apa Allah lebih besar dari setiap pemikiran tentang 
> Dia? Apa artinya konsepsi ini bagi pengetahuan mengenai Tuhan, dalam 
> Islam?
> 
> 5. Bagaimana Qur’an menjustifikasi bahwa Allah lebih besar dibandingkan 
> Kristus dan lebih besar dibandingkan iman di dalam Dia?
> 
> 6. Mengapa Muslim berperang secara fanatik untuk iman mereka bahwa tidak
>  ada Tuhan selain Allah?
> 
> 7. Mengapa seorang Muslim harus percaya kepada Muhammad dan mentaatinya?
> 
> 8. Apakah artinya panggilan “marilah berdoa”?
> 
> 9. Mengapa seorang Muslim harus membasuh dirinya sebelum melaksanakan 
> sholat sesuai dengan peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan?
> 
> 10. Berapa kali seorang Muslim dalam sehari harus berdoa dengan 
> menggunakan liturgi doa yang sudah disusun?
> 
> 11. Apakah artinya bahwa seorang Muslim harus mengulangi dalam sehari 
> 100 kali kalimat “terpujilah Tuhanku, Yang maha Tinggi?”
> 
> Kirimkan jawaban anda ke:
> GRACE AND TRUTH, P.O.Box 1806
> 70708 Fellbach, Germany
> Atau melalui e-mail ke:
> i...@...
>                       
> 
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke