Anda anggap produksi minyak adalah rampasan perang? Ginilah cara Kristen mutar balik ayat Al Qur'an ya.
Salam, nDeboost --- In [email protected], siap murtad <islamic.invas...@...> wrote: > > Panggilan > dari Minaret, apakah artinya itu?http://conversationwithmuslim.wordpress.com/ > > > Ketika > minyak, disebabkan efek Perang Yom Kippur tahun 1973, naik menjadi empat > kali harga normal, dan terus menjadi semakin mahal, maka ketegasan para > Muslim pun semakin meningkat. Berdasarkan Hukum Islam (Syariah), 20 > persen dari penghasilan bersih produksi minyak harus diinvestasikan > untuk mendukung pengembangan agama Islam (Sura 8:41). Maka sejak saat > itu, mesjid-mesjid menjamur di seluruh kontinen. > > Setiap pagi, saat fajar akan merekah, > segera setelah âseseorang dapat membedakan antara sebuah benang putih > dan benang hitamâ, muezzin (pengumandang azan), memanggil dari menara > mesjid untuk menyembah Allah. Di kota-kota dan di desa-desa, suara > loudspeaker mereka terdengar sangat keras di atap-atap rumah: âSholat > lebih baik daripada tidur!â Lima kali sehari, ajakan untuk sholat turun > dari menara-menara itu: saat fajar, tengah hari, sekitar jam 3 sore, > saat matahari tenggelam dan pada malam hari (2 jam kemudian). > > Kata âminaretâ berasal dari bahasa Arab > âmanaratâ, artinya âmercu suarâ. Sama halnya seperti sorotan dari > lampu > navigasional dipakai untuk mencegah kapal agar tidak kandas atau > menabrak karang, demikian juga minaret akan memimpin semua Muslim untuk > tetap tinggal di sekitar Islam dan mengajak semua orang-orang non-Muslim > yang tersesat untuk bertobat dan memilih âjalan yang lurusâ menuju > Firdaus. Islam memandang dirinya sebagai âagama yang memanggilâ, > mengundang semua manusia (Din al-Daâwa), dan memiliki sebuah ideologi > misionari yang penuh keyakinan serta bersifat memaksa (Sura 2:193; 8:31; > 61:9-11). > > Karena panggilan yang disuarakan jutaan > kali dari menara-menara mesjid harus diucapkan dalam bahasa Arab, maka > pertama-tama kita akan menterjemahkan doa yang diucapkan oleh muezzin > tersebut: > Allah adalah lebih besar! Allah adalah > lebih besar! > Allah adalah lebih besar! Allah adalah > lebih besar! > Aku bersaksi: Tiada Tuhan selain Allah! > Aku bersaksi: Tiada Tuhan selain Allah! > Aku bersaksi: Muhammad adalah Rasul > Allah! > Aku bersaksi: Muhammad adalah Rasul > Allah! > Bangunlah untuk berdoa! Bangunlah untuk > menjadi sukses! > Bangunlah untuk berdoa! Bangunlah untuk > menjadi sukses! > Allah adalah lebih besar! Allah adalah > lebih besar! > Pendahuluannya terdiri dari empat kali > panggilan: âAllah adalah lebih besar!â Bagian terakhir merupakan > pengulangan dari pendahuluan yang diucapkan dua kali. Semua seruan yang > lainnya diulangi dua kali. Berikut ini, prinsip-prinsip sentral dari > iman Islamik ini akan dijelaskan. > > 1. Allah adalah lebih besar > > Ringkasan dari pengakuan Islamik ini diulangi sebanyak enam kali dari > panggilan yang diserukan oleh muezzin, dan diumumkan dari minaret tiga > puluh kali dalam sehari. Penegasan ini seringkali salah diterjemahkan > sebagai âAllah adalah besar!â atau âAllah Maha besar/Yang terbesar!â > Jika Allah hanya âbesarâ, maka itu artinya ada mahluk lain yang lebih > besar (daripada Dia). Sebaliknya, jika Ia dipanggil âYang Terbesarâ, > maka ia akan berada dalam satu kategori dengan ciptaanNya sendiri. > Tidak, Allah adalah besar melampaui semua hal yang bisa diperbandingkan! > > 1. Allah ditinggikan di atas semua > ciptaanNya: Implikasi dari seruan iman Islamik ini adalah sebagai > berikut: Allah, Yang Maha Kuasa, adalah Pencipta dari alam semesta (Sura > 39:5, 67:2-3; dsb.)! Punya Dialah kemakmuran dan kekayaan. Kepemilikan > dan otoritasnya melampaui segala sesuatu (Sura 31:26; 47:38). Dialah > yang memiliki kekuatan dan kemuliaan. Kekuasaan dan penyembahan adalah > milikNya seorang (Sura 55:27). Ia memiliki lebih banyak pengetahuan dan > hikmat dibandingkan dengan semua ahli filsafat (Sura 2:282; 9:60, dsb.). > Ia lebih menakutkan daripada semua bom nuklir dan hidrogen (Sura 57:2; > 64:1; 67:1-2; dsb.) > > 2. Allah adalah lebih besar daripada > semua roh dalam dunia supranatural: Kematian diyakini berada dibawah > kendaliNya. Tak ada seorang pun yang mati secara kebetulan. Allah > membunuh siapa pun yang Ia kehendaki (Sura 30:40; 40:68; dsb.). Bahkan > Setan adalah budakNya sebagaimana halnya semua ciptaan yang lain (Sura > 25:2). Keinginan Allah adalah untuk memenuhi neraka dengan manusia dan > roh-roh (Sura 32:13)! Semua malaikat ada dibawah perintahNya. Qurâan > berbicara mengenai Roh Kudus sebagai budak Allah juga (Sura 17:85; > 97:4). Sebagaimana halnya âJibrilâ (Gabriel) dianggap sebagai oknum yang > telah menyampaikan pewahyuan dari Tuhannya kepada Zakaria, Maria, > Kristus dan Muhammad. Roh-roh yang percaya kepada Qurâan dianggap > sebagai Muslim. Namun demikian, mereka tidak memiliki akses ke Surga > (Sura 72:8-14). > > Orang-orang Muslim percaya ketika Neil > Armstrong keluar dari pesawat ruang angkasa dan menginjakkan kaki di > bulan, ia mendengar seruan: âAllah adalah lebih besarâ. Ketika ia > kemudian ditanya melalui telepon, Armstrong menjawab bahwa ia tidak > mendengar suara atau bunyi apa pun. Namun demikian, orang-orang Muslim > masih tetap meyakini bahwa seruan âAllah adalah lebih besar!â memenuhi > seluruh alam semesta! > > 3. Allah adalah lebih besar dari apapun > pengertian mengenai Dia: Semua pemikiran, pengetahuan dan tulisan > mengenai pencipta, Tuhan dan hakim dunia tampaknya dalam Islam tidak > mencukupi. Setiap statement teologis secara realitas akan gugur dan pada > akhirnya akan dianggap palsu. Beberapa nama dari ke-99 nama-nama Allah > yang paling indah berkontradiksi satu sama lain, sehingga, menurut > al-Ghazali, Allah itu pastilah segala sesuatu dan bukan segala sesuatu. > Ia tidak dapat diselami. Ia tetap secara total berbeda; agung, sangat > jauh, Tuhan yang tidak terjangkau, jauh melampaui kategori-kategori dan > emosi-emosi manusia (Sura 47:4-5). > > Ia tetap dianggap sebagai Tuhan yang > adil, kendati Ia menyesatkan siapa pun yang Ia inginkan. Ia membimbing > ke jalan yang lurus siapa pun yang ia inginkan (Sura 6:39; 13:27; > 14:14). Ia menggantikan wahyu-wahyu yang Ia sampaikan sebelumnya dengan > wahyu-wahyu yang lebih baik, yang cocok dengan situasi yang berlaku > kemudian. Sekitar 240 ayat-ayat dalam Qurâan telah dibatalkan dengan > wahyu-wahyu kemudian (Sura 16:101-103). Yang Maha Kuasa sanggup > menghancurkan hamba-hambaNya, utusan-utusan dan agen-agen pewahyuanNya > saat Ia menganggap tepat untuk melakukannya. Berdasarkan Qurâan, Yesus > juga dikategorikan sebagai manusia, yang bisa Tuhan hapuskan pada satu > waktu, sebagaimana yang Ia kehendaki (Sura 5:17). Allah jauh melampaui > ide-ide manusia mengenai keadilan. Ia adalah penipu daya yang paling > cerdik dari semuanya (Sura 3:54; 8:30)! Ia tidak bertanggungjawab kepada > siapa pun. > > 4. Allah bahkan lebih besar daripada > iman Kristen: Dalam Islam, putera Maria tidak disebut Yesus melainkan > âIsaâ. Dengan mengganti nama ini, maka Islam telah merampok > keilahianNya, eksistensiNya yang kekal dan kuasa penyelamatanNya (Sura > 4:171; 5:72; 9:30). Qurâan mempresentasikan âIsa sebagai sebuah roh > Allah yang diciptakanâ, yang ditiupkan ke rahim Maria (Sura 3:47,59). > Semua mujizat-mujizatNya dianggap bisa terjadi dengan seijin Yang Maha > Kuasa dan dengan pertolongan rohNya (Sura 5:110). Berdasarkan teologi > Islam, âIsa tidak disalibkan, tetapi dengan diam-diam dibuat tidak sadar > dan kemudian dilahirkan pada TuhanNya dalam kondisi hidup (Sura 3:55; > 4:157-158). Berdasarkan tradisi, Ia akan kembali pada akhir zaman untuk > membunuh anti-Kristus dan untuk mengubahkan orang-orang tak bertuhan > menjadi Islam. Allah dianggap lebih besar daripada âIsa, yang akan tetap > untuk selama-lamanya menjadi hambaNya. > > Dalam Islam, Roh Kudus bukanlah kudus > dalam diriNya sendiri, tetapi hanya disebut âsebuah roh dari Yang Kudusâ > (Sura 2:87.253; 5:110; 16:102). Sebagaimana halnya Jibril (Gabriel) ia > berada dibawah otoritas Yang Maha Mulia dan pada Hari Penghakiman ia > harus berdiri dalam sebuah antrian yang panjang bersama-sama dengan > semua malaikat, dengan diam menantikan vonis yang akan dijatuhkan > padanya (Sura 78:38) > Allah dalam Islam bukanlah Tuhan Sang > Bapa. Ia tidak dikandung dan juga tidak dilahirkan. Tak ada yang > menyamaiNya (Sura 112:3-4). Ia bukanlah Tuhan Yang adalah kasih adanya, > yang ingin membangun sebuah hubungan pribadi dengan orang-orang Muslim, > agar Ia bisa mengadakan perjanjian dengan mereka. Ia menunjukkan belas > kasihan kepada siapa saja yang Ia pilih, tetapi tetap jauh keberadaanNya > dengan ciptaanNya. Allah tidak hadir di Firdaus atau di Surganya > Muslim. Ia jauh menjulang di atas mereka dan untuk selamanya Ia akan > tetap tidak bisa diakses. > > Setiap pembaca yang cerdas yang > memperbandingkan outline singkat ini dengan referensi-referensi Qurâanik > akan tiba pada kesimpulan bahwa: Allah dalam Islam bukanlah Tuhan di > Alkitab. > > 2. Tidak ada Tuhan selain Allah > > Setelah keempat bagian âkebesaran Allahâ (takbir), muezzin akan > menyerukan dengan suara yang keras iman Islamik mereka. Ketika melakukan > hal ini, mereka tidak sedang mengajukan sebuah diskusi teologis, tetapi > sebaliknya, mempresentasikan kepada semua Muslim, bahwa mereka sedang > mengucapkan pengakuan akan pondasi dan kultur dari agama mereka. Siapa > pun yang mendengarkan panggilan ini, harus mengulangi deklarasi iman > Islamik dengan bibirnya atau di dalam hatinya. Kapan pun pengakuan ini > diserukan, diperdengarkan atau diterima, pemerintahan Allah telah > dimulai, sesuai dengan pemahaman Islamik. > > Siapa pun yang dengan sadar mengucapkan > kesaksian ini dua kali di hadapan para Muslim, maka dengan ini ia > menjadi seorang Muslim! Pengulangan dari artikel iman ini tidak hanya > merupakan bagian pertama dari pengakuan (Kredo) Islamik, tetapi ia juga > memiliki jangkauan yang jauh, yang secara legal merupakan karakter yang > mengikat. > > Muslim memberikan kesaksian bahwa tidak > ada Tuhan selain Allah (Sura 59:23). Dengan melakukan hal ini, mereka > memasuki konflik yang sama seperti yang pernah dialami Musa dan > nabi-nabi Perjanjian Lama. Muhammad ingin menghapuskan politeisme di > Kaâaba yang ada di Mekah, dan mendirikan sebuah agama modern yang > merupakan sinkritisme antara Yudaisme, Kekristenan dan > komunitas-komunitas agama lainnya. Ia percaya kepada satu-satunya Tuhan, > sebagaimana halnya orang-orang Yahudi mengakuiNya dan dengan keras > menyangkali kemungkinan bahwa Yang Satu itu ada dalam Tiga (Sura 4:171; > 5:73,116). Muhammad mengecam iman kepada Trinitas yang Kudus sebagai > sebuah penghujatan yang tidak bisa diampuni. Misteri kasih Tuhan yang > berinkarnasi dalam puteraNya Yesus, agar semua yang percaya padaNya bisa > menerima Roh Kudus, tidak cocok dengan konsep dari nabi Arab ini (Sura > 9:29). > Karena itu, panggilan dari minaret > memiliki implikasi sebagai sebuah penolakan yang sangat mencolok > terhadap Tuhan sebagai Sang Bapa, Anak dan Roh Kudus! Kesaksian dari > para muezzin berisi sebuah pesan anti-Kristen dan anti-spiritual, yang > merobek semua mimpi-mimpi humanistik dari Pencerahan hingga tinggal > serpihan-serpihan. Allah Islam tidak akan pernah merupakan Bapa dari > Yesus Kristus! Panggilan dari minaret ibarat ribuan serangan yang > dilakukan secara terus-menerus terhadap keyakinan dari setiap orang > Kristen! Sayangnya, hanya sedikit orang yang memahami hal ini. > > 3. Muhammad adalah UtusanNya > > Para muezzin tidak hanya menyatakan iman mereka kepada Allah, tetapi > juga iman mereka kepada Muhammad, yang, berdasarkan pengakuan Islamik, > ia bukan hanya seorang nabi, tetapi merupakan Utusan Allah. Bahkan > Muhammad sendiri memahami dirinya sebagai seorang pengawas yang > memberikan peringatan kepada umat akan kedatangan hari penghakiman (Sura > 13:7; 38:4,65; 50:2, dsb.). Ia menyaksikan hukum Islamik (Syariah) > sebagai satu-satunya kemungkinan bagi murid-muridnya untuk bisa > diselamatkan dari penghukuman Hakim yang kekal. Muhammad tidak pernah > menyebut dirinya sebagai penyelamat, pembebas atau seorang mediator, > melainkan memandang dirinya sebagai utusan atau wakil Allah, mencoba > untuk membimbing semua Muslim ke Firdaus melalui mentaati hukum-hukumnya > (Sura 1:6; 5:48, 45:18). > > Muhammad tidak hanya menuntut kepada > para pengikutnya untuk mempercayai dan beriman kepada dirinya sendiri, > tetapi juga ketaatan dan penyerahan tanpa syarat terhadap otoritasnya > (Sura 4:59, 150-152; 7:158; 47:33; 49:14; 57:28). Banyak dari para > idealis yang meyakini bahwa Islam mengajarkan iman hanya kepada Allah. > Ini adalah sebuah kesalahan. Qurâan juga menuntut sebuah ketaatan iman > secara menyeluruh kepada Muhammad. Setiap Muslim harus hidup sama > seperti nabinya hidup. Ia harus, diumpamakan âmengenakanâ Muhammad! Cara > hidupnya (Sunnah) merupakan sumber kedua dari Syariah. Karena itu > Muhammad menjadi standard dan tujuan dari agamanya. > > Islam bukanlah agama dalam pengertian > sebagai Pencerahan, melainkan sebuah ideologi dimana agama dan politik, > ibadah dan Perang Suci, iman dan legislasi dianggap sebagai sebuah > kesatuan. Tujuan Islam yang tetap adalah negara berdasarkan agama (Sura > 2:193; 8:39; 49:14). Hukum menuntut sebuah otoritas eksekutif, sama > halnya dengan negara Islamik membutuhkan sebuah hukum juga). Untuk > alasan inilah, agama dan politik harus merupakan satu kesatuan. Muhammad > memahami dirinya baik sebagai seorang nabi dan juga seorang negarawan. > Musa adalah satu dari role model yang paling penting baginya. > Hassan al-Banna, pendiri dari > Persaudaraan Muslim di Mesir, mengajarkan bahwa seorang beriman yang > berdoa, berpuasa dan membayar pajak keagamaannya, masih tetap gagal > untuk menjadi seorang Muslim yang baik. Hanya ketika Syariah > dilaksanakan di negara dimana ia hidup, maka imannya pun akan bisa > mencapai kesempurnaan. Semua praktek-praktek keagamaan lainnya hanya > merupakan tahap awal dari Islam yang sesungguhnya. Untuk alasan ini, > iman kepada Muhammad selalu tertuju pada sebuah negara agama. > 4. Marilah berdoa! > > Sepuluh kali sehari, orang-orang Muslim mendengar panggilan ini dari > para muezzin mereka. Hal ini tidak berarti bahwa mereka dipanggil untuk > melakukan doa pribadi dengan tidak bersuara, tetapi untuk beribadah di > mesjid sebanyak lima kali. Siapa pun yang tidak bisa pergi ke mesjid, > bisa melaksanakan ritual doa yang diwajibkan ini di rumah mereka, di > pesawat terbang atau di tempat-tempat umum. Ritual doa jika memungkinkan > harus diucapkan dalam bahasa Arab. Semua Muslim diwajibkan untuk > berdoa, karena beribadah kepada Allah ada tertulis dalam hukum! > > Setiap waktu doa didahului dengan > melakukan wudhu (pembersihan) sesuai dengan ritual yang ditentukan (Sura > 5:6). Muhammad Hamidullah menggambarkan ritual ini dalam bukunya > âIntroduksi kepada Islamâ sebagai berikut: > âLangkah pertama adalah memformulasikan > penekanan mengenai pemurnian, dengan mengatakan âbismillahâ (dengan nama > Allah), mencuci tangan hingga pergelangan, membasuh mulut dengan air, > membersihkan lubang hidung dengan air, membasuh muka dari jidat hingga > dagu dan dari telinga yang satu ke telinga yang lain, membasuh lengan > kanan dan kemudian lengan kiri hingga siku (inklusif), menyapukan > jari-jari yang basah ke muka dan lubang telinga (dan berdasarkan > pengajaran beberapa sekolah, juga termasuk leher), kemudian pertama-tama > mencuci kaki sebelah kanan dan kemudian sebelah kiri hingga pergelangan > â" melakukan setiap aksi ini sebanyak tiga kali (kecuali airnya tidak > mencukupi, dimana dalam sejumlah kasus sekali pun sudah dianggap > mencukupi).â > > Jika rangkaian pembasuhan dilaksanakan > tidak benar, maka doa dari individu tersebut menjadi batal. Jika air > sepenuhnya kurang, seseorang boleh membasuh muka dan tangannya dengan > pasir atau batu (tayammum) sebagai pernyataan kesungguhan dan untuk > menggantikan ritual pemurnian diri. Setelah melakukan wudhu hingga > berakhirnya ritual doa, kecuali untuk bernafas dan mengeluarkan > kata-kata, tak ada satu pun yang boleh keluar dari tubuh seorang Muslim, > sebab jika tidak maka ibadahnya menjadi batal. > Seorang Muslim tahu bahwa ia tidak bisa > datang menghampiri Allah seperti apa adanya dia. Ia harus memurnikan > dirinya sendiri dari kepala hingga kaki. Pembaharuan pikiran dan > pengudusan hati tidak dikenal dalam Islam. Karena itu, pengudusan harian > untuk berdoa tetap bersifat eksternal dan âhanya di permukaan sajaâ, > tidak memproduksi sebuah pertobatan yang dalam atau sebuah perubahan > karakter, atau sebuah pemurnian keinginan. > > Ke-lima doa wajib dari orang-orang > Muslim secara praktis tidak melibatkan komunikasi dengan Tuhan. Doa itu > terdiri dari liturgi-liturgi yang sudah ditentukan, yang bertujuan untuk > memuliakan Allah dan penyerahan diri para individu kepada ketuhananNya. > Sebuah pengakuan dosa atau sebuah syafaat bagi mereka yang tengah > mengalami kesusahan hampir-hampir tidak ditemukan dalam ritual > doa/sholat. > > Pada awalnya, orang-orang yang hendak > sholat di mesjid akan berdiri di barisannya dan berkonsentrasi dengan > apa yang akan mereka katakan atau doakan. Kemudian, mereka akan > memberikan pengakuan pada permulaan lingkaran doa bahwa âAllah adalah > lebih besar!â Setelah itu, dengan tidak bersuara mereka akan mengucapkan > untuk diri mereka sendiri Al-Fatiha, doa utama Islam (Sura al-Fatiha > 1:1-6), atau Sura kesetiaan (Sura al-Ikhlas 112:1-4), keduanya berisi > sebuah penyangkalan langsung terhadap Trinitas. > > Para pemuja/umat kemudian merangkum doa > yang mereka naikkan dengan tidak bersuara dengan sebuah seruan âAllah > adalah lebih besarâ!, menundukkan kepala mereka selagi mereka berdiri > dan berbicara dalam hati: âKemuliaan bagi Tuhanku yang besar!â > > Setelah itu mereka kembali menegakkan > kepalanya dan berkata, âAllah mendengarkan setiap orang yang > memuliakanNya!â, kemudian mereka mengulangi kalimat, âAllah adalah lebih > besar!â, kemudian berlutut dan sujud, menyentuh dahi mereka ke tanah > (Sura 17:107; 22:77; 48:29). Kemudian setiap orang berkata tiga kali, > âKemuliaan bagi Tuhan Yang Maha Tinggi!â > Masih berlutut, mereka menegakkan > kembali bagian atas tubuh mereka dan mengucapkan pengakuan, âAllah > adalah lebih besar!â > Kemudian mereka sujud ke tanah untuk > kedua kalinya dan kembali mengucapkan doksologi Islam sebanyak tiga > kali, âKemuliaan bagi Tuhan yang Maha Tinggi!â > Setelah menyelesaikan lingkaran doa yang > pertama, mereka kembali berdiri dan mengulangi lingkaran berikutnya > dengan seruan âAllah adalah lebih besar!â, kemudian kembali mengulangi > kata-kata dan gerak tubuh yang sama persis dengan sebelumnya. > Berdasarkan peraturan dari orang-orang > Maliki, dimana termasuk di dalamnya kebanyakan Muslim Afrika, liturgi > doa yang bersifat tetap ini diulangi dua kali pada waktu fajar, empat > kali pada tengah hari, empat kali pada sore hari, tiga kali pada waktu > matahari terbenam, dan empat kali pada malam hari. Seluruhnya, liturgi > doa yang sama dilakukan sebanyak 17 kali dalam sehari. > Pada penutupan setiap sesi doa, para > penyembah mengucapkan Kredo mereka dalam sebuah versi yang diperpanjang, > yang menegaskan penolakan mereka akan ketuhanan Kristus dan ketuhanan > Roh Kudus. Akhirnya, setiap penyembah menyalami rekan di sebelah > kanannya dengan damai Allah. > Dengan cara ini, dalam satu hari, > orang-orang Muslim mengucapkan lebih dari 100 kali, âKemuliaan bagi > Tuhan Yang Maha Tinggi!â, 68 kali pengakuan, âAllah adalah yang lebih > besar!â, 51 kali mereka mengulangi, âKemuliaan bagi Tuhan Yang Besar!â, > 17 kali mereka menegaskan, âAllah mendengarkan orang-orang yang > memujiNya!â, 5 kali mereka mengulangi Pengakuan (Kredo) Islamik, dan > mengulangi pernyataan salam damai, yang hanya diperuntukkan bagi > orang-orang Muslim saja. Di sini, sebuah prinsip dari pendidikan Islamik > menjadi bukti: Pengulangan yang terus-menerus membawa kepada > konsolidasi dan memenuhi pemikiran bawah sadar! Pemikiran rasional dan > doa individual jarang dilakukan; kecuali sebuah liturgi sederhana yang > dimaksudkan untuk menolong mereka yang buta huruf untuk memuliakan Allah > dan menyerahkan diri mereka kepadaNya. > Penyembahan kepada Allah berpuncak pada > sikap sujud Muslim, menundukkan dahi mereka hingga menyentuh tanah. > Selama lima kali melakukan sholat, mereka sujud di hadapan Allah hingga > 34 kali sehari. Tujuan dari praktek ini adalah untuk membawa seluruh > hidup mereka kepada Sang Pencipta, Tuhan dan Hakim. Mereka sepenuhnya > adalah milikNya. Seorang Muslim tidak lagi menjadi seorang yang bebas. > Ia telah meletakkan dirinya ke dalam tangan Allah. Ia terikat padaNya. > Ia adalah budak dan harta milikNya. Islam artinya penundukan, > penyerahan, atau kepatuhan. Dalam doa-doa harian yang dilakukan, > penyerahan menjadi sebuah realitas. Doa resmi adalah tulang punggung > dari agama ini. > Namun demikian, Allah dalam Islam > bukanlah Bapa dari Yesus Kristus. Ia adalah ilah yang lain di samping > Bapa, Anak dan Roh Kudus. Hal ini berarti bahwa, ketika orang-orang > Muslim menyerah kepada Allah, mereka sedang menyerahkan diri mereka ke > dalam kuasa dari sebuah roh yang anti-Kristen, yang sekarang menguasai > mereka. Inilah alasan bagi ikatan korporat dari kebanyakan orang-orang > Muslim. Ritual doa harian yang mereka lakukan, menegaskan akan > perbudakan yang mereka alami, dan yang mengendalikan mereka kepada > ketaatan buta kepada perkataan-perkataan Qurâan. > > 5. Bangkit menuju kesuksesan > > 9 kali dalam sehari, pengharapan Islamik dikumandangkan dalam panggilan > Muezzin, âSiapa pun yang melakukan sholat (berdoa) akan berhasil.â Hal > ini terutama mengandung makna bahwa bidang kehidupan sehari-hari akan > diberkati, yaitu: kesehatan yang baik, lulus dalam ujian, efektif di > pekerjaan dan keberuntungan dalam cinta, lahirnya banyak anak laki-laki, > perencanaan politik dan ekonomi yang berhasil, dan kemenangan yang > mulia dalam apa yang dinamakan sebagai Perang Suci (jihad). Jangkauan > penuh dari keinginan duniawi Muslim juga dimasukkan dalam panggilan ini, > âBangkitlah untuk berdoa â" bangkitlah menuju kesuksesan!â > Mengenai hidup sesudah mati, panggilan > untuk berdoa ini berusaha untuk meraih pengampunan dosa melalui > penyembahan reguler kepada Allah. Tujuan lain dari pemujaan adalah > sukses yang bisa dilihat dalam penyebaran Islam. Lebih jauh lagi, > penekanan dari doa seperti ini adalah untuk memanipulasi roh-roh (jin) > untuk tujuan personal dan kutukan spesifik terhadap musuh (Sura 3:61). > Harapan dari para penyembah, melalui ibadahnya adalah untuk mendapatkan > sebuah putusan yang ringan pada Hari Penghakiman, yaitu untuk dibebaskan > dari api Neraka (Sura 19:72), dan untuk memperoleh akses kepada > kegembiraan dan kesenangan dari Taman Firdaus (Sura 9:111). > Menjadi sangat jelas, dari apa yang baru > saja disampaikan, bahwa Islam adalah sebuah bentuk pembenaran > berdasarkan perbuatan. Keselamatan yang ia tawarkan bukanlah berasal > lewat anugerah, melainkan melalui prestasi religius personal. Seorang > Muslim berharap bahwa perbuatan-perbuatannya yang baik akan meringankan > perbuatan-perbuatannya yang jahat (Sura 11:114). Ia percaya bahwa ia > akan dibenarkan melalui memuja Allah (Sura 5:12; 35:29-30; dsb.). Dengan > berpuasa pada bulan Ramadhan, membayar pajak keagamaan, dan juga > memberikan sedekah kepada fakir miskin, merupakan ekspresi dari > penebusan diri yang sengaja dilakukan dan telah dikalkulasikan > sebelumnya. Doa adalah sebuah perjanjian dengan Allah yang, lebih cepat > daripada komputer, mencatat nomor dan intensitas dari ibadah para pemuja > serta menimbangnya dengan dosa-dosa dan kelalaian di sisi yang lain > (Sura 4:6,86; 6:62; 24:39). > Lima kali waktu sholat bukanlah sesuatu > yang dilakukan dengan sukarela atau sesuatu yang dilakukan karena > bimbingan roh: ini adalah sebuah kewajiban dan sebuah hukum. Waktunya > sudah ditetapkan dan liturginya pun sudah ditentukan. Setiap Muslim > harus tunduk pada persyaratan-persyaratan syariah (hukum Islam). > Ketaatan mereka secara persis, dikatakan bisa menyelamatkan seseorang > dari penghakiman Allah. Islam adalah agama yang ada di bawah hukum dan > bukan ditemukan melalui anugerah dari seorang Penyelamat (Sura 5:9; > 22:50; 29:7; 33:35; dsb.). > Di sinilah terletak kesalahan utama > Islam. Sementara ritual pembasuhan (wudhu) sebelum waktu sholat hanya > bisa memurnikan kulit dan bukan hati, karena itu doa dalam Islam tidak > bisa memproduksi keselamatan sepenuhnya. Muslim tidak menyadari > kerusakan dirinya karena ia tidak menyadari Tuhan Yang Maha Kudus yang > adalah kasih. Ia meraba-raba di tempat yang berkabut sebab ia tidak > berjalan dalam terang Alkitab. Ia membayangkan bahwa ia cukup baik untuk > menyelamatkan dirinya dari penghakiman Allah. Ia tidak tahu bahwa ia > dilahirkan dalam kondisi berdosa dan bahwa apa pun yang ia lakukan telah > dinodai oleh dosa (Kejadian 6:5; 8:21; Mazmur 51:5). Ia menolak Sang > Penyelamat, Yesus Kristus dan menolak keselamatan yang dibangun > berdasarkan anugerah cuma-cuma dari Bapa, yang sudah dipersiapkan > baginya. Muslim tidak bisa memahami pujian Rasul Paulus yang menulis > himne berikut ini: > Terberkatilah Elohim dan Bapa Tuhan kita > YESUS Kristus, yang telah memberkati kita dengan segala berkat rohani > di alam semesta di dalam Kristus. (Efesus 1:3 â" ILT) > Orang Kristen tidak berdoa supaya mereka > akan diselamatkan atau meraih kesuksesan pada waktunya dan dalam > kekekalan; sebaliknya mereka berterimakasih kepada Bapa mereka di surga > karena Ia sudah menyelamatkan mereka melalui puteraNya Yesus Kristus. > Setelah kematian di kayu salib untuk penebusan yang dilakukan oleh > PuteraNya, ia membuka lebar-lebar pintu gerbang surga untuk mereka yang > menyembahNya dan untuk para lawan (Kis 2:17-21). Tujuan dari doa yang > kita naikkan adalah untuk mengekspresikan ucapan terimakasih kita atas > keselamatan yang menyeluruh melalui pencurahan Roh Kudus di dalam hati > kita. Kita tidak menyembah Tuhan supaya Ia berbelas-kasihan kepada kita, > tetapi sebaliknya kita mengasihi dan memujiNya karena Ia telah > membenarkan kita dan melahirkan kita kembali melalui RohNya. Kita berdoa > supaya seluruh kehidupan kita akan menjadi pujian bagi kemuliaan > anugerahNya (Efesus 1:13-14) > > 6. Allah adalah lebih besar! > > Di akhir dari panggilan mereka untuk melaksanakan sholat, para muezzin > kembali menyerukan sebanyak dua kali, âAllah adalah lebih besar!â > Seluruhnya sebanyak 98 kali sehari Allah ditinggikan dari menara-menara > mesjid. > Penyembahan kepada Allah ini > kadang-kadang bisa memimpin pada sebuah perpecahan dalam sebuah suku > jika beberapa dari anggotanya menolak untuk memeluk Islam. Para partisan > Hizbullah dianggap telah menerima porsi yang spesial dari roh Allah, > sebab mereka lebih suka komunitas Muslim untuk terikat dengan > saudara-saudari mereka yang belum percaya pada Islam. Jika > saudara-saudari mereka ini tetap menolak iman Islam, maka para > gerilyawan pejuang ini diminta untuk meninggalkan atau menyerang mereka > (Sura 58:22). > 1. Allah dianggap lebih besar daripada > sebuah negara Islamik liberal yang menolak untuk mengaplikasikan syariah > dalam integritasnya. Panggilan para muezzin adalah menghasut para > pendengar untuk mengadakan revolusi, yaitu jika sebuah pemerintahan > Muslim menyangkali otoritas syariah. Dalam sebuah negara non-Islamik, > orang beriman diharapkan untuk mempersembahkan masyarakat tidak percaya > yang ada di sekeliling mereka melalui nama dengan tujuan untuk > menginfiltrasi mereka dari dalam. > 2. Allah juga dianggap lebih besar > daripada ketakutan dan keraguan dari kebanyakan orang-orang Muslim untuk > menantang musuh-musuh Islam dibawah keanehan yang berlebih-lebihan. > Mereka dijanjikan bahwa para malaikat akan menolong mereka ketika > terjadi peperangan. Mereka dipanggil untuk mempercayai kemenangan > minoritas Islamik melawan setiap mayoritas anti-Islamik. Bukan saja > bahwa mereka akan mengalahkan musuh-musuh Islam, tetapi bahwa Allah > sendiri akan berperang melawan mereka dan menghancurkan mereka melalui > intervensi mereka (Sura 8:17). Ayat ini membuka lebar-lebar pintu kepada > terorisme dengan mendefinisikan tindakan kekerasan yang keji dan > disengaja sebagai ibadah kepada Allah. > > 3. Allah dianggap lebih besar dari semua > penyembah berhala, orang-orang tidak percaya, orang beriman yang > setengah hati, Yahudi dan Kristen. Semuanya ditantang oleh para muezzin > untuk mengambil bagian dalam doa-doa harian. Sikap tunduk mereka di > hadapan Allah menjadi tanda luar dari pertobatan mereka. Namun demikian, > Qurâan mendeklarasikan sebuah perang tanpa belas kasihan pada siapa pun > yang menolak untuk menerima iman (Sura 2:191-193; 8:60; 9:5,12-14,29). > Meskipun demikian, orang Yahudi dan Kristen, jika mereka tunduk, mereka > memiliki hak untuk diperlakukan sebagai warga negara kelas dua di sebuah > negara Islamik. > 4. Allah dianggap lebih besar dari semua > illah. Otoritasnya atas alam semesta tidak tertandingi. Kedua perintah > misionari dalam Qurâan mempersyaratkan orang-orang Muslim untuk > menggunakan kekerasan yang dipersenjatai hingga tidak ada lagi godaan > untuk melakukan kemurtadan dan ketundukan kepada Allah meliputi seluruh > dunia (Sura 2:193; 8:39). > Hukuman yang menyakitkan dan > mempermalukan di dunia sekarang dan dunia yang akan datang menanti > mereka yang mencoba terlebih dahulu memeriksa Islam (Sura 2:7; 9:101; > 33:57; 45:9; 58:5.16 dsb.). Di Indonesia, lusinan orang Muslim > meneriakkan kalimat âAllah hu Akbarâ (Allah adalah lebih besar) sebelum > mereka memperkosa gadis-gadis Kristen keturunan Cina sebagai sebuah > hukuman yang mereka anggap sah karena menolak Islam. Saddam Husein > mengenakan sebuah rompi anti peluru ketika ia menubuatkan kemenangan > Allah atas Amerika Serikat dan Inggris. Di dinding tepat di belakangnya > tidak ada apa-apa kecuali sebuah bendera bertuliskan âAllah adalah lebih > besar.â Bagi dia dan Osama Bin Laden, penggunaan senjata-senjata > penghancur massal ABC merupakan sebuah ibadah kepada Allah. > 5. Apakah Allah juga lebih besar > daripada Islam? Bentuk singkat dari iman Islamik juga berisi beberapa > lubang yang berbahaya. Kaum Sufi (para mistik Islam) dalam > asosiasi-asosiasi (turuq), mencoba untuk mengalami sebuah kesadaran > personal yang lebih besar dalam penyembahan mereka melampaui > peraturan-peraturan kaku syariah dan liturgi yang monoton di mesjid, > yang mana bagi mereka, Allah sendiri melebihi hukum-hukumNya dan > peraturan-peraturan keagamaan. Beberapa dari mereka bahkan mencoba, > melalui mempraktekkan meditasi, untuk masuk dalam kontak dengan Allah > sendiri, untuk mempenetrasi Dia atau untuk mencapai ruang dari roh-roh > âdi luarâ Dia. Mereka menganggap pemahaman tradisional mengenai Allah > seumpama sebuah kulit/cangkang luar, yang mereka coba untuk > penetrasikan. Mereka mengabaikan fakta bahwa banyak dari mereka, ketika > berada dalam proses itu, mengalami kerasukan (Sura 3:7,23; 5:59; > 24:35-36, dsb.). > 6. Apakah Allah juga lebih besar dari > diriNya sendiri? Allah dalam Qurâan, menyebut diriNya sebagai Yang > Angkuh atau Yang Arogan (Sura 59:23). Panggilan para muezzin dan liturgi > sholat mengatakan bahwa Allah tidak saja besar, tetapi bahwa > kebesaranNya secara konstan semakin meluas. Bukankah roh yang angkuh ini > adalah dosa dari si Setan, yang pada akhirnya akan memimpin pada > kejatuhan yang besar dan membawa serta semua pengikutnya bersamanya ke > Neraka?! > Yesus sebaliknya sangat berlawanan. Ia > mengosongkan diriNya sendiri dan menjadi seorang bayi di palungan (Lukas > 2:9-12). Ia menjadi hamba dan mengucapkan rekomendasi berikut: > âBelajarlah padaku, karena Aku ini lemah lembut dan rendah hatiâ (Matius > 11:29). Ia merendahkan diriNya hingga pada titik bagaimana Ia > dicemoohkan oleh orang banyak, diludahi, disiksa dan akhirnya mati di > kayu salib untuk menggantikan kita (Yesaya 53:3-12; Matius 26:66-67; > Lukas 22:63-65). Karena Ia telah turun dan merendahkan diriNya > sedemikian rupa, maka Elohim (YAHWEH) sangat meninggikan Dia dan > mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama, supaya di dalam Nama > YESUS, setiap lutut, yang surgawi dan duniawi dan yang di bawah bumi, > akan bertelut, dan setiap lidah mengaku bahwa YESUS Kristus adalah Tuhan > bagi kemuliaan Elohim Bapa (Filipi 2:6-11). > Kerendahan hati Yesus membebaskan para > pengikutNya dari arogansi Setan dan mengajari mereka, bahwa Tuhan sejati > bukanlah Tuhan yang congkak, melainkan Tuhan yang rendah hati. Salib > membebaskan kita dari pembenaran melalui amal yang sangat memberatkan, > dan membuka pintu bagi kehidupan dibawah anugerah. Kerendahan hati Yesus > Kristus menunjukkan pada kita, bahwa persekutuan dalam Roh KasihNya > adalah lebih kuat daripada sebuah tentara modern yang dipenuhi dengan > pengkhianatan dan kekerasan (Matius 5:44; 26:52). Penyaliban dan > kebangkitan Kristus sendiri adalah jawaban atas panggilan dari minaret. > Ia telah merubah doa kita dari ibadah yang dipenuhi dengan ketakutan > kepada Allah yang penuh dengan penghakiman dan hukuman, kepada pujian > dan sujud kepada Trinitas yang Kudus. > > 7. Panggilan dari lonceng gereja > > Jauh sebelum kemunculan Islam, orang-orang Kristen juga memiliki > panggilan harian untuk berdoa dan berefleksi. Banyak menara yang > memiliki dua, tiga bahkan lebih lonceng, yang dentangannya membawa > pesan-pesan yang konkret. > Lonceng kematian yang dibunyikan dengan > perlahan saat memberangkatkan jenazah anggota komunitas gereja > mengingatkan kita akan doa Musa, âMaka beritahukanlah kepada kami agar > menghitung hari-hari kami, supaya kami dapat membawa hati yang > bijaksanaâ (Mazmur 90:12)! Pada saat yang sama, dentangannya adalah > sebuah panggilan untuk pertobatan, sebuah perubahan hati dan pulang ke > rumah Tuhan. Pesannya akan masuk ke dalam kedua telinga dan hati: > âBertobatlah, karena kerajaan surga sudah mendekat!â (Matius 4:17). > Lonceng Penyaliban yang berbunyi di > banyak tempat pada jam 9 pagi; yaitu waktu ketika Yesus dipaku di kayu > salib (Markus 15:25; John 19:14), pada jam 11 siang, saat ketika > kegelapan datang (Mat 27:45) dan pada jam 3 sore, saat ketika Yesus > wafat (Mark 15:34), agar kita memahami bahwa dosa-dosa kita telah > menyebabkan Tuhan dan Juru Selamat kita dipaku di atas kayu salib! Pada > saat yang sama, lonceng penyaliban memberitakan kemenangan Yesus Kristus > atas murka Tuhan, atas tuduhan Setan dan kuasa dosa, sehingga kita bisa > dengan sukacita dan penuh syukur menerima anugerahNya yang cuma-cuma > dan juga pembenaran yang seutuhnya (John 19:30; Ibrani 10:14). > Panggilan lonceng-doa yang berbunyi saat > fajar merekah, pada siang dan malam hari, mengajak kita untuk mengucap > syukur, menyembah, mengucapkan petisi dan syafaat, bagi pengakuan dosa > dan pernyatan iman, supaya kita bisa dengan sadar menyelesaikan hari itu > di hadapan wajah Tuhan dan Bapa kita. Lonceng yang sama, ketika ia > berdentang pada jam 12 tengah hari, juga disebut oleh sejumlah jemaat > gereja sebagai lonceng perlawanan, karena ia menantang setiap orang > untuk tegar menghadapi cobaan dari si Anti-Kristus dengan doa, Firman > Tuhan dan damai dalam persekutuan dengan orang-orang percaya (1 Yoh > 2:22-25; 4:1-5). > Sebagai tambahan untuk kesemuanya ini, > banyak gereja yang memiliki lonceng baptisan, yang dengan keras dan > penuh sukacita bergemuruh ketika seorang anak atau seorang dewasa > dibaptiskan, karena melalui iman dan baptisan, hidup kekal melalui > Putera Elohim datang untuk tinggal di dalam kita (Matius 16:16; 28:19; > Yoh 3:3,5,16). > Terkadang, gereja-gereja besar memiliki > sebuah âlonceng Dominikaâ, yang berbunyi sebelum pelaksanaan ibadah pada > hari Minggu, untuk mengingatkan jemaat akan kebangkitan Kristus dan > proklamasi kemenanganNya atas maut. Pada saat yang sama, ia juga > menyaksikan pengharapan yang pasti akan hidup kekal bagi setiap pengikut > Yesus Kristus (1 Petrus 1:3-7). > Beberapa kubah gereja dan katedral juga > memiliki sebuah âlonceng Gloriosaâ. Pada hari-hari libur spesial, ia > membawakan suara dari pujian yang tidak pernah berakhir dari orang-orang > yang sudah ditebus, atas keselamatan yang sudah dianugerahkan oleh > Bapa, Anak dan Roh Kudus ke setiap rumah di kota-kota dan desa-desa > (Lukas 2:14; Wahyu 7:9-12). > Sebelum ibadah utama pada hari Minggu, > semua lonceng (kecuali lonceng âgloriosaâ), berdentang bersama-sama dan > menyerukan pertobatan dan anugerah, untuk berdoa dan beribadah, untuk > mempercayai kesetiaan Tuhan dan untuk menerima damaiNya yang kekal. > Setiap pendengar yang serius akan > mengenali bahwa sebuah hari akan ditandai dengan 7 kali bunyi lonceng, > memanggil kita untuk berada di hadapan hadirat Tuhan: bunyi lonceng pada > pagi hari saat fajar merekah, bunyi lonceng pada jam 9 pagi, 11 siang, > 12 tengah hari, 3 sore. Ketentuan dalam gereja nasional di Wurttemberg, > ditulis pada tahun 1956, bukanlah sebuah rangkaian yang tetap, namun > merupakan sebuah hak istimewa dan bisa ditambahkan atau dikurangi oleh > gereja-gereja individual. > Satu hal yang pasti: lonceng tidak > memanggil kita untuk memelihara hukum dengan sasaran untuk meraih > pembenaran diri melalui pencapaian pribadi. Juga mereka tidak mengajak > kita agar melakukan perang suci dengan tujuan menegakkan teokrasi > (pemerintahan Tuhan). Sebaliknya, mereka berkontribusi untuk kemuliaan > Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam Trinitas Yang Kudus (Efesus 2:4-10). > Apa yang muncul dalam pemikiran kita > ketika kita mendengar suara lonceng? Siapakah yang mengerti suara mereka > sebagai sebuah pengingat dan sebuah pendorong untuk kita melaksanakan > doa secara hening? Dan siapa yang mendoakan banyak orang yang ada di > tengah-tengah kita, yang sudah lupa bagaimana harus berdoa? Siapakah > yang memikirkan para pekerja asing dan orang-orang Muslim yang tinggal > di sekitar kita? Ketika lonceng di negara kita tidak lagi berdentang, > sebagaimana yang terjadi di bekas negara Uni Sovyet selama > bertahun-tahun, banyak yang merasakannya bahwa, di tengah-tengah stress > yang setiap hari kita alami, sesuatu yang esensial sedang hilang. > KUIS > > Para pembaca yang terkasih, > Jika anda sudah mempelajari buku ini > dengan seksama, maka anda akan dengan mudah menjawab > pertanyaan-pertanyaan berikut. Siapa pun yang menjawab 90 persen dari > semua pertanyaan di buku yang berbeda dari seri ini dengan benar, bisa > mendapatkan sebuah sertifikat dari kantor pusat kami. > Sebagai sebuah peneguhan untuk pelayan > lebih jauh bagi Kristus, kami menghargai jika anda memasukkan juga > referensi-referensi Qurâanik dalam jawaban anda. > 1. Tuliskanlah terjemahan Inggris dari > setiap panggilan dari minaret. > > 2. Apa arti seruan âAllahu akbarâ dalam perspektif semua ciptaan? > > 3. Hingga tingkatan apa Allah lebih besar dari semua roh-roh dan juga > lebih besar dari Roh Kudus? > > 4. Hingga tingkatan apa Allah lebih besar dari setiap pemikiran tentang > Dia? Apa artinya konsepsi ini bagi pengetahuan mengenai Tuhan, dalam > Islam? > > 5. Bagaimana Qurâan menjustifikasi bahwa Allah lebih besar dibandingkan > Kristus dan lebih besar dibandingkan iman di dalam Dia? > > 6. Mengapa Muslim berperang secara fanatik untuk iman mereka bahwa tidak > ada Tuhan selain Allah? > > 7. Mengapa seorang Muslim harus percaya kepada Muhammad dan mentaatinya? > > 8. Apakah artinya panggilan âmarilah berdoaâ? > > 9. Mengapa seorang Muslim harus membasuh dirinya sebelum melaksanakan > sholat sesuai dengan peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan? > > 10. Berapa kali seorang Muslim dalam sehari harus berdoa dengan > menggunakan liturgi doa yang sudah disusun? > > 11. Apakah artinya bahwa seorang Muslim harus mengulangi dalam sehari > 100 kali kalimat âterpujilah Tuhanku, Yang maha Tinggi?â > > Kirimkan jawaban anda ke: > GRACE AND TRUTH, P.O.Box 1806 > 70708 Fellbach, Germany > Atau melalui e-mail ke: > i...@... > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
