Blogroll

        1000 KESALAHAN QURAN30 Days InternationalADA APA DG MUSLIMAGAMA 
PALSUANSWERING ISLAMARAB BIBLE SOFTWARE FREEArab World MinistriesARTIKEL 
ISLAMARTIKEL2 SAM SHAMOUNASAL USUL QURANAYAT-AYAT SETANBaca Alkitab bhs 
ArabBERITA MUSLIM SAHIHBUKTI SAKSICHRIST, MUHAMMAD & ICONVERSATION WITH 
MUSLIMDEBAT ISLAM
 KRISTENDIAN EDEWDISKUSI ISMAIL ISHAKDOWNLOAD ARAB BIBLEDOWNLOAD ARAB BIBLE 
MP3DULADIE-BOOKS ISLAMEX MUSLIM INGGRISEX MUSLIM JERMANFAITH 
FREEDOMFAITHFREEDOM WIKIFF INDONESIAFormer Muslims United (FMU)FORUM MURTADIN 
INDONESIAFREE 100 BUKU Dr. BoutrosFUCK MUHAMMADGEERT WILDERSGENSGTER of 
MOHAMMEDGOSPEL-INJILGRATIS AUDIO ALKITAB BHS ARABHIDDEN LIESIBNU WARRAQIJTIHAD 
INDONESIAIn Search of MuhammadINDEX ISLAMINDONESIA EX-MUSLIM FORUMINFO FOR 
MUSLIMINJIL BAGIMUISA DAN ISLAMISLAM DAN KRISTENISLAM EXPOSEISLAM EXPOSEDISLAM 
FOBIAISLAM MENANTI YESUSISLAM SESATISLAM VS KRISTENISLAM WATCHISLAM: AGAMA 
DAMAI?ISLAMIC INVASION bhs INDONESIAISMAIL DIBERKATIISMAIL SAUDARAKUJawaban Sam 
ShamounJELAS NGGAKJIHAD DI BARATJIHAD WATCHJOELS TRUMPETKABAR BAIKKEBENARAN 
ISLAMKESAKSIAN EX-MUSLIMKESAKSIAN EX-MUSLIM 2KESALAHAN QURANKOCAK 
HUMORKONTRADIKSI ALKITAB BlogKONTRADIKSI ALKITAB-Sarapanpagi.orgKONTROVERSI 
AYAT2 SETANKRITIK THD ISLAMLASKAR MURTADINMARK A GABRIELMENGENAL
 ISLAMMENGENAL ISLAMMENGENAL MUHAMMADMENJAWAB ISLAMMESJID TUHANMinistry to 
MuslimsMORE THAN DREAMSMUHAMMAD SAWMUHAMMAD-ZAINABMUSLIM BERTANYAMUSLIM HARUS 
TAHUMUSLIM HOPEMUSLIM JADI KRISTENMuslim Journey to HopeMUSLIM YG DICERAHKANMY 
SPEARPEDSONPERCAKAPAN DENGAN MUSLIMPRESTASI MUHAMMADPROPHET OF DOOMPUTRA 
HAMASRELIGION OF PEACEROBERT MOREYROD PARSLEYSALMAN RUSHDIESATE 
MUSLIMSAVE-DESTROY ISLAMSECRET of QURANSELAMATKAN MUSLIMSIAPAKAH ALLAH 
INISIAPAKAH ISASON OF HAMAS's BlogSON OF HAMAS's WebSTOP ISLAMISASI EROPA!TANYA 
JAWAB ALKITABTHE QURANVideo Debat Islam-KristenVideo Debate Islam-KristenWAFA 
SULTAN ON YOU TUBEWEB IRSHAD MANJIWHY I AM NOT A MUSLIMWIKI ISLAMWomen against 
ShariahYESUS & MUHAMMAD
                Recent Posts
                Hukum SYARIAH: Rajam, Gantung, BunuhMengapa Geert Wilders 
Menjadi Seorang Yang Sangat “Anti-Islam”?Musik Haram Menurut IslamSIAPA YANG 
BERANI MENYANGKAL INDONESIA GUDANG TERORIS?Penderitaan Wanita di 
dalam IslamBumi datar menurut MuslimInikah perlakuan Islam terhadap Wanita 
yang mulia?TANYA JAWAB ISLAM-KRISTENUlama Saudi Bolehkan Muslimah
 Tak BercadarDiusir Karena Pakai Pakaian Renang Muslim3 Hal yang Kamu Tidak 
TAHU tentang ISLAMData-data Sejarah tentang Penyaliban YesusStudi di Malaysia: 
Poligami Membuat Keluarga Tidak BahagiaKESAKSIAN PERTOBATAN MasriKESAKSIAN 
PERTOBATAN Saidou
                

AKU DITARIK DARI PANGGILANKU SEBAGAI MISIONARIS

http://blessishmael.blogspot.com






                                      Saya
 mengenal Helena dari Finladia selama lebih dari 20 tahun. Helena 
mendapat sebuah rumah di St. Andrew’s dan secara rutin menghadiri 
pertemuan kopi pagi setiap hari Selasa dan persekutuan wanita setiap 
hari Kamis, dan juga ibadah Minggu selama bertahun-tahun hingga akhirnya
 ia pindah rumah. Ia adalah seorang anggota gereja yang penting dan 
berharga dengan karunia kehangatan dan keramah-tamahan. Helena sering 
menerima saya dan banyak anggota gereja di rumahnya dan di sanalah saya 
mengetahui tentang kesulitan-kesulitan yang dialaminya dengan 
pernikahannya dan trauma-trauma yang dideritanya.    KISAH HELENA  Aku
 tiba di Tilbury pada tahun 1969 dengan sebuah koper dan pimpinan yang 
jelas dari Tuhan untuk mempelajari bidang keperawatan dan untuk bekerja 
di negara lain sebagai seorang misionaris. Saat itu aku berusia 20 tahun
 dan telah menempuh pendidikan di sekolah Alkitab, kemudian bekerja di 
sebuah Rumah Misi dan juga terlibat dalam upaya-upaya penjangkauan 
lokal. 



Aku
 sangat menikmati pelatihan keperawatan yang kuikuti dan kemudian aku 
melanjutkan studi kebidanan. Aku melihat mujizat saat ada kehidupan baru
 hadir ke dalam dunia dengan selamat dan pemulihan si ibu sangat 
menakjubkan. Suatu hari, kematian seorang bayi yang baru dilahirkan, 
yang terlalu lemah untuk menghadapi pergumulan hidup, sangat 
menyentuhku. Aku menyadari bahwa memelihara kehidupan dan memperhatikan 
mereka yang hidupnya hampir berakhir adalah sebuah panggilan yang 
berharga.  Selama
 itu aku tinggal di East End di London. Aku sangat bersemangat dengan 
pengalaman yang menyenangkan tinggal di tempat yang penuh warna, penuh 
kegiatan karena banyak orang dari kelompok-kelompok etnis yang berbeda 
memenuhi pasar-pasar dan toko-toko. Lingkaran sosialku mulai meluas 
ketika aku berkenalan dengan sesama mahasiswa dari berbagai negara dan 
dari berbagai agama yang berbeda. Ketika pertama kali aku bertemu 
“Mustafa” di kampus lokal hatiku bergejolak. Ia kelihatan sangat 
istimewa. Ia adalah pria paling tampan yang pernah kulihat dan 
tingkah-lakunya dan suaranya yang begitu menawan sangat menarik hati. Ia
 tidak memperhatikanku namun aku memperhatikannya dari kejauhan. Ia 
sangat populer, dan walaupun ia mempunyai reputasi sebagai seorang 
perayu wanita, ia berkencan dengan banyak sahabatku. Aku tidak pernah 
menceritakan pada siapapun gaimana ia selalu ada dalam pikiranku. Di 
luar dugaanku, suatu hari ia menelepon asrama perawat dan mengajakku 
keluar, tapi aku sakit hati karena aku adalah orang terakhir dalam 
daftarnya, jadi aku menolak dan mencoba melupakannya. Tiga tahun 
kemudian baru aku bertemu lagi dengannya.  HUBUNGAN KAMI DIMULAI SETELAH AKU 
BERTEMU DENGANNYA DI GEREJA  Aku
 melanjutkan pelatihan keperawatanku dan mulai menghadiri Persekutuan 
Perawat Kristen dan gereja lokal. Ibadah-ibadahnya sangat hidup dan 
menggetarkan dengan lagu-lagu yang indah dan pengajaran Firman yang 
baik. Tiba-tiba suatu Minggu Mustafa muncul di gereja. Aku sangat senang
 melihatnya – ia adalah wajah yang tidak asing di tengah lautan manusia 
dan kami mulai berbincang. Ia nampaknya baik-baik saja. Tidak lama 
kemudian aku merasa yakin bahwa ia sekarang telah beribadah di gereja 
dan telah memeluk iman Kristen dan semuanya akan baik-baik saja. Kami 
mulai sering bertemu. Setelah 6 minggu, ia melamarku. Aku sangat 
kasmaran. Segala sesuatu yang lain nampaknya tidak penting lagi. Kami 
adalah dua orang muda yang sedang jatuh cinta dan hanya itulah yang 
penting. Namun demikian, ada satu hal yang sedikit mengusik 
kebahagiaanku yaitu Mustafa mengatakan padaku bahwa jika keluarganya 
mengetahui kalau aku berkulit putih dan berasal dari negara dan ras yang
 berbeda, mereka akan menghalangi kami agar tidak menikah. Saat itu aku 
berpikir bahwa ini adalah sikap yang sama sekali  kolot.
 Aku memperoleh ijin khusus untuk menikah dan 2 orang asing yang kami 
temui dijalanan sebagai saksi pernikahan kami. Aku menetapkan hati bahwa
 tidak ada sesuatupun atau seorangpun yang dapat merusak kebahagiaan 
kami.  Di
 minggu-minggu pertama pernikahan kami segera aku menyadari bahwa 
Mustafa tidak pandai dalam mengorganisir segala sesuatu; ia tidak 
mempunyai rencana untuk hidup kami bersama. Setelah menikah aku masih 
tinggal di asrama perawat dan ia tinggal dengan saudaranya laki-laki. 
Aku sampai harus memaksanya menulis surat kepada ibunya mengatakan kalau
 ia telah menikah. Ia mengaku bahwa ia telah mendapatkan gelar dari 
peguruan tinggi di Pakistan, tapi ketika ia mencoba mendaftar untuk 
studi di Inggris ia tidak diterima untuk mengikuti sebuah kursus. 
Setelah beberapa waktu ia mulai bekerja di sebuah kantor akuntan sebagai
 karyawan. Ia mengaku mampu membeli rumah untuk kami tinggali namun 
diperlukan waktu bertahun-tahun agar hal ini dapat terwujud. Aku sangat 
menginginkan keamanan dan tempat kami sendiri.      IA TELAH MENJADI KRISTEN 
TETAPI TEKANAN KELUARGA TERNYATA TERLALU BESAR  Beberapa
 bulan setelah pernikahan akhirnya aku dapat bertemu dengan saudaranya. 
Saat pertama bertemu dengannya ia sangat ramah dan menyenangkan. Namun 
demikian, Mustafa sangat tidak mendapat restu karena menikahi seorang 
wanita Kristen berkulit putih dan karena pergi ke gereja, dan ia 
diperintahkan agar tidak ke gereja lagi. Aku juga dilarang pergi ke 
gereja. Mustafa menaatinya dan menyangkali Kristus karena tekanan 
keluarga dan tingkah-lakunya berubah sejak hari itu. Saudara Mustafa 
juga mengatakan padaku bahwa kami harus menikah secara Islam. Aku hanya 
tahu sedikit tentang Islam, kecuali bahwa Islam berkontradiksi dengan 
Alkitab, jadi aku mengatakan padanya bahwa aku tidak dapat tunduk kepada
 Qur’an. Itu adalah akhir dari diskusi kami.  Berdasarkan
 tradisi, kami kemudian tinggal di rumah abangnya yang tertua dimana aku
 satu-satunya wanita di sana. Aku mengenakan pakaian Asia dan terlibat 
dalam urusan rumah-tangga, kebersamaan keluarga besar dan berbelanja di 
pasar-pasar makanan Asia. Setelah setahun pernikahan kami aku melahirkan
 anak kami yang pertama, seorang bayi perempuan yang sehat. Aku 
terperanjat melihat suamiku kecewa, karena seperti umumnya pria Muslim, 
ia menginginkan seorang anak laki-laki. Aku berusaha mengatakan padanya 
bahwa semestinya ia bahagia dengan kelahiran putri kami. Dua dunia mulai
 bertabrakan. Dalam waktu yang singkat aku melahirkan anak yang kedua – 
seorang bayi laki-laki. Kali ini Mustafa sangat bahagia dan bangga. Aku 
merasa bahwa Tuhan telah dengan murah hati memberkati kami dengan dua 
anak yang manis – laki-laki dan perempuan.     TAHUN-TAHUN PERNIKAHAN YANG 
SULIT  Selama
 dua tahun pertama pernikahan kami aku mulai sadar bahwa pria yang aku 
nikahi adalah seorang pemarah. Ia menjadi sangat mudah tersinggung dan 
bersikap mendominasi. Ia sering menyombongkan keluarganya yang kaya di 
Pakistan. Ia selalu menuduh orang Inggris merampok negaranya dan 
mendatangkan kerusakan. Aku berusaha mengatakan padanya bahwa aku 
berasal dari negara yang damai dan semestinya tidak menjadi sasaran 
kebenciannya. Menurutku komentar-komentarnya yang rasis bagiku sangat 
tidak mengenakkan. Aku memintanya pergi ke dokter karena menurutku ia 
jelas menunjukkan gejala-gejala stres. Namun demikian nasehatku hanya 
semakin membuat ia tersinggung.  Semakin
 banyak keluarganya yang datang dan tinggal di rumah kecil kami yang 
hanya memiliki 3 kamar tidur. Rumah itu penuh sesak dan kami hanya 
mempunyai sedikit privasi. Mustafa kadang-kadang pulang dengan bau 
alkohol dan meneriaki aku. Abangnya akan berpihak padaku dan 
memarahinya. Kini pria menawan dan tampan yang telah kunikahi berubah 
menjadi seorang tiran yang pemarah. Situasi di rumah tidak dapat 
ditolerir lagi. Rumah pribadi kami masih merupakan impian, jadi kami 
mendaftar di Departemen Perumahan.     SEJENAK BERNAFAS DALAM PERNIKAHAN  
Kemudian
 ayahku di Finlandia jatuh sakit. Aku pergi mengunjunginya dengan 
anak-anak sehingga ia dapat bertemu dengan cucu-cucunya karena kami tahu
 umurnya tidak akan lama lagi. Perpisahan sementara dengan Mustafa 
sangat menyenangkan. Saat tinggal dengan orang-tuaku aku harus bekerja 
untuk menghidupi kami karena Mustafa tidak mengirimiku uang. Menurutku 
ini adalah kesempatan baginya untuk menenangkan pikirannya. Aku sama 
sekali tidak tahu apa yang ada di hadapan kami.  Setahun
 kemudian ia datang ke Finlandia dan kami kembali ke Inggris 
bersama-sama. Pada saat kami kembali, berita buruk telah menanti kami. 
Mustafa ditangkap oleh polisi lokal. Ia telah dicari oleh interpol 
karena telah berhubungan dengan orang yang mempunyai penyakit menular. 
Setelah beberapa hari aku mengetahui bahwa ia telah bertemu dengan 
seorang gadis Finlandia di sebuah pesta; yang kini sedang dirawat di 
Rumah Sakit oleh karena penyakit itu. Ia mengarang cerita agar ia dapat 
dimaafkan dan ini menimbulkan pertengkaran yang hebat. Pengalaman pahit 
ini adalah sebuah syok yang traumatis dan hampir mengakhiri pernikahan 
kami. Aku sudah tidak dapat mempercayainya lagi. Kini aku mengasihaninya
 dan menolaknya.     PERNIKAHAN YANG AMBRUK  Hidup
 menjadi semakin sulit karena Mustafa tidak senang menghabiskan waktu di
 rumah; pekerjaan rumah-tangga menyiksanya. Ia sangat terganggu dengan 
suara anak-anak bermain. Ia tidak suka masakanku. Ia sama sekali tidak 
mau membantuku, dan ia menolak pergi membeli daging di tukang jagal 
Halal. Hal ini sangat mempermalukanku, karena hanya kaum pria yang pergi
 ke toko itu. Mustafa berpesan padaku untuk mengatakan pada si tukang 
jagal bahwa ia tidak suka mengantri di toko itu karena tidak tahan 
dengan bau daging mentah. Tukang jagal itu memandangiku dengan wajah 
bertanya-tanya – aku tahu ia merasa aneh karena aku yang datang ke situ 
dan bukannya suamiku.  Ketika
 ibunya Mustafa, Amatzi, tiba dari Pakistan, aku segera menyukainya. Ia 
seorang wanita yang kuat dan membumi dan mengajariku bagaimana memasak 
kari dan membuat chapati. Suatu Minggu siang, ketika seluruh keluarga 
besar hadir untuk makan siang bersama, ia mengatakan pada mereka bahwa 
aku sama dengannya ketika ia masih muda, karena ia bekerja dengan keras 
dan berusaha mengurus keluarga dan suaminya. Ia kemudian menambahkan 
bahwa aku lebih baik dari menantu-menantu perempuannya yang lain. Ini 
mendatangkan konflik dan perpecahan diantara aku dan anggota keluarganya
 yang lain dan tidak terlupakan.  Akhirnya
 kami pindah ke East London dan menempati rumah yang nampaknya kedua 
termurah di kota, yang secara bertahap kami perbaiki. Mustafa masih 
menderita stres dan menolak untuk mencari pertolongan; ia mulai keluar 
rumah sepanjang akhir pekan, nongkrong di Marble Arch dengan teman-teman
 yang meragukan.     KECELAKAAN DI JALAN DAN KONSEKUENSINYA  Dua
 hari sebelum ujian akhir studi keperawatanku, aku mengalami kecelakaan 
yang serius di jalan ketika menemani seorang pasien yang dirujuk ke 
rumah sakit lain. Aku menderita cedera leher yang serius dan menetap 
yang mengakhiri karirku sebagai perawat. Uang kompensasi yang kuterima 
menolongku untuk membayar hutang-hutang. Bayi yang sedang kukandung pada
 saat kecelakaan itu terjadi - gugur sebulan kemudian, namun dalam waktu
 setahun aku telah melahirkan seorang bayi laki-laki.  Setelah
 kecelakaan itu aku berusaha semampuku untuk mengurus rumah dan memasak.
 Mustafa sama sekali tidak mau membantu walaupun aku harus istirahat 
total karena kecelakaan itu, yang juga berdampak pada tulang belakangku.
 Cedera yang kualami menyebabkan aku menderita sakit kepala yang hebat 
dan vertigo, dan setiap kali aku melangkah tubuhku gemetaran dari tumit 
hingga kepala. Oleh karena aku tidak dapat bekerja lagi, uang menjadi 
masalah karena kurangnya pemasukan sedangkan kebutuhan kami banyak. 
Walaupun demikian, Mustafa tetap mengirimkan uang ke Pakistan. Keberatan
 apapun yang kusampaikan hanya akan berujung pada pertengkaran, lalu ia 
pergi dari rumah, dan tidak kembali untuk waktu yang lama. Ia akan 
meneriaki aku dan membuat aku merasa tidak berharga dan aku merasa aku 
hanya dianggap sebagai penjaga rumah.  Ketika
 aku sedang mengandung anak keempat Mustafa semakin menjadi suka 
menyiksa secara verbal maupun secara fisik sehingga aku harus tidur di 
kamar lain. Ia terus-menerus meneriaki anak-anak, terutama terhadap 
putra kami yang tertua yang pada suatu hari menderita sakit perut yang 
amat sangat, dugaanku ia mengalami radang usus buntu. Aku ingin agar ia 
pergi ke dokter tetapi Mustafa menolak untuk mengantarnya dengan mobil, 
maka aku yang membawanya tanpa menghiraukan keadaanku yang sedang hamil 
besar dan kesakitan karena cedera leher yang parah, aku menggendongnya 
sendiri. Ketika aku masuk, Mustafa memukul bagian belakang kepalaku 
dengan keras. Beberapa hari kemudian ia berusaha menendang perutku. 
Putra kami yang tertua dengan berani menghadapinya dan berteriak pada 
ayahnya agar tidak memukuli aku, lalu dengan ketakutan ia berlari ke 
lantai atas untuk bersembunyi dari ayahnya yang mengejarnya. Tuhan 
memberiku kekuatan untuk menghadapi Mustafa dan mengatakan padanya untuk
 berhenti memukuliku.     MUSTAFA BERUSAHA MENGHANCURKAN IMANKU  Kini
 hanya sekali-sekali aku pergi ke gereja untuk mengikuti ibadah Minggu. 
Aku merasa sangat hina dan pedih, terlalu takut untuk tinggal di rumah 
yang sama dengan Mustafa, dan aku sangat kuatir akan masa depan. Aku 
memerlukan penghiburan dengan mendengarkan pengajaran Alkitab dan 
menyanyikan lagu-lagu pujian yang aku kenal. Mustafa sangat marah ketika
 mengetahui bahwa aku pergi ke gereja dan mulai menunjukkan kemarahan 
yang mengerikan. Kehadiranku di gereja membuatnya sangat murka hingga ia
 berupaya dengan segala cara untuk menghancurkan imanku. Ia 
merobek-robek Alkitabku. Menurutnya tempatku adalah di rumah dan harus 
segera datang jika ia memanggilku setiap Minggu pagi untuk menyajikan 
makanan untuknya, tapi kemudian dia akan keluar rumah sepanjang hari. 
Apapun yang ingin kulakukan sama sekali tidak relevan dan ia mulai 
sangat cemburu ketika aku keluar rumah. Ia bahkan menuduhku telah 
berselingkuh, dan tuduhan itu sama sekali tidak benar. Aku mulai melihat
 bahwa masalahnya adalah lebih dari sekadar stres di tempat kerja atau 
keengganan untuk menjadi suami dan ayah yang bertanggung-jawab; aku 
menyadari bahwa ia tidak lagi mencintaiku.     PERCERAIAN YANG TIDAK TERELAKKAN 
 Aku
 harus mendapatkan 2 perintah pengadilan untuk menyingkirkannya dari 
rumah nikah. Proses perceraian itu berlangsung selama 2 tahun, dan 
Mustafa berupaya dengan segala cara untuk merendahkan aku di pengadilan 
dan untuk mendapatkan hak asuh atas anak-anak. Semua usahanya itu gagal.
 Suatu hari seorang wanita yang adalah kerabat jauhnya meneleponku dan 
berusaha mengajak keluargaku ke rumahnya. Ini membuatku waspada 
jangan-jangan ini adalah usaha untuk menculik anak-anakku. Tidak lama 
berselang aku berjumpa dengan saudari iparku di jalan dan ia mengatakan 
padaku agar aku pasrah dan menerima saja jika dipukuli oleh suamiku.  Dua
 kali Mustafa memintaku untuk menerimanya kembali, ia menangis di 
telepon dan memohon pengampunan tetapi ia mengatakan bahwa ia tidak 
melakukan kesalahan. Aku merasa kasihan padanya dan mengundangnya untuk 
berkunjung. Anak-anak mulai berjaga-jaga saat kedatangannya. 
Tingkah-lakunya sangat mengecewakan dan merusak sehingga mereka menolak 
untuk menemuinya, apalagi untuk tinggal dengannya lagi.  Kedua
 orang-tua Mustafa dan abangnya yang tertua kini telah meninggal. Ia 
menikah lagi, dan istrinya yang kedua yang berasal dari Pakistan 
menggugurkan anak mereka sehingga membuatnya harus mengeluarkan banyak 
uang untuk mengurus perceraian mereka. Istri ketiganya adalah seorang 
gadis desa dari Pakistan, seorang kerabat, namun ia masih saja terlibat 
dengan wanita-wanita lain. Mustafa kini menderita serangan kecemasan dan
 telah menjadi seorang tua yang menderita.     KESIMPULAN  Hidupku
 tidaklah mulus. Orang-orang telah mengecewakanku, dan aku sudah keluar 
masuk rumah sakit. Namun, kini saat aku melihat ke belakang, aku dapat 
melihat bahwa pengalaman-pengalamanku sangat bernilai dan telah membawa 
banyak keuntungan spiritual. Aku merasa bahwa perjumpaanku dengan 
Mustafa dan pernikahan kami adalah hal yang benar dan Tuhan telah 
memberkati kami dengan anak-anak yang manis dan cerdas. Dalam beberapa 
peristiwa aku belajar mengenai otoritas yang aku miliki sebagai anak 
Tuhan karena banyak kali aku mengalami konfrontasi yang jelas dengan 
kekuatan-kekuatan si jahat. Imanku bertumbuh semakin kuat dan lebih 
terang dan aku tidak mempunyai keraguan.  Komitmenku
 kepada Kristus terus bertumbuh melalui hari-hari yang suram ketika aku 
mulai sadar bahwa Mustafa adalah seorang yang penuh kepahitan, seorang 
pembohong dan penipu. Ia menyombongkan kekayaannya; namun aku dan 
anak-anak tidak melihat harta apapun. Aku mengkonfrontasikannya dengan 
kenyataan bahwa adik-adiknya yang bergaji lebih kecil daripada kami 
dapat mempunyai rumah sendiri, dan istri-istri mereka tidak perlu 
bekerja. Aku harus bekerja untuk mencukupi semua kebutuhan kami. Ia 
selalu menjadi marah dan tidak mau menjawab. Mustafa sangat dangkal. 
Ketika ia dikonfrontasi oleh abangnya soal pergi ke gereja, ia tidak 
memegang teguh pendiriannya tetapi menuruti tuntutan abangnya itu. 
Sedikit iman yang telah dimilikinya disangkali dengan kegagalannya untuk
 bersaksi dan mempertahankan apa yang ia yakini. Ia lebih suka 
mempertahankan warisannya.  Ia
 tidak bersungguh-sungguh terhadap semua komitmennya. Ia selalu suka 
menyenangkan orang agar mendapat keuntungan bagi dirinya sendiri. Selama
 tahun-tahun pernikahan kami, tingkah-lakunya semakin memburuk, demikian
 pula kebohongannya, kemarahan dan kekerasannya. Seringkali ia terlihat 
seperti seorang yang sedang dihantui. Aku melihat kebencian terhadapku 
di matanya; sama sekali tidak ada kepedulian atau belas-kasihan. Aku 
berketetapan aku tidak boleh dihancurkan oleh orang yang nampaknya 
menderita ketidakwarasan, aku juga tidak mengijinkan anak-anakku 
menderita karena hal itu.  Stigma
 perceraian tidak mudah kutanggung. Aku banyak menangis pada tahun-tahun
 pertama, lalu aku mati rasa. Tetapi Tuhan dalam anugerah-Nya berbicara 
padaku melalui kata-kata penghiburan-Nya di dalam Alkitab: “janganlah 
menangis, hai kamu yang terbuang. Aku akan menjadikanmu ibu yang bahagia
 dalam rumahmu dengan anak-anakmu.” Dan itu menjadi kenyataan. Kemudian 
aku mengerti bahwa pengalaman-pengalaman kesusahanku adalah sakit dan 
luka-luka yang aku terima dalam peperangan. Tuhan berkata: “Ia melatih 
tanganmu untuk berperang.” Aku menyadari banyak juga orang lain yang 
telah mengalami situasi yang jauh lebih buruk dan tidak tunduk kepada 
sesembahan palsu atau menyangkali Yesus. Mustafa menolak Kristus dengan 
menyerah pada keinginan keluarganya dan damai sejahteranya 
meninggalkannya.  Melalui
 penderitaanku Tuhan telah memberiku kekuatan untuk mempertahankan apa 
yang benar dengan kejujuran dan integritas. Aku mengetahui 
pengajaran-pengajaran Alkitab adalah yang tertinggi. Yesus, walaupun Ia 
manusia, Ia tidak berdosa dan tidak ada cacat dalam karakterNya; Ia 
adalah Putra Tuhan. Bagiku pengajaran-pengajaran Yesus bagaikan air di 
padang gurun, penghiburan bagi jiwa dan telah memberikanku keberanian 
dalam kelemahanku, damai dan kepuasan di tengah-tengah semua masalahku.   Kini
 hidupku penuh. Anak-anak sudah besar dan aku mempunyai banyak teman dan
 sekarang aku banyak membantu gereja. Tahun-tahun yang menyakitkan 
selama pernikahanku telah mengajariku betapa indahnya iman di dalam 
Yesus, bahkan saat Mustafa berusaha menghancurkannya dengan segala 
kemampuannya. Dalam tahun-tahun yang gelap itulah Tuhan mengirimkan 
teman-teman yang baik untuk menyemangati, menolong, dan mendukungku. Aku
 menerima banyak jawaban doa dan mengetahui kuasa dan kehadiran Roh 
Kudus. Aku sekarang miskin tapi aku sudah bebas.      TERTIPU SEHINGGA PERCAYA 
BAHWA IA ADALAH SEORANG KRISTEN  Dalam
 kisah Helena, Mustafa seakan terlihat sungguh-sungguh mencari Tuhan dan
 ia mengambil komitmen terhadap iman Kristen. Namun demikian tekanan 
keluarga sangat besar dan akhirnya keluarganya menjadi yang terpenting. 
Banyak wanita percaya bahwa pria-pria yang mereka nikahi telah menerima 
Kristus dalam hidup mereka, namun segera setelah mereka menikah komitmen
 itu memudar. “Komitmen” sebenarnya hanyalah sebuah alat untuk 
meyakinkan wanita Kristen bahwa mereka tidak salah langkah menikahi 
pria-pria itu.  Si wanita seringkali melihat 
pertobatan sebagai tanda dari Tuhan. Para wanita Kristen harus bijaksana
 dan berhati-hati dalam berhubungan dengan pria-pria yang baru saja 
bertobat dari Islam, waspada bahwa norma-norma budaya dalam budaya 
Muslim seperti yang telah disebutkan di atas, hanya memberi sedikit 
tempat untuk persahabatan biasa antara pria dan wanita.  Saya
 tidak berkata “Jangan menikahi seorang Muslim yang bertobat kepada 
kekristenan”. Jika seorang petobat sudah teguh dan bertumbuh imannya 
sebelum si wanita bertemu dengannya, maka itu adalah situasi yang sama 
sekali berbeda.  Ada
 sebuah kisah dari Jerman tentang seorang gadis yang bertemu dengan 
seorang pemuda Muslim dari Pakistan dan berdoa agar ia menjadi seorang 
Kristen sehingga si gadis dapat menikahinya. Pemuda itu tidak menjadi 
Kristen, tapi ia tetap menikahinya dan terus berdoa agar pemuda itu 
bertemu Kristus. Tapi yang mengkhawatirkan adalah bahwa ia mengusahakan 
pertobatan pemuda itu sebagai sebuah konfirmasi dari Tuhan bahwa ia 
telah mengambil keputusan yang tepat dengan menikahi pemuda itu.   Ada
 wanita-wanita yang menikahi pria Muslim karena mereka percaya jika 
mereka berdoa, Tuhan akan menyelamatkan suaminya dan meninggalkan Islam.
 Teori ini mungkin saja jadi kenyataan, karena tidak ada yang mustahil 
bagi Tuhan, namun dalam prakteknya hal itu sangat jarang terjadi.   Orang-orang
 Kristen harus selalu ingat akan prinsip yang mengatakan bahwa seorang 
Kristen harus menikah dengan orang yang seiman – bukannya terhanyut 
dengan perasaan jatuh cinta.
 Jika terhanyut, mereka akan merohanikan hasrat mereka dengan mengatakan
 bahwa menikahi seorang Muslim adalah sebuah cara untuk mentobatkannya, 
atau membangun jembatan pengertian diantara kedua keyakinan. Kadangkala,
 dengan anugerah Tuhan, itu dapat terjadi, tapi itu tidak berarti bahwa 
pernikahan adalah hal yang benar untuk dilakukan. Lebih sering itu malah
 perlahan-lahan membuat orang melangkah keluar dari terang Tuhan.     PENEKANAN 
PADA KOMUNITAS  Hal
 lain yang menarik dari Islam adalah adanya penekanan pada komunitas dan
 keluarga. Ikatan pertalian yang sangat erat menawarkan sebuah 
alternatif yang menarik terhadap individualisme masyarakat Barat. Namun 
demikian, sisi buruknya adalah komunitas yang erat dapat bersifat 
menekan dan menyangkali kebebasan individu. Para wanita Kristen yang 
menginginkan komunitas tidak selalu dapat melihat aspek-aspek negatif 
dari hal itu. Mereka tidak menyadari bahwa ketika mereka menikah mereka 
harus meninggalkan kebebasan individual mereka, karena mereka menikahi 
sebuah keluarga dan sebuah komunitas yang mendikte tingkah-laku dan 
fungsi-fungsi.  Pusat
 dari konsep komunitas ini adalah mesjid. Bagi orang Muslim, mesjid 
adalah titik sentral komunitas dan yang memberikan identitas dan tujuan 
politis, spiritual dan entitas sosial. Banyak kegiatan berlangsung di 
dalam dan di sekitar mesjid seperti memberi makan kaum miskin, 
pendidikan dan konseling, dan mesjid selalu terbuka setiap hari. Ada 
pertemuan-pertemuan untuk wanita dengan pembicara-pembicara khusus dan 
pertemuan-pertemuan informal di rumah-rumah dengan makanan dan keramahan
 yang hangat.     ADA YANG BERPALING KARENA MENURUT MEREKA ISLAM DAN 
KEKRISTENAN SAMA SAJA  Ada
 wanita-wanita yang memeluk Islam karena mereka tidak mengetahui 
perbedaan antara Islam dan Kristen. Mereka berpikir bahwa kedua agama 
ini sama saja, sehingga tidak masalah mau menganut yang mana. Orang 
Muslim berbicara mengenai Tuhan dan Yesus, bahwa Yesus dilahirkan oleh 
seorang perawan, bahwa Ia tidak berdosa, membuat mujizat, dan diangkat 
ke surga, dan mereka juga menyebutkan banyak nabi dalam Perjanjian Lama,
 akhir jaman dan hal-hal seperti berdoa dan berpuasa dan mengucapkan 
pengakuan iman. Orang jadi bingung, karena mendengar hal-hal itu 
disebutkan adalah sama seperti gaya bicara kristiani. Banyak wanita yang
 memeluk Islam karena pernikahan berpikir bahwa hanya ada sedikit 
perbedaan diantara kedua agama itu.   Orang
 sering bertanya apakah Allah dan Tuhannya orang Kristen itu sama. Ada 
orang-orang yang percaya bahwa Allah dan Tuhan Yahweh itu sama dan oleh 
karena itu kedua jalan itu mengarah pada tujuan yang sama. Tetapi 
pertanyaan yang penting bukanlah apakah orang Muslim dan orang Kristen 
percaya kepada Tuhan yang sama, tetapi apakah yang mereka yakini sebagai
 karakter Tuhan. Orang Kristen memahami sifat Tuhan dengan melihat pada 
Kristus yang menyatakan dalamnya kasih Tuhan terhadap kemanusiaan. 
Mereka percaya bahwa atribut yang terutama dari Tuhan yang disebutkan 
dalam Alkitab adalah kasih; dan mereka memanggil-Nya “Bapa”. Islam 
menekankan kebesaran Tuhan, transendensi-Nya, Ia asing dan perkasa. 
Tuhan itu sangat “lain/jauh” sehingga Ia tidak dapat digambarkan oleh 
bahasa manusia dengan tepat dan Ia juga tidak dapat memasuki 
kemanusiaan, maka Ia tidak dapat menderita. Ia jauh dan “menghendaki apa
 yang dikehendaki-Nya”, yang bisa bersifat baik maupun jahat. Tidak ada 
jaminan keselamatan, tak peduli seberapa besar orang berusaha  mendapatkannya.




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke