( COPAS dari milis sebelah... )
I.S.L.A.M.
Identik dengan suatu nama agama yang lahir dari tanah arab dengan Nabi-nya
Muhammad. Sehingga semua pengikut/umat yang mengikuti Nabi tersebut di
namakan Islam.
Islam dalam tata bahasa arab yang dapat di artikan ke dalam bahasa Indonesia
yang tepat berarti “Berserah diri”.
Islam bisa juga diartikan menjadi “Selamat”, “Sesuai”, “Pada
Tempatnya”...Sehingga
agar lebih jelasnya semua pengikutnya yang dalam keseharian hidupnya
menyerahkan dirinya dengan ikhlas mengharapkan ridho dari TUHAN-nya termasuk
dalam
kategori orang tersebut telah ISLAM.
Sesungguhnya Islam bukanlah nama “AGAMA” tetapi berlaku untuk semua umat
manusia yang dalam kehidupan sehari-hari selalu menggantungkan dirinya kepada
TUHAN.
Adapun sampai hari ini telah menjadi suatu nama “AGAMA” sekedar untuk
membedakan mana umat/pengikut dari tiap-tiap utusan Allah dari tiap zaman
dan kaumnya. Kalau hanya sekedar pengkotakkan/pengelompokan untuk identifikasi
saja tidak apa -apa yang akan menjadi masalah besar di mana tiap-tiap umat
meng-klaim yang paling benar. Sejarah telah mencatat dengan jelas kenapa banyak
terjadi turunnya dlm tanda kutip “AGAMA”.
Semua dilandasi telah rusaknya pola pikir, kepatutan dan tatanan
dalam berkehidupan suatu kaum, sehingga saking sayangnya
diutuslah dari jenisnya sendiri (manusia) utusan-utusan Tuhan.
Intisari pengajaran/konsep agama hampir sama antara agama
yang satu dengan yang lain. Mengajarkan kebaikan, kasih
sayang, cinta, menjadi manusia bermanfaat untuk manusia lain,
menjaga kelestarian alam, dan dapat disarikan menjadi “mendidik
manusia yang berbudi pekerti yang baik sesuai dengan rancangan
yg telah dibuat dan menempatkan segalanya sesuai porsinya”.
Hanya sedikit perbedaan dari tiap² agama tentang konsep
“KETUHANAN”...Sehingga saat kita berbicara konsep/prinsip/cara
berfikir/ber-keimanan tentang TUHAN inilah yang sering tidak tercapai
titik temu...Sehingga tidak salah jika TUHAN sendiri memberikan
sinyal tentang dirinya …“Aku menurut prasangka hamba-KU”.
Tuhan tidak marah mana kala ada manusia yang berfikir serta beriman
bahwa TUHAN itu tidak ada.
Tuhan tidak protes mana kala dibicarakan bahwa Tuhan dilahirkan dari
seorang manusia.
Dan Tuhan juga tidak mengeluh digambarkan dengan dibentuk sedemi-
kian rupa sehingga mempunyai 1000 tangan, 1000 muka, atau dalam
ujud yang benar-benar diluar dari itu....Tuhan hanya sedikit menginfo-
rmasikan tentang siapa sesungguhnya “ TUHAN”
- Berbeda dari seluruh makhluk yang ada di semesta alam
- Tidak melahirkan dan dilahirkan
- Tidak makan dan tidak tidur
- Mengetahui segala sesuatu baik dihati, digunung, laut dsb..
- Seluruhnya berisi tentang sesuatu yang diluar dari koridor
“Cara berfikir manusia”.
Sejarah manusia telah menunjukkan bahwa manusia memiliki naluri untuk
berusaha mencari dan mengenal Dzat Ketuhanan.
Namun kenyataan selalu menunjukkan, upaya itu seringkali tersesat.
Bukan bertemu Tuhan ALLAH, melainkan ketemu dengan tuhan²-an.
Kenapa demikian?
Sebab Dzat Tuhan yang sesungguhnya itu memang jauh di luar perkira-
an akal manusia.
Meskipun bukan berarti tidak bisa didekati dengan akal manusia.
Karena kenyataan itulah, ALLAH lantas memperkenalkan DIRINYA
kepada manusia.
Dia sengaja memperkenalkan diri, agar manusia mengenalNYA bukan
kenal lewat sekedar dugaan-dugaan saja. Karena dugaan alias persang-
kaan memang tidak bakal mengantarkan kita kepada kebenaran hakiki.
Prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk
orang-orang yang merugi
Apakah memang Allah memberikan banyak informasi tentang Diri-NYA
didalam Al-Qur'an? Ya begitulah...........
Kata-kata yang paling banyak diulang didalam AL-Qur'an adalah
kata "ALLAH", tidak kurang dari 3.326 kali.
Itu artinya DIA memang sedang memperkenalkan DIRI kepada kita seluas-
luasnya. Sehingga kalau kita mau mencermati dan memahami ayat-ayat itu,
sebenarnya kita sedang dibimbing oleh-NYA untuk kenal DZAT yang Maha
Agung itu.
Tapi sekali lagi harus diuraikan dgn menggunakan Bahasa, Akal dan Sains
Sebab bukti-bukti keberadaannya bukan hanya berada didalam Al-Qur'an
melainkan lebih banyak berada di alam sekitar kita.
Al-Qur'an bersifat menggiring perhatian kita dengan informasi-infomasi pokok,
sedangkan penjabarannya ada dalam realitas kehidupan kita.
Jika kita ingin kenal ALLAH kita harus banyak-banyak merefleksikan ayat-
ayat Qur'an itu dalam kehidupan, jika tidak maka yang kita dapatkan
hanyalah teorinya saja bukan makna yang sesungguhnya.
Justru inilah permasalahannya, sehingga banyak timbul konsep-konsep
bagaimana mengenal ‘TUHAN” dengan baik.
Yang satu merasa benar dan yang lain salah, atau mungkin semuanya
salah….atau benar semua ….terserah anda toh.
Manakala pikiran manusia tidak sampai untuk mengolah atau mencoba
mencari tahu siapa “TUHAN”, pada saat itulah kemampuan berfikir manusia
sudah tidak bisa digunakan. Untuk bisa mencari, mengolah dan mempaham-
kan siapa “TUHAN” manusia dapat menggunakan alat lain yaitu “HATI“.
Saat kita membicarakan waktu sesungguhnya tidak akan ada waktu tanpa
adanya ruang, ruang tidak akan ada tanpa adanya energi, energi tidak akan
ada tanpa adanya materi yang membentuk suatu energi, materi tidak akan
ada tanpa adanya ruang, waktu dan energi.
Sehingga saat kita bicara energi di saat yang sama kita berbicara ruang,
waktu dan materi. Tanpa itu semua tiadalah kehidupan ini.
Sehingga wajar saat kita berbicara tentang “HUKUM ALAM “ kita harus
sudah bisa mengetahui keseluruhan.
Sedangkan kemampuan otak manusia itu hanya sedikit saja, sehingga
tidak akan mampu untuk menerangkan hal itu semua.
Karena kenyataan itulah, TUHAN lantas memperkenalkan DIRINYA kepada
manusia. Dia sengaja memperkenalkan diri, agar manusia mengenal-NYA
bukan kenal lewat sekedar dugaan-dugaan saja.
Karena dugaan alias persangkaan memang tidak bakal mengantarkan kita
kepada kebenaran hakiki
Sehingga jangan heran kalau Allah mengatakan bahwa kita ini sebenarnya
tidak begitu mengenal Allah, bahwa Allah adalah Dzat yang benar-benar
Maha Kuat lagi Maha Perkasa
“Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan
semua yang ada di bumi.
Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah
mengikuti (suatu keyakinan)... Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka
belaka, dan mereka hanya menduga-duga”
Saat orang berbicara “saya sudah beriman kepada TUHAN semesta alam”
haruslah dengan proses melihat, mendengar, berjalan, berfikir didalam
kehidupan sehari-hari yang penuh dengan ujian dan benturan untuk
menjadikan yang terbaik bagi diri dan sekitarnya
Karena “HATI” tempat bersemayamnya “TUHAN”
Kenapa hati..??
Karena untuk bisa mengerti dan dapat menerima tanpa adanya penolakan
ya memang tempatnya di HATI.
Saat kita memulai bisa sedikit-demi sedikit merasa dan memahami tentang
“TUHAN” tiadalah ucapan yang diucapkan dari bibir ini dapat menggambar-
kan/melukiskannya.
Cukuplah untuk diri sendiri saja bagaimana rasa/essensi yang melakukannya.
Adapun manusia lain tergerak untuk mengikuti karena tercermin dari refleksi
kehidupan sehari-hari yang banyak memberikan manfaat kepada sesama
maupun alam semesta.
Selalu ada dorongan yang kuat untuk mendekat kepada orang tersebut tanpa
orang yang didekati itu berbicara panjang lebar.
Saat itulah orang yang mencapai ukuran tertinggi dalam pencapain kerohanian
akan menarik orang lain yang sudah mulai mempunyai tingkat kerohanian dari
tidur tetapi telah terbangun.
Terserah orang yang terbangun itu, mau tidur lagi ya monggo, mau jalan kesa-
na kemari atau mau lari pelan, cepat secepat pelari kelas dunia ya silahkan.
Yang menjadi permasalahan adalah saat manusia baru mulai menggapai ke ting-
kat kerohanian mengajak-ngajak dan menjelek-jelekkan itu baru masalah
Tiadalah makhluk lain yang sempurna seperti manusia, tak salahlah jika di kata-
kan manusia adalah makhluk yang paling sempurna di dunia ini.
Ini berkat adanya di dalam diri manusia otak/pikiran, naluri serta Hati.
Hewan menjalankan kehidupan sehari-hari lebih banyak menggunakan naluri
dan sedikit menggunakan otak-nya.
Pencapaian terbesar manusia adalah di saat naluri bergerak, disaat yang sama
otak bekerja untuk merespon apakah ini baik/buruk dan hati bertindak untuk
menetapkan apakah sesuai dengan kadar/porsinya.
Namun itulah belum cukup tanpa ada RUH.
Maka komplitlah manusia yang terdiri jasad, otak, hati dan ruh
Berbicara RUH, essensi yang tidak terpecahkan dari sisi ilmu pengetahuan.
Sama halnya saat kita berbicara… siapa TUHAN… Terbuat dari apa Tuhan itu.
RUH percikan/pantulan/refleksi, bagian dari Tuhan, tak salah jika Tuhan pengin-
formasikan kepada kita “ Saat telah terjadinya pembentukan dari jasad manusia
seperti tangan, kaki, kepala, tulang, bentuk muka dan takdir dari tiap diri Aku
tiup RUH sebagian dari diri-KU”
Sehingga manusia “Ketularan” sifat-sifat ketuhanan tapi dalam skala makhluk
Itulah fitrah manusia adalah “sebagian kecil” dari fitrah “Ketuhanan” atau dalam
bahasa lain Manusia adalah “DERIVATIVE” alias “TURUNAN” dari Dzat Ketuhanan.
Karena itu manusia lah yang dipilih sebagai Khalifah dimuka bumi, manusia
menyandang skala sifat-sifat ketuhanan dalam skala terbatas.
Teristimewa ia memiliki “kehendak bebas” untuk menentukan dirinya, sifat ini
diturunkan dari sifat Allah AL-IRADAT ( Yang Maha Berkehendak)
Didalam sejarah-sejarah yang di tulis oleh para pengikut/turunan dari para
sahabat
Muhammad, dalam perjalanannya menginformasikan/menyampaikan ajaran
ketuhanan, lebih kurang 13 tahun nabi mengajarkan tentang apa itu BERIMAN.
Karena IMAN termasuk dalam kategori yang sangat-sangat susah untuk
diarahkan/dibentuk/dipola/ditanamkan.
Karena TUHAN dalam konteks yang sangat di luar dari koridor berpikir manusia.
Karena IMAN sudah masuk dalam koridor HATI, yang di dalam memahamkannya
sedikit sekali kapasitas otak untuk mencerna.
Mengatakan TUHAN itu ada, sedangkan TUHAN sendiri tak dapat dilihat, didengar,
dan disentuh.
Karena informasi yang dapat diterima oleh otak terlalu sering mengolah dari
semua
indra yang dipunyai yaitu tangan, kaki, penciuman, penglihatan, serta
pendengaran.
Tanpa semua input dari indra yang dipunyai oleh manusia, otak masih sedikit
dapat
menerima/mengolah informasi tersebut.
Selama masih belum dapat diterima 100% data yang akurat untuk diolah, selama
itu belum dapat diyakinkan oleh diri ini adalah akurat/valid/benar/baik.
Saat TUHAN tidak terlihat, tercium, terdengar atau tersentuh maka untuk
menyatakan
TUHAN itu ada, merupakan hal yang sangat sulit untuk diterima oleh manusia.
Disinilah tugas yang sangat sulit yang harus di informasikan/diberikan kepada
manusia, sehingga perlu waktu untuk menerima dan memahami informasi itu benar.
Dan yang lebih parahnya, untuk menyatakan sesuatu tentang TUHAN, tuhan haruslah
divisualisasikan seperti mempunyai tangan, kaki, berbicara, melihat serta
mendengar
agar manusia dapat memahami apa itu TUHAN dan hal-hal apa saja yang TUHAN
dapat lakukan.
"Makna adalah makna"
Bahasa adalah sekedar media untuk menyampaikan makna. Karena itu ungkapan-
ungkapan yang ada didalamnya tidaklah bersifat mutlak. Juga tidak bisa mewadahi
makna yang sesungguhnya.
Termasuk ketika Allah memperkenalkan DIRINYA dengan bahasa manusia, sebenar-
nya ungkapan itu tidak pernah bisa mewakili subtansinya
Dan inilah yang menjebak pemahaman kita
Jangankan untuk memahami TUHAN, saat kita berinteraksi dengan orang bisu saja
kita
sudah kesulitan untuk memahami apa yang dikatakan.
Sehingga ada orang-orang yang paham dengan apa yang dimaksud oleh si bisu di
karenakan orang itu selalu berinterkasi dengan si bisu.
Begitu pula untuk memahami tentang TUHAN, kita harus sering berinteraksi dengan
TUHAN sehingga sedikit demi sedikit kita dapat memahami.
Tak salah memang jika utusan tuhan dlm menginformasikan/memberikan pengetahuan
tentang sesuatu menyangkut yang GOIB/tersembunyi/samar-samar memasukkannya
kedalam klasifikasi IMAN.
Surga, Neraka, Kiamat/hari akhir, hari perhitungan, rezeki, hidup, mati,
malaikat, setan
serta TUHAN perkara yang sangat luar biasa sulit untuk dijelaskan.
Surga identik dengan kesenangan hidup, kenikmatan hidup, ketentraman hidup,
kenya-
manan hidup baik itu jasmani ataupun rohani dll.
Informasi tentang Surga juga tedapat dlm ajaran/agama yang terdahulu yang
didalamnya
seperti yang telah dijelaskan diatas.
Surga berupa imbalan baik itu nanti setelah hari kiamat atau juga pada saat
kehidupan di
dunia ini berlangsung.
Penggambaran surga yang diinformasikan berupa makan, minum, tempat tinggal yang
penuh dengan buah-buahan, sungai-sungai yang mengalir, dan sebagainya.
Semua berisi kesenangan dan apapun yang tergambar tentang kesenangan hidup
manusia didunia yang tercukupi.
Tetapi bisa jadi bentuk surga bisa berbeda dari apa yang digambarkan oleh
manusia
bahkan lebih dari yang digambarkan tersebut.
Pada saat seluruh umat manusia telah bisa menjadi manusia yang amanah, saling
tolong menolong, terjamin kebutuhan hidup baik makan, minum, tempat tinggal,
keamanan dan kenyaman bukankah itu sudah tercipta yang namanya surga atau
gambaran tentang surga.
Apakah perlu lagi imbalan nanti pada saat akhir kehidupan…?,
Kalau Tuhan menetapkan itu adalah hak Tuhan sepenuhnya, kalaupun tidak itu juga
sepenuhnya hak Tuhan.
Tapi yang perlu disikapi adalah jika Tuhan untuk yang percaya adanya Tuhan
pastilah
berbicara dan meyakini janji Tuhan adalah pasti, bukankah janji Tuhan akan
informasi
tersebut sudah terjadi dalam kehidupan di dunia ini..?
Kalaupun ada yang tidak percaya Tuhan toh definisi tentang surga seperti yang
telah
di bicarakan diatas bisa di realisasikan.
Neraka identik dengan kesusahan hidup/kepahitan hidup/ketidaktentraman hidup
ataupun keresahan hidup baik itu jasmani atau ruhani.
Informasi tentang neraka juga terdapat dalam ajaran/agama yang terdahulu yang
didalamnya seperti yang telah dijelaskan diatas.
Neraka berupa imbalan baik itu nanti setelah hari kiamat atau juga pada saat
kehidupan
didunia ini berlangsung.
Penggambaran neraka yang diterima/diinformasikan berupa kesusahan terhadap
makan,
minum, tempat tinggal, kejahatan bukankah sudah tercipta di dunia ini.
Kalaupun itu akan juga berlangsung setelah hari kiamat toh itu juga sepenuhnya
hak
Tuhan. Begitu juga halnya dengan kiamat/hari perhitungan, rezeki, hidup, mati,
malaikat, setan bahkan yang lebih sulit lagi Tuhannya sendiri……
Maka daripada itu didalam ajaran islam terkenal dengan nama Rukun Iman.
Rukun adalah tahapan-tahapan agar pencapaian yang sesungguhnya beriman itu
dapat diraih.
Tak salah memang untuk membentuk kadar manusia dari sekedar manusia menjadi
manusia yang lebih baik membutuhkan masa pembentukan HATI yang tergolong lama.
Lama atau tidak itu tergantung dari tiap diri manusia itu sendiri.
Setelah kwalitas beriman tercapai barulah manusia itu menuju ketahapan tingkat
kerohanian yang lebih tinggi lagi yaitu bertaqwa.
( to be continous ...)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/