SIAPAKAH YESUS KRISTUS?
http://conversation-with-muslim.blogspot.com/2010/08/siapakah-yesus-kristus.html#more

Episode 5
   Pembawa acara: Para
  penonton yang saya kasihi, berjumpa kembali dalam program kami  
“Questions About Faith. / Pertanyaan-pertanyaan Tentang Iman.” Adalah  
sebuah kebahagian buat kami untuk bisa memenuhi semua pertanyaan dan  
permintaan anda. Dan juga kebahagiaan dan kehormatan karena telah hadir 
 bersama kita Bapak Pendeta Zakaria Boutros. Selamat datang Pak Pendeta. Bpk. 
Zakaria: Terima Kasih. Pembawa acara: Para
  penonton yang terkasih, dalam episode-episode sebelumnya, kita telah  
bahas bersama dengan Bp. Pendeta  tentang Allah Tritunggal dalam  
Kekristenan. Pak Pendeta telah menjelaskan dengan  baik bahwa  
Kekeristenan tidak percaya pada adanya tiga allah dan bahwa Kekristen  
tidaklah bersekutu dengan tuhan-tuhan lainnya, tapi Kekristenan hanya  
percaya pada satu Allah. Kita juga telah membahas tentang sifat-sifat  
pribadi Allah. Sifat Allah yang adalah: maha ada, berpengetahuan dan  
yang hidup. Sifat ‘maha ada’ kita sebut dengan Allah Bapa. Sifat  
berpengetahuan yang kita sebut dengan Allah Putera / Anak. Dan sifat  
dari yang hidup adalah yang kita sebut dengan Roh Kudus. Dalam episode  
ini kita akan mendiskusikan tentang sebuah bahan yang sangat penting   
yaitu: Siapakah Isa itu dalam Kekristenan? Selamat datang Bpk. Pendeta. 

Pertanyaan
  yang seringkali diulang oleh orang-orang Islam adalah ini: Siapakah 
Isa  dalam Kekristenan? Apakah kebenaran tentang seseorang yang bernama 
 Isa?  Apakh Dia Allah, atau apakah dia adalah Anak Allah? Apakah dia  
seorang manusia atau seorang anak manusia? Maukah Bapak untuk  
menjelaskan pada para pemirsa yang terhormat tentang kebenaran itu?  
Sekarang mari kita membahas bagian pertama dari pertanyaan ini. Apakah  
Isa adalah Allah, atau dia adalah Anak Allah? Bpk. Zakaria: Baiklah,
  saya bersyukur karena adanya program ini. Saya juga merasa senang 
dapat  berjumpa  dengan para penonton yang terkasih karena  hal ini 
adalah  sebuah mata rantai hubungan dan sebuah dasar yang sama untuk 
kedua belah  pihak. Dan saya minta supaya Allah membuat hal yang sangat 
berharga ini  tidak hanya menjadi sebuah informasi belaka, tapi Allah 
bisa  menggunakan informasi ini untuk menerangi sebagai cahaya di hidup 
 seseorang. Bpk. Zakaria: Saya
  ingin memberikan komentar tentang apa yang pernah saya katakan dalam  
episode sebelumnya tentang Musa yang berkulit hitam itu. Ketika saya  
katakan saat dia sedang berusaha untuk menemukan suatu cara munuju pada 
 Tuhan dan dia pergi pada sekumpulan biarawan dan menanyai mereka.  
Seseorang mungkin bertanya: Apakah aku harus pergi menemui biarawan juga
  untuk menanyai mereka? Dimana aku bisa menemukan orang-orang seperti  
itu? Tetapi kita mengucap syukur karena di jaman sekarang segalanya jauh
  lebih mudah dibanding jaman dulu. Saat ini, di internet penuh dengan  
website yang membahas banyak hal tentang Isa, ditambah buku-buku,  
ditambah sarana audio demikian juga dengan ruang untuk saling ngobrol di
  intenet “The Paltalk.” Anda
  dapat masuk ke salah satu bagian itu dan bergabung dengan pembicaraan 
 mereka yang mungkin bisa membantu membuktikan. Anda hanya tinggal masuk
  dan mendengarkan. Yang saya mau katakan di sini adalah saat ini sudah 
 tidak ada lagi kesulitan untuk mencoba menemukan para biarawan dan  
bertanya pada mereka. Di Paltalk anda dapat mendengarkan segala  
sesuatunya. Dan sekarang mari kita kembali pada pertanyaan anda, yaitu: 
 Apakah Isa itu Allah atau Anak Allah? Hal ini mungkin membuat orang  
menjadi bingung, tapi dalam episode sebelumnya saya telah berbicara  
tentang konsep-konsep dan pengertian dari kata “anak.” Saya katakan  
bahwa ada pengertian yang sesungguhnya kata “anak” yang artinya adalah  
keturunan atau anak-anak, seorang pria menikah dengan seorang wanita dan
  mereka memiliki seorang anak. Dan tentu saja itu bukan yang kita  
percayai tentang Isa yang sebenarnya, hal ini diluar dari  pertanyaan  
itu. Tapi ada lagi pengertian yang lainnya seperti dalam bahasa Arab Ibn
  assabil ابن السبيل   “Musafir” dalam pengetian bahwa orang itu tetap  
berada di jalanan; Anak Mesir; Anak sungai Nil; anak padang gurun –  
semua itu adalah pengertian-pengertian yang memiki arti tertentu.  
Tentang hal memungut anak dari siapa dan lain sebagainya, disini  
mempunyai pengertian lainnya. Jadi pengertian-pengertian  apa saja  yang
  dimilikinya? Yang
  pertama adalah pengertian dari sebuah persamaan. Seperti : anak  
laki-laki 10 tahun. Disini maksudnya adalah usia anak itu sama dengan 10
  tahun, hal ini mempunyai pengertian sementara. Tapi hal ini juga  
mempunyai pengertian yang sesungguhnya. Jadi seseorang bisa mengatakan  
bahwa laki-laki ini adalah seorang pria, anak laki-laki seorang manusia,
  dan itu artinya adalah dia adalah seorang pria tulen. Saat
  sedang membahas mengenai Isa, kita bahkan mengatakan “Cahaya kebenaran
  dari segala cahaya kebenaran”, dan itu merupakan yang sesungguhnya  
disini. Isa adalah Cahaya dari segala cahaya, jadi kata “anak” memiliki 
 bermacam-macam pengertian. Dan sebaiknya kita tidak mengkotak-kotakan  
hal ini secara jasmani, baik secara hal menjadi bapak atau pun  
pengertian secara jenis kelamin. Hal ini lebih untuk  membawa pengertian
  lainnya bahwa anak Allah artinya adalah Seseorang yang mengambil 
tempat  Allah. Contohnya, ketika kita menggunakan ungkapan “anak 
perempuan dari  sebentuk bibir” , maksudnya adalah kata / kalimat yang 
seseorang dengar  dari bibir itu. Begitu juga dengan ungkapan ” anak 
pikiran”  Arti dari  ungkapan ini adalah sebuah pikiran yang keluar dari
 otak yang  diungkapkan dalam kata-kata atau berupa imaginasi. Jadi Anak
 Allah  artinya adalah Allah yang dinyatakan dalam rupa manusia; sama 
halnya  seperti ”brain child” itu yang dinyatakan ke dalam sebuah kata 
yang  ditulis dengan tinta di atas kertas; sebuah pikiran  diwujudkan  
dengan  tinta di atas kertas, bukan? Pembawa acara: Ya, itu benar. Bpk. 
Zakaria: Sama
  halnya, Allah telah menjelmakan diriNya dalam rupa seorang manusia,  
bukankah benar begitu? Ada sebuah perbandingan yang bagus untuk  
menerangkan konsep penjelmaan ini. Pengertian dari gambaran tentang  
Isa,  pengertian dari  keadaan lahirian Allah dalam rupa seorang  
manusia. Pengertian itu: Siapakah Bapaknya?  Pembawa acara: Allah tentu saja.  
Bpk. Zakaria: Allah adalah Bapak dari pengertian ini. Pembawa acara: Tentu 
saja.  Bpk. Zakaria: Jadi
  saat kita mengatakan Anak Allah, kita sedang membicarakan arti yang  
serupa. Sama halnya saat kita berbicara “anak pikiran”  dan lain  
sebagainya. Jadi dalam penjelmaan, saat kita mengatakan bahwa Isa adalah
  Anak Allah maksudnya adalah Dia sama dengan Allah, memiliki sifat yang
  sama dengan Allah. Karena
  anak dari seekor burung adalah seekor burung, anak dari seekor ikan  
adalah seekor ikan, maka anak dari seorang manusia adalah juga seorang  
manusia, jadi Anak dari Allah pasti mempunyai keadaan yang sama dengan  
 Allah. Jadi
  itulah maksudnya. Tapi seperti yang anda ketahui bahwa pembahasan ini 
 membutuhkan pikiran yang terbuka selebar-lebarnya, rasa penerimaan dan 
 pandangan yang luas.  Anda tidak dapat hanya memiliki pikiran yang  
sempit dan terbatas dalam benak anda. ”Seorang Anak haruslah dihasilkan 
 hanya oleh karena hasil pembuahan.” Itu adalah sebuah pikiran yang 
sudah  kuno. Sesorang perlu untuk menjadi lebih maju dalam pikirannya. 
Jadi  kata ”Anak Allah” artinya adalah Allah yang telah mewujudkan diri 
dalam  sosok manusia.  Dan
  bagian yang sungguh mengagetkan adalah yang membuat pertanyaan ini:  
Bagaimana bisa anda mengatakan bahwa Allah itu adalah seorang manusia  
yang bisa makan dan minum, dan bisa merasa lapar dan bisa tidur?  
Bagaimana mungkin anda bisa mengatakan  hal itu tentang Isa? Bagaimana  
mungkin anda bisa datang menyembah pada seorang manusia?  Apa
  yang kita pertahanankan adalah bahwa Isa memiliki keadaan yang secara 
 manusia adalah sama seperti yang anda dan saya miliki. Benar-benar 
suatu  keadaan yang sama seperti yang anda dan saya miliki hanya Dia 
tidaklah  berdosa. Dalam wujudNya sebagai manusia, Dia diwujudkan dalam 
karakter  Ke-Allahannya; Allah yang telah mewujudkan diriNya dalam rupa 
Isa. Dan  seperti yang dikatakan dalam Al Qur’an “ Allah telah 
menyatakan diriNya  dalam sebuah  gunung.” Gunung itu bukanlah Allah, 
tapi hanya sebuah  perwujudan akan hadirnya Allah. Allah mewujudkan 
dirinya dengan memakai  media pohon, lalu jadilah Allah mewujudkan 
diri-Nya dalam pohon-pohan.  Jadi kalau Allah dapat menampakkan diri-Nya
 dalam benda-benda mati  seperti gunung dan tanaman – pohon, apakah ini 
jadi sebuah hal yang  berlebihan bagi Allah untuk mewujudkan dirinya 
dalam wujud manusia, yang  adalah jauh lebih hebat dari pada tanaman dan
 benda mati lainnya. Anda
  tahu bahwa hal ini tidak mungkin bisa jadi lebih mudah; tapi  pikiran 
 yang sempit dan  prasangka buruk itulah yang membuat orang-orang takut 
 untuk percaya pada hal-hal seperti di atas. Dan Dia meneriaki mereka,  
“tidak, tidak, hal ini tidaklah mungkin benar,” tapi seseorang haruslah 
 memiliki pikiran yang terbuka dan saat dia mulai berpikir, dia akan  
menemukan bahwa tidak ada yang salah dengan hal itu. Dengan
  kesaksian yang ada dalam Al Qur’an, Allah telah mewujudkan diri-Nya  
dalam sebuah gunung, gunung adalah sebuah benda mati. Dan oleh kesaksian
  yang ada di Al Qur’an, Allah mewujudkan diriNya dalam sebuah pohon,  
yang adalah jenis tumbuhan. Baiklah, jadi apakah ini kemudian adalah  
sebuah penghinaan terhadap Allah untuk mengatakan bahwa Allah sendiri  
telah mewujudkan diri-Nya dalam rupa manusia, yang adalah seorang raja, 
 yang paling tinggi dalam penciptaan? Ketika seseorang menerima hal-hal 
 dengan kesederhanaannya, orang tersebut akan mampu untuk mengerti  
maksud-maksud yang ada di dalamnya dengan baik. Pembawa acara: Pak
  Pendeta, saudara-saudara kita yang beragama Islam bertanya pada kita: 
 Apakah ini Allah atau Anak Allah? Anda kadangkala mengatakan Dia adalah
  Allah tapi di kala yang lain anda mengatakan Anak Allah. Tolong anda  
jelaskan akan hal ini. Hingga kita dapat menjelaskan pada mereka bahwa  
tidak banyak perbedaan  yang perlu dikwatirkan.   Bpk. Zakaria: Baiklah,
  seperti yang dari tadi saya coba untuk katakan, kita memiliki sebuah  
ayat yang akan menjelaskan tentang hal ini secara singkat. Dalam Surat  
pertama Rasul Paulus pada Timotius pasal 3 ayat  16. Mari kita dengar  
apa yang dikatakan disana: Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah  
kita, Allah yang telah menyatakan dirinya dalam rupa manusia.” Inilah  
adalah ajaran gereja yang menyatakan bahwa Allah telah mewujudkan  
diri-Nya dalam rupa manusia. Jadi
  Isa itu adalah Allah, dalam hal Ke-Allahannya. Dia adalah Putera 
Allah:  itu adalah Satu hal dimana Allah yang telah mewujudkan diriNya 
dalam  rupa manusia, ini adalah dalam hal menjadi manusia.  Dan
  sekali lagi dipandang dari sisi keAllahan, Dia adalah Anak Allah; yang
  memiliki kepribadian yang sama dengan Allah. Kita telah membicarakan  
tentang perbandingan-perbandingannya dan hal itu adalah merupakan  
kepribadiannya Allah. Jadi kita disini mengambil kata Anak sebagai  
pengertian akan kepribadiannya Allah, kepribadian Allah yang ada dalam  
kepribadian seorang manusia seutuhnya, dan kita mempertahankan bahwa  
KeAllahan Isa tidak akan pernah dapat dipisahkan dari sisi manusianya  
walaupun hanya sekejap saya. Keallahan-Nya bersatu dengan kemanusian-Nya
  tanpa adanya percampuran, perpaduan atapun bergantian. Keallahan-Nya tetap 
pada keallahan dan kemanusiaannya tetap pada kemanusiaannya. Dalam
  episode sebelumnya, sebuah pemikiran muncul dalam benak saya ketika 
saya  sedang duduk. Saya masukkan tangan saya ke dalam kantong celana 
saya,  lalu saya keluarkan dua buah pena. Dan saya mengatakan, pena 
hitam itu  adalah sebuah simbol dari logam –begitu khan yang saya 
bilang? Jika saya  meletakkannya dalam api sampai warnanya menjadi merah
 membara, dan  sekali pena ini menjadi merah membara, pena ini  berubah 
bentuknya,  berubah total dari yang sebelumnya. Pena ini masih logam 
tapi logam yang  bersatu dengan api, betul begitu? Apakah ini merupakah 
sebuah  penghinaan?  Pembawa acara: Bukan sama sekali.  Bpk. Zakaria: Ketika
  kita mengatakan bahwa logam dipersatukan dengan api kita tidaklah  
sedang dihina. Ini bukanlah suatu penghinaan sama sekali, ini adalah  
sebuah fakta ilmiah. Baiklah kalau begitu. Besi yang dipanaskan oleh api
  sekarang ini menjadi dapat dibentuk; kita dapat membengkokkannya,  
memutarnya ke belakang dan meluruskannya – memukulnya – ini adalah hal  
yang biasa. Ini adalah besi, tapi apakah api telah mempengaruhinya atau 
 tidak? Apinya masih berlaku, dan kalau api mengenai seseorang, api ini 
 akan membakar orang itu, iya kan? Tapi yang ini hanyalah besi; tidak  
dapat membakar, tapi yang tadi itu telah bersatu dengan api dan yang  
kita katakan disini adalah api ini tidak akan pernah berubah menjadi  
logam atau pun sebaliknya. Api akan tetap seperti itu dan logam itu juga akan 
tetap seperti itu. Tapi yang tadi itu adalah benar-benar suatu kesatuan. Jadi 
itu adalah sama persis dengan besi tadi yang adalah melambangkan tubuh dari Isa,
  dan api tadi melambangkan KeallahanNya; kepribadian dari sifat  
Keallahan, api itu telah bersatu dengan besi. Jadi sekarang kita  
menyebut besi yang telah dibakar tadi sebagai besi yang dibakar api.  
Disebut apa tadi? Besi saja. Dan sekarang disebut apa? Besi yang telah  
dibakar oleh api. Anda mengerti apa yang saya maksud? Besi itu telah  
bersatu dengan api dan besi itu telah menjadi besi yang telah dibakar  
oleh api.” Jadi
  Isa yang berasal dari tubuh Perawan Mariam hanyalah manusia, waktu di 
 dalam kandungan Dia hanyalah seorang manusia, dengan sifat Keallahan  
yang ada di dalam-Nya Dia telah menjadi seperti ini. Dan sama seperti  
Allah yang melalui Isa yang telah menampilkan pekerjaan-pekerjaan  
keallahan yang terpisah dari kepribadianNya sebagai manusia. Tapi dalam 
 sifat-sifat manusia-Nya itu Dia adalah seperti besi tadi; dia bisa  
makan, bisa minum, dia bisa merasa lapar dan melakukan segala sesuatu  
karena Dia telah membagi kepribadiannya dengan kita, apakah jelas  
sekarang?  Pembawa acara: Ya,
  jadi jelas sekarang. Itu artinya saat orang mengatakan bahwa kita  
mencampur-adukan antara Allah dan Anak Allah , itu tidaklah benar karena
  tidak ada pertentangan atau pun ketidaksesuaian di dalamnya..  Bpk. Zakaria: 
Sama
  halnya dengan saat saya mengatakan: dia adalah seorang manusia, anak  
seorang manusia. Kadang-kadang saya juga bisa mengatakan dia adalah  
seorang manusia , dan di lain waktu saya dapat mengatakan dia adalah  
anak manusia. Betul bukan? Apakah ada perbedaan antara keduanya?  Pembawa 
acara: Tidak.
  Ini adalah sebuah penjelasan dari sebuah pernyataan. Baiklah. Sekarang
  kita masuk pada pertanyaan kedua: Apakah Dia seorang manusia atau Anak
  manusia?  Bpk. Zakaria: Ini
  adalah hal masuk akal yang sama. Kata ” anak” maksudnya dari  
kepribadiannya yang sama –  seperti anak dari burung adalah seekor  
burung, anak dari seekor ikan adalah seekor ikan, anak dari manusia  
adalah........, apa.....  dari kepribadian yang sama sebagai manusia  
memiliki kepribadian sama juga sebagai mahluk hidup. Jadi
  dalam hal kemanusian-Nya, Isa adalah seorang manusia, anak manusia –  
bahwa Dia memiliki keadaan yang sama dengan manusia biasa. Tapi Dia  
mengambil wujud manusia untuk Diri-Nya sendiri lewat Perawan Mariam, dan
  oleh karena itu kita dapat menyebutnya manusia, dan juga Anak manusia,
  karena Dia adalah Anak Mariam, dan oleh karena itu Dia disebut dalam 
Al  Qur’an – Isa Putera Mariam – karena Mariam adalah manusia jadi Isa  
adalah Anak manusia. Itulah mengapa Dia disebut dengan Anak Manusia.  
Tapi dalam hal Ke-AllahanNya, dalam hal Ketuhanan, Dia memiliki sifat  
Allah, tidak kurang. Jadi sebagai seorang manusia Dia anak seorang  
manusia biasa tidak kurang, oleh karena itu ada keadaan sebagai manusia 
 dan ada keadaan keallahan – hal dua ini menyatu membentuk suatu keadaan
  yang baru dari Isa yang adalah merupakan sebuah keadaan lain yang  
khusus.  Pembawa acara: Tapi
  sering kali orang-orang Muslim mengatakan pada kita bahwa Alkitab  
sendiri mengatakan bahwa Isa sendiri yang telah mengatakan bahwa Dia  
adalah Anak manusia, dan hal ini diulang  berkali-kali. Dan mereka  
percaya akan hal ini, dengan mengatakan demikian artinya Isa telah  
menyangkal Ke-Allahannya sendiri?  Bpk. Zakaria: Tidak
  begitu. Saat Isa berbicara sebagai seorang manusia; Dia berbicara  
sebagai Anak manusia; yaitu rekan anda yang adalah sebagai pribadi. Dia 
 mendekati dengan kasihNya, tapi Dia juga berbicara tentang DiriNya  
sendiri sebagai Anak Allah. Ini adalah salah satu alasan mengapa Dia  
disalibkan karena Dia mengatakan tentang DiriNya sendiri bahwa Dia  
adalah Anak Allah dan membuat DiriNya sendiri sama dengan Allah, seperti
  yang dikatakan oleh Alkitab sendiri. Jadi Anak Allah maksudnya adalah 
 sama dengan Allah, bukan itu benar?   Pembawa Acara: Pertanyaan
  kedua adalah: kita akan menjawabnya satu persatu. Dapatkah anda  
menjelaskan pada kami bagaimana Isa yang adalah Allah mewujudkan diriNya
  dalam rupa manusia? Saya tahu bahwa anda telah menjelaskan hal ini  
secara tidak langsung tapi tolong jelaskan tentang hal ini sedikit lagi.
  Silahkan  Bpk. Zakaria: Kita
  telah mengatakan bahwa Allah dapat mewujudkan diri dalam benda-benda  
mati. Dalam Alkitab Allah telah menampakkan diri pada Musa di semak  
berduri, di tengah pohon-pohon pendek. Allah telah menampakkan diri pada
  Musa dan berbicara padanya. Hal yang sama telah disebutkan dalam Al  
Qur’an dalam Surat 28 dan Surat 20 dan Surat 27, yang mengatakan tatkala
  Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan” Hal itu ada jauh dari 
 hidupnya – dan Musa waktu itu sedang melakukan perjalanan jauh dengan  
keluarganya; Musa melihat nyala api di lereng Gunung Sinai. Dia  
mengatkan pada keluarganya”tinggallah kamu disini, aku telah melihat  
api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya atau aku akan  
mendapat petunjuk dari tempat api itu.” Dan
  saat Musa mendatangi nyala api itu, seseorang memanggilnya dari balik 
 pepohonan di lembah yang suci di atas bukit itu. Allah memanggil Musa  
dari atas lembah bukan dari surga. Dan untuk membuatnya lebih jelas, dia
  berkata ” di lembah yang suci.” Itu adalah sebuah tempat suci di atas 
 bukit. Dan apakah yang Allah serukan? “Musa, Akulah Allah, Penguasa 
Alam  semesta ini, lepaskanlah alas kakimu; kamu berada di tanah yang 
suci  ‘Tuwa.” Tuwa adalah nama dari  lembah itu. Sampai sekarang tetap 
disebut  seperti itu. Dan dalam Surat 20 dia menambahkan, “Aku ini 
adalah Allah”  Ini adalah cerita yang sama. “Aku adalah Allah” Dan
  dalam Surat 27 dia menambahkan hal berikut ini: “Terberkatilah  
barangsiapa yang ada dalam nyala api itu dan siapa saja yang ada di  
sekitarnya.” Siapa yang bisa berada di tengah nyala api itu juga orang  
yang ada di sekiarnya? Dia berkata: “Aku adalah Allah”. Dan  
perhatikanlah hal berikut ini: Dia telah menggunakan semua elemen-elemen
  yang pasti. Dalam  bahasa Arab saat anda ingin menekankan suatu hal 
dan  memastikan akan hal itu, kita menggunakan penegasan ”Inna” dan dalam ayat 
Allah mengatakan, ”Inni” ”Perhatikanlah, Aku adalah Allah, Allah semesta alam, 
Orang yang berbicara padamu saat ini dari sini.” Masih
  ada lagi pola penekanan yang lainnya yang merupakan sebuah pengulangan
  dari kata yang sama, pengulangan kata kerja, kata benda, atau kata 
ganti  orang yang juga digunakan dalam ayat Al Qur’an, yang mengatakan “Inni 
ana.”
  Ini merupakan sebuah pengulangan dari kata ganti. Dia dapat mengatakan
  “Ana rabbu Al-`alamin,”انا رب العالمين  atau “Inni rabbu Al-`alamin,” 
 انى رب العالمين tapi disini dia mengatakan “Inni ana rabbu  
al-`alamin,”انى انا رب العالمين   artinya, ini adalah sebuang fakta yang
  tidak dapat dipertanyakan, sangatlah tegas. Jadi Dia menggunakan penegasan 
dengan inna, lalu Dia menegaskan dengan pengulangan, ini juga digunakan inni 
ana. Dalam pola ketiga dalam penekanan, ,  ada yang namanya  “Qasr”قصر 
pembatasan;
   pola ini maksudnya adalah tidak mungkin ada yang lainnya selain dari 
 pada apa yang saya katakan. Untuk contoh saja, anda dapat mengatakan:  
ini adalah sebuah gelas, janganlah berpikir lainnya selain gelas ini.”  
Pola ini juga telah dipakai dalam ayat tersebut. “Tidak ada Allah lain  
selain Aku.” Jangan berpikir bahwa ada Allah yang lainnya selain Aku  
sendiri; itu adalah sebuah pola pembatasan. Disini menggunakan penegasan
  Inna untuk menekankan bahwa itu adalah Allah. Lalu menggunakan 
 pengulangan dari kata gantinya untuk menyatakan bahwa ini adalah Allah,
  jadi pola pembatasannya adalah: Jangan pernah berpikir bahwa ada yang 
 lainnya, bahwa ada Allah lain selain dari Aku.” Dalam Surat 20. Jadi  
Allah itu menyatakan diriNya dalam sebuah pohon dan bahkan berbicara  
melalui pohon itu. Para Mu'atazalitesمعتزلة   memiliki pernyataan  
mengenai hal ini. Mereka berkata bahwa: Kalimat / Firman Allah  
diwujudkan dalam pohon dan Allah berbicara melalui pohon itu. Para
  Mu'atazalites berkata: diwujudkan dalam pohon dan Allah berbicara  
melalui pohon itu” sama seperti perubahan fungsi yang terjadi pada  
gunung dan berbicara dari pohon itu. Lalu kalau Allah bisa mewujudkan  
DiriNya sendiri di dalam gunung yang adalah benda mati – seperti yang  
baru saja kita sebutkan – dan juga mewujudkan diriNya di dalam pohon –  
seperti yang telah kita bahas lebih awal – dan bahkan Dia berbicara dari
  pohon itu, jadi apakah hal tersebut terlalu sulit? Apakah hal ini  
menjadi terlalu berat bagi Allah? Ada
  banyak kelompok Islam yang mengatakan bahwa ini bukanlah suatu  
penghinaan terhadap Tuhan dan memang tidak ada Tuhan selain Allah.  
Siapa, sebagai contoh? Akan saya katakan pada anda. Para pengikut  
seperti El Nasiriyyaالناصرية  dan El Ishaqiyya الاسحاقية dalam sebuah  
buku yang berjudul “Al-milal wa al-ahwa’ wa annihal”الملل والاهواء والنّحل  
volume 2 di halaman25.  Pembawa acara: Tolong Bapak ulangi referensinya yang 
bisa membuat mereka mengacu padanya?  Bpk. Zakaria: Para pengikut Nasiriyya dan 
Ishaqiyya dalam sebuah buku yang berjudul “Al-milal wa al-ahwa’ wa annihal” di 
volume ke-2 halaman 25. Mari
  kita dengar apa yang mereka katakan: Mereka mengatakan: “ Penampilan  
rohani dalam keadaan fisik seseorang tidak dapat disangkal oleh orang  
sepandai apa pun.” Ya ampun, dari mana anda bisa mendapatkan tentang hal
  itu? Mereka menjelaskan hal ini lebih jauh. Mereka katakan seperti  
contohnya pada penampilan dari Malaikat Jibril – secara rohani – dalam  
rupa padang gurun Arab dan mengambil rupa  persis seperti manusia.  
Tahukah kamu menyerupai siapakah Malaikat Jibril biasanya muncul di  
hadapam Muhamad? Dalam rupa Dahya Al-Kalbi. Dia adalah seorang pria muda
  yang pintar dan ganteng, jadi Muhamad sendiri dan semua tradisi  
mengatakan bahwa malaikat Jibril biasanya muncul di hadapan Mohammad  
dalam sosok   Dahya Al-Kalbi Pembawa acara: Jadi dalam sosok seorang pria yang 
sempurna Bpk. Zakaria: Ya,
  dalam gambaran fisik yang sempurna dari seorang pria. Kamu mengerti  
maksudnya? Jadi para pengikut dari “Nasiriyya” dan “Ishaqiyya”  
mengatakan bahwa penampilan badan secara rohani dan jasmani adalah suatu
  hal mungkin saja, dan tidak dapat disangkal oleh orang pandai  
sekalipun. Dan mereka melengkapi bukti-bukti dari Al Qur’an bahwa Jibril
  biasanya menampakkan dirinya dalam sosok Dahya Al-Kalbi, dan Jibril  
adalah merupakan roh dan Dahya adalah seorang manusia sungguhan, dan  
dengan demikian dia telah menampakkan dirinya pada Dahya Al-Kalbi. Jadi 
 ini hanyalah dari satu kelompok saja dan tentu saja ini ada ayatnya  
dalam Al Qur’an. Ini bukan saja merupakan omongan orang-orang saja. Di  
Surat 19.  Apa yang dikatakan disini? “Telah disebutkan dalam kitab suci
  bagaimana Maria menarik diri dari lingkungan di mana ia tinggal ke  
suatu tempat di sebelah timur. Dia memilih untuk terpisah dari mereka – 
 yaitu untuk bersembunyi – Kami telah mengutus padanya Roh kami.” Lalu  
mereka mengatakan tentang roh ini bahwa sesungguhnya roh ini adalah  
Jibril, seorang malaikat yang telah diutus, hal itu tidaklah menjadi  
masalah ”Kami telah mengutus padanya Roh Kami. Perhatikan baik-baik pada
  bagian yang berikut ini: “Yang telah mempersembahkan dirinya sendiri  
pada dia sepenuhnya sebagai manusia dewasa.” ”Mempersembahkan dirinya  
sendiri” artinya adalah dia telah mengambil atas dirinya   gambaran  
manusia dan bukan hanya sekedar gambaran sebagai  manusia biasa. Bukan  
sepenuhnya seorang manusia dewasa. Perhatikan dengan seksama yang  
berikut ini “Dia menampilkan dirinya sebagai pria dewasa.” “menampilkan 
 diri disini artinya dia mengambil rupa manusia seutuhnya dan bukan 
image  sembarang manusia.  Bukan seorang manusia dewasa.  Pembawa acara: Roh 
Allah, Dia mampu untuk melakukan jauh lebih dari itu.  Bpk. Zakaria: Mereka 
tidak mengatakan itu adalah Roh Allah supaya firman itu tidak ditaruh dalam 
mulut mereka.  Pembawa acara: Malaikat. Kami sebut itu sebagai malaikat  Bpk. 
Zakaria: Kami
  tidak ingin mereka mengatakan bahwa kita telah membelokkan atau  
memutarbalikkan kebenaran itu. Jadi kita biarkan saja hal itu seperti  
apa adanya. Apakah anda mengerti maksud saya? Jadi kita biarkan saja  
mereka berpikir bahwa itu adalah malaikat. Malaikat
  ini yang adalah mahluk roh telah mengambil wujud manusia, yang  
sesungguhnya adalah para pengikut dari “Nasiriyya” and “Ishaqiyya” . Dan
  itulah alasan mereka telah tiba pada kesimpulan bahwa Allah – Yang  
paling tinggi – perhatikanlah pada hal ini: Bahwa Allah – yang maha  
tinggi – telah mewujudkan diriNya dalam rupa manusia. Referensinya ada  
pada “Al-milal wa al-ahwa’ wa annihal” volume 2 halaman 25.  Sebagai
  kesimpulan dari pernyataan sebelumnya yang berupa: “Penampilan rohani 
 dalam tubuh jasmani seseorang tidak dapat disangkal oleh orang sepandai
  apa pun, seperti penampilan Malaikat Jibril itu dalam rupa seorang  
manusia,” dan mereka melanjutkan “Allah yang maha tinggi telah  
mewujudkan diriNya dalam rupa atau serupa dengan manusia. Sheikh Abu  
Al–Fadl Al–Qurashiالشيخ ابو الفضل القرشى  dalam catatan kakinya  
memberikan komentar pada pernyataan dari Al – Baidawiالبيضاوى  di volume
  2 dan halaman 143. Sekali
  lagi saya ulangi referensinya supaya orang-orang dapat mengikutinya:  
Pada catatan kaki yang ditulis oleh Al-Sheikh Al–Qurashi memberikan  
komentar pada tulisan Imam Al-Baidawi di volume 2 pada halaman 143. Apa 
 yang telah dikatakan? Beliau mengatakan: “Ke-Allahan itu telah  
mewujudkan dirinya dalam Isa.” Sekali lagi “Ke-Allahan itu telah  
mewujudkan dirinya dalam Isa dan hal ini bukanlah suatu penghinaan pada 
 Allah dan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Sheikh yang manakah itu? 
 Sheikh Abu Al-Fadl El-Qurashi dalam catatan kaki yang ditulisnya pada  
komentar yang dibuat oleh Al-Baidawi volume 2 page 143. Jadi
 Al  Qur’an sendiri memberikan kesaksian bahwa kerohanian itu dapat 
muncul  dalam tubuh jasmani,  bahkan pada orang-orang yang 
berpengetahuan,  pengelihatan dan pengertian pun memberikan kesaksian 
bahwa hal ini  bukanlah suatu hal yang menghina Allah, dan hal ini 
sungguh bisa saja  terjadi. Sekarang,
  saudara-saudara kita yang beragama Islam menganggap hal ini tidak  
seperti itu? Anda tahu kenapa? Karena mereka tidak belajar, tidak  
membaca, dan tidak meneliti. Ada tahu masalah itu dan masalahnya ada  
pada pikiran yang sempit. Orang-orang Islam itu, sayangnya telah  
dibesarkan, tumbuh dewasa, dan diajarkan bahwa semua itu telah ada  
bukti-buktinya dan tidak perla berpikir lagi tentang hal-hal itu;  
bertanya adalah hal yang ada jauh dari benak mereka. Padahal ini ádalah 
 cara bagaimana kita bisa menemukan banyak hal. Saat
  kita anak-anak, kita diajarkan bahwa orang-orang Kristen itu menghina 
 Allah, bahwa orang Kristen itu menyembah Allah yang bisa makan dan  
minum  dan melakukan hal ini atau itu. Dan sekarang otak mereka telah  
ditutup rapat-rapat. Mereka bilang orang Kristen adalah kafir. Dimanakah
  pikiran mereka? Saya tidak sedang mengatakan untuk membaca Alkitab  
kami, tapi bacalah Al Qur’an itu dengan kesadaran, bacalah bacaan-bacaan
  berbau Islam dengan pengertian, sama seperti yang telah Isa katakan  
“Selidikilah kitab suci – kita sucimu – karena di dalamnya kamu berpikir
  telah mendapatkan hidup yang kekal, dan di dalam kitab suci itulah  
mereka bersaksi tentang AKU.” Ini
  adalah sebuah undangan yang terbuka bagi semua saudara-saudara kita 
yang  beragama Islam. Saya katakan, tolong baca buku-buku anda sendiri, 
baca  komentar-komentar yang diberikan, berpikirlah dengan  cara 
berpikir abad  21, dan bukan dengan cara kuno seperti cara berpikir 
Bedouin yang tidak  bisa membaca dan menulis. Bukankah
  ini yang kamu katakan? Bahkan nabi sendiri tidaklah berpendidikan.  
Apakah kita harus meneruskan cara berpikir seperti orang-orang yang  
tidak berpendidikan itu? Tidak, kita harus membuka mata kita  Pembawa acara: 
Kami
  mengucapkan terima kasih kepada anda Pak Pendeta. Semoga Allah  
memberkati anda dan memberkati pelayanan anda. Kita juga akan memiliki  
wawancara lainnya untuk menyampaikan  kebenaran itu kepada  
saudara-saudari kita yang beragama Islam. Para
  pemirsa yang terkasih, Allah mengasihi anda. Allah ingin anda untuk  
diselamatkan dan datang pada-Nya . Para pemirsa yang saya kasihi, Allah 
 sungguh menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia. Itu adalah sebuah  
kenyataan. Kami sungguh percaya bahwa Allah menyatakan diri-Nya dalam  
rupa manusia. Dan kitab anda, silahkan untuk mengacu pada kitab anda dan
  penjelasan-penjalasan yang ada dan anda akan menemukan sebuah bukti  
nyata yang  akan menarik perhatian anda. Allah menyatakan diriNya dalam 
 rupa manusia. Para
  pemirsa yang saya kasihi, saya ulangi sekali lagi, adalah suatu  
kebahagiaan buat kami untuk memenuhi pertanyaan apa saja atau permintaan
  yang anda kirimkan kepada kami. Anda dapat menulis surat kepada kami 
ke  alamat kami ini. Atau apabila anda menginginkan sebuah alkitab, kami
  akan kirimkan kepada anda. Terima kasih. Sampai jumpa lagi. Sumber: 
http://www.siaranalhayat.com/pertanyaan-tentang-iman/




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke