Buku “Ramadhan di Priangan” ini sesungguhnya merupakan kumpulan beberapa 
artikel yang ditulis alm. Haryoto Kunto (Kuncen Bandung) di harian Pikiran 
Rakyat. Saya sendiri membuat klipping dari tulisan tulisan beliau, namun karena 
sudah diterbitkan dalam bentuk buku akhirnya membeli buku karena mudah dalam 
penyimpanan dan perawatannya. Ketika Haryoto Kunto masih hidup banyak orang 
menunggu tulisan beliau walau terkadang ada pengulangan mengenai suatu hal. 
Sebagian ingin mengenang masa lalu, sebagian lagi yang masih muda ingin 
mengetahui bagaimana Bandung atau Priangan masa lalu.

Meskipun buku diberi judul “Ramadhan di Priangan”, tetapi yang dikisahkan 
hampir seluruhnya peristiwa atau kebiasaan yang dilakukan muslimin di bulan 
Ramadhan dan di hari Lebaran di kedua kota Bandung dan Cibatu-Garut. Bandung 
sebagai kota kelahiran Haryoto Kunto (lahir tahun 1940) dan Cibatu tempat 
ayahnya pernah bertugas (1937-1942). Jadi selain peristiwa-peristiwa yang 
dialami penulisnya juga ditambah dari beberapa literatur lainnya mengenai 
kejadian tempo doeloe. Secara administratif wilayah Priangan sekarang adalah 
kota Bandung, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Ciamis, dan Banjar, tetapi abad 
ke-19 Cianjur pernah menjadi ibukota Karesidenan Priangan.

Beberapa hari menjelang Ramadhan biasanya warga kampung selain mengecat rumah 
dan pagar juga bergotong royong membersihkan kampung. Kemudian membersihkan 
kuburan kerabatnya yang telah meninggal. Sedangkan “nadran” atau berziarah 
dilakukan pada hari lebaran atau sesudahnya. Hari menjelang Ramadhan ini juga 
disebut “munggah” asal kata unggah yang artinya “naik” atau “meningkat” jadi 
Ramadhan saatnya meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Pada 
saat munggah umumnya keluarga memasak makanan yang enak melebihi hari-hari 
biasa karena dalam sebulan akan berpuasa tidak boleh makan dan minum di siang 
hari. Biasanya masakan enak ini masih dapat dinikmati hingga sahur hari pertama 
puasa. Seringkali pada saat-saat seperti ini ada pertanyaan, “Geus boga naon 
jang munggah?” (“Sudah punya apa untuk munggah?

Menjelang bulan Puasa seringkali diadakan makan bersama. Makan bersama ini 
dikenal dengan istilah “botram”. Bagi keluarga yang tidak mau repot memasak, 
maka tinggal mengajak keluarga makan di restoran. Misalnya keluarga penulis 
buku ini diajak botram ke Pasar Baru Bandung yang terletak di Pangeran 
Sumedangweg atau sekarang Jl. Oto Iskandardinata. Di sana dijual berbagai jenis 
kebutuhan termasuk aneka masakan dan jajanan. Sekitar tahun 1935 Pasar Baru 
Bandung dinyatakan pasar paling bersih dan teratur di seluruh Pulau Jawa. 
Selain di rumah makan ada juga yang melakukan botram di tengah sawah, taman 
kota, atau tempat-tempat lainnya yang indah. Di halaman 29 ada sebuah potret 
yang mengisahkan botram di sebuah taman kota, mungkin bagi kita sekarang aneh 
melihatnya, mereka ada yang mengenakan sarung dan baju semacam jas dengan 
memakai ikat kepala atau peci dan yang kegerahan menggantungkan bajunya di 
batang pohon.

Pada malam di bulan Ramadhan dilakukan salat tarawih di mesjid-mesjid. Setelah 
salat selesai biasanya bedug dan kohkol ditabuh bertalu-talu dan berirama. Saya 
pun mengalaminya hingga akhir tahun tujuh puluhan. Tradisi ini di kota 
berangsur-angsur hilang seiring dengan mesjid-mesjid sudah tidak memiliki atau 
tidak memerlukan lagi bedug dan kohkol. Kadang-kadang ada saja anak-anak nakal 
menyembunyikan pemukul bedug atau ada yang meletakan di kaki temannya yang 
sedang sujud sehingga sewaktu duduk setelah sujud terganjal pemukul bedug.

Yang khas di bulan Ramadhan adalah ngabuburit atau menunggu waktu buka puasa. 
Di kota Bandung misalnya ada yang main ke Alun-alun atau taman lainnya yang 
tersebar di berbagai tempat. Pernah menjadi mode ngabuburit diisi dengan acara 
mandi sore di sumur bor yang dibangun pada dasa warsa pertama abad ke-20. 
Adapun lokasinya di depan Kantor Pos (Alun-alun, di belakang Gubernuran, 
Ciroyom, di simpang Jln. Merdeka-Riau, dan di depan Sakola Menak, Tegalega. Di 
sana disediakan pula tempat pemandian umum yang terpisah untuk pria dan wanita. 
Sampai akhir tahun 1950-an ngabuburit bisa juga diisi dengan paparahuan di Situ 
Aksan yang kini sudah menjadi pemukiman. Bosan dengan acara di atas boleh juga 
merintang-rintang waktu dengan nonton di bioskop. Bunyi petasan mewarnai bulan 
Puasa, hingga akhir 1970-an masih terdengar bunyi petasa di mana-mana. 
Alhamdulillah setelah dilarang menjalankan puasa jadi lebih khusyu.

Mesjid Agung di sebuah kabupaten umumnya berada di sebelah barat Alun-alun 
(lapangan terbuka) sebagai pusat spiritual, sedangkan pendopo kabupaten berada 
di sebelah selatan atau utara melambangkan pusat kebudayaan dan sosial 
kemasyarakatan. Ketika kekuasaan penjajah telah masuk maka di seberang pendopo 
didirikan Loji atau Benteng Kompeni. Di Bandung Loji kemudian berubah menjadi 
kediaman Asisten Residen yang melambangkan kekuasaan, sedangkan pasar sebagai 
pusat ekonomi. Pasar pertama di kota Bandung setelah pindah dari Dayeuh Kolot 
tahun 1811 adalah Pasar Ciguriang yang terletak di antara Jalan Kepatihan dan 
Jalan Kautamaan Istri sekarang. Pasar ini habis terbakar tahun 1842.

Atap Mesjid Agung Bandung pada pertengahan abad ke19 memiliki atap tumpang tiga 
model nyungcung sehingga disebut Bale Nyungcung. Di sini Haji Hasan Mustapa 
pernah duduk sebagai Hoofd Panghulu (Pemimpin Umat islam) sekira awal abad 
ke-20. Hoofd Panghulu setara dengan bupati hanya saja berbeda urusan. Hoofd 
Panghulu lain dan terkenal adalah Raden Mohamad Moesa sebagai Hoofd Panghulu 
Limbangan (1822-1886). Keduanya juga dikenal sebagai sastrawan. Pada abad ke-19 
Mesjid Agung mencapai masa kemakmuran. Pembayaran zakat fitrah dan maal (harta) 
disetor ke mesjid ini dari berbagai distrik dibawah “Negorij Bandoeng”. Konon 
halaman dan serambi mesjid digunakan untuk menyimpan hasil bumi seperti padi, 
ketela, kopi bahkan Alun-alun pun dijadikan “tempat parkir” ternak sebagai 
pembayaran zakat. Dengan demikian setiap hari diadakan buka bersama terutama 
untuk para fakir dan miskin serta mualaf yang diambil dari pembayaran zakat 
yang tidak habis disalurkan
 kepada yang berhak dalam setahun. Hal ini pernah mendapat teguran dari Asisten 
Residen yang menyangka baitul maal digunakan untuk pesta makan-makan.

Buku kecil ini memang tidak berisi semua kebiasaan di bulan Ramadhan di tatar 
Priangan tempo dulu sesuai judulnya, karena ini merupakan kumpulan 
tulisan-tulisan di koran. 


      


------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke