terharu euy,jadi inget puasa taon2 lalu bisa meprek
orang+warung+kaca+rumah+gereja,kapan yah bisa gitu lage?

On 8/24/10, Scheherazade Scheher <[email protected]> wrote:
>
>
>
>
> Buku “Ramadhan di Priangan” ini sesungguhnya merupakan kumpulan beberapa
> artikel yang ditulis alm. Haryoto Kunto (Kuncen Bandung) di harian Pikiran
> Rakyat. Saya sendiri membuat klipping dari tulisan tulisan beliau, namun
> karena sudah diterbitkan dalam bentuk buku akhirnya membeli buku karena
> mudah dalam penyimpanan dan perawatannya. Ketika Haryoto Kunto masih hidup
> banyak orang menunggu tulisan beliau walau terkadang ada pengulangan
> mengenai suatu hal. Sebagian ingin mengenang masa lalu, sebagian lagi yang
> masih muda ingin mengetahui bagaimana Bandung atau Priangan masa lalu.
>
> Meskipun buku diberi judul “Ramadhan di Priangan”, tetapi yang dikisahkan
> hampir seluruhnya peristiwa atau kebiasaan yang dilakukan muslimin di bulan
> Ramadhan dan di hari Lebaran di kedua kota Bandung dan Cibatu-Garut. Bandung
> sebagai kota kelahiran Haryoto Kunto (lahir tahun 1940) dan Cibatu tempat
> ayahnya pernah bertugas (1937-1942). Jadi selain peristiwa-peristiwa yang
> dialami penulisnya juga ditambah dari beberapa literatur lainnya mengenai
> kejadian tempo doeloe. Secara administratif wilayah Priangan sekarang adalah
> kota Bandung, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Ciamis, dan Banjar, tetapi abad
> ke-19 Cianjur pernah menjadi ibukota Karesidenan Priangan.
>
> Beberapa hari menjelang Ramadhan biasanya warga kampung selain mengecat
> rumah dan pagar juga bergotong royong membersihkan kampung. Kemudian
> membersihkan kuburan kerabatnya yang telah meninggal. Sedangkan “nadran”
> atau berziarah dilakukan pada hari lebaran atau sesudahnya. Hari menjelang
> Ramadhan ini juga disebut “munggah” asal kata unggah yang artinya “naik”
> atau “meningkat” jadi Ramadhan saatnya meningkatkan keimanan dan ketaqwaan
> kepada Allah SWT. Pada saat munggah umumnya keluarga memasak makanan yang
> enak melebihi hari-hari biasa karena dalam sebulan akan berpuasa tidak boleh
> makan dan minum di siang hari. Biasanya masakan enak ini masih dapat
> dinikmati hingga sahur hari pertama puasa. Seringkali pada saat-saat seperti
> ini ada pertanyaan, “Geus boga naon jang munggah?” (“Sudah punya apa untuk
> munggah?
>
> Menjelang bulan Puasa seringkali diadakan makan bersama. Makan bersama ini
> dikenal dengan istilah “botram”. Bagi keluarga yang tidak mau repot memasak,
> maka tinggal mengajak keluarga makan di restoran. Misalnya keluarga penulis
> buku ini diajak botram ke Pasar Baru Bandung yang terletak di Pangeran
> Sumedangweg atau sekarang Jl. Oto Iskandardinata. Di sana dijual berbagai
> jenis kebutuhan termasuk aneka masakan dan jajanan. Sekitar tahun 1935 Pasar
> Baru Bandung dinyatakan pasar paling bersih dan teratur di seluruh Pulau
> Jawa. Selain di rumah makan ada juga yang melakukan botram di tengah sawah,
> taman kota, atau tempat-tempat lainnya yang indah. Di halaman 29 ada sebuah
> potret yang mengisahkan botram di sebuah taman kota, mungkin bagi kita
> sekarang aneh melihatnya, mereka ada yang mengenakan sarung dan baju semacam
> jas dengan memakai ikat kepala atau peci dan yang kegerahan menggantungkan
> bajunya di batang pohon.
>
> Pada malam di bulan Ramadhan dilakukan salat tarawih di mesjid-mesjid.
> Setelah salat selesai biasanya bedug dan kohkol ditabuh bertalu-talu dan
> berirama. Saya pun mengalaminya hingga akhir tahun tujuh puluhan. Tradisi
> ini di kota berangsur-angsur hilang seiring dengan mesjid-mesjid sudah tidak
> memiliki atau tidak memerlukan lagi bedug dan kohkol. Kadang-kadang ada saja
> anak-anak nakal menyembunyikan pemukul bedug atau ada yang meletakan di kaki
> temannya yang sedang sujud sehingga sewaktu duduk setelah sujud terganjal
> pemukul bedug.
>
> Yang khas di bulan Ramadhan adalah ngabuburit atau menunggu waktu buka
> puasa. Di kota Bandung misalnya ada yang main ke Alun-alun atau taman
> lainnya yang tersebar di berbagai tempat. Pernah menjadi mode ngabuburit
> diisi dengan acara mandi sore di sumur bor yang dibangun pada dasa warsa
> pertama abad ke-20. Adapun lokasinya di depan Kantor Pos (Alun-alun, di
> belakang Gubernuran, Ciroyom, di simpang Jln. Merdeka-Riau, dan di depan
> Sakola Menak, Tegalega. Di sana disediakan pula tempat pemandian umum yang
> terpisah untuk pria dan wanita. Sampai akhir tahun 1950-an ngabuburit bisa
> juga diisi dengan paparahuan di Situ Aksan yang kini sudah menjadi
> pemukiman. Bosan dengan acara di atas boleh juga merintang-rintang waktu
> dengan nonton di bioskop. Bunyi petasan mewarnai bulan Puasa, hingga akhir
> 1970-an masih terdengar bunyi petasa di mana-mana. Alhamdulillah setelah
> dilarang menjalankan puasa jadi lebih khusyu.
>
> Mesjid Agung di sebuah kabupaten umumnya berada di sebelah barat Alun-alun
> (lapangan terbuka) sebagai pusat spiritual, sedangkan pendopo kabupaten
> berada di sebelah selatan atau utara melambangkan pusat kebudayaan dan
> sosial kemasyarakatan. Ketika kekuasaan penjajah telah masuk maka di
> seberang pendopo didirikan Loji atau Benteng Kompeni. Di Bandung Loji
> kemudian berubah menjadi kediaman Asisten Residen yang melambangkan
> kekuasaan, sedangkan pasar sebagai pusat ekonomi. Pasar pertama di kota
> Bandung setelah pindah dari Dayeuh Kolot tahun 1811 adalah Pasar Ciguriang
> yang terletak di antara Jalan Kepatihan dan Jalan Kautamaan Istri sekarang.
> Pasar ini habis terbakar tahun 1842.
>
> Atap Mesjid Agung Bandung pada pertengahan abad ke19 memiliki atap tumpang
> tiga model nyungcung sehingga disebut Bale Nyungcung. Di sini Haji Hasan
> Mustapa pernah duduk sebagai Hoofd Panghulu (Pemimpin Umat islam) sekira
> awal abad ke-20. Hoofd Panghulu setara dengan bupati hanya saja berbeda
> urusan. Hoofd Panghulu lain dan terkenal adalah Raden Mohamad Moesa sebagai
> Hoofd Panghulu Limbangan (1822-1886). Keduanya juga dikenal sebagai
> sastrawan. Pada abad ke-19 Mesjid Agung mencapai masa kemakmuran. Pembayaran
> zakat fitrah dan maal (harta) disetor ke mesjid ini dari berbagai distrik
> dibawah “Negorij Bandoeng”. Konon halaman dan serambi mesjid digunakan untuk
> menyimpan hasil bumi seperti padi, ketela, kopi bahkan Alun-alun pun
> dijadikan “tempat parkir” ternak sebagai pembayaran zakat. Dengan demikian
> setiap hari diadakan buka bersama terutama untuk para fakir dan miskin serta
> mualaf yang diambil dari pembayaran zakat yang tidak habis disalurkan
> kepada yang berhak dalam setahun. Hal ini pernah mendapat teguran dari
> Asisten Residen yang menyangka baitul maal digunakan untuk pesta
> makan-makan.
>
> Buku kecil ini memang tidak berisi semua kebiasaan di bulan Ramadhan di
> tatar Priangan tempo dulu sesuai judulnya, karena ini merupakan kumpulan
> tulisan-tulisan di koran.
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke