'Mereka Menjual Suara'

http://endyonisius.blogspot.com/2010/09/mereka-menjual-suara.html

When I was young
I'd listen to the radio
Waitin' for my favorite songs
When they played I'd sing along
It made me smile ..

Konon, suara yang terucap sadar dari bibir manusia serta sanggup
menyusun makna, adalah cerminan jiwa sekaligus menunjuknya sebagai
mahluk berahlak. Maka lain dengan burung beo pak RT di saat menyapa
cewek tetangga, tentu bukan menggoda lantaran naksir. Meski patut
curiga ada aktor intelektualnya, karena belum terbukti bahwa bangsa
hewan telah sanggup menggunakan bahasa verbal untuk berkomunikasi
selayak manusia sebagai 'hewan beradab' (homo sapiens). Maka sangat
kehilangan martabat jika seseorang telah disebut 'mem-beo', sebab
ia mengingkari kodrat sebagai ciptaan tertinggi dalam imam, akal
dan budi.

Suara yang menjadi sarana. Adalah seorang bernama Galen, filsuf
asal Yunani pernah berujar, "The voice is the mirror of soul!".
Apakah seseorang itu sedang bahagia, marah atau berprilaku plin-plan,
bahkan menahan emosi, semua kentara lewat getar suaranya. Kesan
audial melalui tutur kata juga telah memperkuat imajinasi tertentu.
Malah kesaktiannya dapat mengubah suatu kalimat, menciptakan suasana
bahkan mempengaruhi khalayak yang mendengarkan. Suara memang mewakili
buah pikiran, sekaligus berfikir lewat suara. Sehingga walau cuma
bicara omong kosong, keahlian ini terbukti dapat menjadikan anda
menjabat menteri kabinet di Republik ini. Tapi kisahnya sih cerita
jaman duluuuuu ..

Memang, mulanya adalah perkara suara. Akhirnya dapat menunjukkan
watak, lantas identitas yang menjadi citra berikut status. Dari
Elvis Presley hingga Oprah Winfrey, Benyamin Suaeb maupun Rebbeca
Tumewu dalam konteks lebih umum, merupakan jati diri yang sanggup
menggunakan suara sebagai aset profesi. Semakin orang kenal dan
suka suaranya, berarti image telah tercipta dan laku. Suara telah
menjelma sebagai bentuk komoditi. Di Amerika tahun 20-an atau
Jakarta sekitar 70-an saat maraknya radio amatir maupun pemancar
gelombang gelap, suara pernah jadi status gaul tertentu. Hobi
bergengsi di jalur radio komunikasi maupun gelombang SW (Short Wave)
adalah memanfaatkan suara dalam membangun citra tersendiri bagi
pelakunya. Hingga dalam istilah ilmu radio, dikenal dengan
istilah 'journeyman announcer'.

Terjemahan secara bebasnya berarti 'penyiar dari jalanan'. Yakni
karakter yang dianggap mewakili selera tipikal tertentu secara
informal. Misalnya suara pria telah diwakilkan bersuara bariton,
sementara kaum perempuannya pas dengan alto. Maka kurang lebih si
pria akan menyeret vokal bersuara berat, serak-serak basah tapi
diupayakan terkontrol. Dengan intonasi agak ogah perlahan, malas
tapi garang, sebelum kadang ditutup dengan tawa teratur berjumlah
empat ketukan. Tentu pantang jika bunyi tawanya jadi cekikikan.
Warisan ini masih tampak pada penyiar senior TVRI yang berangkat
dari dunia radio serta tetap dipakai menjadi format khas RRI.
Perkara meramu kalimat atau tatanan bahasa, itu gampang dilatih.
Penggunaan bahasa Inggris hanya praktis digunakan mengeja judul
lagu, toh siarannya tetap wajib berbahasa Indonesia yang baik dan
'bener' serta ditunjang tim penulis naskah atau scripwritter.

Sejalan perkembangan berikut tuntutan persaingan, khusus bagi
radio swasta modern ternyata tak lagi terpaku pada urusan suara
nge-bas atau merdu merayu. Ia perlu bekal lain sesuai era global
ini: figur berpendidikan dan gaul. Announcer bukan sekadar pembaca
berita atau hanya pengantar, melainkan pelaku aktif. Penyiar radio
kiwari dituntut sebagai penghibur, pewarta informasi, pencipta
suasana dan trendy serta sobat kental sebagai teman bicara di sisi
bantal pada jam sebelas malam. Ketrampilan mengolah kata serta kiat
merayu dalam 'meracuni' pendengarnya, menuntut jurus lain yakni
'announcing skill'. Kriteria utama selain otak encer, juga melek
gaul, kaya gagasan dalam bahasa Indonesia maupun logat MTV, fasih
internet serta berpikiran merdeka. Dimana dalam relevansinya,
penyiar juga merupakan disc jockey, master of ceremony maupun
publik relation. Mereka kini adalah komunikator ulung.

Jelaslah bobot pada suara telah mengalami perkembangan, karena
mewakili ciri figur yang hangat, ramah dan intelegent. Juga
kesanggupannya mewakili citra - produk tertentu, maka para
announcer akan mengakrabi pendengar lewat 'berbicara dengan',
bukannya menjadi 'berbicara kepada'. Selayaknya dialog pihak yang
sederajat, tidak merupakan petuah apalagi instruksi. Bukankah
menjengkelkan di saat keheningan malam, pendengar harus direcoki
dengan pengulangan kalimat klise: "Para pendengar, sepuluh menit
telah berlalu dengan sebuah lagu. Kini waktu telah menunjukkan
pukul sepuluh liwat sepuluh menit. Untuk sepuluh menit berikut,
kembali akan disampaikan .. blah .. blaa ..!". Belum lagi saban
sepuluh menitnya harus diingatkan untuk memeriksa pintu, jendela,
serta tak lupa mematikan kompor. Pola berpikir tipikal tidak
merdeka, miskin ide, menutup dialog dan melecehkan logika bagi
si penyiar itu sendiri maupun terutama pendengarnya.

Maka, penyiar radio memang sangat berkepentingan akan kualitas
pribadi dirinya di udara, 'air personality' kerennya, sebelum
mewakili citra komunitasnya. Manusia di balik perangkat mikrophone
itu adalah pilot yang mengatur arena pertunjukkannya seperti Alan
Freed saat meneriakkan kalimat dan menyebar paham Rock and Roll
pertama kali ke atmosfir bumi. Serta suara manusia itu pulalah yang
memberi nuansa sekaligus nyawa pada sepetak ruang siaran lantas
menyebar ke tiap kotak suara para pendengarnya, seperti sosok
Adrian Cronauer yang diperankan Robin Williams pada film Good
Morning Vietnam. Sementara kecanggihan perangkat siar maupun
rekayasa audio berikut koleksi diskography hingga tim kreatif
akan menjadi pelayan bagi sang announcer, bukan sebaliknya
untuk dijajah tehnologi. Radio jelas merupakan perkara manusia
sebagai pencapaian nan manusiawi, dan untuk seterusnya demikian
tak tergantikan.

Sehingga konsep suara menjadi pemenuhan perilaku populis,
sekaligus karakter akan kebutuhan pada strata tertentu terhadap
informasi, edukasi, bisnis dan hiburan. Karena radio modern telah
menjadi institusi bisnis serius, dalam segenap aspeknya. Radio
modern telah sanggup mengekploitasi keunggulan ini, bersama
faktor lain berupa program siaran, format lagu, strategi-segment,
acara 'off air' hingga aplikasi pengembangan teknologinya. Namun
segalanya memang dimulai melalui suara dulu, kadang lebih
berkepribadian ketimbang kesan fisik yang ditampilkan. Akhirnya,
keberhasilan suara adalah ketika tiap kuping yang mendengar akan
memiliki beragam persepsi yang tidak sama. Itulah guna radio,
suara yang 'menggambarkan' cerita, the theater of imagination.
Serta mengalir sebagai partner sejalan, dimana suara sang
penyiar sanggup tampil 'as the mirror of the soul!'

endyonisius.blogspot.com



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke