Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr
yang sampai sekarang sudah dikunjungi  lebih dari  643 510  kali
 = = = =   = = =   = = =


Mengenang peristiwa 30 September 1965


Korban rejim militer Suharto merindukan

pemimpin yang seperti Bung Karno



Supaya para pembaca jangan salah tafsir atau salah tanggap ketika membaca
judul tulisan seperti tersebut di atas baiklah kiranya dijelaskan terlebih
dulu bahwa yang dimaksud dalam hal ini bukanlah hanya para korban yang
terdiri  dari anggota atau simpatisan PKI beserta puluhan jutaan anggota
ormas-ormas yang berafiliasi dengannya, seperti antara lain : Pemuda Rakyat,
Gerwani, BTI, SOBSI, HSI, CGMI, IPPI, LEKRA dan puluhan serikat buruh
lainnya (umpamanya SBKA, SARBUPRI, SBPU, SBPP, PERBUM, SEBDA, SB Unilever
dll dll).



Dan bukan pula hanya para pendukung politik revolusioner Bung Karno, yang
terdiri juga dari orang-orang kiri non-komunis. Melainkan seluruh orang
(sekali lagi : seluruh orang) dari berbagai kalangan dan golongan, yang
pernah menjadi korban  -- dalam macam-macam bentuk dan berbagai kadar  --
politik rejim militer Suharto yang berkuasa selama puluhan tahun itu. Jadi,
jumlahnya besar sekali di seluruh Indonesia, dan juga di luar negeri.



Patutlah kiranya sama-sama kita ingat bahwa rejim miiliter Suharto telah
menjalankan politik anti-demokrasi yang menyeluruh di segala  bidang
kehidupan negara dan bangsa, dan dalam jangka waktu yang lama sekali pula.
Karenanya, yang menjadi korban politik anti-demokrasi rejim militer Suharto
ini sebenarnya adalah luas sekali. Jadi, sekali lagi,  bukan hanya golongan
kiri saja.



Namun, perlu dicatat bahwa di antara para korban politik anti-demokrasi dari
diktatur militer Suharto selama 32 tahun  itu yang paling berat, dan paling
lama serta paling besar adalah golongan anggota dan simpatisan PKI dan
golongan pendukung aktif politik Bung Karno.



Perbedaan besar antara Indonesia di bawah Bung Karno
dengan di bawah Suharto



Para korban diktatur militer yang jumlahnya besar ini sekarang sedang
menunggu perkembangan situasi negara dan bangsa yang makin kelihatan
semrawut, seperti kehilangan arah, penuh dengan masalah-masalah besar yang
tidak terselesaikan (untuk disebutkan sejumlah kecil saja di antaranya :
korupsi yang tetap merajalela, Bank Century, kekusutan di kalangan pimpinan
POLRI, masalah gedung baru DPR, pertentangan antar agama, utang negara yang
makin membubung tinggi, kelakuan para pejabat dan anggota DPR untuk « studi
banding » ke luar negeri dll dan seterusnya).



Jelaslah bahwa banyaknya masalah dewasa ini tidak bisa dipisahkan dari
kerusakan-kerusakan, pembusukan, yang dibikin oleh rejim militer Orde Baru.
Bahkan,  bisalah dikatakan bahwa banyak sekali di antara banyak hal-hal yang
buruk dewasa ini adalah produk dari segala politik diktatur militer yang
selama 32 tahun telah merusak sendi-sensi negara, membusukkan jiwa bangsa,
menbobrokkan moral sebagian rakyat.



Para pengamat sejarah, dan para politisi dari angkatan 45, atau golongan
«angkatan lansia « umumnya sekarang  bisa melihat perbedaan yang jauh sekali
antara Indonesia di bawah pimpinan Bung Karno dan Indonesia di bawah Suharto
dan pemerintahan-pemerintahan yang menyusulnya. Banyak sekali kebusukan
moral, kebejatan mental, dan kebobrokan iman yang sekarang kelihatan
merajalela begitu luas dan begitu parah di « kalangan atas » bangsa tidak
pernah nampak  waktu Indonesia ada di bawah pimpinan Bung Karno.



Kalau melihat begitu besar kerusakan moral, atau kebejatan mental, atau
kesesatan iman seperti yang sama-sama kita saksikan dewasa ini dan kita
bandingkan dengan situasi bangsa dan negara di bawah pimpinan Bung Karno,
maka nyatalah dengan jelas sekali betapa besar  dosa Suharto dengan Orde
Barunya dalam membikin Indonesia yang akibatnya seperti sekarang ini.
Padahal, jiwa bangsa Indonesia di bawah pimpinan Bung Karno adalah jiwa yang
penuh dengan moral revolusioner, moral perjuangan, moral mengabdi kepada
kepentingan rakyat, moral persatuan bangsa, dan moral gotong royong.



Arti hilangnya Bung Karno dari kepemimpinan bangsa


Sejarah sudah membuktikan, dengan disaksikan juga oleh golongan  progresif
seluruh dunia,  bahwa jiwa bangsa Indonesia di bawah pimpinan Bung Karno
terkenal sebagai jiwa yang didominasi oleh elan (semangat) revolusioner
selain untuk mengabdi kepada kepentingan rakyat Indonesia juga untuk
kepentingan rakyat Asia-Afrika-Amerika Latin serta rakyat-rakyat tertindas
lainnya. Untuk semuanya itulah, jiwa rakyat Indonesia waktu itu penuh dengan
patriotisme kerakyatan, dan nasionalisme revolusioner anti-kapitalisme,
anti-kolonialisme dan anti-imperialisme.



Jiwa bangsa Indonesia yang pernah begitu terhormat di bawah pimpinan Bung
Karno inilah yang sudah dirusak parah oleh Suharto beserta para jenderalnya
, sehingga  membusuk secara luas, dan membikin bangsa menjadi sakit parah,
seperti yang kita saksikan dimana-mana dewasa ini.



Keadaan negara dan bangsa yang serba kacau dan menyulitkan kehidupan rakyat
kecil dewasa ini, menunjukkan bahwa dibutuhkan akan adanya pimpinan nasional
yang berwibawa, yang memiliki integritas moral yang tinggi, yang jelas
mempunyai jiwa pengabdian kepada rakyat, yang dicintai dan dihormati oleh
bangsa, seperti halnya Bung Karno.



Karena itu, hilangnya Bung Karno dari pucuk pimpinan bangsa dan  negara
akibat pengkhianatan Suharto dan para jenderalnya (beserta
pendukung-pendukungnya di berbagai kalangan masyarakat)  mengakibatkan
Indonesia dalam keadaan kehilangan pimpinan yang sudah terbukti memiliki
kualitas yang tinggi dalam berbagai bidang.



Kita semua tahu, bahwa Bung Karno, meskipun menjadi Presiden sejak
proklamasi sampai digulingkannya oleh Suharto tidak melakukan korupsi untuk
menumpuk harta bagi keluarga dan anak-anaknya. Ia wafat dalam keadaan
keluarganya tidak memiliki harta yang melimpah ruah seperti halnya keluarga
Suharto. Bahkan, pernah ada cerita bahwa Ibu Fatmawati terpaksa minta
bantuan keuangan kepada  pengusaha Hasyim Ning sesudah Bung Karno tidak
menjabat lagi sebagai presideni.



Banyak orang menyesal telah menyokong Suharto


Karenanya, dapatlah dimengerti bahwa banyak orang yang tadinya menyokong
Suharto (dan konco-konconya) dalam mendongkel Bung Karno, umumnya sekarang
menjadi kecewa atau ikut menyesalinya. Mereka tadinya mengira atau
mengharapkan bahwa Suharto akan bisa membawa negara dan bangsa lebih baik
dari pada Bung Karno. Mereka tadinya menyokong Suharto karena berpendapat
bahwa ajaran-ajaran revolusioner dan politik kiri Bung Karno
(pro-sosialialisme, anti-kolonialisme dan anti-imperialisme) harus dibuang
dan digantikan dengan yang lain.



Namun, ternyata apa yang terjadi adalah yang serba kebalikannya.  Suharto
ternyata jauh tidak lebih baik dari pada Bung Karno, jauh sekali, sangat
jauh !!! Bahkan, dalam banyak hal, sangat bertentangan !!!!! (tanda seru
lima kali). Sejarah hidup Bung Karno yang sejak muda sudah berjuang
menentang kolonialisme Belanda bertentangan dengan sejarah hidup Suharto
yang dimulai dengan menjadi serdadu kolonial Belanda.



Bung Karno adalah penggagas atau penggali Pancasila, sedangkan Suharto
adalah pemalsu atau perusak Pancasila, seperti yang sudah dibuktikannya
selama 32 tahun memimpin rejim militernya. Bung Karno sejak mudanya sudah
terbukti sebagai pemersatu bangsa, sedangkan Suharto telah mencabik-cabik
persatuan bangsa secara parah sekali, sejak terjadinya peristiwa 30
September 1965.



Tetapi, yang lebih penting dan lebih serius lagi adalah perbedaan yang besar
sekali, atau  bertentangan sama sekali antara  cara Bung Karno memimpin
negara dan bangsa  dan cara Suharto mengangkangi dan mengendalikan diktatur
militernya. Kediktatoran Suharto yang dibarengi dengan kerusakan moral yang
parah, telah membikin kerusakan-kerusakan yang hebat sekali hampir di segala
bidang.

Kerusakan paling besar : pembusukan jiwa bangsa


Kerusakan yang paling besar adalah yang terdapat di bidang jiwa bangsa,
termasuk jiwa generasi muda yang sekarang banyak menduduki tempat-tempat
penting di bidang eksekutif, legislatif, dan judikatif. Di antara
pejabat-pejabat penting ini (atau tokoh-tokoh lainnya dalam masyarakat)
sebagian terbesarnya  adalah mereka yang waktu mudanya diberi pendidikan
oleh Orde Baru.



Oleh karenanya, kita dapat mengatakan bahwa pada dasarnya, atau pada
pokoknya,  birokrasi  (dan elite bangsa pada umumnya) di Indonesia sekarang
ini adalah produk atau hasil kultur diktatur militer Orde Baru dengan segala
sistemnya yang serba korup, anti-rakyat, anti-Bung Karno atau anti-kiri
(termasuk anti-PKI). Hal yang demikian ini terdapat di Jakarta, dan juga di
seluruh Indonesia.



Mereka-mereka itulah yang juga menjadi tokoh-tokoh berbagai partai politik,
menjadi anggota DPR di pusat dan didaerah-daerah, atau menjadi pemuka-pemuka
masyarakat di berbagai tingkat, termasuk di kalangan swasta atau pengusaha.



Itu semua merupakan  faktor-faktor mengapa meskipun rejim militer Suharto
sudah ambruk, namun sisa-sisa Orde Baru masih kelihatan kuat di sana-sini.
Ini nampak dari masih besarnya peran yang dimainkan Golkar dalam percaturan
politik dewasa ini, dan juga adanya partai-partai politik lainnya yang masih
menentang ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno.



Namun, situasi kongkrit dalam negeri (dan juga situasi internasional)
menunjukkan perkembangan yang tidak menguntungkan lagi bagi
kekuatan-kekuatan yang mau mempertahankan politik anti-keadilan,
anti-kesejahteraan, anti-perubahan bagi kepentingan rakyat, terutama rakyat
miskin.



Kemiskinan yang masih makin terus menganga lebar, pengangguran yang makin
membengkak, penderitaan sebagian terbesar rakyat yang makin parah, membikin
sadarnya banyak  kalangan bahwa negara dan bangsa kita sudah memerlukan
sekali perubahan besar dan fundamental. Perubahan besar dan fundamental ini
tidak mungkin dilakukan dengan  birokrasi atau kalangan  atas  bangsa yang
masih terkontaminasi oleh penyakit-penyakit Orde Baru.



Tidak seorang pun bisa menyamai keagungan Bung Karno



Dengan aparat pemerintahan yang terdiri dari pejabat-pejabat yang
reaksioner, anti-rakyat, dan korup dan bejat moralnya seperti kebanyakannya
dewasa ini,  situasi negara dan bangsa akan tetap dalam keadaan terus
membusuk di segala bidang.



Seperti kita ketahui bersama, keadaan yang serba menyedihkan bagi sebagian
terbesar rakyat kita sekarang ini adalah akibat hilangnya Bung Karno dari
tampuk kepemimpinan bangsa oleh pengkhianatan Suharto dan para jenderalnya
dengan bantuan imperialisme AS.



Dan sejak hilangnya Bung Karno dari kepemimpinan bangsa, maka tidak seorang
pun  -- sekali lagi : tidak seorang pun ! -- dari tokoh-tokoh Indonesia
lainnya yang bisa menggantikan kebesaran sosoknya yang agung.   Tidak
seorang pun dari pemimpin-pemimpin Indonesia  (dari partai politik yang mana
pun, atau dari golongan apa pun) yang bisa menandingi apalagi melebihi
berbagai keunggulan Bung Karno, yang setara dengan keunggulan banyak
tokoh-tokoh besar seperti Mao Tse-tung,  Chou En-lai, Ho Chi-minh, Nehru,
Gamal Abdul Nasser, Kwame Nkrumah, Tito atau pemimpin-pemimpin besar lainnya
di dunia.



Oleh karena itu wajarlah kalau banyak kalangan dan golongan di negeri kita
sekarang ini mendambakan munculnya seorang pemimpin yang memiliki sikap
perjuangan atau sikap politik yang bisa seperti Bung Karno. Sebab, sudah
terbukti bahwa keadaan yang serba dekaden sekarang, atau yang serba membusuk
dewasa ini, adalah karena berbagai pemerintahan  telah menjalankan politik
yang serba bertentangan dengan ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno, yaitu
Trisakti (berdaulat secara politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan
berkepribadian dalam kebudayaan).



Namun, sayangnya, kiranya adalah sulit sekali  -- bahkan tidak mungkin!  --
bagi bangsa Indonesia untuk  mempunyai lagi pemimpin yang seagung Bung
Karno. Sebab, Bung Karno adalah sosok yang terlalu besar, untuk bisa disamai
oleh siapa pun di Indonesia, sekarang ini, dan mungkin juga untuk masa-masa
yang akan datang.  Bangsa Indonesia, bersama seluruh anak cucunya di
kemudian hari patut  merasa bangga dan bertermakasih pula sudah pernah
mempunyai seorang puteranya yang bernama Sukarno.



Dalam seribu tahun  akan hanya ada seorang Soekarno



Seperti yang pernah ditegaskan oleh Subadio Sastrosutomo (mantan pimpinan
terkemuka PSI)  dalam bukunya  bahwa  “Sukarno adalah Indonesia, dan
Indonesia adalah Sukarno”, untuk menggambarkan arti kebesaran Bung Karno
bagi bangsa Indonesia. Penegasan atau pengakuan Subadio ini sangat penting,
kalau diingat bahwa dalam jangka lama tadinya PSI digolongkan sebagai
penentang politik Bung Karno yang cukup « mbandel ».





Dalam kaitan ini, baik juga kita ingat kembali apa yang ditulis oleh mantan
Dubes RI di Argentina Jusuf Ronodipuro dalam  New York Times tanggal 4 Juni
2002,  yang menyebutkan “In a thousand years, there will only be one
Sukarno » (dalam seribu tahun  akan hanya ada seorang Soekarno)



Mengingat itu semua, dan juga mengingat situasi negara dan bangsa dewasa
ini, wajarlah kalau banyak di kalangan rakyat Indonesia merindukan adanya
pemimpin yang bisa seperti bung Karno. Dan wajar juga atau bisa dimengerti
pula, kalau di antara yang merindukan pemimpin seperti Bung Karno itu adalah
para korban Orde Baru, yang terdiri dari banyak golongan dalam masyarakat.
Namun, kiranya lebih-lebih dapat dimengerti lagi bahwa para korban Orde Baru
dari golongan kiri-lah yang paling merindukan tampilnya seorang pemimpin
yang seperti Bung Karno.



Kalaupun tidak mungkin tampilnya seorang yang seperti  Bung Karno, maka akan
sudah sangat besar artinya bagi rakyat kalau ada orang yang bisa
melaksanakan isi dan jiwa ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno dengan
sungguh-sungguh. Dan orang seperti ini, pada suatu saat pasti akhirnya akan
lahir juga  dari rahim perjuangan revolusioner rakyat Indonesia , walaupun
mungkin akan makan waktu dan pengorbanan tenaga yang tidak sedikit.



Sebab, situasi negara dan bangsa tidak akan mungkin bisa diperbaiki oleh
siapa pun dan bagaimana pun serta dengan cara apa pun, kalau menentang isi
atau jiwa ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno !!!



Paris,   21  September 2010



A. Umar Said



= ==========



Dalam rangka mengenang peristiwa 30 September 1965 mohon pendapat Anda
terhadap tulisan di atas. Pendapat Anda bisa Anda sampaikan melalui E-mail
dan siarkan di berbagai mailing-list untuk diketahui publik secara luas,
atau hanya disalurkan melalui japri (jalur pribadi) untuk pengetahuan saya
pribadi saja, dan tidak untuk disiarkan. Apa pun atau bagaimana pun pendapat
Anda mengenai soal ini adalah berguna  untuk diketahui.

Terimakasih,




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke