Pak Umar

saya kira masalahnya begini...

terlalu Soekarno sentris itu tidak baik...

misal ada 200 juta rakyat indonesia

yang 199.999.999 rakyat bodoh

hanya ada 1 orang pintar bernama soekarno, yang misalnya lebih pintar dari 
Lenin, lebih pintar dari JFK, lebih pintar dari Mao, lebih pintar dari Tito...

ini semua tidak berarti apa-apa

apakah soekarno sendirian yang akan merakit pesawat tempur?
apakah soekarno sendirian yang akan mengebor minyak?

bagi saya yg lebih penting adalah membangun kesadaran dan kecerdasan di tingkat 
rakyat, dan bukan mengagung-ngagungkan sosok personal seperti soekarno...

apabila terlalu soekarno sentris, maka tidak ada kesinambungan estafet 
kepemimpinan, misal soekarno mati...ya selanjutnya negeri berantakan...

tapi lihat di china

mao melakukan revolusi budaya
deng xiaoping punya karakter sendiri untuk menegasikan Mao
lalu dilanjutkan zhao ziyang, jiang zemin
dan sekarang hu jin tao..

mereka punya karakter kepemimpinan yang berkesinambungan...

untuk itu saya kira lebih tepat membangun dasar-dasar kebangsaan/pola 
pikir/world view yang tepat bagi rakyat indonesia, agar berkesinambungan jauh 
kedepan

dan bukan bermimpi-mimpi terus menerus terhadap datangnya ratu adil seperti 
soekarno...

salam

 

--- In [email protected], "Umar Said" <kon...@...> wrote:
>
> Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr
> yang sampai sekarang sudah dikunjungi  lebih dari  643 510  kali
>  = = = =   = = =   = = =
> 
> 
> Mengenang peristiwa 30 September 1965
> 
> 
> Korban rejim militer Suharto merindukan
> 
> pemimpin yang seperti Bung Karno
> 
> 
> 
> Supaya para pembaca jangan salah tafsir atau salah tanggap ketika membaca
> judul tulisan seperti tersebut di atas baiklah kiranya dijelaskan terlebih
> dulu bahwa yang dimaksud dalam hal ini bukanlah hanya para korban yang
> terdiri  dari anggota atau simpatisan PKI beserta puluhan jutaan anggota
> ormas-ormas yang berafiliasi dengannya, seperti antara lain : Pemuda Rakyat,
> Gerwani, BTI, SOBSI, HSI, CGMI, IPPI, LEKRA dan puluhan serikat buruh
> lainnya (umpamanya SBKA, SARBUPRI, SBPU, SBPP, PERBUM, SEBDA, SB Unilever
> dll dll).
> 
> 
> 
> Dan bukan pula hanya para pendukung politik revolusioner Bung Karno, yang
> terdiri juga dari orang-orang kiri non-komunis. Melainkan seluruh orang
> (sekali lagi : seluruh orang) dari berbagai kalangan dan golongan, yang
> pernah menjadi korban  -- dalam macam-macam bentuk dan berbagai kadar  --
> politik rejim militer Suharto yang berkuasa selama puluhan tahun itu. Jadi,
> jumlahnya besar sekali di seluruh Indonesia, dan juga di luar negeri.
> 
> 
> 
> Patutlah kiranya sama-sama kita ingat bahwa rejim miiliter Suharto telah
> menjalankan politik anti-demokrasi yang menyeluruh di segala  bidang
> kehidupan negara dan bangsa, dan dalam jangka waktu yang lama sekali pula.
> Karenanya, yang menjadi korban politik anti-demokrasi rejim militer Suharto
> ini sebenarnya adalah luas sekali. Jadi, sekali lagi,  bukan hanya golongan
> kiri saja.
> 
> 
> 
> Namun, perlu dicatat bahwa di antara para korban politik anti-demokrasi dari
> diktatur militer Suharto selama 32 tahun  itu yang paling berat, dan paling
> lama serta paling besar adalah golongan anggota dan simpatisan PKI dan
> golongan pendukung aktif politik Bung Karno.
> 
> 
> 
> Perbedaan besar antara Indonesia di bawah Bung Karno
> dengan di bawah Suharto
> 
> 
> 
> Para korban diktatur militer yang jumlahnya besar ini sekarang sedang
> menunggu perkembangan situasi negara dan bangsa yang makin kelihatan
> semrawut, seperti kehilangan arah, penuh dengan masalah-masalah besar yang
> tidak terselesaikan (untuk disebutkan sejumlah kecil saja di antaranya :
> korupsi yang tetap merajalela, Bank Century, kekusutan di kalangan pimpinan
> POLRI, masalah gedung baru DPR, pertentangan antar agama, utang negara yang
> makin membubung tinggi, kelakuan para pejabat dan anggota DPR untuk « studi
> banding » ke luar negeri dll dan seterusnya).
> 
> 
> 
> Jelaslah bahwa banyaknya masalah dewasa ini tidak bisa dipisahkan dari
> kerusakan-kerusakan, pembusukan, yang dibikin oleh rejim militer Orde Baru.
> Bahkan,  bisalah dikatakan bahwa banyak sekali di antara banyak hal-hal yang
> buruk dewasa ini adalah produk dari segala politik diktatur militer yang
> selama 32 tahun telah merusak sendi-sensi negara, membusukkan jiwa bangsa,
> menbobrokkan moral sebagian rakyat.
> 
> 
> 
> Para pengamat sejarah, dan para politisi dari angkatan 45, atau golongan
> «angkatan lansia « umumnya sekarang  bisa melihat perbedaan yang jauh sekali
> antara Indonesia di bawah pimpinan Bung Karno dan Indonesia di bawah Suharto
> dan pemerintahan-pemerintahan yang menyusulnya. Banyak sekali kebusukan
> moral, kebejatan mental, dan kebobrokan iman yang sekarang kelihatan
> merajalela begitu luas dan begitu parah di « kalangan atas » bangsa tidak
> pernah nampak  waktu Indonesia ada di bawah pimpinan Bung Karno.
> 
> 
> 
> Kalau melihat begitu besar kerusakan moral, atau kebejatan mental, atau
> kesesatan iman seperti yang sama-sama kita saksikan dewasa ini dan kita
> bandingkan dengan situasi bangsa dan negara di bawah pimpinan Bung Karno,
> maka nyatalah dengan jelas sekali betapa besar  dosa Suharto dengan Orde
> Barunya dalam membikin Indonesia yang akibatnya seperti sekarang ini.
> Padahal, jiwa bangsa Indonesia di bawah pimpinan Bung Karno adalah jiwa yang
> penuh dengan moral revolusioner, moral perjuangan, moral mengabdi kepada
> kepentingan rakyat, moral persatuan bangsa, dan moral gotong royong.
> 
> 
> 
> Arti hilangnya Bung Karno dari kepemimpinan bangsa
> 
> 
> Sejarah sudah membuktikan, dengan disaksikan juga oleh golongan  progresif
> seluruh dunia,  bahwa jiwa bangsa Indonesia di bawah pimpinan Bung Karno
> terkenal sebagai jiwa yang didominasi oleh elan (semangat) revolusioner
> selain untuk mengabdi kepada kepentingan rakyat Indonesia juga untuk
> kepentingan rakyat Asia-Afrika-Amerika Latin serta rakyat-rakyat tertindas
> lainnya. Untuk semuanya itulah, jiwa rakyat Indonesia waktu itu penuh dengan
> patriotisme kerakyatan, dan nasionalisme revolusioner anti-kapitalisme,
> anti-kolonialisme dan anti-imperialisme.
> 
> 
> 
> Jiwa bangsa Indonesia yang pernah begitu terhormat di bawah pimpinan Bung
> Karno inilah yang sudah dirusak parah oleh Suharto beserta para jenderalnya
> , sehingga  membusuk secara luas, dan membikin bangsa menjadi sakit parah,
> seperti yang kita saksikan dimana-mana dewasa ini.
> 
> 
> 
> Keadaan negara dan bangsa yang serba kacau dan menyulitkan kehidupan rakyat
> kecil dewasa ini, menunjukkan bahwa dibutuhkan akan adanya pimpinan nasional
> yang berwibawa, yang memiliki integritas moral yang tinggi, yang jelas
> mempunyai jiwa pengabdian kepada rakyat, yang dicintai dan dihormati oleh
> bangsa, seperti halnya Bung Karno.
> 
> 
> 
> Karena itu, hilangnya Bung Karno dari pucuk pimpinan bangsa dan  negara
> akibat pengkhianatan Suharto dan para jenderalnya (beserta
> pendukung-pendukungnya di berbagai kalangan masyarakat)  mengakibatkan
> Indonesia dalam keadaan kehilangan pimpinan yang sudah terbukti memiliki
> kualitas yang tinggi dalam berbagai bidang.
> 
> 
> 
> Kita semua tahu, bahwa Bung Karno, meskipun menjadi Presiden sejak
> proklamasi sampai digulingkannya oleh Suharto tidak melakukan korupsi untuk
> menumpuk harta bagi keluarga dan anak-anaknya. Ia wafat dalam keadaan
> keluarganya tidak memiliki harta yang melimpah ruah seperti halnya keluarga
> Suharto. Bahkan, pernah ada cerita bahwa Ibu Fatmawati terpaksa minta
> bantuan keuangan kepada  pengusaha Hasyim Ning sesudah Bung Karno tidak
> menjabat lagi sebagai presideni.
> 
> 
> 
> Banyak orang menyesal telah menyokong Suharto
> 
> 
> Karenanya, dapatlah dimengerti bahwa banyak orang yang tadinya menyokong
> Suharto (dan konco-konconya) dalam mendongkel Bung Karno, umumnya sekarang
> menjadi kecewa atau ikut menyesalinya. Mereka tadinya mengira atau
> mengharapkan bahwa Suharto akan bisa membawa negara dan bangsa lebih baik
> dari pada Bung Karno. Mereka tadinya menyokong Suharto karena berpendapat
> bahwa ajaran-ajaran revolusioner dan politik kiri Bung Karno
> (pro-sosialialisme, anti-kolonialisme dan anti-imperialisme) harus dibuang
> dan digantikan dengan yang lain.
> 
> 
> 
> Namun, ternyata apa yang terjadi adalah yang serba kebalikannya.  Suharto
> ternyata jauh tidak lebih baik dari pada Bung Karno, jauh sekali, sangat
> jauh !!! Bahkan, dalam banyak hal, sangat bertentangan !!!!! (tanda seru
> lima kali). Sejarah hidup Bung Karno yang sejak muda sudah berjuang
> menentang kolonialisme Belanda bertentangan dengan sejarah hidup Suharto
> yang dimulai dengan menjadi serdadu kolonial Belanda.
> 
> 
> 
> Bung Karno adalah penggagas atau penggali Pancasila, sedangkan Suharto
> adalah pemalsu atau perusak Pancasila, seperti yang sudah dibuktikannya
> selama 32 tahun memimpin rejim militernya. Bung Karno sejak mudanya sudah
> terbukti sebagai pemersatu bangsa, sedangkan Suharto telah mencabik-cabik
> persatuan bangsa secara parah sekali, sejak terjadinya peristiwa 30
> September 1965.
> 
> 
> 
> Tetapi, yang lebih penting dan lebih serius lagi adalah perbedaan yang besar
> sekali, atau  bertentangan sama sekali antara  cara Bung Karno memimpin
> negara dan bangsa  dan cara Suharto mengangkangi dan mengendalikan diktatur
> militernya. Kediktatoran Suharto yang dibarengi dengan kerusakan moral yang
> parah, telah membikin kerusakan-kerusakan yang hebat sekali hampir di segala
> bidang.
> 
> Kerusakan paling besar : pembusukan jiwa bangsa
> 
> 
> Kerusakan yang paling besar adalah yang terdapat di bidang jiwa bangsa,
> termasuk jiwa generasi muda yang sekarang banyak menduduki tempat-tempat
> penting di bidang eksekutif, legislatif, dan judikatif. Di antara
> pejabat-pejabat penting ini (atau tokoh-tokoh lainnya dalam masyarakat)
> sebagian terbesarnya  adalah mereka yang waktu mudanya diberi pendidikan
> oleh Orde Baru.
> 
> 
> 
> Oleh karenanya, kita dapat mengatakan bahwa pada dasarnya, atau pada
> pokoknya,  birokrasi  (dan elite bangsa pada umumnya) di Indonesia sekarang
> ini adalah produk atau hasil kultur diktatur militer Orde Baru dengan segala
> sistemnya yang serba korup, anti-rakyat, anti-Bung Karno atau anti-kiri
> (termasuk anti-PKI). Hal yang demikian ini terdapat di Jakarta, dan juga di
> seluruh Indonesia.
> 
> 
> 
> Mereka-mereka itulah yang juga menjadi tokoh-tokoh berbagai partai politik,
> menjadi anggota DPR di pusat dan didaerah-daerah, atau menjadi pemuka-pemuka
> masyarakat di berbagai tingkat, termasuk di kalangan swasta atau pengusaha.
> 
> 
> 
> Itu semua merupakan  faktor-faktor mengapa meskipun rejim militer Suharto
> sudah ambruk, namun sisa-sisa Orde Baru masih kelihatan kuat di sana-sini.
> Ini nampak dari masih besarnya peran yang dimainkan Golkar dalam percaturan
> politik dewasa ini, dan juga adanya partai-partai politik lainnya yang masih
> menentang ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno.
> 
> 
> 
> Namun, situasi kongkrit dalam negeri (dan juga situasi internasional)
> menunjukkan perkembangan yang tidak menguntungkan lagi bagi
> kekuatan-kekuatan yang mau mempertahankan politik anti-keadilan,
> anti-kesejahteraan, anti-perubahan bagi kepentingan rakyat, terutama rakyat
> miskin.
> 
> 
> 
> Kemiskinan yang masih makin terus menganga lebar, pengangguran yang makin
> membengkak, penderitaan sebagian terbesar rakyat yang makin parah, membikin
> sadarnya banyak  kalangan bahwa negara dan bangsa kita sudah memerlukan
> sekali perubahan besar dan fundamental. Perubahan besar dan fundamental ini
> tidak mungkin dilakukan dengan  birokrasi atau kalangan  atas  bangsa yang
> masih terkontaminasi oleh penyakit-penyakit Orde Baru.
> 
> 
> 
> Tidak seorang pun bisa menyamai keagungan Bung Karno
> 
> 
> 
> Dengan aparat pemerintahan yang terdiri dari pejabat-pejabat yang
> reaksioner, anti-rakyat, dan korup dan bejat moralnya seperti kebanyakannya
> dewasa ini,  situasi negara dan bangsa akan tetap dalam keadaan terus
> membusuk di segala bidang.
> 
> 
> 
> Seperti kita ketahui bersama, keadaan yang serba menyedihkan bagi sebagian
> terbesar rakyat kita sekarang ini adalah akibat hilangnya Bung Karno dari
> tampuk kepemimpinan bangsa oleh pengkhianatan Suharto dan para jenderalnya
> dengan bantuan imperialisme AS.
> 
> 
> 
> Dan sejak hilangnya Bung Karno dari kepemimpinan bangsa, maka tidak seorang
> pun  -- sekali lagi : tidak seorang pun ! -- dari tokoh-tokoh Indonesia
> lainnya yang bisa menggantikan kebesaran sosoknya yang agung.   Tidak
> seorang pun dari pemimpin-pemimpin Indonesia  (dari partai politik yang mana
> pun, atau dari golongan apa pun) yang bisa menandingi apalagi melebihi
> berbagai keunggulan Bung Karno, yang setara dengan keunggulan banyak
> tokoh-tokoh besar seperti Mao Tse-tung,  Chou En-lai, Ho Chi-minh, Nehru,
> Gamal Abdul Nasser, Kwame Nkrumah, Tito atau pemimpin-pemimpin besar lainnya
> di dunia.
> 
> 
> 
> Oleh karena itu wajarlah kalau banyak kalangan dan golongan di negeri kita
> sekarang ini mendambakan munculnya seorang pemimpin yang memiliki sikap
> perjuangan atau sikap politik yang bisa seperti Bung Karno. Sebab, sudah
> terbukti bahwa keadaan yang serba dekaden sekarang, atau yang serba membusuk
> dewasa ini, adalah karena berbagai pemerintahan  telah menjalankan politik
> yang serba bertentangan dengan ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno, yaitu
> Trisakti (berdaulat secara politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan
> berkepribadian dalam kebudayaan).
> 
> 
> 
> Namun, sayangnya, kiranya adalah sulit sekali  -- bahkan tidak mungkin!  --
> bagi bangsa Indonesia untuk  mempunyai lagi pemimpin yang seagung Bung
> Karno. Sebab, Bung Karno adalah sosok yang terlalu besar, untuk bisa disamai
> oleh siapa pun di Indonesia, sekarang ini, dan mungkin juga untuk masa-masa
> yang akan datang.  Bangsa Indonesia, bersama seluruh anak cucunya di
> kemudian hari patut  merasa bangga dan bertermakasih pula sudah pernah
> mempunyai seorang puteranya yang bernama Sukarno.
> 
> 
> 
> Dalam seribu tahun  akan hanya ada seorang Soekarno
> 
> 
> 
> Seperti yang pernah ditegaskan oleh Subadio Sastrosutomo (mantan pimpinan
> terkemuka PSI)  dalam bukunya  bahwa  "Sukarno adalah Indonesia, dan
> Indonesia adalah Sukarno", untuk menggambarkan arti kebesaran Bung Karno
> bagi bangsa Indonesia. Penegasan atau pengakuan Subadio ini sangat penting,
> kalau diingat bahwa dalam jangka lama tadinya PSI digolongkan sebagai
> penentang politik Bung Karno yang cukup « mbandel ».
> 
> 
> 
> 
> 
> Dalam kaitan ini, baik juga kita ingat kembali apa yang ditulis oleh mantan
> Dubes RI di Argentina Jusuf Ronodipuro dalam  New York Times tanggal 4 Juni
> 2002,  yang menyebutkan "In a thousand years, there will only be one
> Sukarno » (dalam seribu tahun  akan hanya ada seorang Soekarno)
> 
> 
> 
> Mengingat itu semua, dan juga mengingat situasi negara dan bangsa dewasa
> ini, wajarlah kalau banyak di kalangan rakyat Indonesia merindukan adanya
> pemimpin yang bisa seperti bung Karno. Dan wajar juga atau bisa dimengerti
> pula, kalau di antara yang merindukan pemimpin seperti Bung Karno itu adalah
> para korban Orde Baru, yang terdiri dari banyak golongan dalam masyarakat.
> Namun, kiranya lebih-lebih dapat dimengerti lagi bahwa para korban Orde Baru
> dari golongan kiri-lah yang paling merindukan tampilnya seorang pemimpin
> yang seperti Bung Karno.
> 
> 
> 
> Kalaupun tidak mungkin tampilnya seorang yang seperti  Bung Karno, maka akan
> sudah sangat besar artinya bagi rakyat kalau ada orang yang bisa
> melaksanakan isi dan jiwa ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno dengan
> sungguh-sungguh. Dan orang seperti ini, pada suatu saat pasti akhirnya akan
> lahir juga  dari rahim perjuangan revolusioner rakyat Indonesia , walaupun
> mungkin akan makan waktu dan pengorbanan tenaga yang tidak sedikit.
> 
> 
> 
> Sebab, situasi negara dan bangsa tidak akan mungkin bisa diperbaiki oleh
> siapa pun dan bagaimana pun serta dengan cara apa pun, kalau menentang isi
> atau jiwa ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno !!!
> 
> 
> 
> Paris,   21  September 2010
> 
> 
> 
> A. Umar Said
> 
> 
> 
> = ==========
> 
> 
> 
> Dalam rangka mengenang peristiwa 30 September 1965 mohon pendapat Anda
> terhadap tulisan di atas. Pendapat Anda bisa Anda sampaikan melalui E-mail
> dan siarkan di berbagai mailing-list untuk diketahui publik secara luas,
> atau hanya disalurkan melalui japri (jalur pribadi) untuk pengetahuan saya
> pribadi saja, dan tidak untuk disiarkan. Apa pun atau bagaimana pun pendapat
> Anda mengenai soal ini adalah berguna  untuk diketahui.
> 
> Terimakasih,
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke