http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2010092305590815
Kamis, 23 September 2010
BURAS
Kenapa Negara Tak Seadil Kakek?
SETELAH kakek wafat, wasiat untuk warisan pada tiga cucunya dibacakan.
"Cucu tertua, si sulung, mendapat satu ekor sapi induk! Cucu kedua tujuh induk
kambing! Cucu ketiga, si bungsu yang paling kecil, 70 induk ayam kampung! Nilai
yang diterima setiap cucu kalau diuangkan sama!" ujar notaris. "Rumah, tanah
pekarangan, sawah, dan harta lain jadi milik bersama, agar dikelola untuk
sebesar-besarnya kemakmuran keluarga! Jelas?"
"Jelas!" jawab si sulung. "Selain adil dalam nilai, juga adil dalam
bentuk warisan sesuai posisi sosial setiap cucu! Cucu tertua dapat warisan
berwujud terbesar, meski sapi beranak setahun sekali, cukup untuk menopang
status sosialnya! Si bungsu, meski cuma dapat ayam, setiap hari bertelur hingga
hidupnya tak akan telantar!"
"Memang kakek adil, penerima pendapatan besar bergengsi, meski anak sapi
lahir setahun sekali!" timpal si bungsu. "Sedang penerima nilai recehan, telur
ayam, pendapatannya mengalir setiap hari!"
"Mungkin kakek belajar dari kegagalan negara mengujudkan keadilan!"
sambut cucu tengah. "Para penerima bagian bernilai besar dari negara, pejabat
tinggi negara seperti anggota DPR, justru menerima lebih sering-gaji per bulan
Rp65 juta-sedang si kecil yang cuma terima BLT Rp100 ribu per bulan justru
sudah setahun tak menerima! Sedang untuk raskin, mereka harus membayar Rp2.000
per kg, hingga banyak yang terpaksa dimodali cukong menebusnya, lalu jatah
raskinnya dibagi dua! Padahal, penerima nilai besar, pejabat tinggi dan anggota
DPR, selain gaji bulanan yang besar, masih bisa meraup lagi lewat berbagai
dalih, seperti uang saku studi banding yang dalam perjalanan sepekan bisa
puluhan juta rupiah!"
"Memang sangat aneh ketidakadilan negara itu!" tukas sulung. "Yang
mendapat bagian besar bisa meraup lebih banyak dengan berbagai dalih, si kecil
yang mendapat bagian kecil masih dibebani menebus raskin, BLT mereka kini tak
ada kabarnya lagi! Aneh, kenapa negara tak seadil kakek?"
"Mungkin karena dalam kehidupan bernegara kita berlaku hukum
rimba-survival of the fittest-yang paling kuat, paling berkuasa, paling mungkin
menentukan segala sesuatu sehingga selalu bisa mendapat paling banyak!" timpal
bungsu. "Jika dalam APBN 2010 biaya perjalanan (segelintir) pejabat negara ke
luar negeri Rp19,5 triliun diprotes luas, yang terjadi justru unjuk the
fittest-siapa terkuat-lewat menetapkan biaya perjalanan pada APBN 2011 jadi
Rp20,7 triliun! Jauh dari Jamkesmas 22 juta rakyat miskin Rp4,5 triliun per
tahun, biaya mengentas kemiskinan Rp7 triliun!" ***
H. Bambang Eka Wijaya
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/