Refleksi Ayo segera beli pesawat untuk presiden, supaya kelihatan hebat dan dihormati. Hehehe Beli Boeing 747 supaya sama dengan pesawat yang dipergunakan oleh presiden USA. Tak apa kalau ada markup, karena yang kaya juga anggota rezim berkuasa.
http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=156629 [ Kamis, 23 September 2010 ] Proyek Pembelian Pesawat Kepresidenan Ditinjau Lagi Tetap Membeli, Khawatir Markup JAKARTA - Dampak kritik dan protes publik terhadap anggaran gendut untuk kunker menjalar ke mana-mana. Rencana pembelian pesawat kepresidenan yang sudah deal pun akan dievaluasi lagi. Sejumlah anggota Komisi II DPR menyatakan akan mengklarifikasi harga pengadaan pesawat kepresidenan yang telah disepakati dengan pemerintah itu. Mereka ingin mencegah pemborosan, bahkan markup, dalam proses pembelian pesawat 737-800 Boeing Business Jet 2 yang telah dipatok dengan harga USD 85,4 juta atau sekitar Rp 800 miliar tersebut. ''Kalau ternyata memang ada harga yang lebih bagus, mengapa harus segitu,'' kata Akbar Faisal, anggota komisi II dari Partai Hanura, di gedung DPR, Senayan, kemarin (22/9). Menurut Akbar, daftar harga pesawat sangat terbuka sehingga gampang diakses dan dibandingkan. ''Kalau ternyata benar, ada yang cuma USD 70 juta, ayo minta lagi direvisi.'' Sebelumnya, Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) menyebut harga USD 85,4 juta itu terlalu tinggi. Mereka menengarai adanya potensi markup. ''Seorang kaya di India membeli pesawat dengan tipe yang sama dan interior lengkap hanya seharga USD 70 juta,'' ungkap Koordinator Advokasi dan Investigasi Seknas FITRA Uchok Sky Khadafi membeberkan hasil investigasinya. Selain menyoroti anggaran yang diajukan, Uchok menyesalkan proyek pengadaan pesawat di tengah kondisi negara yang masih terpuruk. ''Ketika sepertiga APBN digunakan untuk membayar utang dan masih banyak orang miskin, ironisnya mereka malah membeli pesawat kepresidenan,'' kritik Uchok. Namun, para anggota DPR berpandangan, pengadaan pesawat kepresidenan tetap akan dilakukan. Akbar Faisal menilai pesawat khusus itu memang diperlukan. Ini untuk memperlancar kegiatan kunjungan presiden, baik dalam maupun luar negeri. Itu juga lebih efisien daripada mencarter pesawat. ''Supaya tidak selalu merepotkan banyak orang. Setiap presiden datang ke bandara seakan dunia mau kiamat,'' ujar Akbar. Anggota Komisi II dari FPDIP Arif Wibowo mengatakan, mengenai kemungkinan harga pesawat yang sebenarnya jauh lebih murah, Arif meminta FITRA menyampaikan informasi tersebut ke Komisi II DPR. Termasuk data pembanding mengenai spesifikasi keamanan dan fasilitas. Terpisah, Ketua Komisi II DPR Chairuman Harahap menegaskan tidak ada yang salah dengan pengadaan pesawat kepresidenan. ''Kita memang butuh itu,'' katanya. (pri/c3/tof) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
