Refleksi : Kata pepatah: "Barang siapa menabur angin akan menuai badai". 
Bukankah yang dinamakan teroris ini adalah anak buahnya para penguasa NKRI. 
Jadi yang dikejar adalah bayang sendiri.


http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=showpage&kat=7

[ Kamis, 23 September 2010 ]


Koreksi Perang Lawan Terorisme 
Oleh Hasibullah Satrawi


SUDAH sering polisi menggerebek dan menembak mati para teroris. Tapi, semua itu 
belum menjadi pertanda bahwa terorisme segera berakhir di negeri ini. 
Sebaliknya, penggerebekan dan penembakan terhadap para teroris seakan menjadi 
"penetas" para teroris baru yang berkembang biak dengan pola "mati satu tumbuh 
seribu".

Bila benar apa yang dilansir kepolisian bahwa para perampok Bank CIMB Niaga 
Medan terkait dengan jaringan terorisme, hal itu sungguh mengkhawatirkan. Di 
satu sisi, regenerasi dan ideologi terorisme terus berkembang. Di sisi lain, 
pola kejahatan para teroris semakin membabi buta. Bahkan, mereka berani 
merampok secara terbuka.

Pada tahap itu, polisi dan aparat keamanan terkait lain seharusnya melakukan 
koreksi serius terhadap pendekatan yang selama ini digunakan untuk memerangi 
para teroris, yaitu pendekatan angkat senjata. Koreksi tersebut diperlukan 
bukan semata-mata karena pendekatan angkat senjata tidak berhasil menumpas para 
teroris. Faktanya, sejumlah tokoh terorisme telah ditumpas dengan pendekatan 
tersebut. Selain itu, kini tentu persoalan terorisme jauh lebih ringan daripada 
saat tokoh-tokoh utamanya masih berkeliaran menebar ancaman.

Koreksi tersebut dibutuhkan untuk memperpendek masa perang melawan terorisme 
sehingga tidak menjadi berkepanjangan, apalagi tidak pernah selesai.

Kegagalan AS 

Dalam konteks itu, pihak keamanan Indonesia harus mengambil pelajaran berarti 
dari perang terorisme global di bawah komando Amerika Serikat (AS). Telah 
maklum bersama, AS secara resmi memimpin perang global melawan terorisme pada 
2001. Tepatnya, sesaat setelah tragedi 11 September 2001 meruntuhkan hampir 
semua simbol adidaya negeri itu, mulai ekomoni (WTC) hingga militer (Pentagon), 
serta mengorbankan ratusan ribu rakyat AS.

AS menuduh kelompok Osama bin Laden sebagai dalang utama di balik tragedi yang 
juga dikenal dengan istilah 9/11. Pada saat yang hampir bersamaan, AS 
menggalang koalisi putih untuk memerangi terorisme, terutama dari Osama dan 
kelompoknya yang saat itu berada di Afghanistan. 

Tudingan pemerintah AS bahwa kelompok Osama adalah teroris merupakan tuduhan 
bersayap. Entah disengaja atau tidak (oleh pemerintah AS), tudingan itu kerap 
juga dialamatkan kepada agama yang dianut Osama dan kelompoknya, yaitu Islam. 
Akibatnya, Islam pun kerap dianggap sebagai agama kekerasan dan terorisme, 
terutama oleh orang-orang Barat.

Bahkan, tudingan tersebut juga mengarah pada latar belakang kebangsaan Osama 
dan kelompoknya, yaitu Arab. Orang-orang Arab pun cenderung diidentikkan dengan 
para teroris, terutama orang Arab yang hidup di Barat.

Tragedi 9/11 menjadi babak baru bagi hubungan Islam-Barat yang sarat akan 
ketegangan, rasa saling curiga dan memusuhi, bahkan aksi-aksi diskriminatif. 
Dalam konteks itu, orang-orang Arab-Islam di Barat cenderung dicurigai dan 
mendapatkan perlakuan diskriminatif karena memiliki nama berbau Arab atau 
berjenggot.

Tentu tidak semua tudingan tersebut benar. Tapi, juga tidak semuanya salah. 
Dikatakan tidak semuanya benar karena fakta memperlihatkan sangat banyaknya 
kelompok Islam yang moderat, anti kekerasan, dan mengecam terorisme. Bahkan, 
kelompok moderat di dunia Arab-Islam merupakan mayoritas. Namun, kalangan 
mayoritas muslim moderat tersebut cenderung diam dan pasif, sebagaimana pernah 
dikatakan oleh Prof Dr Khalid Aboe El-Fadl (silent majority). Karena itu, 
kalangan ekstremis dan teroris leluasa melukis wajah Islam dengan "tinta" darah.

Dikatakan tidak semuanya salah karena fakta juga menunjukkan bahwa sebagian 
kelompok dalam Islam gemar menyerukan pesan-pesan kekerasan, permusuhan, bahkan 
terorisme. Berdasar kuantitas, kelompok itu sangat kecil. Tapi, karena sering 
memosisikan diri sebagai musuh negara adidaya, seperti AS, kelompok tersebut 
kerap mendapatkan "dukungan tak langsung" dari media-media dunia. Sehingga, 
kelompok kecil seperti para teroris itu kerap menjelma sebagai kelompok yang 
besar, kuat, dan sangat tangguh. Bahkan, ajaran kasih sayang dan saling 
menghormati yang senantiasa diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW kerap tenggelam 
dan tertelan pesan-pesan kekerasan dari Osama.

Hal yang harus diperhatikan bersama, perang AS melawan terorisme di Afghanistan 
belum menunjukkan tanda-tanda kemenangan hingga hari ini. Walaupun, perang itu 
sudah memakan banyak korban dan berlangsung sepuluh tahun. Sebaliknya, hampir 
setiap hari tentara AS berjatuhan di pegunungan Afghanistan yang menjadi medan 
perang.

Hal itu tak berarti peluru yang ditembakkan oleh para tentara AS di Afghanistan 
tidak berhasil membunuh para teroris dan pengikut Osama atau Taliban. Hampir 
sama dengan aparat keamanan dalam menembak mati para teroris di Indonesia, 
tentara AS di Afghanistan telah membunuh banyak teroris, pengikut Osama dan 
Taliban, serta fundamentalis lain. Tapi, apalah arti keberhasilan menembak satu 
atau seratus teroris bila kemudian ideologi terorisme justru diikuti ribuan 
teroris baru? Itulah yang kurang lebih dialami AS di Afghanistan.

Hal tersebut terjadi karena pendekatan angkat senjata AS tidak dibarengi dengan 
pendekatan lain yang terkait langsung dengan sumber kebencian utama terhadap 
AS, terutama di Timur Tengah dan dunia Islam. Yaitu, kebiadaban Israel terhadap 
warga Palestina dan negara-negara tetangga lain. Sementara itu, kebijakan 
politik luar negeri AS (terutama pada pemerintahan Bush Junior) terus membela 
dan menutup mata dari kejahatan besar yang kerap dilakukan oleh Israel.

Konteks Indonesia 

Perang terhadap terorisme oleh aparat keamanan Indonesia selama ini mempunyai 
kemiripan yang nyaris sempurna dengan yang dilakukan oleh AS itu. Aparat 
keamanan, terutama Densus 88, senantiasa mengutamakan pendekatan angkat senjata 
terhadap para teroris atau mereka yang baru diduga teroris. Sejauh ini, nasib 
perang terhadap terorisme di Indonesia pun nyaris sama dengan yang dialami AS 
dalam perang teorisme global. Yakni, sama-sama gagal memberikan rasa aman dari 
ancaman terorisme kepada masyarakat dan justru terjebak dalam perang yang 
berkepanjangan.

Sebelum perang terhadap terorisme di Indonesia benar-benar bernasib sama dengan 
yang dialami AS itu, aparat keamanan Indonesia dan pemerintah harus mengimbangi 
pendekatan angkat senjata dengan pendekatan-pendekatan lain yang menjadi solusi 
konkret bagi segenap persoalan yang ada. Misalnya, persoalan kemiskinan, aparat 
yang bersih dari korupsi, dan penegakan hukum yang adil. Juga, menyebarluaskan 
paham keagamaan dengan semangat persaudaraan-kebangsaan untuk melawan paham 
keagamaan yang memiliki semangat kebencian atau kekerasan. Itulah sumber 
kebencian dan terorisme di Indonesia. (*)

*) Hasibullah Satrawi, alumnus Al Azhar, Kairo, Mesir, dan pemerhati politik 
Timur Tengah pada Moderate Muslim Society (MMS) Jakarta 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke