http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=25369

010-09-23 
Pencapaian Target MDGs Pemerintah Lakukan Kebohongan Publik


Dok SP
Hasbullah Thabrany



[JAKARTA] Klaim pemerintah atas pencapaian target Millenium Development Goals 
(MDGs) akan lebih cepat, adalah suatu kebohongan publik dan manipulatif. Apa 
yang disampaikan pemerintah di forum dunia itu kebalikan dengan fakta di dalam 
negeri.
Demikian rangkuman pendapat Ketua Devisi Jaringan dan Kampanye International 
NGO Forum on Indonesian Development (INFID) atau Forum LSM Internasional untuk 
Pembangunan Indonesia, Wahyu Susilo dan pakar kesehatan, akademisi, dan lembaga 
swadaya masyarakat peduli kesehatan Prof Hasbullah Thabrany di Jakarta, Kamis 
(23/9). Keduanya menanggapi klaim Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa di KTT 
Majelis Umum PBB bahwa pencapaian MDGs di Indonesia akan lebih cepat. 


Menurut Hasbullah, untuk ahun 2015 yang paling sulit dicapai Indonesia adalah 
menurunkan angka kematian ibu. Kematian ibu dalam proses melahirkan masih 
tertinggi di Asia, yakni 228/100.000 kelahiran, jauh di bawah target, yakni 
102/100.000 kelahiran. 


Karena itu, sebaiknya pemerintah jangan terlalu percaya diri dan mengeluarkan 
pernyataan berlebihan kepada dunia internasional bahwa capaian MDGs di 
Indonesia akan lebih cepat. Menurut Hasbullah, banyak pernyataan dan publikasi 
di level internasional cenderung tidak sesuai dengan data di lapangan. 
Pemerintah Indonesia tidak berani mengatakan kenyataan dan sering memanipulasi 
angka. "Overstatement padahal, belum tentu terjadi. Yang jadi masalah besar, 
Indonesia tidak berani mengatakan apa saja. Sebab, mereka tidak akan tercapai 
atau tidak. Pemerintah kita juga pintar cari alasan," katanya. 

Semu
Misalnya, soal kemiskinan yang menjadi sorotan utama dunia internasional, 
pemerintah mengakali angka penurunannya kepada pejabat internasional, padahal 
kenyataannya semu. Dia menambahkan, Indonesia bisa mencapai MDGs tahun 2015 
dengan program percepatan, antara lain dengan efisiensi anggaran internasional 
dan APBN. 


"Anggaran kesehatan harus 90% langsung diterima oleh masyarakat dalam bentuk 
pelayanan, seperti vaksin dan obat," katanya. Berdasarkan sejumlah survei, 
70%-80% anggaran daerah habis terserap untuk gaji dan perjalanan dinas pejabat. 
"Pemerintah harus menggunakan jaringan swasta, dokter, dan bidan praktik, maka 
secara teknis efisien. Selain itu, harus ada pengawasan dari masyarakat madani, 
seperti ICW, wartawan, dan universitas karena korupsi bisa mengancam," katanya. 


Selain itu, program persalinan gratis bisa membantu. Sebab, tingginya angka 
kematian ibu, antara lain disebabkan oleh persalinan yang tidak ditangani oleh 
tenaga kesehatan. Hanya saja hasilnya belum bisa dipastikan dan harus 
dievaluasi karena baru dilaksanakan tahun depan. 


Wahyu Susilo mengatakan, pernyataan Pemerintah Indonesia di KTT PBB tidak 
berisi. Berbeda dengan negara lain yang tidak hanya menyampaikan kemajuan, 
tetapi juga hambatan yang dihadapi dan menwarkan solusi politik yang konkret. 
"Indonesia bicara seolah-olah tidak ada hambatan pelaksanaan MDGs, terlihat 
optimistis semua, padahal realitasnya di dalam negeri terbalik," ujarnya. 


Pernyataan Menlu, yang mengatakan program MDGs telah melibatkan banyak sektor, 
adalah kebohongn publik. Sebab, selama ini Pemerintah Indonesia hanya 
menganggap MDGs bukan program nasional, tetapi sebagai proyek yang dijadikan 
bahan untuk mendapatkan utang baru dari dunia internasional.  "MDGs itu bisa 
dijual agar Indonesia dapat utang baru. Ini kontraproduktif dengan 
prinsip-prinsip MDGs, yang mengacu pada bagaimana kapasitas domestik untuk 
melakukan upaya-upaya seperti itu," ucapnya.
Dia juga mengkritisi pernyataan bahwa Pemerintah Indonesia telah melakukan 
upaya peningkatan akses terhadap air, kebersihan, pendidikan, dan kesehatan. 
Menurutnya, tidak masuk akal dan terbalik dari kenyataan.


Meski tidak memiliki sanksi hukum yang mengikat, namun katanya, pernyataan 
tersebut, bisa menurunkan kepercayaan dunia internasional terhadap kejujuran 
Indonesia dalam menyampaikan informasi. [D-13]


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke