Refleksi : Agaknya untuk belajar mengetahui wahyu Allah tidak murah ataukah 
memang yang namanya sekolah agama adalah bagian dari bisnis umum yang 
membutuhkan laba , jadi dengan lain kata Allah menjadi komiditi bisnis yang 
paling laris di NKRI..

http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=84dbc38ef1e504a8387d58c6ed3f5439&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc


Mengemis untuk Biaya Anak di Pondok Pesantren 
Jumat, 1 Oktober 2010 | 14:07 WIB   
     
     

Oleh Masdawi Dahlan



CATATAN di Bagian Kesejahteraan Rakyat Setdakab Pamekasan, jumlah warga miskin 
penerima raskin (beras untuk keluarga miskin) di Desa Larangan Tokol 1.187 
kepala keluarga (KK), Panglegur 577 KK, dan Desa Brantatinggi 361 KK. Namun, 
data ini belum bisa dijadikan rujukan untuk menentukan jumlah pengemis di 
ketiga desa itu.

''Hampir 70 persen masyarakat di Desa Panglegur menjadi pengemis di sejumlah 
kota. Rata-rata mereka berusia 40 tahun ke atas,'' ujar Sekdakab Pamekasan Hadi 
Suwarso di Pendapa Kabupaten Pamekasan belum lama ini.

Pengamatan Surabaya Post, profesi pengemis itu dilakukan bukan semata-mata 
karena faktor kemiskinan, namun lebih pada faktor tradisi, pendidikan, dan 
kemalasan. Ada warga yang miskin namun tidak jadi pengemis. Sebaliknya ada yang 
ekonominya relatif baik tapi tetap juga mengemis. 

Hal itu dibenarkan Hadi yang menampik daerah ''sarang pengemis'' seperti Desa 
Panglegur adalah daerah tidak produktif. Menurut dia, masyarakat desa itulah 
yang tidak produktif sehingga lebih memilih jalan hidupnya dengan cara 
menengadahkan tangan.

Meski sudah jadi rahasia umum, keluarga pengemis di sana umumnya malu juga 
mengaku sebagai pengemis. Contohnya, Nasir (55), warga Dusun Tengah, Desa 
Brantatinggi, yang sehari-hari dikenal sebagai keluarga pengemis. Dia bahkan 
mengecam kebiasaan itu. ''Keluarga saya tak mau seperti itu, saya lebih baik 
makan apa adanya," kilahnya.

Nasir pun buka rahasia tentang alasan mengemis warga desanya. ''Ada yang sudah 
banyak sapinya, rumahnya juga bagus, tapi juga tetap minta-minta. Ada juga yang 
hanya untuk memenuhi makan sehari-hari karena di sini memang sulit dapatkan 
pekerjaan.'' 

Pengamatan Surabaya Post, yang bertugas mengemis dalam sebuah keluarga di Desa 
Larangan Tokol, Panglegur, dan Brantatinggi kebanyakan kaum perempuan. 
Sementara suami dan anak laki-laki dewasa di rumah merawat binatang  ternak 
atau tanaman di ladang. 

Sasaran atau kawasan yang dijadikan target para pengemis ini adalah kawasan 
perumahan, pasar, pertokoan, dan pusat pembelanjaan. Jumlah mereka akan makin 
bertambah apabila hari Jumat dan hari besar keagamaan. Utamanya saat Ramadan 
dan menjelang Lebaran. 

Kamis (30/9) pagi, Surabaya Post sempat berbincang dengan dua pengemis asal 
Desa Brantatinggi, Buk Siya (57) dan Buk Asip (55). Kedua ibu itu baru saja 
memasuki halaman rumah warga di Jl Pintu Gerbang, Pamekasan, dan mendapatkan 
uang sedakah.

Buk Siyah mengaku menjadi pengemis karena terpaksa untuk memenuhi kebutuhan 
hidupnya. Ibu lima anak yang telah ditinggal mati suaminya ini mengaku sebagian 
dari uang hasil mengemis dikirim ke anaknya yang tengah mondok. ''Anak saya 
yang lain sudah berkeluarga, yang mondok kami yang ngirim belanjanya," akunya.

Buk Siya mengaku mendapatkan uang hasil mengemis Rp 15 ribu-Rp 20 ribu per 
hari. ''Jam kerjanya'' hanya 4,5 jam. Dia berangkat dari rumah sekitar pukul 
07.00 dan pulang pukul 11.30. Dari hasil mengemisnya itu, Rp 3 ribu dipakai 
untuk ongkos naik angkutan pergi-pulang dari rumahnya ke kota. (bersambung)



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke