Revolusi: Sebuah Lompatan Kualitative

+++

Selama ini kebanyakan dari manusia indonesia banyak yang mempunyai paradigma 
takhyul. 
Banyak kejadian-kejadian alam atau kejadian besar dianggap muncul begitu saja, 
Kun Fayakun, Sim Salabim, ujug-ujug...mak jegler dari langit.

Saya memakluminya karena dari kecil otak mereka telah dicekoki oleh ide-ide dan 
pengetahuan takhyul. Pengetahuan takhyul itu secara sistematis ditancapkan 
sejak kecil, agar pikirannya penuh racun dan fallacy. Kekuasaan mempunyai 
tujuan jelas terhadap hal ini, yaitu agar sistem kekuasaan langgeng.

Dari sejarah dunia, telah menunjukan dengan nyata bahwa kaum kekuasaan sangat 
menyukai produksi takhyul terhadap masyarakat, agar sistem struktur masyarakat 
tetap langgeng, yang diatas tetap diatas, yang dibawah tetap dibawah, untuk itu 
digunakanlah mitos-mitos takhyul seperti agama, nyi roro kidul, jin, dan lain 
sebagainya dan masyarakat dihadapkan pada sesuatu yang tidak punya pilihan 
lagi, selain merenungi bahwa hidupnya di dunia sebagai takdir belaka.

Kaum sudra atau paria lahir di dunia dianggap sebagai takdir, dan tidak bisa 
merubah kasta lagi selain berbuat kebaikan dan perubahannya dijanjikan di 
kehidupan berikutnya, demikian juga struktur agama, membuat manusia 
terperangkap dalam situasi yang telah disusun secara sistematis oleh 
lembaga-lembaga kekuasaan struktural agar stagnan/tidak mengalami perubahan.

Pengetahuan kita tentang sim salabim, atau kun fayakun membuat kita memandang 
dunia ini sebagai sesuatu yang stagnan, kita menganggap rotasi bumi mengalami 
konstanta 24 jam per hari, kita menganggap alam semesta bergerak secara 
konstan, tersistematis, dan rapi, kita menganggap bahwa semuanya seperti diam 
dan tidak bergerak, sehingga kejadian seperti Tsunami Aceh, gempa di Yogya, 
atau gempa di Padang, dianggap sebagai suatu gejala tunggal yang digerakan oleh 
sumber takhyul.

Disini artinya segala gejala alam itu dianggap sebagai kemarahan kekuasaan 
takhyul absolut (God) dan meremote alam semesta dan menggerakan kejadian 
tunggal.
Tentu ini paradigma manusia-manusia yang pengetahuannya level purba.

Namun saya telah berkali-kali menulis materialisme dialektik, suatu ilmu/tools 
analisa, yang melihat alam semesta dalam saling keterhubungan.

Tepatnya dari analisa materialisme dialektik, semua gejala alam itu bukanlah 
suatu gejala tunggal yang muncul mak jegadul begitu saja, namun didahului oleh 
gejala-gejala kecil yang mendahuluinya terlebih dahulu. Gejala-gejala kecil ini 
datang dalam bentuk kuantitative yang kecil, namun kemudian gejala-gejala kecil 
kuantitative ini terkumpul, terkonsentrasi dan tiba-tiba meledak berubah 
menjadi gejala kualitatif atau lompatan besar, atau tiba-tiba terjadi kejadian 
besar.

Jadi jelas kiranya bahwa kejadian besar bukanlah suatu kejadian tunggal yang 
muncul kun fayakun seperti yang dipercayai oleh orang Indonesia selama ini yang 
otaknya banyak tercekoki oleh pengetahuan takhyul, namun kejadian besar 
bermula, atau diawali dari kumpulan/kuantitative gejala kecil yang 
terkonsentrasi 

Saat ini dengan adanya kemajuan sains, kiranya merupakan kemenangan filsafat 
materialisme dialektik, sains telah menjelaskan bahwasanya 1 gunung meletus di 
sebuah tempat mampu mengaktifkan gunung lainnya yang semula dianggap diam/pasiv.

Semua hal kejadian besar ini akibat semua materi bergerak, baik materi padat, 
cair ataupun gas (matter in motion), atau akibat interaksi gerakan materi kecil 
terlebih dahulu.
Kini jelas terketahui bahwa banyak sekali pengetahuan takhyul kita yang salah, 
seperti apakah benar bumi bisa berotasi 24 jam persis plekkk dalam setiap 
harinya?

***
Disinilah jeniusnya Darwin dalam memberikan kuliah kepada Allah SWT tentang 
bagaimana alam raya bergerak, namun karena Allah SWT itu IQ-nya rendah, jadi 
dijelaskan oleh Darwin tentang evolusi (gerakan/perubahan kecil), maka tetap 
saja mengelola alam raya ini dengan kacau balau.

Didalam contoh lain tentang suatu lompatan kualitas yang berasal dari suatu 
gejala kecil adalah perhatian kita terhadap suatu anak bayi.

Bayi semula akan melihat orang tuanya berdiri, dan setelah bisa merangkak, 
timbul keinginan seorang bayi untuk bisa berdiri, dari sini seorang bayi akan 
mencoba-coba terus, dari percobaan-percobaan untuk bisa berdiri maka 
pelan-pelan akan menguatkan ototnya. Namun kesuksesan seorang bayi untuk bisa 
berdiri tidak muncul begitu saja, namun percobaan-percobaannya akan selalu 
gagal terlebih dahulu, sampai kemudian terjadi 'sim salabim' atau 'kun 
fayakun', suatu kalimat yang disukai oleh para kaum takhyul, bahwa seorang anak 
bayi tersebut tiba-tiba bisa berdiri. Kemampuan berdiri ini adalah suatu 
lompatan kualitative, tampak seperti mendadak, tampak seperti kun fayakun, 
tampak seperti sim salabim, namun sesungguhnya gejalanya sudah bisa kita lihat 
ketika anak bayi ini mencoba-coba terus untuk berdiri karena meniru orang yang 
dilihatnya bisa berdiri.

Setelah bayi bisa berdiri, maka dia akan mampu berdiri terus, karena mekanisme 
ototnya sudah kuat, sehingga ketika bayi telah mampu melakukan suatu revolusi 
terhadap dirinya sendiri, maka bayi itu mempunyai kemampuan baru yang telah 
dicapainya secara terus menerus.

Disinilah ketidaksadaran manusia-manusia indonesia tentang pentingnya revolusi. 
Revolusi dianggap sebagai suatu hal yang mengerikan dan merusak tatanan. Jelas 
ini suatu paradigma yang keliru dan merupakan abstraksi cerminan kebodohan 
analisa para ahli sosial yang tidak mengerti dialektika materialisme sebagai 
ilmu yang mencoba menganalisa seluruh hakekat gejala alam secara realistis.

Mari kita lihat apa yang terjadi di Eropa, setelah terjadi era age of 
enlightenment, yang diawali oleh rasionalisme para pemikirnya, maka segera 
memicu terjadinya revolusi prancis, dan berlanjut ke revolusi besar di Russia, 
dan mengubah tatanan dunia baru termasuk memicu merdekanya sebuah negeri 
bernama Indonesia. Jadi disini nampak jelas juga bahwasanya merdekanya sebuah 
negeri bernama Indonesia tidaklah berasal dari gejala tunggal terutama 
diakibatkan oleh Soekarno, namun perubahan besar di eropa terutama revolusi 
besar di Russia memicu kesadaran negeri-negeri jajahan untuk melepaskan diri 
dari cengkeraman kolonialisme. Anti-kolonialisme terutama di Asia telah menjadi 
perhatian VI Lenin, dan dari VI Lenin terbawa oleh Tan Malaka ke Indonesia, 
demikian juga dengan Henk Sneevliet seorang agen komintern Soviet kemudian 
datang pada tahun 1912, mendirikan ISDV/PKI dan mengorganisasi perlawanan 
terhadap pemerintahan kolonialisme, dan lalu memicu gerakan pemberontakan para 
komunis gaek indonesia di tahun 1926 yang dipelopori oleh Musso, Alimin, dan 
Darsono, setelah gerakan komunisme diberantas oleh pemerintah Hindia Belanda, 
baru muncul aktivis baru bernama Soekarno dan disusul Hatta dan lain sebagainya.

Kemudian pencerahan materialisme ini juga memicu suatu perang besar yaitu 
perang dunia kedua, dan kita lihat Jepang, Jerman, Russia, Amerika adalah 
negara-negara terdepan dalam revolusi. Revolusi yang telah mereka lakukan 
jauh-jauh hari seperti percobaan seorang anak bayi untuk berdiri, ketika mereka 
telah melakukan lompatan kualitatif revolusi, maka mereka merupakan negara yang 
telah mampu berdiri seperti seorang anak bayi, sehingga ketika jepang 
dihancurkan oleh Amerika, maka jepang cepat bangkit, ketika jerman dihancurkan 
oleh Soviet, maka jerman cepat bangkit, atau ketika komunisme ambruk di Soviet 
di tahun 1991, Russia juga cepat bangkit, demikian juga analisa saya terhadap 
Amerika yang ambruk pada oktober 2008, mereka semua adalah negara yang telah 
mengetahui bagaimana cara berdiri yang benar, mereka punya otot-otot yang telah 
kuat untuk berdiri kokoh hasil dari percobaan-percobaan revolusi yang telah 
mereka lakukan jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga mereka semua merupakan 
negara-negara yang akan mampu cepat bangkit dari keterpurukan, ini seperti 
halnya apabila anda telah mampu berdiri dan sesungguhnya telah mempunyai otot 
yang telah kuat untuk berdiri, lalu terantuk batu dan jatuh, maka jatuhnya anda 
hanya akan dalam tempo/waktu sementara, dan untuk selanjutnya maka anda akan 
cepat pulih untuk bisa berdiri lagi. Lain halnya kalau suatu negara belum 
pernah melakukan suatu lompatan kualitatif untuk mencoba untuk berdiri 
(revolusi), cara berdiri saja tidak tahu bagaimana negara ini akan bisa berdiri 
tegak???. Negara yang belum pernah melakukan revolusi atau lompatan kualitatif 
jelasnya negara tersebut belum mempunyai otot yang kuat untuk berdiri.

Suatu lompatan kualitatif dari suatu gerak kecil yang kuantitative inilah yang 
menjadi kritik utama terhadap kejeniusan teori evolusinya Darwin. Darwin (bisa 
dimaklumi) menganggap bahwa perubahan bersifat gradual, namun ketika Karl Marx, 
Engels, Lenin mengadopsi kejeniusan GW Hegel terhadap teori dialektikanya, maka 
terungkap sudah bahwa gerakan dan perubahan selalu bersifat kuantitative 
menjadi kualitative dan kemudian berubah ke kuantitative lagi, atau suatu 
gejala bisa dijelaskan berawal dari evolusi (perubahan kecil), terkumpul dan 
terkonsentrasi secara kuantitative/jumlah, sehingga tiba-tiba menjadi suatu 
lompatan besar/kualitative/revolusi, dan kemudian balik lagi ke perubahan 
kecil-kecil lagi (kuantitative), dan begitulah seterusnya.

Uraian diatas bisa menjelaskan bagaimana suatu revolusi terjadi, dan bagaimana 
suatu revolusi dibangun. Revolusi tidak datang dengan tiba-tiba, namun ia akan 
diawali oleh suatu gejala kecil terlebih dahulu, seperti lebah mengepakan 
sayap, ketika lebah tersebut mengepakan sayap sendirian, maka ia seperti tidak 
akan bermakna apa-apa, namun lebah itu mampu menarik perhatian lebah-lebah 
lainnya untuk mengumpul, sampai kemudian jutaan lebah berkumpul untuk bersama 
saling mengepakan sayap, sehingga terjadilah badai angin....




 

 



 




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke