Enlightenment - Jangan dikira belajar agama tidak ada resikonya...(baca pelan, 
sesi dibawah penuh filsafat logika)

+++

Semua hal yang masuk ke otak kita akan mengkontruksi 
logika/pemikiran/psikologis kita, termasuk juga agama.
Di artikel saya berjudul 'kesadaran' saya jauh-jauh hari menulis bahwa kalau 
kesadaran saya turun, maka saya bisa berhalusinasi takhyul.

Didalam kenyataannya, saya memang pernah dan tidak sedikit mengalami paranoia 
diakibatkan oleh stimulant-stimulant pembangkit ingatan dalam dosis terlalu 
tinggi. Namun karena saya membaca buku psikiatri maka saya juga mengerti bahwa 
ini hanya sekadar paranoia. Masalahnya adalah ketika paranoia menyerang, 
sehingga kita kehilangan realitas, maka kita benar-benar tidak bisa membedakan 
realitas dan halusinasi. Bagi orang yang tidak pernah atau tidak mempelajari 
ilmu psikiatri dan psikologi, maka halusinasi bisa dianggap sebagai 
kenyataan/realitas. Namun saya sudah mengerti tentang hakekat realitas primer, 
yaitu fisik/materi. Kata-kata VI Lenin sering saya ulangi untuk menghipnotis 
otak saya sendiri, kata-kata itu yalah "tidak ada gerak tanpa 
materi/zat/partikel", kata-kata VI Lenin ini bukannya tanpa dasar, tapi 
dilandasi oleh hukum fisika, jadi kata-kata VI Lenin ini adalah realitas, saya 
bisa membuktikan kata-kata VI LENIN ini secara EMPIRICAL, sedangkan philosophy 
"ada syetan ghaib" bukanlah realitas, itu hanya sekedar suatu 
kepercayaan/dongeng yang menancap di pemikiran kita saja. Tak lepas dari 
pemikiran saya sendiri sebelum membaca materialisme juga sering konslet, 1 
tahun yang lalu, saya masih agak sering mengalami mimpi buruk, misal saya 
tidur, dan berhalusinasi dijendela ada syaiton ni rojim melihat saya, namun 
kini saya hampir tidak pernah mengalami paranoia lagi.

Sekedar untuk sharing, saya jelaskan kenyataan agar bisa ditarik pelajaran.
Ketika kakak saya akan meninggal, keadaannya lemah, karena tidak bisa makan, 
dan kakak saya sering berhalusinasi, misal kedatangan malaikat pencabut nyawa. 
Tentu ini membuatnya takut, saya sebenarnya prihatin dengan kondisi psikologis 
demikian, namun bagaimana lagi, kakak saya seorang yang taat. Jelas sekali saya 
tahu itu adalah halusinasi, karena tidak ada orang lain didekatnya yang bisa 
melihatnya (melihat malaikat), artinya kedatangan "malaikat" itu hanya dilihat 
oleh kakak saya sendiri. Kakak saya juga sebelumnya telah sadar bahwa umurnya 
tidak lagi panjang, sehingga yang ada di pikirannya adalah konsepsi agama yang 
dibangun ketika kecil. Dia mulai berpikir yang tidak-tidak, tentang alam 
barzah, tentang alam yang akan ditempuhnya...jelas sekali saya melihat 
ketakutan yang ada pada dirinya....(renungkan, siapa yang pantas untuk 
dipersalahkan???)

saya masih ingat dengan jelas, beberapa hari sebelum meninggalnya, ketakutan 
itu menjadi-jadi, sampai kami semua membaca yasin (kecuali saya), tapi ya gak 
bakalan jadi solusi, karena ini semua mekanisme kerja otak, sampai pada 
akhirnya morfin digunakan untuk mengurangsi rasa sakitnya, meski beresiko 
menghentikan detak jantungnya, dan memang, meninggalnya dalam keadaan yang 
sangat tenang, hampir tanpa kata-kata selain "saya mengalami sesak napas" yang 
diucapkannya dengan lirih hampir tanpa tenaga.

Mungkin saya sendiri juga tidak bisa melepaskan diri dari jerat halusinasi yang 
persis terjadi dengan kakak saya, karena di memory alam bawah sadar saya juga 
ada cerita-cerita takhyul seperti alam barzah, malaikat pencabut nyawa dan lain 
sebagainya. Ketika halusinasi menyerang, kita bakalan kesulitan membedakan 
realitas dan yang bukan realitas. Apabila tubuh kita lemah, mekanisme otak kita 
bakalan kesulitan membedakan realitas fisik dan dongeng. Bila otak kita dalam 
keadaan lemah, maka bakalan menganggap semuanya menjadi realitas meski itu 
sebenarnya dongeng/halusinasi belaka. 

Untuk itu filsuf descartes dan para american (lihat film 'the secret') senang 
mengatakan hal ini ...
"aku berpikir maka aku ada"

ya..coba saja berpikir tentang alam barzah dan pantat anda akan disunduk-sunduk 
seperti sunduk sate oleh para malaikat...dan nikmatilah pikiran itu :)

Jadi, mengajari agama, itu bukannya tanpa resiko, agama itu terror, saya berani 
bersaksi secara empiris, bagaimana kakak saya mengalami ketakutan psikologis 
yang dalam, tak pelak ini semua karena agama.

***
Saya tahu betul, bahwa memory saya cukup tajam, dan kemudian saya harus melihat 
kenyataan pahit terhadap meninggalnya kakak saya, namun ia adalah kakak saya 
tercinta,  sehingga sayapun ikut mengusung peti matinya, dan ikut mengangkat 
jenazah pocongnya sampai di liang lahat. Itu semua saya lakukan, selain karena 
ia kakak saya tercinta, saya punya kesadaran materialisme. Tapi anda bisa 
bayangkan bagaimana psikologis keponakan-keponakan saya yang masih kecil, yang 
masih percaya roh, bahkan seorang dokter psikiatri teman saya yang menjadi 
kepala rumah sakit angkatan darat menyarankan agar kakak saya sebaiknya dibawa 
ke rumah sakit saja, tujuannya bukan untuk disembuhkan, karena hampir tiap 
rumah sakit mengatakan sudah tidak bisa disembuhkan, namun hanya agar 
menghadapi kematiannya dengan sebahagia mungkin, dan tidak membawa dampak 
psikologis buruk bagi yang ditinggalkannya. 

Sebelum meninggal, memang kakak saya memilih keluar dari rumah sakit dan tidak 
mau dirawat oleh dokter lagi, namun dia tidak menyadari di rumah itu banyak 
anak-anak kecil keponakan saya yang melihatnya, bahkan kepala rumah sakit 
angkatan darat yang juga teman saya sering mengejek saya, "memang enak, melihat 
orang mau mati", karena dia seorang psikiatri maka dia tahu betul efek 
psikologisnya, bahkan ketika saya meminta obat penenang kepadanya, dia sengaja 
tidak memberikannya, dan dia juga bilang "sebaiknya kamu melihat dulu 
kengerian-kengerian itu semua dan nikmatilah"....sialan bukan?

Dia baru memberikan obat penenang kepada saya persis ketika kakak saya telah 
meninggal, karena ketika kakak saya telah meninggal, saya duduk di ruangannya 
untuk menunggu ambulans, dan inilah yang dikatakannya "sebenarnya saya itu 
sebagai dokter psikiatri ya gampang memberikan apa yang kamu maui, tapi ya kamu 
itu jadi orang jangan enak-enak banget, rasakan dulu kengerian-kengerian itu, 
diingat-ingat dulu kengerian-kengerian itu yah....nih obat yang kamu butuhkan" 
dia memberikan saya 20 butir obat penenang. 

***
Kemaren di facebook saya melihat status FB kakak saya yang lain, dia bercerita 
mimpi didatangi kakak saya yang telah meninggal, dan dia bercerita kakak saya 
yang telah meninggal di mimpinya itu bilang dia belum meninggal....

seruuuu.....

jujur saya sendiri juga sering ingat dan sedih dimalam hari apabila mengenang 
kakak saya, tapi saya belum pernah bermimpi didatangi olehnya, karena saya tahu 
ini semua pikiran, ketika saya mulai teringat, biasanya saya mencoba 
melupakannya dengan membaca hal-hal lain.

Jadi kakak saya yang bermimpi didatangi roh kakak saya yang telah meninggal itu 
tak lain karena dia sendiri yang sering memikirkannya, dan bukan karena rohnya 
datang ke alam mimpinya.

***

Memang benar apa yang dikatakan oleh Pak Leonardo Rimba, agama itu konsep, 
kalau mau jujur menimbang, konsep psikologis mana yang paling enak untuk 
menghadapi kematian? saya pernah tulis di milis Indonesia-rising, bahwa konsep 
kristian adalah konsep psikologis yang paling enak untuk menghadapi kematian 
(apabila sudah terkena terror agama). Sebagai buddhis atau hindu sendiri ada 
konsep reinkarnasi yang tidak kalah mengerikannya apabila nanti anda terlahir 
jadi monyet atau babi.
Sedangkan per konsep (tidak perlu diuji keilmiahannya, ini hanya per konsep 
psikologis), kristian hanya mensyaratkan pengakuan juru selamat dan juru 
selamat yang akan menebus dosa-dosa kita. Jujur saja, kalau saya kehilangan 
rasionalitas dalam menghadapi kematian, mending saya memilih konsep kristian 
saja dalam menenangkan psikologis saya sebelum mati.

Jadi kalau saya mau mati maka saya cari proposal kematian kepada beberapa orang:

wawan: apa kelebihan dan kerugian saya mati menurut konsep islam?
Kiai: Tergantung perbuatan anda, kalau banyak berbuat baik ya enak di alam 
barzah, menunggunya cepat, kalau banyak berbuat buruk ya digodam dulu di alam 
barzah, rasain lu...

wawan: apa kelebihan dan kerugian saya mati menurut konsep kristian?
Pendeta: Akuilah kristus sebagai juru selamat, maka kristus menebus seluruh 
dosa anda

wawan: apa kelebihan dan kerugian saya mati menurut konsep hindu/buddha?
Biksu: Tergantung perbuatan anda, kalau berbuat baik anda akan terlahir naik 
kasta, kalau berbuat buruk anda akan terlahir jadi monyet atau babi.

 
Hmmm....saya itu aselinya adalah pengusaha yang sering mencari keuntungan, 
nah...dari 3 proposal itu tentu proposal pendeta yang paling menarik :-)

***

Materialisme/natural sains sebagai konsep cara kerja fisika dan biologi 
merupakan suatu konsep realitas, artinya materialisme/natural sains itu adalah 
realitas. Anda mengikuti perkembangan natural sains/materialisme, maka anda 
tahu realitas bagaimana alam raya ini bekerja, realitas primer adalah 
materi/fisik, sedangkan psikologi/immateri/kesadaran adalah hasil kerja organik 
fisik, atau kesadaran bisa dijelaskan dengan mempelajari sistem materi tubuh 
bekerja, atau kini sains telah menjelaskan bahwa psikologi/immateri/kesadaran 
adalah buah kerja neuron yang seperti jaringan listrik didalam sel syaraf yang 
saling berinteraksi.

Permasalahannya adalah seperti kejadian kakak saya tadi, ketika tubuhnya lemah, 
maka halusinasi yang timbul/muncul, disinilah brengseknya sebuah konsep yang 
tanpa nalar, dia seperti hantu, mendatangi kita ketika nalar kita juga lagi 
anjlok...

Jujur saja, saya menilai agama padang pasir itu konsep agama yang paling 
brengsek dalam menghadapi kematian (dulu saya sangat mempercayainya dan tidak 
mudah untuk menghilangkan memorynya), anda saat ini mungkin bisa mengabaikan 
apa yg saya tulis, namun ketika anda mulai tua, dan anda sadar kematian akan 
segera mendatangi anda, anda mulai kehilangan daya nalar/rasio...maka di memory 
anda terbayangkan alam barzah, alam siksaan dan segala ingatan brengsek lainnya 
yang ditanamkan sejak kecil di pikiran anda.

Jadi agama padang pasir ini secara psikologis sebenarnya brengseknya minta 
ampun, mengajari berbuat baik saja harus menanamkan  terror memory. Ini yang 
tidak disadari oleh orang tua yang beragama padang pasir taat, mengajarkan 
kepada seorang anak kecil dan tidak mengevaluasi secara psikologis.

Untuk itu, demi suatu psikologis anak yang positif, jangan tanamkan 
konsep-konsep takhyul seperti alam barzah, alam siksaan, atau gambaran-gambaran 
ngeri lainnya, ini semua adalah terror, lebih baik seorang anak dididik 
psikologi bahwasanya berbuat baik tidak perlu reward, dan memang sudah menjadi 
kewajiban/tanggung jawab sosial sebagai manusia. Disinilah fungsi kesadaran, 
yaitu ketika berbuat baik bukan karena reward, dan juga menghindari berbuat 
jelek bukan karena hukuman, tapi semua tindakan dilandasi oleh adanya kesadaran.

Jadi sekali lagi....apakah benar mengajarkan agama itu tidak ada resikonya bagi 
yang diajarkan? (di dunia ini tidak ada yang tanpa resiko)

saya hanya akan prihatin bagi yang sangat taat thd ajaran agama, lihat saja 
nanti ketika sudah kehilangan daya rasionalitas dan mengalami 
halusinasi-halusinasi yang muncul akibat konsep alam barzah, jin, syaiton, dan 
malaikat...

saya kasihan kepada mereka, mereka mendapatkan ajaran itu dengan tanpa sadar 
dan juga tidak dipikirkan resiko psikologisnya...


***

Anak saya seorang christian (kristian di russia rata-rata per tahun juga nggak 
lebih dari 6x ke gereja dalam 1 tahun), terutama saya --> juga sadar bahwa 
kristian juga bukan realitas, namun--> terutama saya tidak menginginkan dia 
terlalu sadar thd materialisme,
namun keputusan kami mengapa dia harus dibaptis, terutama agar dia punya lebih 
banyak teman, dan secara psikologis, kristian tidak terlalu membawa dampak 
buruk, apalagi di russia jarang seorang kristian membaca bible, mereka hanya 
tahu dirinya seorang kristian, dan mereka rata-rata berpikir bahwa mungkin 
tuhan itu ada, namun kepercayaan thd tuhan itu tidak terlalu 
membalut/mempengaruhi kehidupan mereka sehari-harinya.

Kami membuat keputusan juga dengan pertimbangan, terutama pertimbangan 
psikologis. Kalaupun nanti dewasa mempertanyakan alasan mengapa saya 
'menjerumuskannya' kedalam ilusi kristian, saya siap mempertanggungjawabkan 
keputusan kami.

Jadi, bisa saya nyatakan bahwa realitas adalah materialisme/natural sains, 
ketika anda masih ngotot bahwa materialisme/natural sains bukan realitas, maka 
anda masih terjerat halusinasi pikiran anda sendiri, tapi kesadaran 
materialisme/natural sains belum tentu digunakan untuk tujuan baik, Adolf 
Hitler dan Joseph Stalin, dua orang yang berlindung pada balut kristian (Joseph 
Stalin sebelum menjadi komunis bersekolah di seminary), sebenarnya mereka 
adalah seorang materialis, tampak jelas Adolf Hitler memilih kematiannya dengan 
cara bunuh diri, hal yang tidak diperbolehkan dalam teology kristian, perintah 
bunuh diri kepada jenderal paulus diabaikan oleh jenderal paulus, karena 
jenderal paulus mengaku sebagai kristian taat yang tidak bisa bunuh diri 
sehingga memilih menyerah kepada Soviet.

Jadi ketika anda bertanya kepada saya...apakah itu realitas? jawabnya adalah 
materialisme/natural sains.
namun ketika anda bertanya kepada saya....dongeng apakah yang terbaik untuk 
psikologi anak? saya jawab dongeng kristian...(tanpa harus banyak membaca 
bible, namun diganti dongeng-dongeng positive lainnya)

Jadi disini bisa dipilah-pilah dan dipilah pilih...

1. apa itu materialisme/natural sains? 
Materialisme atau natural sains adalah sistem alam bekerja secara 
obyektive/realitas, artinya tanpa ada pikiran manusia atau ilusi manusia,
alam raya tetap akan bekerja secara materialisme/fisik. 
Contoh: Setiap benda di bumi melekat pada bumi karena gravitasi
(ini akan dibenarkan oleh semua kepercayaan/obyektive, yang tidak percaya ini 
ya orang sinting)

2. apa itu kristian?
Kristian adalah sistem operasi pikiran manusia. Sistem ini akan membuat seorang 
manusia bertindak subyektif sesuai dengan mekanisme/sistem kerja yang dibangun 
oleh kepercayaan kristian. Kita bisa lebih lanjut membedah/mengurai 
mekanisme/cara kerja psikologis kepercayaan kristian
contoh: Jesus Christ adalah juru selamat, tapi ini subyektif, tidak diakui oleh 
kepercayaan lain.

3. apa itu islam?
Islam adalah sistem operasi pikiran manusia. Sistem ini akan membuat seorang 
manusia bertindak subyektif sesuai dengan mekanisme/sistem kerja yang 
ditancapkan di pikirannya. Kita bisa mendiskusikan lebih lanjut mekanisme/cara 
kerja psikologis kepercayaan islam
Contoh: Mohammad adalah utusan Allah yang terakhir, namun ini subyektif, tidak 
diakui oleh kepercayaan lain.

4. apa itu hindu/buddha?
Hindu/buddha adalah sistem operasi pikiran manusia. Sistem ini akan membuat 
seorang manusia bertindak subyektif sesuai dengan mekanisme/sistem kerja yang 
dipercayai oleh pikirannya. Kita bisa lebih lanjut mengurai mekanisme/cara 
kerja psikologis kepercayaan hindu buddha.
Contoh: Reinkarnasi merupakan konsep subyektif, tidak diakui oleh kepercayaan 
lain.

4 hal diatas adalah sistem operasi berpikir, materialisme/natural sains 
merupakan sistem berpikir ttg alam raya bekerja, sedangkan kristian, islam, 
hindu/buddha plus kepercayaan atau budaya lebih kepada suatu sistem berpikir 
subyektive, anda bebas memilih sistem berpikir, dan anda seorang cerdas apabila 
mampu memanfaatkan sistem-sistem berpikir diatas dalam ranah yang konstektual 
dan dialektis (sesuai kebutuhan dan perubahan waktu)

Jadi ...akan lebih seru kalau kita bisa menempatkan diskusi dengan tepat...

ketika kita diskusi materialisme/natural sains, maka kita bicara dalam ranah 
ilmu pengetahuan...

kalau kita diskusi tentang agama/kepercayaan, maka ayuh kita diskusi 
mekanisme/cara kerja psikologisnya...

kita lihat kelebihan dan kelemahan/swot masing-masing...dan nanti bisa jadi 
seperti Adolf Hitler, dia mengatakan dirinya adalah seorang kesayangan/jelmaan 
kristus (untuk mengelabuhi bangsa jerman), namun per tindakannya dia berpikiran 
sebagai seorang evolusionis.

Seruuuu nggak???


***

Jadi rupanya rata-rata orang Indonesia itu pikirannya campur aduk.
Menjadi seorang Indonesia, pasti telah diajarkan natural sains (Fisika, 
biologi, kimia), dan juga agama (kepercayaan)

Problemnya adalah, world viewnya menjadi campur aduk, jelas sekali natural 
sains/materialisme itu mengajarkan cara kerja alam raya dan juga manusia, 
namun agama juga memberikan/menawarkan gambaran sama dengan versi yang berbeda.

sehingga terjadi...
 
kebingungan....

melihat kenyataan alam raya menggunakan agama atau menggunakan natural sains?

***
Sub Judul: Ada sesuatu yang tidak bisa diindera...

Perhatikan tulisan saya berikut ini dengan pelan dan gunakan rasio/logika 
anda...

1. Ada sesuatu yang tidak bisa diindera.
2. Poin nomor 1 tersebut masuk ke otak anda, tepat melalui INDERA.

so...

anda mengerti poin nomor satu sendiri dengan indera anda...

artinya pernyataan poin nomor satu sendiri adalah pernyataan tanpa kesadaran, 
karena in fact, anda membaca "ada sesuatu yang tidak bisa diindera" dan anda 
membacanya dengan MATA/INDERA...

shittttttttttttttttttttttt

%&*^$%^&*&^%^%(*^^%&$^

perhatikan lagi konklusi berikut

1. Keberadaan/being/eksistensi
2. Keberadaan bisa dideteksi dengan adanya indera (misal anda pake alat bantu, 
tetap saja being/keberadaan itu masuk sebagai informasi ke otak anda melalui 
indera anda)
3. Lalu anda tidak pernah membaca "ada sesuatu yang tidak bisa diindera" namun 
tanpa pernah mengidentifikasi pernyataan tersebut anda bisa membuat kesimpulan 
bahwa "ada sesuatu yang tidak bisa diindera"

untuk poin ketiga, jelaslah apabila kita menggunakan penjelasan "Science of 
logic"-nya GW Hegel, tentang mekanisme/cara kerja pikiran, nampak jelas, bahwa 
"ada sesuatu yang tidak bisa diindera" merupakan hasil NEGASI PIKIRAN daripada 
BEING/KEBERADAAN/EKSISTENSI

Negasi pikiran itu lumrah, dan asal-usul berpikir negasi tetap saja berasal 
dari KEBERADAAN/BEING/EKSISTENSI

contoh:
Premis 1: Ada batu 
Premis 2: Ada batu yang tidak bisa terdeteksi oleh indera <ini per logika bisa 
disebut sebagai TIDAK ADA BATU>

Premis 2 itu tidak akan muncul begitu saja, namun premis 2 per historys pasti 
didahului oleh adanya premis 1, atau premis kedua selalu berasal dari premis 
KEBERADAAN/BEING/EKSISTENSI terlebih dahulu.

Jadi pikiran tetap berasal dari KEBERADAAN/BEING/EKSISTENSI OBYEK ALAM terlebih 
dahulu, dan selanjutnya dimungkinkan proses penegasian, dan ini memang 
merupakan cara kerja pikiran sesuai penjelasan GW Hegel dalam "Science of 
logic" 

mau bukti lagi...???

mari kita perhatikan seorang anak bayi dikonstruksi pikirannya:
Mama: "Alexa...apa ini?"
Mama menunjukan penggaris terlebih dahulu untuk mengkonstruksi pikiran alexa. 
Penggaris yang ditunjukan itu merupakan KEBERADAAN/EKSISTENSI

Mama: "Alexa...ini dinamakan penggaris"

Alexa mengidentifikasinya...dan masuk ke otaknya lewat indera...

lalu ketika mama menyembunyikannya....dan mama bertanya...
"Alexa, dimana penggaris?"

Alexa menjawab: "PENGGARIS 'TIDAK' ADA"

disini artinya PENGGARIS adalah keberadaan, PENGGARIS itu ADA terlebih dahulu, 
lalu mama meniadakan penggaris tersebut.
Sehingga pikiran Alexa menyatakan "PENGGARIS" sebagai keberadaan, menjadi 
'TIDAK ADA' sebagai proses negasi pikiran.

Apakah mungkin sesuatu berakar di pikiran dari tidak ada dulu lalu kemudian 
menjadi ada?

jadi sudah jelaslah, bahwasanya KEBERADAAN/EKSISTENSI merupakan IBU KANDUNG 
dari suatu proses negasi pikiran yang menghasilkan kesimpulan 
ketidakberadaan/ketidakadanya eksistensi.


dalam hal ini, apabila mau melakukan pelacakan sejarah tuhan, maka anda akan 
temukan bahwa tuhan sejarahnya berasal dari animisme dinamisme, bisa berwujud 
batu, pohon, menyan, pacul......dan psikologi supernatural terutama 
dibangkitkan oleh adanya fenomena alam akibat orang purba, belum mengetahui 
bagaimana fenomena alam bisa terjadi.

Masalah penegasian selalu muncul dari being/keberadaan/eksistensi terlebih 
dahulu...lebih lanjutnya lihat premis berikut

1. Ada kehidupan setelah mati, spekulasi ini tentu ditarik karena adanya hidup 
itu sendiri. Artinya terminologi 'after-life' itu ada karena adanya LIFE/HIDUP 
itu sendiri. Artinya 'after-life' adalah suatu kontradiksi berpikir dari 'Life' 
itu sendiri.
2. Ada langit (pikiran manusia tentang langit), karena ada bumi terlebih 
dahulu. Karena ada bumi terlebih dahulu maka muncul pemikiran adanya langit. 
Taruhan 1 milyar sama saya, kalau nggak ada bumi, manusia tidak akan berpikir 
tentang adanya langit. Bumilah yang melahirkan/ibu kandungnya terminologi 
langit.
3. Ada terang akibat cahaya, maka ada gelap akibat tidak ada cahaya. Premis 
ketiga ini sesuai hukum fisika/realitas dan bukan sekedar filsafat bahwa tidak 
adanya tuhan adalah kejahatan.

***
Sub Judul: Prinsip kerja pikiran 

Dalam 'Science of Logic', GW Hegel menjelaskan bagaimana pikiran bekerja

1. Logika, atau persamaan
2. Dialektika atau gerak/perubahan

Dialektika sendiri dibagi menjadi 3 bagian
1. kontradiksi 
2. Transformasi kuantitas ke kualitas dan vice versa
3. saling menegasi

Jelaslah menurut GW Hegel bahwasanya pikiran itu bisa saling kontradiksi, bisa 
bertransformasi, dan bisa saling menegasi...

so kita sering terperangkap terhadap pikiran-pikiran kita sendiri :)

Jadi apanya yang ajaib, 
.....
if / jika
.....
Mohammad mengatakan bahwa "Tuhan tidak diperanakan" itu per history memang 
bukan berasal dari adanya pengakuan Isa/Jesus yang mengaku anak tuhan?
Gulam Mirza mengaku sebagai Nabi selanjutnya dalam Islam itu memang per history 
bukan berasal dari klaim Mohammad sebagai nabi dan Rasul Islam yang terakhir?


Haiyaaa....
imajinasikan...
<><><><><>
apabila jesus/isa tidak klaim sebagai anak tuhan....buat apa ALLAH SWT via 
Mohammad repot bikin klaim/koreksi 'tuhan tidak diperanakan'
<><><><><>
haiyaa...
menurut versi islam...
<><><><><>
Isa/Jesus merupakan Rasul tuhan ke 24, dan jesus klaim anak tuhan...
<><><><><>
lalu tuhan sadar akan kesalahan omongan utusannya yang ke 24...
dan 
lalu tuhan melakukan koreksi/pembetulan melalui Mohammad sbg utusannya yang ke 
25...
<><><><><>
Haiya....'pikiran tuhan' kebaca oleh dialektika-nya GW Hegel....
<><><><><>
Haiya....ternyata 'tuhan' senang sekali bermain dialektika....pada utusannya 
yang ke 24, bikin klaim bahwa dialah anak tuhan, dan pada utusannya yang ke 25, 
bikin penegasian bahwa utusannya yang ke 24 di-KOREKSI...
<><><><><>
Haiya....
<><><><><>
Being-Realita-Keberadaan-realitas adalah hidup itu sendiri, dan 'after-life' 
merupakan proses berpikir dialektika yang per-historys muncul karena adanya 
kenyataan hidup itu sendiri
Langit per history juga dimunculkan oleh dialektika berpikir karena adanya bumi 
terlebih dahulu..
<><><><><>
Haiya
<><><><><>
PADA KENYATAANNYA, LANGIT ITU TIDAK ADA (langit kearah mana? bumi diantara mars 
dan venus, langit arah venus atau langit arah mars?), dan YANG ADA SEBAGAI 
REALITAS ADALAH BUMI.
<><><><><>
Jadi adanya SUPERNATURAL, pasti didahului terlebih dahulu oleh adanya 
NATURAL/ALAM/BUMI...alias SUPERNATURAL itu secara psikologis/pikiran tak lain 
merupakan NEGASI dari adanya NATURAL.
<><><><><>
sehingga kesimpulannya...
<><><><><>
mana yang realitas/keberadaan/kenyataan? jawabnya NATURAL/ALAM.
mana yang bukan realitas dan hanya merupakan proses negasi pikiran? jawabnya 
SUPERNATURAL.

dialektika memang seruuuuuu yah......

apakah pikiran anda sudah mampu bedakan mana yang 
realitas/being/eksistensi/keberadaan dan mana yang cuman hasil proses 
dialektika pikiran?

Catatan:
Pikiran saya sendiri terkontruksi oleh dialektika materi, namun bisa anda 
buktikan secara empirical statemen saya berikut,
'benarkah <tidak ada> berasal dari <ada>? atau pikiran <keberadaanlah> yang 
melahirkan pikiran <ketidakberadaan>'

- Leonardo Rimba banyak memberikan kontribusi tentang kitab suci yang merupakan 
"pikiran manusia sendiri". (saya akan menggantungnya apabila masih berkata 
Tuhan berada di kesadaran manusia)
- GW Hegel berpendapat bahwa 'science of logic' murni cara kerja pikiran manusia
- Karl Marx yang melakukan koreksi bahwa 'science of logic -- dialektika' Hegel 
merupakan abstraksi dari cara kerja alam
- Wawan yang menggunakan methodologi 3 orang diatas sebagai alat analisa dan 
mencoba melakukan telaah dan pengembangan.

artinya Al-Quran hanya menjadi suatu catatan sejarah saja (material history), 
ketika menganalisisnya menggunakan methodologi Leonardo Rimba, GW Hegel, dan 
juga Karl Marx. Al-Quran per historys berasal dari Bible, Taurat, Zabur.







------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke