Enlightenment - Jangan dikira belajar agama tidak ada resikonya...(baca pelan, sesi dibawah penuh filsafat logika)
+++ Semua hal yang masuk ke otak kita akan mengkontruksi logika/pemikiran/psikologis kita, termasuk juga agama. Di artikel saya berjudul 'kesadaran' saya jauh-jauh hari menulis bahwa kalau kesadaran saya turun, maka saya bisa berhalusinasi takhyul. Didalam kenyataannya, saya memang pernah dan tidak sedikit mengalami paranoia diakibatkan oleh stimulant-stimulant pembangkit ingatan dalam dosis terlalu tinggi. Namun karena saya membaca buku psikiatri maka saya juga mengerti bahwa ini hanya sekadar paranoia. Masalahnya adalah ketika paranoia menyerang, sehingga kita kehilangan realitas, maka kita benar-benar tidak bisa membedakan realitas dan halusinasi. Bagi orang yang tidak pernah atau tidak mempelajari ilmu psikiatri dan psikologi, maka halusinasi bisa dianggap sebagai kenyataan/realitas. Namun saya sudah mengerti tentang hakekat realitas primer, yaitu fisik/materi. Kata-kata VI Lenin sering saya ulangi untuk menghipnotis otak saya sendiri, kata-kata itu yalah "tidak ada gerak tanpa materi/zat/partikel", kata-kata VI Lenin ini bukannya tanpa dasar, tapi dilandasi oleh hukum fisika, jadi kata-kata VI Lenin ini adalah realitas, saya bisa membuktikan kata-kata VI LENIN ini secara EMPIRICAL, sedangkan philosophy "ada syetan ghaib" bukanlah realitas, itu hanya sekedar suatu kepercayaan/dongeng yang menancap di pemikiran kita saja. Tak lepas dari pemikiran saya sendiri sebelum membaca materialisme juga sering konslet, 1 tahun yang lalu, saya masih agak sering mengalami mimpi buruk, misal saya tidur, dan berhalusinasi dijendela ada syaiton ni rojim melihat saya, namun kini saya hampir tidak pernah mengalami paranoia lagi. Sekedar untuk sharing, saya jelaskan kenyataan agar bisa ditarik pelajaran. Ketika kakak saya akan meninggal, keadaannya lemah, karena tidak bisa makan, dan kakak saya sering berhalusinasi, misal kedatangan malaikat pencabut nyawa. Tentu ini membuatnya takut, saya sebenarnya prihatin dengan kondisi psikologis demikian, namun bagaimana lagi, kakak saya seorang yang taat. Jelas sekali saya tahu itu adalah halusinasi, karena tidak ada orang lain didekatnya yang bisa melihatnya (melihat malaikat), artinya kedatangan "malaikat" itu hanya dilihat oleh kakak saya sendiri. Kakak saya juga sebelumnya telah sadar bahwa umurnya tidak lagi panjang, sehingga yang ada di pikirannya adalah konsepsi agama yang dibangun ketika kecil. Dia mulai berpikir yang tidak-tidak, tentang alam barzah, tentang alam yang akan ditempuhnya...jelas sekali saya melihat ketakutan yang ada pada dirinya....(renungkan, siapa yang pantas untuk dipersalahkan???) saya masih ingat dengan jelas, beberapa hari sebelum meninggalnya, ketakutan itu menjadi-jadi, sampai kami semua membaca yasin (kecuali saya), tapi ya gak bakalan jadi solusi, karena ini semua mekanisme kerja otak, sampai pada akhirnya morfin digunakan untuk mengurangsi rasa sakitnya, meski beresiko menghentikan detak jantungnya, dan memang, meninggalnya dalam keadaan yang sangat tenang, hampir tanpa kata-kata selain "saya mengalami sesak napas" yang diucapkannya dengan lirih hampir tanpa tenaga. Mungkin saya sendiri juga tidak bisa melepaskan diri dari jerat halusinasi yang persis terjadi dengan kakak saya, karena di memory alam bawah sadar saya juga ada cerita-cerita takhyul seperti alam barzah, malaikat pencabut nyawa dan lain sebagainya. Ketika halusinasi menyerang, kita bakalan kesulitan membedakan realitas dan yang bukan realitas. Apabila tubuh kita lemah, mekanisme otak kita bakalan kesulitan membedakan realitas fisik dan dongeng. Bila otak kita dalam keadaan lemah, maka bakalan menganggap semuanya menjadi realitas meski itu sebenarnya dongeng/halusinasi belaka. Untuk itu filsuf descartes dan para american (lihat film 'the secret') senang mengatakan hal ini ... "aku berpikir maka aku ada" ya..coba saja berpikir tentang alam barzah dan pantat anda akan disunduk-sunduk seperti sunduk sate oleh para malaikat...dan nikmatilah pikiran itu :) Jadi, mengajari agama, itu bukannya tanpa resiko, agama itu terror, saya berani bersaksi secara empiris, bagaimana kakak saya mengalami ketakutan psikologis yang dalam, tak pelak ini semua karena agama. *** Saya tahu betul, bahwa memory saya cukup tajam, dan kemudian saya harus melihat kenyataan pahit terhadap meninggalnya kakak saya, namun ia adalah kakak saya tercinta, sehingga sayapun ikut mengusung peti matinya, dan ikut mengangkat jenazah pocongnya sampai di liang lahat. Itu semua saya lakukan, selain karena ia kakak saya tercinta, saya punya kesadaran materialisme. Tapi anda bisa bayangkan bagaimana psikologis keponakan-keponakan saya yang masih kecil, yang masih percaya roh, bahkan seorang dokter psikiatri teman saya yang menjadi kepala rumah sakit angkatan darat menyarankan agar kakak saya sebaiknya dibawa ke rumah sakit saja, tujuannya bukan untuk disembuhkan, karena hampir tiap rumah sakit mengatakan sudah tidak bisa disembuhkan, namun hanya agar menghadapi kematiannya dengan sebahagia mungkin, dan tidak membawa dampak psikologis buruk bagi yang ditinggalkannya. Sebelum meninggal, memang kakak saya memilih keluar dari rumah sakit dan tidak mau dirawat oleh dokter lagi, namun dia tidak menyadari di rumah itu banyak anak-anak kecil keponakan saya yang melihatnya, bahkan kepala rumah sakit angkatan darat yang juga teman saya sering mengejek saya, "memang enak, melihat orang mau mati", karena dia seorang psikiatri maka dia tahu betul efek psikologisnya, bahkan ketika saya meminta obat penenang kepadanya, dia sengaja tidak memberikannya, dan dia juga bilang "sebaiknya kamu melihat dulu kengerian-kengerian itu semua dan nikmatilah"....sialan bukan? Dia baru memberikan obat penenang kepada saya persis ketika kakak saya telah meninggal, karena ketika kakak saya telah meninggal, saya duduk di ruangannya untuk menunggu ambulans, dan inilah yang dikatakannya "sebenarnya saya itu sebagai dokter psikiatri ya gampang memberikan apa yang kamu maui, tapi ya kamu itu jadi orang jangan enak-enak banget, rasakan dulu kengerian-kengerian itu, diingat-ingat dulu kengerian-kengerian itu yah....nih obat yang kamu butuhkan" dia memberikan saya 20 butir obat penenang. *** Kemaren di facebook saya melihat status FB kakak saya yang lain, dia bercerita mimpi didatangi kakak saya yang telah meninggal, dan dia bercerita kakak saya yang telah meninggal di mimpinya itu bilang dia belum meninggal.... seruuuu..... jujur saya sendiri juga sering ingat dan sedih dimalam hari apabila mengenang kakak saya, tapi saya belum pernah bermimpi didatangi olehnya, karena saya tahu ini semua pikiran, ketika saya mulai teringat, biasanya saya mencoba melupakannya dengan membaca hal-hal lain. Jadi kakak saya yang bermimpi didatangi roh kakak saya yang telah meninggal itu tak lain karena dia sendiri yang sering memikirkannya, dan bukan karena rohnya datang ke alam mimpinya. *** Memang benar apa yang dikatakan oleh Pak Leonardo Rimba, agama itu konsep, kalau mau jujur menimbang, konsep psikologis mana yang paling enak untuk menghadapi kematian? saya pernah tulis di milis Indonesia-rising, bahwa konsep kristian adalah konsep psikologis yang paling enak untuk menghadapi kematian (apabila sudah terkena terror agama). Sebagai buddhis atau hindu sendiri ada konsep reinkarnasi yang tidak kalah mengerikannya apabila nanti anda terlahir jadi monyet atau babi. Sedangkan per konsep (tidak perlu diuji keilmiahannya, ini hanya per konsep psikologis), kristian hanya mensyaratkan pengakuan juru selamat dan juru selamat yang akan menebus dosa-dosa kita. Jujur saja, kalau saya kehilangan rasionalitas dalam menghadapi kematian, mending saya memilih konsep kristian saja dalam menenangkan psikologis saya sebelum mati. Jadi kalau saya mau mati maka saya cari proposal kematian kepada beberapa orang: wawan: apa kelebihan dan kerugian saya mati menurut konsep islam? Kiai: Tergantung perbuatan anda, kalau banyak berbuat baik ya enak di alam barzah, menunggunya cepat, kalau banyak berbuat buruk ya digodam dulu di alam barzah, rasain lu... wawan: apa kelebihan dan kerugian saya mati menurut konsep kristian? Pendeta: Akuilah kristus sebagai juru selamat, maka kristus menebus seluruh dosa anda wawan: apa kelebihan dan kerugian saya mati menurut konsep hindu/buddha? Biksu: Tergantung perbuatan anda, kalau berbuat baik anda akan terlahir naik kasta, kalau berbuat buruk anda akan terlahir jadi monyet atau babi. Hmmm....saya itu aselinya adalah pengusaha yang sering mencari keuntungan, nah...dari 3 proposal itu tentu proposal pendeta yang paling menarik :-) *** Materialisme/natural sains sebagai konsep cara kerja fisika dan biologi merupakan suatu konsep realitas, artinya materialisme/natural sains itu adalah realitas. Anda mengikuti perkembangan natural sains/materialisme, maka anda tahu realitas bagaimana alam raya ini bekerja, realitas primer adalah materi/fisik, sedangkan psikologi/immateri/kesadaran adalah hasil kerja organik fisik, atau kesadaran bisa dijelaskan dengan mempelajari sistem materi tubuh bekerja, atau kini sains telah menjelaskan bahwa psikologi/immateri/kesadaran adalah buah kerja neuron yang seperti jaringan listrik didalam sel syaraf yang saling berinteraksi. Permasalahannya adalah seperti kejadian kakak saya tadi, ketika tubuhnya lemah, maka halusinasi yang timbul/muncul, disinilah brengseknya sebuah konsep yang tanpa nalar, dia seperti hantu, mendatangi kita ketika nalar kita juga lagi anjlok... Jujur saja, saya menilai agama padang pasir itu konsep agama yang paling brengsek dalam menghadapi kematian (dulu saya sangat mempercayainya dan tidak mudah untuk menghilangkan memorynya), anda saat ini mungkin bisa mengabaikan apa yg saya tulis, namun ketika anda mulai tua, dan anda sadar kematian akan segera mendatangi anda, anda mulai kehilangan daya nalar/rasio...maka di memory anda terbayangkan alam barzah, alam siksaan dan segala ingatan brengsek lainnya yang ditanamkan sejak kecil di pikiran anda. Jadi agama padang pasir ini secara psikologis sebenarnya brengseknya minta ampun, mengajari berbuat baik saja harus menanamkan terror memory. Ini yang tidak disadari oleh orang tua yang beragama padang pasir taat, mengajarkan kepada seorang anak kecil dan tidak mengevaluasi secara psikologis. Untuk itu, demi suatu psikologis anak yang positif, jangan tanamkan konsep-konsep takhyul seperti alam barzah, alam siksaan, atau gambaran-gambaran ngeri lainnya, ini semua adalah terror, lebih baik seorang anak dididik psikologi bahwasanya berbuat baik tidak perlu reward, dan memang sudah menjadi kewajiban/tanggung jawab sosial sebagai manusia. Disinilah fungsi kesadaran, yaitu ketika berbuat baik bukan karena reward, dan juga menghindari berbuat jelek bukan karena hukuman, tapi semua tindakan dilandasi oleh adanya kesadaran. Jadi sekali lagi....apakah benar mengajarkan agama itu tidak ada resikonya bagi yang diajarkan? (di dunia ini tidak ada yang tanpa resiko) saya hanya akan prihatin bagi yang sangat taat thd ajaran agama, lihat saja nanti ketika sudah kehilangan daya rasionalitas dan mengalami halusinasi-halusinasi yang muncul akibat konsep alam barzah, jin, syaiton, dan malaikat... saya kasihan kepada mereka, mereka mendapatkan ajaran itu dengan tanpa sadar dan juga tidak dipikirkan resiko psikologisnya... *** Anak saya seorang christian (kristian di russia rata-rata per tahun juga nggak lebih dari 6x ke gereja dalam 1 tahun), terutama saya --> juga sadar bahwa kristian juga bukan realitas, namun--> terutama saya tidak menginginkan dia terlalu sadar thd materialisme, namun keputusan kami mengapa dia harus dibaptis, terutama agar dia punya lebih banyak teman, dan secara psikologis, kristian tidak terlalu membawa dampak buruk, apalagi di russia jarang seorang kristian membaca bible, mereka hanya tahu dirinya seorang kristian, dan mereka rata-rata berpikir bahwa mungkin tuhan itu ada, namun kepercayaan thd tuhan itu tidak terlalu membalut/mempengaruhi kehidupan mereka sehari-harinya. Kami membuat keputusan juga dengan pertimbangan, terutama pertimbangan psikologis. Kalaupun nanti dewasa mempertanyakan alasan mengapa saya 'menjerumuskannya' kedalam ilusi kristian, saya siap mempertanggungjawabkan keputusan kami. Jadi, bisa saya nyatakan bahwa realitas adalah materialisme/natural sains, ketika anda masih ngotot bahwa materialisme/natural sains bukan realitas, maka anda masih terjerat halusinasi pikiran anda sendiri, tapi kesadaran materialisme/natural sains belum tentu digunakan untuk tujuan baik, Adolf Hitler dan Joseph Stalin, dua orang yang berlindung pada balut kristian (Joseph Stalin sebelum menjadi komunis bersekolah di seminary), sebenarnya mereka adalah seorang materialis, tampak jelas Adolf Hitler memilih kematiannya dengan cara bunuh diri, hal yang tidak diperbolehkan dalam teology kristian, perintah bunuh diri kepada jenderal paulus diabaikan oleh jenderal paulus, karena jenderal paulus mengaku sebagai kristian taat yang tidak bisa bunuh diri sehingga memilih menyerah kepada Soviet. Jadi ketika anda bertanya kepada saya...apakah itu realitas? jawabnya adalah materialisme/natural sains. namun ketika anda bertanya kepada saya....dongeng apakah yang terbaik untuk psikologi anak? saya jawab dongeng kristian...(tanpa harus banyak membaca bible, namun diganti dongeng-dongeng positive lainnya) Jadi disini bisa dipilah-pilah dan dipilah pilih... 1. apa itu materialisme/natural sains? Materialisme atau natural sains adalah sistem alam bekerja secara obyektive/realitas, artinya tanpa ada pikiran manusia atau ilusi manusia, alam raya tetap akan bekerja secara materialisme/fisik. Contoh: Setiap benda di bumi melekat pada bumi karena gravitasi (ini akan dibenarkan oleh semua kepercayaan/obyektive, yang tidak percaya ini ya orang sinting) 2. apa itu kristian? Kristian adalah sistem operasi pikiran manusia. Sistem ini akan membuat seorang manusia bertindak subyektif sesuai dengan mekanisme/sistem kerja yang dibangun oleh kepercayaan kristian. Kita bisa lebih lanjut membedah/mengurai mekanisme/cara kerja psikologis kepercayaan kristian contoh: Jesus Christ adalah juru selamat, tapi ini subyektif, tidak diakui oleh kepercayaan lain. 3. apa itu islam? Islam adalah sistem operasi pikiran manusia. Sistem ini akan membuat seorang manusia bertindak subyektif sesuai dengan mekanisme/sistem kerja yang ditancapkan di pikirannya. Kita bisa mendiskusikan lebih lanjut mekanisme/cara kerja psikologis kepercayaan islam Contoh: Mohammad adalah utusan Allah yang terakhir, namun ini subyektif, tidak diakui oleh kepercayaan lain. 4. apa itu hindu/buddha? Hindu/buddha adalah sistem operasi pikiran manusia. Sistem ini akan membuat seorang manusia bertindak subyektif sesuai dengan mekanisme/sistem kerja yang dipercayai oleh pikirannya. Kita bisa lebih lanjut mengurai mekanisme/cara kerja psikologis kepercayaan hindu buddha. Contoh: Reinkarnasi merupakan konsep subyektif, tidak diakui oleh kepercayaan lain. 4 hal diatas adalah sistem operasi berpikir, materialisme/natural sains merupakan sistem berpikir ttg alam raya bekerja, sedangkan kristian, islam, hindu/buddha plus kepercayaan atau budaya lebih kepada suatu sistem berpikir subyektive, anda bebas memilih sistem berpikir, dan anda seorang cerdas apabila mampu memanfaatkan sistem-sistem berpikir diatas dalam ranah yang konstektual dan dialektis (sesuai kebutuhan dan perubahan waktu) Jadi ...akan lebih seru kalau kita bisa menempatkan diskusi dengan tepat... ketika kita diskusi materialisme/natural sains, maka kita bicara dalam ranah ilmu pengetahuan... kalau kita diskusi tentang agama/kepercayaan, maka ayuh kita diskusi mekanisme/cara kerja psikologisnya... kita lihat kelebihan dan kelemahan/swot masing-masing...dan nanti bisa jadi seperti Adolf Hitler, dia mengatakan dirinya adalah seorang kesayangan/jelmaan kristus (untuk mengelabuhi bangsa jerman), namun per tindakannya dia berpikiran sebagai seorang evolusionis. Seruuuu nggak??? *** Jadi rupanya rata-rata orang Indonesia itu pikirannya campur aduk. Menjadi seorang Indonesia, pasti telah diajarkan natural sains (Fisika, biologi, kimia), dan juga agama (kepercayaan) Problemnya adalah, world viewnya menjadi campur aduk, jelas sekali natural sains/materialisme itu mengajarkan cara kerja alam raya dan juga manusia, namun agama juga memberikan/menawarkan gambaran sama dengan versi yang berbeda. sehingga terjadi... kebingungan.... melihat kenyataan alam raya menggunakan agama atau menggunakan natural sains? *** Sub Judul: Ada sesuatu yang tidak bisa diindera... Perhatikan tulisan saya berikut ini dengan pelan dan gunakan rasio/logika anda... 1. Ada sesuatu yang tidak bisa diindera. 2. Poin nomor 1 tersebut masuk ke otak anda, tepat melalui INDERA. so... anda mengerti poin nomor satu sendiri dengan indera anda... artinya pernyataan poin nomor satu sendiri adalah pernyataan tanpa kesadaran, karena in fact, anda membaca "ada sesuatu yang tidak bisa diindera" dan anda membacanya dengan MATA/INDERA... shittttttttttttttttttttttt %&*^$%^&*&^%^%(*^^%&$^ perhatikan lagi konklusi berikut 1. Keberadaan/being/eksistensi 2. Keberadaan bisa dideteksi dengan adanya indera (misal anda pake alat bantu, tetap saja being/keberadaan itu masuk sebagai informasi ke otak anda melalui indera anda) 3. Lalu anda tidak pernah membaca "ada sesuatu yang tidak bisa diindera" namun tanpa pernah mengidentifikasi pernyataan tersebut anda bisa membuat kesimpulan bahwa "ada sesuatu yang tidak bisa diindera" untuk poin ketiga, jelaslah apabila kita menggunakan penjelasan "Science of logic"-nya GW Hegel, tentang mekanisme/cara kerja pikiran, nampak jelas, bahwa "ada sesuatu yang tidak bisa diindera" merupakan hasil NEGASI PIKIRAN daripada BEING/KEBERADAAN/EKSISTENSI Negasi pikiran itu lumrah, dan asal-usul berpikir negasi tetap saja berasal dari KEBERADAAN/BEING/EKSISTENSI contoh: Premis 1: Ada batu Premis 2: Ada batu yang tidak bisa terdeteksi oleh indera <ini per logika bisa disebut sebagai TIDAK ADA BATU> Premis 2 itu tidak akan muncul begitu saja, namun premis 2 per historys pasti didahului oleh adanya premis 1, atau premis kedua selalu berasal dari premis KEBERADAAN/BEING/EKSISTENSI terlebih dahulu. Jadi pikiran tetap berasal dari KEBERADAAN/BEING/EKSISTENSI OBYEK ALAM terlebih dahulu, dan selanjutnya dimungkinkan proses penegasian, dan ini memang merupakan cara kerja pikiran sesuai penjelasan GW Hegel dalam "Science of logic" mau bukti lagi...??? mari kita perhatikan seorang anak bayi dikonstruksi pikirannya: Mama: "Alexa...apa ini?" Mama menunjukan penggaris terlebih dahulu untuk mengkonstruksi pikiran alexa. Penggaris yang ditunjukan itu merupakan KEBERADAAN/EKSISTENSI Mama: "Alexa...ini dinamakan penggaris" Alexa mengidentifikasinya...dan masuk ke otaknya lewat indera... lalu ketika mama menyembunyikannya....dan mama bertanya... "Alexa, dimana penggaris?" Alexa menjawab: "PENGGARIS 'TIDAK' ADA" disini artinya PENGGARIS adalah keberadaan, PENGGARIS itu ADA terlebih dahulu, lalu mama meniadakan penggaris tersebut. Sehingga pikiran Alexa menyatakan "PENGGARIS" sebagai keberadaan, menjadi 'TIDAK ADA' sebagai proses negasi pikiran. Apakah mungkin sesuatu berakar di pikiran dari tidak ada dulu lalu kemudian menjadi ada? jadi sudah jelaslah, bahwasanya KEBERADAAN/EKSISTENSI merupakan IBU KANDUNG dari suatu proses negasi pikiran yang menghasilkan kesimpulan ketidakberadaan/ketidakadanya eksistensi. dalam hal ini, apabila mau melakukan pelacakan sejarah tuhan, maka anda akan temukan bahwa tuhan sejarahnya berasal dari animisme dinamisme, bisa berwujud batu, pohon, menyan, pacul......dan psikologi supernatural terutama dibangkitkan oleh adanya fenomena alam akibat orang purba, belum mengetahui bagaimana fenomena alam bisa terjadi. Masalah penegasian selalu muncul dari being/keberadaan/eksistensi terlebih dahulu...lebih lanjutnya lihat premis berikut 1. Ada kehidupan setelah mati, spekulasi ini tentu ditarik karena adanya hidup itu sendiri. Artinya terminologi 'after-life' itu ada karena adanya LIFE/HIDUP itu sendiri. Artinya 'after-life' adalah suatu kontradiksi berpikir dari 'Life' itu sendiri. 2. Ada langit (pikiran manusia tentang langit), karena ada bumi terlebih dahulu. Karena ada bumi terlebih dahulu maka muncul pemikiran adanya langit. Taruhan 1 milyar sama saya, kalau nggak ada bumi, manusia tidak akan berpikir tentang adanya langit. Bumilah yang melahirkan/ibu kandungnya terminologi langit. 3. Ada terang akibat cahaya, maka ada gelap akibat tidak ada cahaya. Premis ketiga ini sesuai hukum fisika/realitas dan bukan sekedar filsafat bahwa tidak adanya tuhan adalah kejahatan. *** Sub Judul: Prinsip kerja pikiran Dalam 'Science of Logic', GW Hegel menjelaskan bagaimana pikiran bekerja 1. Logika, atau persamaan 2. Dialektika atau gerak/perubahan Dialektika sendiri dibagi menjadi 3 bagian 1. kontradiksi 2. Transformasi kuantitas ke kualitas dan vice versa 3. saling menegasi Jelaslah menurut GW Hegel bahwasanya pikiran itu bisa saling kontradiksi, bisa bertransformasi, dan bisa saling menegasi... so kita sering terperangkap terhadap pikiran-pikiran kita sendiri :) Jadi apanya yang ajaib, ..... if / jika ..... Mohammad mengatakan bahwa "Tuhan tidak diperanakan" itu per history memang bukan berasal dari adanya pengakuan Isa/Jesus yang mengaku anak tuhan? Gulam Mirza mengaku sebagai Nabi selanjutnya dalam Islam itu memang per history bukan berasal dari klaim Mohammad sebagai nabi dan Rasul Islam yang terakhir? Haiyaaa.... imajinasikan... <><><><><> apabila jesus/isa tidak klaim sebagai anak tuhan....buat apa ALLAH SWT via Mohammad repot bikin klaim/koreksi 'tuhan tidak diperanakan' <><><><><> haiyaa... menurut versi islam... <><><><><> Isa/Jesus merupakan Rasul tuhan ke 24, dan jesus klaim anak tuhan... <><><><><> lalu tuhan sadar akan kesalahan omongan utusannya yang ke 24... dan lalu tuhan melakukan koreksi/pembetulan melalui Mohammad sbg utusannya yang ke 25... <><><><><> Haiya....'pikiran tuhan' kebaca oleh dialektika-nya GW Hegel.... <><><><><> Haiya....ternyata 'tuhan' senang sekali bermain dialektika....pada utusannya yang ke 24, bikin klaim bahwa dialah anak tuhan, dan pada utusannya yang ke 25, bikin penegasian bahwa utusannya yang ke 24 di-KOREKSI... <><><><><> Haiya.... <><><><><> Being-Realita-Keberadaan-realitas adalah hidup itu sendiri, dan 'after-life' merupakan proses berpikir dialektika yang per-historys muncul karena adanya kenyataan hidup itu sendiri Langit per history juga dimunculkan oleh dialektika berpikir karena adanya bumi terlebih dahulu.. <><><><><> Haiya <><><><><> PADA KENYATAANNYA, LANGIT ITU TIDAK ADA (langit kearah mana? bumi diantara mars dan venus, langit arah venus atau langit arah mars?), dan YANG ADA SEBAGAI REALITAS ADALAH BUMI. <><><><><> Jadi adanya SUPERNATURAL, pasti didahului terlebih dahulu oleh adanya NATURAL/ALAM/BUMI...alias SUPERNATURAL itu secara psikologis/pikiran tak lain merupakan NEGASI dari adanya NATURAL. <><><><><> sehingga kesimpulannya... <><><><><> mana yang realitas/keberadaan/kenyataan? jawabnya NATURAL/ALAM. mana yang bukan realitas dan hanya merupakan proses negasi pikiran? jawabnya SUPERNATURAL. dialektika memang seruuuuuu yah...... apakah pikiran anda sudah mampu bedakan mana yang realitas/being/eksistensi/keberadaan dan mana yang cuman hasil proses dialektika pikiran? Catatan: Pikiran saya sendiri terkontruksi oleh dialektika materi, namun bisa anda buktikan secara empirical statemen saya berikut, 'benarkah <tidak ada> berasal dari <ada>? atau pikiran <keberadaanlah> yang melahirkan pikiran <ketidakberadaan>' - Leonardo Rimba banyak memberikan kontribusi tentang kitab suci yang merupakan "pikiran manusia sendiri". (saya akan menggantungnya apabila masih berkata Tuhan berada di kesadaran manusia) - GW Hegel berpendapat bahwa 'science of logic' murni cara kerja pikiran manusia - Karl Marx yang melakukan koreksi bahwa 'science of logic -- dialektika' Hegel merupakan abstraksi dari cara kerja alam - Wawan yang menggunakan methodologi 3 orang diatas sebagai alat analisa dan mencoba melakukan telaah dan pengembangan. artinya Al-Quran hanya menjadi suatu catatan sejarah saja (material history), ketika menganalisisnya menggunakan methodologi Leonardo Rimba, GW Hegel, dan juga Karl Marx. Al-Quran per historys berasal dari Bible, Taurat, Zabur. ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
