GOT IT! PLOK..PLOK...PLOK..BERDIRI..PLOK...PLOK....BERIKUTNYA... --- In [email protected], "yhnugroho" <yhnugr...@...> wrote: > > cut dulu bacanya Bro Wawan. sampai kepada proposal Anda kepada Ustad, Pendeta > dan Biksu, lalu membawa kesimpulan Anda pilih yg enak yakni pendeta. > > saya jadi ingat cerita guru agama saya , Pak P, yang ngajar kami anak-anak di > Kring kami setiap hari minggu. diceritakan bagaimana penderitaan dalam > perjalanan sebelum masuk surga, anak yang nggak baik hidupnya akan > dipanggang, diberi sakit "wudun" di seluruh bagian tubuh, dsb.dsb. > > menyiapkan diri menjelang ajal yang membawa ketenangan psikologis, ya beli > asuransi utk keberlangsungan hidup orang-orang yang akan kita tinggalkan. > > " yeeee, papa bakal mati,ninggalin kita duit", gitu kira-kira yang bakal > terjadi pada anak-anak ketika mereka tahu bapaknya bakal berhenti hidup, > bukan tangis sedih meratap-ratap, tapi keceriaan, seperti melepas bapak pergi > kerja aja. > > > > --- In [email protected], "wawan" <selarasmilis@> wrote: > > > > Enlightenment - Jangan dikira belajar agama tidak ada resikonya...(baca > > pelan, sesi dibawah penuh filsafat logika) > > > > +++ > > > > Semua hal yang masuk ke otak kita akan mengkontruksi > > logika/pemikiran/psikologis kita, termasuk juga agama. > > Di artikel saya berjudul 'kesadaran' saya jauh-jauh hari menulis bahwa > > kalau kesadaran saya turun, maka saya bisa berhalusinasi takhyul. > > > > Didalam kenyataannya, saya memang pernah dan tidak sedikit mengalami > > paranoia diakibatkan oleh stimulant-stimulant pembangkit ingatan dalam > > dosis terlalu tinggi. Namun karena saya membaca buku psikiatri maka saya > > juga mengerti bahwa ini hanya sekadar paranoia. Masalahnya adalah ketika > > paranoia menyerang, sehingga kita kehilangan realitas, maka kita > > benar-benar tidak bisa membedakan realitas dan halusinasi. Bagi orang yang > > tidak pernah atau tidak mempelajari ilmu psikiatri dan psikologi, maka > > halusinasi bisa dianggap sebagai kenyataan/realitas. Namun saya sudah > > mengerti tentang hakekat realitas primer, yaitu fisik/materi. Kata-kata VI > > Lenin sering saya ulangi untuk menghipnotis otak saya sendiri, kata-kata > > itu yalah "tidak ada gerak tanpa materi/zat/partikel", kata-kata VI Lenin > > ini bukannya tanpa dasar, tapi dilandasi oleh hukum fisika, jadi kata-kata > > VI Lenin ini adalah realitas, saya bisa membuktikan kata-kata VI LENIN ini > > secara EMPIRICAL, sedangkan philosophy "ada syetan ghaib" bukanlah > > realitas, itu hanya sekedar suatu kepercayaan/dongeng yang menancap di > > pemikiran kita saja. Tak lepas dari pemikiran saya sendiri sebelum membaca > > materialisme juga sering konslet, 1 tahun yang lalu, saya masih agak sering > > mengalami mimpi buruk, misal saya tidur, dan berhalusinasi dijendela ada > > syaiton ni rojim melihat saya, namun kini saya hampir tidak pernah > > mengalami paranoia lagi. > > > > Sekedar untuk sharing, saya jelaskan kenyataan agar bisa ditarik pelajaran. > > Ketika kakak saya akan meninggal, keadaannya lemah, karena tidak bisa > > makan, dan kakak saya sering berhalusinasi, misal kedatangan malaikat > > pencabut nyawa. Tentu ini membuatnya takut, saya sebenarnya prihatin dengan > > kondisi psikologis demikian, namun bagaimana lagi, kakak saya seorang yang > > taat. Jelas sekali saya tahu itu adalah halusinasi, karena tidak ada orang > > lain didekatnya yang bisa melihatnya (melihat malaikat), artinya kedatangan > > "malaikat" itu hanya dilihat oleh kakak saya sendiri. Kakak saya juga > > sebelumnya telah sadar bahwa umurnya tidak lagi panjang, sehingga yang ada > > di pikirannya adalah konsepsi agama yang dibangun ketika kecil. Dia mulai > > berpikir yang tidak-tidak, tentang alam barzah, tentang alam yang akan > > ditempuhnya...jelas sekali saya melihat ketakutan yang ada pada > > dirinya....(renungkan, siapa yang pantas untuk dipersalahkan???) > > > > saya masih ingat dengan jelas, beberapa hari sebelum meninggalnya, > > ketakutan itu menjadi-jadi, sampai kami semua membaca yasin (kecuali saya), > > tapi ya gak bakalan jadi solusi, karena ini semua mekanisme kerja otak, > > sampai pada akhirnya morfin digunakan untuk mengurangsi rasa sakitnya, > > meski beresiko menghentikan detak jantungnya, dan memang, meninggalnya > > dalam keadaan yang sangat tenang, hampir tanpa kata-kata selain "saya > > mengalami sesak napas" yang diucapkannya dengan lirih hampir tanpa tenaga. > > > > Mungkin saya sendiri juga tidak bisa melepaskan diri dari jerat halusinasi > > yang persis terjadi dengan kakak saya, karena di memory alam bawah sadar > > saya juga ada cerita-cerita takhyul seperti alam barzah, malaikat pencabut > > nyawa dan lain sebagainya. Ketika halusinasi menyerang, kita bakalan > > kesulitan membedakan realitas dan yang bukan realitas. Apabila tubuh kita > > lemah, mekanisme otak kita bakalan kesulitan membedakan realitas fisik dan > > dongeng. Bila otak kita dalam keadaan lemah, maka bakalan menganggap > > semuanya menjadi realitas meski itu sebenarnya dongeng/halusinasi belaka. > > > > Untuk itu filsuf descartes dan para american (lihat film 'the secret') > > senang mengatakan hal ini ... > > "aku berpikir maka aku ada" > > > > ya..coba saja berpikir tentang alam barzah dan pantat anda akan > > disunduk-sunduk seperti sunduk sate oleh para malaikat...dan nikmatilah > > pikiran itu :) > > > > Jadi, mengajari agama, itu bukannya tanpa resiko, agama itu terror, saya > > berani bersaksi secara empiris, bagaimana kakak saya mengalami ketakutan > > psikologis yang dalam, tak pelak ini semua karena agama. > > > > *** > > Saya tahu betul, bahwa memory saya cukup tajam, dan kemudian saya harus > > melihat kenyataan pahit terhadap meninggalnya kakak saya, namun ia adalah > > kakak saya tercinta, sehingga sayapun ikut mengusung peti matinya, dan > > ikut mengangkat jenazah pocongnya sampai di liang lahat. Itu semua saya > > lakukan, selain karena ia kakak saya tercinta, saya punya kesadaran > > materialisme. Tapi anda bisa bayangkan bagaimana psikologis > > keponakan-keponakan saya yang masih kecil, yang masih percaya roh, bahkan > > seorang dokter psikiatri teman saya yang menjadi kepala rumah sakit > > angkatan darat menyarankan agar kakak saya sebaiknya dibawa ke rumah sakit > > saja, tujuannya bukan untuk disembuhkan, karena hampir tiap rumah sakit > > mengatakan sudah tidak bisa disembuhkan, namun hanya agar menghadapi > > kematiannya dengan sebahagia mungkin, dan tidak membawa dampak psikologis > > buruk bagi yang ditinggalkannya. > > > > Sebelum meninggal, memang kakak saya memilih keluar dari rumah sakit dan > > tidak mau dirawat oleh dokter lagi, namun dia tidak menyadari di rumah itu > > banyak anak-anak kecil keponakan saya yang melihatnya, bahkan kepala rumah > > sakit angkatan darat yang juga teman saya sering mengejek saya, "memang > > enak, melihat orang mau mati", karena dia seorang psikiatri maka dia tahu > > betul efek psikologisnya, bahkan ketika saya meminta obat penenang > > kepadanya, dia sengaja tidak memberikannya, dan dia juga bilang "sebaiknya > > kamu melihat dulu kengerian-kengerian itu semua dan nikmatilah"....sialan > > bukan? > > > > Dia baru memberikan obat penenang kepada saya persis ketika kakak saya > > telah meninggal, karena ketika kakak saya telah meninggal, saya duduk di > > ruangannya untuk menunggu ambulans, dan inilah yang dikatakannya > > "sebenarnya saya itu sebagai dokter psikiatri ya gampang memberikan apa > > yang kamu maui, tapi ya kamu itu jadi orang jangan enak-enak banget, > > rasakan dulu kengerian-kengerian itu, diingat-ingat dulu > > kengerian-kengerian itu yah....nih obat yang kamu butuhkan" dia memberikan > > saya 20 butir obat penenang. > > > > *** > > Kemaren di facebook saya melihat status FB kakak saya yang lain, dia > > bercerita mimpi didatangi kakak saya yang telah meninggal, dan dia > > bercerita kakak saya yang telah meninggal di mimpinya itu bilang dia belum > > meninggal.... > > > > seruuuu..... > > > > jujur saya sendiri juga sering ingat dan sedih dimalam hari apabila > > mengenang kakak saya, tapi saya belum pernah bermimpi didatangi olehnya, > > karena saya tahu ini semua pikiran, ketika saya mulai teringat, biasanya > > saya mencoba melupakannya dengan membaca hal-hal lain. > > > > Jadi kakak saya yang bermimpi didatangi roh kakak saya yang telah meninggal > > itu tak lain karena dia sendiri yang sering memikirkannya, dan bukan karena > > rohnya datang ke alam mimpinya. > > > > *** > > > > Memang benar apa yang dikatakan oleh Pak Leonardo Rimba, agama itu konsep, > > kalau mau jujur menimbang, konsep psikologis mana yang paling enak untuk > > menghadapi kematian? saya pernah tulis di milis Indonesia-rising, bahwa > > konsep kristian adalah konsep psikologis yang paling enak untuk menghadapi > > kematian (apabila sudah terkena terror agama). Sebagai buddhis atau hindu > > sendiri ada konsep reinkarnasi yang tidak kalah mengerikannya apabila nanti > > anda terlahir jadi monyet atau babi. > > Sedangkan per konsep (tidak perlu diuji keilmiahannya, ini hanya per konsep > > psikologis), kristian hanya mensyaratkan pengakuan juru selamat dan juru > > selamat yang akan menebus dosa-dosa kita. Jujur saja, kalau saya kehilangan > > rasionalitas dalam menghadapi kematian, mending saya memilih konsep > > kristian saja dalam menenangkan psikologis saya sebelum mati. > > > > Jadi kalau saya mau mati maka saya cari proposal kematian kepada beberapa > > orang: > > > > wawan: apa kelebihan dan kerugian saya mati menurut konsep islam? > > Kiai: Tergantung perbuatan anda, kalau banyak berbuat baik ya enak di alam > > barzah, menunggunya cepat, kalau banyak berbuat buruk ya digodam dulu di > > alam barzah, rasain lu... > > > > wawan: apa kelebihan dan kerugian saya mati menurut konsep kristian? > > Pendeta: Akuilah kristus sebagai juru selamat, maka kristus menebus seluruh > > dosa anda > > > > wawan: apa kelebihan dan kerugian saya mati menurut konsep hindu/buddha? > > Biksu: Tergantung perbuatan anda, kalau berbuat baik anda akan terlahir > > naik kasta, kalau berbuat buruk anda akan terlahir jadi monyet atau babi. > > > > > > Hmmm....saya itu aselinya adalah pengusaha yang sering mencari keuntungan, > > nah...dari 3 proposal itu tentu proposal pendeta yang paling menarik :-) > > > > *** > > > > Materialisme/natural sains sebagai konsep cara kerja fisika dan biologi > > merupakan suatu konsep realitas, artinya materialisme/natural sains itu > > adalah realitas. Anda mengikuti perkembangan natural sains/materialisme, > > maka anda tahu realitas bagaimana alam raya ini bekerja, realitas primer > > adalah materi/fisik, sedangkan psikologi/immateri/kesadaran adalah hasil > > kerja organik fisik, atau kesadaran bisa dijelaskan dengan mempelajari > > sistem materi tubuh bekerja, atau kini sains telah menjelaskan bahwa > > psikologi/immateri/kesadaran adalah buah kerja neuron yang seperti jaringan > > listrik didalam sel syaraf yang saling berinteraksi. > > > > Permasalahannya adalah seperti kejadian kakak saya tadi, ketika tubuhnya > > lemah, maka halusinasi yang timbul/muncul, disinilah brengseknya sebuah > > konsep yang tanpa nalar, dia seperti hantu, mendatangi kita ketika nalar > > kita juga lagi anjlok... > > > > Jujur saja, saya menilai agama padang pasir itu konsep agama yang paling > > brengsek dalam menghadapi kematian (dulu saya sangat mempercayainya dan > > tidak mudah untuk menghilangkan memorynya), anda saat ini mungkin bisa > > mengabaikan apa yg saya tulis, namun ketika anda mulai tua, dan anda sadar > > kematian akan segera mendatangi anda, anda mulai kehilangan daya > > nalar/rasio...maka di memory anda terbayangkan alam barzah, alam siksaan > > dan segala ingatan brengsek lainnya yang ditanamkan sejak kecil di pikiran > > anda. > > > > Jadi agama padang pasir ini secara psikologis sebenarnya brengseknya minta > > ampun, mengajari berbuat baik saja harus menanamkan terror memory. Ini > > yang tidak disadari oleh orang tua yang beragama padang pasir taat, > > mengajarkan kepada seorang anak kecil dan tidak mengevaluasi secara > > psikologis. > > > > Untuk itu, demi suatu psikologis anak yang positif, jangan tanamkan > > konsep-konsep takhyul seperti alam barzah, alam siksaan, atau > > gambaran-gambaran ngeri lainnya, ini semua adalah terror, lebih baik > > seorang anak dididik psikologi bahwasanya berbuat baik tidak perlu reward, > > dan memang sudah menjadi kewajiban/tanggung jawab sosial sebagai manusia. > > Disinilah fungsi kesadaran, yaitu ketika berbuat baik bukan karena reward, > > dan juga menghindari berbuat jelek bukan karena hukuman, tapi semua > > tindakan dilandasi oleh adanya kesadaran. > > > > Jadi sekali lagi....apakah benar mengajarkan agama itu tidak ada resikonya > > bagi yang diajarkan? (di dunia ini tidak ada yang tanpa resiko) > > > > saya hanya akan prihatin bagi yang sangat taat thd ajaran agama, lihat saja > > nanti ketika sudah kehilangan daya rasionalitas dan mengalami > > halusinasi-halusinasi yang muncul akibat konsep alam barzah, jin, syaiton, > > dan malaikat... > > > > saya kasihan kepada mereka, mereka mendapatkan ajaran itu dengan tanpa > > sadar dan juga tidak dipikirkan resiko psikologisnya... > > > > > > *** > > > > Anak saya seorang christian (kristian di russia rata-rata per tahun juga > > nggak lebih dari 6x ke gereja dalam 1 tahun), terutama saya --> juga sadar > > bahwa kristian juga bukan realitas, namun--> terutama saya tidak > > menginginkan dia terlalu sadar thd materialisme, > > namun keputusan kami mengapa dia harus dibaptis, terutama agar dia punya > > lebih banyak teman, dan secara psikologis, kristian tidak terlalu membawa > > dampak buruk, apalagi di russia jarang seorang kristian membaca bible, > > mereka hanya tahu dirinya seorang kristian, dan mereka rata-rata berpikir > > bahwa mungkin tuhan itu ada, namun kepercayaan thd tuhan itu tidak terlalu > > membalut/mempengaruhi kehidupan mereka sehari-harinya. > > > > Kami membuat keputusan juga dengan pertimbangan, terutama pertimbangan > > psikologis. Kalaupun nanti dewasa mempertanyakan alasan mengapa saya > > 'menjerumuskannya' kedalam ilusi kristian, saya siap mempertanggungjawabkan > > keputusan kami. > > > > Jadi, bisa saya nyatakan bahwa realitas adalah materialisme/natural sains, > > ketika anda masih ngotot bahwa materialisme/natural sains bukan realitas, > > maka anda masih terjerat halusinasi pikiran anda sendiri, tapi kesadaran > > materialisme/natural sains belum tentu digunakan untuk tujuan baik, Adolf > > Hitler dan Joseph Stalin, dua orang yang berlindung pada balut kristian > > (Joseph Stalin sebelum menjadi komunis bersekolah di seminary), sebenarnya > > mereka adalah seorang materialis, tampak jelas Adolf Hitler memilih > > kematiannya dengan cara bunuh diri, hal yang tidak diperbolehkan dalam > > teology kristian, perintah bunuh diri kepada jenderal paulus diabaikan oleh > > jenderal paulus, karena jenderal paulus mengaku sebagai kristian taat yang > > tidak bisa bunuh diri sehingga memilih menyerah kepada Soviet. > > > > Jadi ketika anda bertanya kepada saya...apakah itu realitas? jawabnya > > adalah materialisme/natural sains. > > namun ketika anda bertanya kepada saya....dongeng apakah yang terbaik untuk > > psikologi anak? saya jawab dongeng kristian...(tanpa harus banyak membaca > > bible, namun diganti dongeng-dongeng positive lainnya) > > > > Jadi disini bisa dipilah-pilah dan dipilah pilih... > > > > 1. apa itu materialisme/natural sains? > > Materialisme atau natural sains adalah sistem alam bekerja secara > > obyektive/realitas, artinya tanpa ada pikiran manusia atau ilusi manusia, > > alam raya tetap akan bekerja secara materialisme/fisik. > > Contoh: Setiap benda di bumi melekat pada bumi karena gravitasi > > (ini akan dibenarkan oleh semua kepercayaan/obyektive, yang tidak percaya > > ini ya orang sinting) > > > > 2. apa itu kristian? > > Kristian adalah sistem operasi pikiran manusia. Sistem ini akan membuat > > seorang manusia bertindak subyektif sesuai dengan mekanisme/sistem kerja > > yang dibangun oleh kepercayaan kristian. Kita bisa lebih lanjut > > membedah/mengurai mekanisme/cara kerja psikologis kepercayaan kristian > > contoh: Jesus Christ adalah juru selamat, tapi ini subyektif, tidak diakui > > oleh kepercayaan lain. > > > > 3. apa itu islam? > > Islam adalah sistem operasi pikiran manusia. Sistem ini akan membuat > > seorang manusia bertindak subyektif sesuai dengan mekanisme/sistem kerja > > yang ditancapkan di pikirannya. Kita bisa mendiskusikan lebih lanjut > > mekanisme/cara kerja psikologis kepercayaan islam > > Contoh: Mohammad adalah utusan Allah yang terakhir, namun ini subyektif, > > tidak diakui oleh kepercayaan lain. > > > > 4. apa itu hindu/buddha? > > Hindu/buddha adalah sistem operasi pikiran manusia. Sistem ini akan membuat > > seorang manusia bertindak subyektif sesuai dengan mekanisme/sistem kerja > > yang dipercayai oleh pikirannya. Kita bisa lebih lanjut mengurai > > mekanisme/cara kerja psikologis kepercayaan hindu buddha. > > Contoh: Reinkarnasi merupakan konsep subyektif, tidak diakui oleh > > kepercayaan lain. > > > > 4 hal diatas adalah sistem operasi berpikir, materialisme/natural sains > > merupakan sistem berpikir ttg alam raya bekerja, sedangkan kristian, islam, > > hindu/buddha plus kepercayaan atau budaya lebih kepada suatu sistem > > berpikir subyektive, anda bebas memilih sistem berpikir, dan anda seorang > > cerdas apabila mampu memanfaatkan sistem-sistem berpikir diatas dalam ranah > > yang konstektual dan dialektis (sesuai kebutuhan dan perubahan waktu) > > > > Jadi ...akan lebih seru kalau kita bisa menempatkan diskusi dengan tepat... > > > > ketika kita diskusi materialisme/natural sains, maka kita bicara dalam > > ranah ilmu pengetahuan... > > > > kalau kita diskusi tentang agama/kepercayaan, maka ayuh kita diskusi > > mekanisme/cara kerja psikologisnya... > > > > kita lihat kelebihan dan kelemahan/swot masing-masing...dan nanti bisa jadi > > seperti Adolf Hitler, dia mengatakan dirinya adalah seorang > > kesayangan/jelmaan kristus (untuk mengelabuhi bangsa jerman), namun per > > tindakannya dia berpikiran sebagai seorang evolusionis. > > > > Seruuuu nggak??? > > > > > > *** > > > > Jadi rupanya rata-rata orang Indonesia itu pikirannya campur aduk. > > Menjadi seorang Indonesia, pasti telah diajarkan natural sains (Fisika, > > biologi, kimia), dan juga agama (kepercayaan) > > > > Problemnya adalah, world viewnya menjadi campur aduk, jelas sekali natural > > sains/materialisme itu mengajarkan cara kerja alam raya dan juga manusia, > > namun agama juga memberikan/menawarkan gambaran sama dengan versi yang > > berbeda. > > > > sehingga terjadi... > > > > kebingungan.... > > > > melihat kenyataan alam raya menggunakan agama atau menggunakan natural > > sains? > > > > *** > > Sub Judul: Ada sesuatu yang tidak bisa diindera... > > > > Perhatikan tulisan saya berikut ini dengan pelan dan gunakan rasio/logika > > anda... > > > > 1. Ada sesuatu yang tidak bisa diindera. > > 2. Poin nomor 1 tersebut masuk ke otak anda, tepat melalui INDERA. > > > > so... > > > > anda mengerti poin nomor satu sendiri dengan indera anda... > > > > artinya pernyataan poin nomor satu sendiri adalah pernyataan tanpa > > kesadaran, karena in fact, anda membaca "ada sesuatu yang tidak bisa > > diindera" dan anda membacanya dengan MATA/INDERA... > > > > shittttttttttttttttttttttt > > > > %&*^$%^&*&^%^%(*^^%&$^ > > > > perhatikan lagi konklusi berikut > > > > 1. Keberadaan/being/eksistensi > > 2. Keberadaan bisa dideteksi dengan adanya indera (misal anda pake alat > > bantu, tetap saja being/keberadaan itu masuk sebagai informasi ke otak anda > > melalui indera anda) > > 3. Lalu anda tidak pernah membaca "ada sesuatu yang tidak bisa diindera" > > namun tanpa pernah mengidentifikasi pernyataan tersebut anda bisa membuat > > kesimpulan bahwa "ada sesuatu yang tidak bisa diindera" > > > > untuk poin ketiga, jelaslah apabila kita menggunakan penjelasan "Science of > > logic"-nya GW Hegel, tentang mekanisme/cara kerja pikiran, nampak jelas, > > bahwa > > "ada sesuatu yang tidak bisa diindera" merupakan hasil NEGASI PIKIRAN > > daripada BEING/KEBERADAAN/EKSISTENSI > > > > Negasi pikiran itu lumrah, dan asal-usul berpikir negasi tetap saja berasal > > dari KEBERADAAN/BEING/EKSISTENSI > > > > contoh: > > Premis 1: Ada batu > > Premis 2: Ada batu yang tidak bisa terdeteksi oleh indera <ini per logika > > bisa disebut sebagai TIDAK ADA BATU> > > > > Premis 2 itu tidak akan muncul begitu saja, namun premis 2 per historys > > pasti didahului oleh adanya premis 1, atau premis kedua selalu berasal dari > > premis KEBERADAAN/BEING/EKSISTENSI terlebih dahulu. > > > > Jadi pikiran tetap berasal dari KEBERADAAN/BEING/EKSISTENSI OBYEK ALAM > > terlebih dahulu, dan selanjutnya dimungkinkan proses penegasian, dan ini > > memang merupakan cara kerja pikiran sesuai penjelasan GW Hegel dalam > > "Science of logic" > > > > mau bukti lagi...??? > > > > mari kita perhatikan seorang anak bayi dikonstruksi pikirannya: > > Mama: "Alexa...apa ini?" > > Mama menunjukan penggaris terlebih dahulu untuk mengkonstruksi pikiran > > alexa. Penggaris yang ditunjukan itu merupakan KEBERADAAN/EKSISTENSI > > > > Mama: "Alexa...ini dinamakan penggaris" > > > > Alexa mengidentifikasinya...dan masuk ke otaknya lewat indera... > > > > lalu ketika mama menyembunyikannya....dan mama bertanya... > > "Alexa, dimana penggaris?" > > > > Alexa menjawab: "PENGGARIS 'TIDAK' ADA" > > > > disini artinya PENGGARIS adalah keberadaan, PENGGARIS itu ADA terlebih > > dahulu, lalu mama meniadakan penggaris tersebut. > > Sehingga pikiran Alexa menyatakan "PENGGARIS" sebagai keberadaan, menjadi > > 'TIDAK ADA' sebagai proses negasi pikiran. > > > > Apakah mungkin sesuatu berakar di pikiran dari tidak ada dulu lalu kemudian > > menjadi ada? > > > > jadi sudah jelaslah, bahwasanya KEBERADAAN/EKSISTENSI merupakan IBU KANDUNG > > dari suatu proses negasi pikiran yang menghasilkan kesimpulan > > ketidakberadaan/ketidakadanya eksistensi. > > > > > > dalam hal ini, apabila mau melakukan pelacakan sejarah tuhan, maka anda > > akan temukan bahwa tuhan sejarahnya berasal dari animisme dinamisme, bisa > > berwujud batu, pohon, menyan, pacul......dan psikologi supernatural > > terutama dibangkitkan oleh adanya fenomena alam akibat orang purba, belum > > mengetahui bagaimana fenomena alam bisa terjadi. > > > > Masalah penegasian selalu muncul dari being/keberadaan/eksistensi terlebih > > dahulu...lebih lanjutnya lihat premis berikut > > > > 1. Ada kehidupan setelah mati, spekulasi ini tentu ditarik karena adanya > > hidup itu sendiri. Artinya terminologi 'after-life' itu ada karena adanya > > LIFE/HIDUP itu sendiri. Artinya 'after-life' adalah suatu kontradiksi > > berpikir dari 'Life' itu sendiri. > > 2. Ada langit (pikiran manusia tentang langit), karena ada bumi terlebih > > dahulu. Karena ada bumi terlebih dahulu maka muncul pemikiran adanya > > langit. Taruhan 1 milyar sama saya, kalau nggak ada bumi, manusia tidak > > akan berpikir tentang adanya langit. Bumilah yang melahirkan/ibu kandungnya > > terminologi langit. > > 3. Ada terang akibat cahaya, maka ada gelap akibat tidak ada cahaya. Premis > > ketiga ini sesuai hukum fisika/realitas dan bukan sekedar filsafat bahwa > > tidak adanya tuhan adalah kejahatan. > > > > *** > > Sub Judul: Prinsip kerja pikiran > > > > Dalam 'Science of Logic', GW Hegel menjelaskan bagaimana pikiran bekerja > > > > 1. Logika, atau persamaan > > 2. Dialektika atau gerak/perubahan > > > > Dialektika sendiri dibagi menjadi 3 bagian > > 1. kontradiksi > > 2. Transformasi kuantitas ke kualitas dan vice versa > > 3. saling menegasi > > > > Jelaslah menurut GW Hegel bahwasanya pikiran itu bisa saling kontradiksi, > > bisa bertransformasi, dan bisa saling menegasi... > > > > so kita sering terperangkap terhadap pikiran-pikiran kita sendiri :) > > > > Jadi apanya yang ajaib, > > ..... > > if / jika > > ..... > > Mohammad mengatakan bahwa "Tuhan tidak diperanakan" itu per history memang > > bukan berasal dari adanya pengakuan Isa/Jesus yang mengaku anak tuhan? > > Gulam Mirza mengaku sebagai Nabi selanjutnya dalam Islam itu memang per > > history bukan berasal dari klaim Mohammad sebagai nabi dan Rasul Islam yang > > terakhir? > > > > > > Haiyaaa.... > > imajinasikan... > > <><><><><> > > apabila jesus/isa tidak klaim sebagai anak tuhan....buat apa ALLAH SWT via > > Mohammad repot bikin klaim/koreksi 'tuhan tidak diperanakan' > > <><><><><> > > haiyaa... > > menurut versi islam... > > <><><><><> > > Isa/Jesus merupakan Rasul tuhan ke 24, dan jesus klaim anak tuhan... > > <><><><><> > > lalu tuhan sadar akan kesalahan omongan utusannya yang ke 24... > > dan > > lalu tuhan melakukan koreksi/pembetulan melalui Mohammad sbg utusannya yang > > ke 25... > > <><><><><> > > Haiya....'pikiran tuhan' kebaca oleh dialektika-nya GW Hegel.... > > <><><><><> > > Haiya....ternyata 'tuhan' senang sekali bermain dialektika....pada > > utusannya yang ke 24, bikin klaim bahwa dialah anak tuhan, dan pada > > utusannya yang ke 25, bikin penegasian bahwa utusannya yang ke 24 > > di-KOREKSI... > > <><><><><> > > Haiya.... > > <><><><><> > > Being-Realita-Keberadaan-realitas adalah hidup itu sendiri, dan > > 'after-life' merupakan proses berpikir dialektika yang per-historys muncul > > karena adanya kenyataan hidup itu sendiri > > Langit per history juga dimunculkan oleh dialektika berpikir karena adanya > > bumi terlebih dahulu.. > > <><><><><> > > Haiya > > <><><><><> > > PADA KENYATAANNYA, LANGIT ITU TIDAK ADA (langit kearah mana? bumi diantara > > mars dan venus, langit arah venus atau langit arah mars?), dan YANG ADA > > SEBAGAI REALITAS ADALAH BUMI. > > <><><><><> > > Jadi adanya SUPERNATURAL, pasti didahului terlebih dahulu oleh adanya > > NATURAL/ALAM/BUMI...alias SUPERNATURAL itu secara psikologis/pikiran tak > > lain merupakan NEGASI dari adanya NATURAL. > > <><><><><> > > sehingga kesimpulannya... > > <><><><><> > > mana yang realitas/keberadaan/kenyataan? jawabnya NATURAL/ALAM. > > mana yang bukan realitas dan hanya merupakan proses negasi pikiran? > > jawabnya SUPERNATURAL. > > > > dialektika memang seruuuuuu yah...... > > > > apakah pikiran anda sudah mampu bedakan mana yang > > realitas/being/eksistensi/keberadaan dan mana yang cuman hasil proses > > dialektika pikiran? > > > > Catatan: > > Pikiran saya sendiri terkontruksi oleh dialektika materi, namun bisa anda > > buktikan secara empirical statemen saya berikut, > > 'benarkah <tidak ada> berasal dari <ada>? atau pikiran <keberadaanlah> yang > > melahirkan pikiran <ketidakberadaan>' > > > > - Leonardo Rimba banyak memberikan kontribusi tentang kitab suci yang > > merupakan "pikiran manusia sendiri". (saya akan menggantungnya apabila > > masih berkata Tuhan berada di kesadaran manusia) > > - GW Hegel berpendapat bahwa 'science of logic' murni cara kerja pikiran > > manusia > > - Karl Marx yang melakukan koreksi bahwa 'science of logic -- dialektika' > > Hegel merupakan abstraksi dari cara kerja alam > > - Wawan yang menggunakan methodologi 3 orang diatas sebagai alat analisa > > dan mencoba melakukan telaah dan pengembangan. > > > > artinya Al-Quran hanya menjadi suatu catatan sejarah saja (material > > history), ketika menganalisisnya menggunakan methodologi Leonardo Rimba, GW > > Hegel, dan juga Karl Marx. Al-Quran per historys berasal dari Bible, > > Taurat, Zabur. > > >
------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
