http://www.mediaindonesia.com/read/2010/10/10/173690/70/13/Jangan-Gampang-Menyerah


Jangan Gampang Menyerah 
Jumat, 08 Oktober 2010 00:00 WIB      

SEJAK lama bangsa ini terkenal memiliki semangat pantang menyerah. Sejak lama 
pula bangsa ini tersohor dengan semangat perjuangan. Kentalnya heroisme itu 
membuat bangsa ini mampu melawan dan lepas dari penjajahan. 

Sayangnya, semangat itu hanya hebat di era perjuangan. Kini, setelah 65 tahun 
merdeka, semangat itu kian luntur. Yang muncul malah sebaliknya, semangat 
gampang menyerah dan tabiat mencari solusi yang gampangan. 

Itulah yang pernah terjadi dalam beberapa waktu lalu, ketika privatisasi 
sejumlah sektor strategis, terutama BUMN, dilakukan secara gampangan. 
Terlepasnya perusahaan telekomunikasi dan perbankan ke tangan asing membuat 
negara tak lagi memiliki politik pengendalian secara penuh. 

Ironisnya, langkah seperti itu dilakukan dengan argumen konyol. Ketika 
pemerintah selalu defisit dalam merancang APBN, maka dengan gampangnya 
BUMN-BUMN gemuk dijual ke tangan asing. 

Padahal, banyak langkah lain yang bisa diambil bila defisit anggaran ingin 
dikurangi. Mulai dari bagaimana menekan tingkat kebocoran dan memperkecil 
korupsi, membuat langkah-langkah efisiensi, hingga memaksimalkan potensi sumber 
daya alam yang belum tersentuh. 

Namun, pilihan-pilihan alternatif itu seperti terkubur oleh gairah mudah 
menyerah dan tabiat mencari solusi yang gampangan. Tak peduli kepentingan dan 
kedaulatan negara tergadaikan, yang penting dana bisa didapat untuk menutup 
kurangnya modal. 

Beruntung, sedikit demi sedikit privatisasi BUMN secara ugal-ugalan itu mulai 
dikoreksi. Kementerian BUMN bertekad untuk tetap menguasai 60% saham BUMN di 
tangan pemerintah, dan berjanji tidak akan mengutak-atik ketentuan itu. 

Karena itu, kita tidak juga lelah untuk selalu mengingatkan agar komitmen itu 
dipegang teguh. Termasuk di antaranya rencana Kementerian Badan Usaha Milik 
Negara (BUMN) untuk membuka opsi pengelolaan Bandara Soekarno-Hatta kepada 
pihak asing. 

Bandara berkelas internasional itu memang tidak bisa dibanggakan. Mulai dari 
akses ke bandara yang kebanjiran, calo yang berkeliaran, preman, pedagang 
asongan, kerapnya listrik padam, hingga tidak berfungsinya radar pengatur lalu 
lintas pesawat karena usang. Bandara Soekarno-Hatta jelas memerlukan pemugaran 
dan pengembangan, baik perangkat keras maupun perangkat lunak, termasuk 
peningkatan kemampuan SDM-nya. 

Akan tetapi, semua itu bukanlah persoalan yang tidak dapat diatasi oleh anak 
bangsa sendiri. Bandara Soekarno-Hatta adalah bandara yang sangat strategis dan 
jelas amat menguntungkan. Karena itu tidak heran jika dua pengelola bandara 
terbaik di dunia, yakni manajemen Schipol, Belanda dan Changi, Singapura, 
mengajukan diri menjalin kerja sama mengurus Bandara Soekarno-Hatta. 

Menteri BUMN sudah menegaskan bahwa kesempatan pihak asing untuk terlibat dalam 
pengelolaan Bandara Soekarno-Hatta akan dibatasi pada investasi pengembangan 
infrastruktur dan pembenahan tata kelola saja. Adapun pengelolaannya tetap 
diserahkan kepada PT Angkasa Pura II. 

Kita dukung pembatasan campur tangan asing itu. Kita juga dukung agar tekad itu 
bukan sekadar pembatasan, tapi juga menyadari dampaknya, siapa mendapatkan apa. 
Janganlah nanti setelah asing masuk, tapi anak bangsa menjadi anak tiri dan 
BUMN gigit jari. 

Bandara Soekarno-Hatta harus dapat dibikin menjadi baik dengan sepenuhnya 
pengendalian dan pengelolaannya tetap di tangan anak bangsa sendiri, di tangan 
PT Angkasa Pura II. Syaratnya, BUMN ini harus membenahi diri. Itulah watak 
tidak gampang menyerah. 

Jika mental gampang menyerah diterus-teruskan, saking putus asanya kita melihat 
kelakuan wakil rakyat, DPR pun pantas di-outsourcing ke pihak asing. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke