http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=71734:pengangguran-bukanlah-pilihan&catid=78:umum&Itemid=131
Pengangguran Bukanlah Pilihan
Oleh : Ardin Haposan Silalahi
z
Membaca artikel Sakiben Sinaga, S.Pd "Sarjana Kok Pengangguran" pada
harian ini (Kamis, 30 September 2010) membuat jiwa kemahasiswaan saya
terganggu.
Bagaimana tidak, beliau menggoretkan bahwa penyebab penganggguran timbul
dari diri si penganggur dan dari pemerintah. Barangkali saudara Sakiben dengan
penuh perjuangan melepaskan status kesarjanaannya sebagaimana layaknya dengan
skiil yang tidak pas-pasan, dan langsung terjun bebas sebagai guru matematika
di salah satu sekolah di Medan itu.
Melibatkan tema pengangguran dalam sebuah artikel, opini, esai, atau
apapun itu jangan memisahkannya dari sistem pendidikan. Pendidikan seperti apa
yang dimaksud? Berikut akan dirunut lebih jauh tampilan pendidikan kita dewasa
ini.
Tampilan Pendidikan Kita
Pertama, sekolah dijadikan pasar. Mengenang catatan otokritik seorang ST.
Kartono dalam "Sekolah Bukan Pasar" pantas diungkap kembali. Suatu ketika putri
kecil Kartono yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak, tulisnya, sepulang
sekolah membawa surat edaran dari kepala sekolahnya. Setibanya putri kecil itu
di rumah, Kartono pun membuka lembaran surat tersebut dan membacanya. Surat itu
dimulai dengan "Sesuai keputusan Kantor Dinas Pendidikan dan Pengajaran
cabang., semua TK diharapkan melihat hiburan operet Teletubbies dan Power
Rangers.".
Surat itu lengkap menyebutkan waktu, tempat, dan harga karcis yang mesti
dibayarkan oleh masing-masing siswa. Kartono pun termangu, bukan oleh jumlah
uang yang mesti dibayarkan untuk karcis pertunjukan tersebut. Kartono termangu,
betapa sekolah - sejak taman kanak-kanak hingga sampai perguruan tinggi -
sekedar menjadi pasar sekaligus pangsa untuk meraup keuntungan finansial.
Kedua, pendidikan tidak dijadikan sebagai proses. Pada kesempatan ini
pengajar selalu berlaku sebagai subjek, sedangkan pelajar hanya diberlakukan
sebagai objek. Pengajar dan pelajar dewasa ini tidak dilekatkan pada kategori
yang sama sekaligus: subjek. Artinya, pengajar tidak berproses sebagai pelajar,
dan pelajar sendiri tidak diproses sebagai pengajar, sehingga pengajar selalu
menempatkan diri sebagai cendikiawan yang dipertuan, dan pelajar diberlakukan
sebagai ruang kosong yang harus diisi sejumlah informasi yang terkadang tak
penting. Pelajar hanya mendapat suguhan beragam informasi lewat buku-buku
pelajaran dan diktat-diktat, maupun dari si pengajar itu sendiri, sehingga
menurut Paulo Freire proses mendapatkan informasi tersebut bukanlah momentum
belajar yang tepat dan proses tersebut hanya akan menjadi proses pengalihan
(transfer) informasi dari pendidik kepada peserta didik.
Freire kemudian menegaskan bahwa mereka yang disebut pendidik
pertama-tama, dan mungkin yang terutama, harus belajar bagaimana melanjutkan
proses belajarnya sendiri ketika mereka mulai mengajar. Jika dikotomi, tambah
Freire, antara mengajar dan belajar sampai menyebabkan pihak yang mengajar
tidak mau belajar dari peserta didik yang diajarnya, berarti sebuah ideologi
dominasi mulai tumbuh. Salah-salah pengajar bisa mengira bahwa pelajar
merupakan boneka manusia yang siap kapan saja digerakkan ke sana-kemari seperti
tokoh-tokoh dalam cerita pewayangan. Nah, yang ditekankan adalah belajar
sama-sama dan sama-sama belajar dalam sebuah proses menjadi.
Ketiga, pendidikan berorientasi pada tingkat kelulusan, bukan character
building. Tingkat kelulusan yang dimaksud, yakni secara tidak langsung
mengarahkan siswa berjalan di jalan instan, sehingga untuk mencapai angka
kelulusan itu, tipuan dangkal pun dikira halal dan lumrah. Kejujuran, percaya
diri, dan sikap inisiatif sebagai produk dari pembangunan karakter berangsur
terabaikan.
Wah, sangatlah tak masuk akal saat saudara Sakiben berpendapat bahwa para
penganggur, sewaktu mahasiswa, mempunyai mental cepat tamat, menghalalkan
segala cara supaya dapat nilai A, meng-copy-paste tugas, dan menyatakan
pendapat orang lain menjadi pendapatnya sendiri (plagiarisme) timbul dari diri
si penganggur sendiri. Copy-paste, melakoni cara-cara instan, atau bahkan jadi
plagiat hanyalah akibat dari orientasi tingkat kelulusan itu, bukan malah sebab
si sarjana jadi penganggur, tapi akibat.
Solusi Permasalahan
Mendiknas menegaskan bahwa pendidikan harus bisa membekali lulusannya
menghadapi kehidupan. Lebih jauh mendiknas menunjuk bahwa keberhasilan sistem
pendidikan dapat dilihat dari kemampuan lulusannya menggunakan hasil pendidikan
untuk hidup.
Dengan itu, ada beberapa tawaran yang mungkin bisa dipertimbangkan oleh
dinas pendidikan kita saat ini untuk mencapai tujuan tersebut. Pertama,
memasukkan mata pelajaran seni dalam pendidikan formal. Dalam kaitannya, seni
sebagai hasil peradaban cenderung dianggap sepele. Seni berada pada posisi ke
sekian sebagai pelengkap mata pelajaran yang ada, atau masuk dalam daftar
ekstrakurikuler sebagai anak tiri mata pelajaran umum.
Lewat seni setiap orang bisa berkarya. Tanpa seni, tulis Sapardi Djoko
Damono, manusia tidak akan bisa berkomunikasi dengan baik, tidak bisa
mengapresiasi pepatah, atau bahkan tidak bisa tahan menghadapi hidup tanpa
seni. Dengan seni (rupa, sastra, suara, lukis, dan lain-lain) manusia juga bisa
memenuhi kebutuhan hidupnya walau tak berstatus pekerja di instansi pemerintah
maupun swasta.
Kedua, membiasakan refleksi seusai mata pelajaran di kelas. Proses
pengajaran yang cenderung menimbun informasi dan pengetahuan tanpa ada
kesempatan mengendapkannya merupakan budaya konsumtif, yang tak sepatutnya
terjadi. Artinya, budaya konsumtif ini secara terang-terangan menarik peserta
didik untuk tidak berpikir kreatif, atau terima jadi saja, tanpa melalui proses
olah-mengolah.
Maka menurut ST. Kartono kesempatan refleksi ini adalah ikhtiar menemukan
dan meneliti pola, hubungan, fakta, pernyataan, pengertian, kesimpulan,
masalah, pemecahan, dan implikasi yang dibawa tiap bidang studi tertentu.
Beliau juga menambahkan bahwa dalam proses refleksi ini daya ingat, pemahaman,
daya khayal, dan perasaan digunakan untuk menangkap arti dan nilai-nilai yang
dipelajari.
Ketiga, mengasah tingkat imajinasi peserta didik. Mengasah imajinasi bisa
juga berarti meniadakan pola-pola tertentu atas mata pelajaran yang ada.
Maksudnya, proses penyerapan pelajaran jangan menjadi gersang, atau membiasakan
siswa memiliki beragam jawaban atas satu pertanyaan, khususnya pada bidang ilmu
sosial. Semisal ada pertanyaan mengenai apa arti buku. Jawaban boleh beragam.
Seorang boleh menjawab: buku adalah jendela dunia. Seorang lagi: buku bisa
membuatku seakan berjalan sendirian di setiap lorong-long jalan di dunia. Yang
lain: buku bisa membuatku ramai di tempat yang gelap dan sunyi. Atau bahkan
yang lain: buku adalah kumpulan kertas yang membuatku mudah mengantuk saat
membacanya. Macam-macam.
Jadi, kalau boleh mengatakan, pengangguran bukanlah sebuah pilihan
dikarenakan diri sendiri. Ketika menganggur yang katanya disebabkan oleh diri
sendiri, wajarlah diluruskan. Sebab, apa tujuan bersekolah tinggi yaitu untuk
meningkatkan taraf ekonomi manusia, lewat bekerja.***
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Methodist Indonesia,
dan bergiat di komunitas Mata-Kata, Medan.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/